alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Walau Cuma Naik Seribu, Penjualan di Atas HET Harus Ditindak

BANJARMASIN – Harga eceran tertinggi (HET) gas elpiji 3 kilogram di Kota Banjarmasin resmi naik dari Rp17.500 menjadi Rp18.500 per tabung. Pemko tinggal mengawasi penyaluran. Jika lengah atau kendor, harga di pengecer bakal melambung.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) Kalsel, Ahmad Murjani meminta pemko bekerjasama dengan Hiswana Migas (himpunan pengusaha minyak dan gas), agen dan apara penegak hukum untuk mengawasi gas bersubsidi jatah warga miskin tersebut.

“Pemko bersama instansi terkait dan masyarakat harus meningkatkan pengawasan terhadap pangkalan,” ujarnya kemarin (15/5).

Favehotel Banjarmasin

Jika ada temuan penyelewengan, maka pangkalan mesti dijatuhi sanksi. “Potensi ini yang perlu dicegah, jangan sampai mengarah pada persoalan hukum,” ujarnya.

Baca Juga :  Jual di Atas HET, Tabung Gas Disita

Kartu kendali yang sudah beberapa tahun terakhir diterapkan pemko sudah terbukti bagus, tapi bukan berarti tak boleh dievaluasi.

Mungkin saja ada perubahan data atau ada penerima yang salah sasaran. Sehingga perlu pengecekan ulang di lapangan.

“Karena bisa saja terjadi, misalkan ketua RT mendata kerabatnya saja. Padahal ada yang lebih berhak menerimanya,” jelasnya.

Kembali ke soal kenaikan harga, Murjani mengaku bisa memahami mengapa Hiswana mengusulkan penyesuaian alias kenaikan HET. Sebab sudah tujuh tahun belum ada penyesuaian. Padahal biaya operasional sudah beberapa kali naik. Namun, diingatkannya, aturan tetaplah aturan.

“Meski kenaikannya hanya seribu rupiah, tapi jika ada yang menjual di atas harga itu, maka tetap menjadi pelanggaran,” tegasnya.

Baca Juga :  Jual LPG 3 Kg Divonis Bersalah

Sudah menjadi rahasia umum, harga jual tabung melon tersebut bisa mencapai Rp40 ribu di eceran. Sementara di pangkalan selalu kehabisan. Maka pengawasan seharusnya tak cuma menyentuh penyaluran, tapi juga ketersediaan stok.

Bagi masyarakat miskin, meski kenaikannya tidak besar, tapi sangat bernilai. Apalagi bagi pelaku usaha kecil.

“Jangan sampai justru pasokan atau stoknya yang tidak lancar. Maka harganya di pasaran bisa melonjak,” pungkas Murjani. (gmp/az/fud)

BANJARMASIN – Harga eceran tertinggi (HET) gas elpiji 3 kilogram di Kota Banjarmasin resmi naik dari Rp17.500 menjadi Rp18.500 per tabung. Pemko tinggal mengawasi penyaluran. Jika lengah atau kendor, harga di pengecer bakal melambung.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) Kalsel, Ahmad Murjani meminta pemko bekerjasama dengan Hiswana Migas (himpunan pengusaha minyak dan gas), agen dan apara penegak hukum untuk mengawasi gas bersubsidi jatah warga miskin tersebut.

“Pemko bersama instansi terkait dan masyarakat harus meningkatkan pengawasan terhadap pangkalan,” ujarnya kemarin (15/5).

Favehotel Banjarmasin

Jika ada temuan penyelewengan, maka pangkalan mesti dijatuhi sanksi. “Potensi ini yang perlu dicegah, jangan sampai mengarah pada persoalan hukum,” ujarnya.

Baca Juga :  YLK Desak Satgas LPG Dibentuk

Kartu kendali yang sudah beberapa tahun terakhir diterapkan pemko sudah terbukti bagus, tapi bukan berarti tak boleh dievaluasi.

Mungkin saja ada perubahan data atau ada penerima yang salah sasaran. Sehingga perlu pengecekan ulang di lapangan.

“Karena bisa saja terjadi, misalkan ketua RT mendata kerabatnya saja. Padahal ada yang lebih berhak menerimanya,” jelasnya.

Kembali ke soal kenaikan harga, Murjani mengaku bisa memahami mengapa Hiswana mengusulkan penyesuaian alias kenaikan HET. Sebab sudah tujuh tahun belum ada penyesuaian. Padahal biaya operasional sudah beberapa kali naik. Namun, diingatkannya, aturan tetaplah aturan.

“Meski kenaikannya hanya seribu rupiah, tapi jika ada yang menjual di atas harga itu, maka tetap menjadi pelanggaran,” tegasnya.

Baca Juga :  Jual di Atas HET, Tabung Gas Disita

Sudah menjadi rahasia umum, harga jual tabung melon tersebut bisa mencapai Rp40 ribu di eceran. Sementara di pangkalan selalu kehabisan. Maka pengawasan seharusnya tak cuma menyentuh penyaluran, tapi juga ketersediaan stok.

Bagi masyarakat miskin, meski kenaikannya tidak besar, tapi sangat bernilai. Apalagi bagi pelaku usaha kecil.

“Jangan sampai justru pasokan atau stoknya yang tidak lancar. Maka harganya di pasaran bisa melonjak,” pungkas Murjani. (gmp/az/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/