alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Elpiji Naik, Warga Tak Kaget

BANJARMASIN – Masitah terkejut. Gas elpiji 3 Kg yang biasanya dia beli di tingkat pengecer paling mahal Rp23 ribu, kemarin didapatkan seharga Rp25 ribu. Dia pun hanya bisa pasrah.

“Semuanya serba naik. Kalau gas ini tak dibeli, bisa tak makan kami di rumah. Mau bagaimana lagi. Tapi saya merasa terbebani,” gerutu warga Sungai Andai Banjarmasin itu kemarin.

Dia menyayangkan kenaikan ini tak ada pemberitahuan atau sosialisasi sebelumnya. “Mana ada sosialisasi. Tahu-tahu langsung naik begitu saja,” ucapnya.

Kenaikan harga gas melon ini seiring, keluarnya surat keputusan dari Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor tentang penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) terbaru untuk gas LPG 3 Kg di Kalsel. Di mana sebelumnya, HET gas melon ini Rp17.500, yang menjadi Rp18.500 per tabung.

Sementara berdasarkan SK tersebut, harga jual ke pangkalan sebesar Rp15.250. Pemberlakukan HET baru ini sejak 11 Mei tadi. Berlaku untuk 13 kabupaten dan kota se Kalsel. “Sudah harganya naik, kadang biasanya susah dicari. Dan kalau ada pun harganya akan naik lagi,” kata Masitah.

Keluhan serupa disampaikan Madi, warga Kampung Gedang itu menyayangkan di saat kondisi ekonomi belum benar-benar pulih, harusnya kenaikan ini tak dipaksakan. “Memang Rp1000 tak seberapa. Tapi kalau sudah ditingkat pengecer, kenaikan harganya bisa sampai Rp5000,” ujarnya.

Sementara, Kabag Sumber Daya Alam Biro Ekonomi Setdaprov Kalsel, Siti Wahidah mengatakan, kenaikan harga gas tersebut dilakukan demi meningkatkan kualitas tabung. Yang mana menurutnya, sebelumnya kondisi tabung dibiarkan seadanya lantaran rusak akibat pendistribusian.

Kenaikan Rp1000 tersebut menurutnya sangat wajar demi kualitas tabung lebih baik. Selain itu pertimbangan biaya angkut hingga ke daerah terjauh di Kalsel menjadi pertimbangan. “Harapan kita dengan kenaikan ini bisa tepat harga, tepat kualitas, dan tabung yang sampai ke pembeli benar-benar bagus dan terjamin,” ucapnya.

Baca Juga :  Jual LPG 3 Kg Divonis Bersalah

Dia menjelaskan, keputusan gubernur tersebut merupakan kesepakatan dari rapat bersama dengan Pertamina, Dinas ESDM, yayasan lembaga konsumen, dan pihak lainnya. Wahidah sendiri baru pindah ke Biro Ekonomi. Dia belum tahu secara rinci soal ini. “Yang saya baca dari SK seperti itu, Kepala Biro Ekonomi juga baru, dan ketika kami masuk ke Biro Ekonomi, SK itu sudah ada di Biro Hukum,” tuturnya.

Yang jelas tegasnya, karena hasil kesepakatan bersama, maka keputusan menaikkan harga gas melon ini bukan semata-mata atas keinginan gubernur. “Sekali lagi ini keputusan bersama semua pihak,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas ESDM Kalsel, Isharwanto tak memberikan jawaban saat dikonfirmasi via WhatsApp terkait dasar dan alasan kenaikan harga gas melon ini. Termasuk apakah sudah ada koordinasi dengan semua pihak termasuk dengan DPRD Kalsel.

Warga Sudah Siap Jika Harus Naik

Pantauan wartawan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), tidak terjadi antrian panjang pembelian di agen-agen.

Santi Annisa salah satu agen gas elpiji di bawah naungan PT Surya Utama Jaya mengaku penjualan gas elpiji di tempatnya normal seperti hari sebelumnya tidak ada antrean panjang yang terjadi akibat akan naiknya harga gas elpiji tiga kilogram. “Normal, dalam sehari sekitar dua ribu lebih tabung habis terjual,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Menurutnya, kenaikan harga ini normal saja. “Karena sudah cukup lama harga gas elpiji tiga kilogram tidak naik,” katanya.

Baca Juga :  Ternyata HET LPG 3 Kg di Kalsel Termurah se-Kalimantan

Di Tapin, gas elpiji jelang kenaikan harga juga normal seperti biasanya. Murniah pemilik pangkalan LPG 3 Kilogram di Jalan Rangda Kelurahan Rangda Malingkung Kecamatan Tapin Utara menuturkan bahwa dari pagi hingga sore, tidak ada yang mengantre untuk membeli elpiji di sini.

“Normal saja, mungkin karena sebelumnya sudah saya beritahu bahwa akan naik,” tuturnya, Kamis (12/5) sore.

