alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Kampung Buku Banjarmasin: Bertahan karena Idealisme

Kampung Buku hadir bukan sebagai pesaing toko buku di Kota Banjarmasin. Tapi menjadi wadah bagi mereka yang haus diskusi dan bacaan lawas.

– Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Jangan dikira Kampung Buku (Kambuk) berwujud sebuah kampung, punya jalan dan rumah-rumah.

Favehotel Banjarmasin

Kampung satu ini sebenarnya tempat nongkrong. Ada kudapan dan kopi. Bisa dipesan di kedai kecil di situ.

Namun, bukan kafe biasa. Seperti namanya, Kambuk mencoba menyediakan pengetahuan, pendapat dan ide. Melalui diskusi hingga rak-rak buku di dalamnya.

Penulis menyambangi Kambuk pada Kamis (12/5) malam. Lokasinya di Jalan Sultan Adam Nomor 46 Banjarmasin Utara.

Meski berada di pinggir jalan, lalu lalang kendaraan bermotor tak begitu terdengar. Lantaran lokasinya yang luas agak menjorok ke dalam.

Memasuki Kambuk, penulis dihadapkan dengan pemandangan yang berbeda. Sejumlah kios berderet. Isinya tidak melulu makanan dan minuman. Ada buku-buku yang bisa dibaca. Atau dimiliki setelah dibeli.

Di depan kios, ada meja dan kursi panjang yang disusun rapi. Bersisian dengan gambar-gambar penyair asal kalimantan. Berikut puisi karyanya.

Sebagian di antaranya, Hijaz Yamani dengan karyanya berjudul Kali Martapura. Burhanuddin Soebely dengan Membaca. Lalu, ada Yustan Aziddin dengan Senja Kuning.

Baca Juga :  Nunung Mengundurkan Diri, Beberapa Jam Setelah Peresmian Gedung Baru

Di sisi lain, dipajang sejumlah karya seni rupa seperti lukisan.

Sayang, malam itu Kambuk tampak sepi. Hanya ada sekitar delapan pengunjung. Bisa dimaklumi, lantaran malam Jumat dan gerimis.

Mereka membentuk lingkaran. Asyik berdiskusi. Pemantiknya seorang lelaki berpeci. Yang dibincangkan sebuah kitab kuning.

Yakni Sabilal Muhtadin, karya besar Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Ulama fenomenal yang dijuluki Datuk Kalampayan.

Ngaji kitab ini ternyata kegiatan rutin. Tak hanya karya Datuk Kalampayan saja yang dipelajari. Tapi, juga kitab karya ulama lain.

Bahkan, kelompok yang mengikuti kajian ini rutin punya sebutan tersendiri, Ngaji Ugahari. Terjemahan bebas, tidak kanan atau kiri, berdiri di tengah-tengah.

“Ini hanya satu dari beragam kegiatan di Kambuk. Biasanya juga ada kelas-kelas. Mau menulis, melukis, atau belajar teater,” ucap Hajriansyah. Adapula event seperti membaca puisi dan pementasan teater.

Dialah lelaki berpeci yang memantik diskusi itu. Dia pula salah seorang pencetus Kambuk.

Kambuk berdiri tanggal 10 Juli 2019. Digagas para pedagang buku, seniman dan budayawan. Misinya, membangun sebuah wadah nongkrong yang berbeda.

Baca Juga :  Dari Mendongeng Sampai Teknik Vokal

“Tujuan menghidupkan literasi. Membangun kultur membaca di tengah masyarakat,” ungkap Hajri yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin tersebut.

Menurutnya, masalahnya bukan karena rendahnya minat membaca. Melainkan sempitnya akses bacaan. “Orang suka buku karena adanya diskusi. Menulis dan membaca pun satu kesatuan,” tekannya.

Memang tidak akan mudah. Contoh, dari enam penggagas Kambuk, yang bertahan hanya tersisa dua orang.

Tapi menurutnya wajar. “Kami sadar. Sejak awal, risiko menjual buku itu besar. Tapi, orang bisa dekat dengan buku saja sudah lumayan,” ujarnya.

Pandemi juga sempat membuang Kambuk sepi. “Bila bergantung hanya pada penjualan buku, cukup sulit. Jadi yang digarap Kambuk lebih kepada proyek-proyek idealis,” tegasnya.

Soal strategi, Hajri memilih menyediakan buku-buku terbitan lawas. Yang tak tersedia di toko buku besar.

Dipasok dari kawan-kawan asal Yogyakarta dan Jakarta. Dan ia tidak pilih-pilih. “Mau ekstrem atau tidak, bagi kami semuanya bacaan,” tekannya.

Dia menjamin, Kambuk terbuka bagi siapa saja. “Kami pun bersyukur bila ada wadah lain yang dikonsep serupa. Kami tidak takut tersaingi. Kami bahkan ingin tempat begini semakin banyak,” tuntasnya. (war/az/fud)

Kampung Buku hadir bukan sebagai pesaing toko buku di Kota Banjarmasin. Tapi menjadi wadah bagi mereka yang haus diskusi dan bacaan lawas.

– Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Jangan dikira Kampung Buku (Kambuk) berwujud sebuah kampung, punya jalan dan rumah-rumah.

Favehotel Banjarmasin

Kampung satu ini sebenarnya tempat nongkrong. Ada kudapan dan kopi. Bisa dipesan di kedai kecil di situ.

Namun, bukan kafe biasa. Seperti namanya, Kambuk mencoba menyediakan pengetahuan, pendapat dan ide. Melalui diskusi hingga rak-rak buku di dalamnya.

Penulis menyambangi Kambuk pada Kamis (12/5) malam. Lokasinya di Jalan Sultan Adam Nomor 46 Banjarmasin Utara.

Meski berada di pinggir jalan, lalu lalang kendaraan bermotor tak begitu terdengar. Lantaran lokasinya yang luas agak menjorok ke dalam.

Memasuki Kambuk, penulis dihadapkan dengan pemandangan yang berbeda. Sejumlah kios berderet. Isinya tidak melulu makanan dan minuman. Ada buku-buku yang bisa dibaca. Atau dimiliki setelah dibeli.

Di depan kios, ada meja dan kursi panjang yang disusun rapi. Bersisian dengan gambar-gambar penyair asal kalimantan. Berikut puisi karyanya.

Sebagian di antaranya, Hijaz Yamani dengan karyanya berjudul Kali Martapura. Burhanuddin Soebely dengan Membaca. Lalu, ada Yustan Aziddin dengan Senja Kuning.

Baca Juga :  Berharap Lebih Banyak Bacaan Braille

Di sisi lain, dipajang sejumlah karya seni rupa seperti lukisan.

Sayang, malam itu Kambuk tampak sepi. Hanya ada sekitar delapan pengunjung. Bisa dimaklumi, lantaran malam Jumat dan gerimis.

Mereka membentuk lingkaran. Asyik berdiskusi. Pemantiknya seorang lelaki berpeci. Yang dibincangkan sebuah kitab kuning.

Yakni Sabilal Muhtadin, karya besar Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Ulama fenomenal yang dijuluki Datuk Kalampayan.

Ngaji kitab ini ternyata kegiatan rutin. Tak hanya karya Datuk Kalampayan saja yang dipelajari. Tapi, juga kitab karya ulama lain.

Bahkan, kelompok yang mengikuti kajian ini rutin punya sebutan tersendiri, Ngaji Ugahari. Terjemahan bebas, tidak kanan atau kiri, berdiri di tengah-tengah.

“Ini hanya satu dari beragam kegiatan di Kambuk. Biasanya juga ada kelas-kelas. Mau menulis, melukis, atau belajar teater,” ucap Hajriansyah. Adapula event seperti membaca puisi dan pementasan teater.

Dialah lelaki berpeci yang memantik diskusi itu. Dia pula salah seorang pencetus Kambuk.

Kambuk berdiri tanggal 10 Juli 2019. Digagas para pedagang buku, seniman dan budayawan. Misinya, membangun sebuah wadah nongkrong yang berbeda.

Baca Juga :  Nunung Mengundurkan Diri, Beberapa Jam Setelah Peresmian Gedung Baru

“Tujuan menghidupkan literasi. Membangun kultur membaca di tengah masyarakat,” ungkap Hajri yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin tersebut.

Menurutnya, masalahnya bukan karena rendahnya minat membaca. Melainkan sempitnya akses bacaan. “Orang suka buku karena adanya diskusi. Menulis dan membaca pun satu kesatuan,” tekannya.

Memang tidak akan mudah. Contoh, dari enam penggagas Kambuk, yang bertahan hanya tersisa dua orang.

Tapi menurutnya wajar. “Kami sadar. Sejak awal, risiko menjual buku itu besar. Tapi, orang bisa dekat dengan buku saja sudah lumayan,” ujarnya.

Pandemi juga sempat membuang Kambuk sepi. “Bila bergantung hanya pada penjualan buku, cukup sulit. Jadi yang digarap Kambuk lebih kepada proyek-proyek idealis,” tegasnya.

Soal strategi, Hajri memilih menyediakan buku-buku terbitan lawas. Yang tak tersedia di toko buku besar.

Dipasok dari kawan-kawan asal Yogyakarta dan Jakarta. Dan ia tidak pilih-pilih. “Mau ekstrem atau tidak, bagi kami semuanya bacaan,” tekannya.

Dia menjamin, Kambuk terbuka bagi siapa saja. “Kami pun bersyukur bila ada wadah lain yang dikonsep serupa. Kami tidak takut tersaingi. Kami bahkan ingin tempat begini semakin banyak,” tuntasnya. (war/az/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/