Pemberitahuan hendak naik harga elpiji memang diakui sejak sebulan yang lalu, semenjak itu ia selalu memberitahukan kepada pelanggannya.

“Rata-rata menerima saja. Bahkan ada pelanggan yang selalu tanya apakah sudah baik atau belum,” tuturnya.

Ditambahkannya, untuk pangkalannya bernama H Abdul Salam dalam satu Minggu mendapatkan jatah 140 tabung gas.“Alhamdulillah selalu habis,” jelasnya.

Rencana kenaikan harga Gas Elpiji di Kabupaten Kotabaru juga tidak begitu membuat masyarakat terkejut, selama barangnya tidak langka.

Irommi salah satu ibu rumah tangga di Desa Mekarpura Kecamatan Pulau Laut Tengah Kotabaru mengatakan tidak masalah ada kenaikan asalkan sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah. Di Kotabaru menurutnya harga yang diecersangat melambung tinggi hingga kesannya ada permainan oknum.

“Kalau gas di pangkalan habis, saya terpaksa membelinya di warung- warung yang pengecer. Harganya memang mengejutkan kisaran Rp 45 ribu sampai Rp 50 ribu,” ungkapnya.

Kabid Bina Perdagangan Dinas Perdagangan (Disdag) HSS, Amelia Budhiarti mengenai kenaikan harga gas elpiji tiga kilogram ini cukup disambut baik para agen. Karena harga sebelumnya Rp 17.500 yang ditetapkan dari tahun 2015 sudah tidak sesuai dengan keadaan sekarang. “Kenaikannya juga tidak terlalu signifikan,” katanya.(mof/shn/dly/jum/by/ran)

BANJARMASIN – Masitah terkejut. Gas elpiji 3 Kg yang biasanya dia beli di tingkat pengecer paling mahal Rp23 ribu, kemarin didapatkan seharga Rp25 ribu. Dia pun hanya bisa pasrah.

“Semuanya serba naik. Kalau gas ini tak dibeli, bisa tak makan kami di rumah. Mau bagaimana lagi. Tapi saya merasa terbebani,” gerutu warga Sungai Andai Banjarmasin itu kemarin.

Dia menyayangkan kenaikan ini tak ada pemberitahuan atau sosialisasi sebelumnya. “Mana ada sosialisasi. Tahu-tahu langsung naik begitu saja,” ucapnya.

Kenaikan harga gas melon ini seiring, keluarnya surat keputusan dari Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor tentang penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) terbaru untuk gas LPG 3 Kg di Kalsel. Di mana sebelumnya, HET gas melon ini Rp17.500, yang menjadi Rp18.500 per tabung.

Sementara berdasarkan SK tersebut, harga jual ke pangkalan sebesar Rp15.250. Pemberlakukan HET baru ini sejak 11 Mei tadi. Berlaku untuk 13 kabupaten dan kota se Kalsel. “Sudah harganya naik, kadang biasanya susah dicari. Dan kalau ada pun harganya akan naik lagi,” kata Masitah.

Keluhan serupa disampaikan Madi, warga Kampung Gedang itu menyayangkan di saat kondisi ekonomi belum benar-benar pulih, harusnya kenaikan ini tak dipaksakan. “Memang Rp1000 tak seberapa. Tapi kalau sudah ditingkat pengecer, kenaikan harganya bisa sampai Rp5000,” ujarnya.

Sementara, Kabag Sumber Daya Alam Biro Ekonomi Setdaprov Kalsel, Siti Wahidah mengatakan, kenaikan harga gas tersebut dilakukan demi meningkatkan kualitas tabung. Yang mana menurutnya, sebelumnya kondisi tabung dibiarkan seadanya lantaran rusak akibat pendistribusian.

Kenaikan Rp1000 tersebut menurutnya sangat wajar demi kualitas tabung lebih baik. Selain itu pertimbangan biaya angkut hingga ke daerah terjauh di Kalsel menjadi pertimbangan. “Harapan kita dengan kenaikan ini bisa tepat harga, tepat kualitas, dan tabung yang sampai ke pembeli benar-benar bagus dan terjamin,” ucapnya.

Baca Juga :  Harga Elpiji Naik, Banjarmasin Bagikan 42.500 Kartu Kendali

Dia menjelaskan, keputusan gubernur tersebut merupakan kesepakatan dari rapat bersama dengan Pertamina, Dinas ESDM, yayasan lembaga konsumen, dan pihak lainnya. Wahidah sendiri baru pindah ke Biro Ekonomi. Dia belum tahu secara rinci soal ini. “Yang saya baca dari SK seperti itu, Kepala Biro Ekonomi juga baru, dan ketika kami masuk ke Biro Ekonomi, SK itu sudah ada di Biro Hukum,” tuturnya.

Yang jelas tegasnya, karena hasil kesepakatan bersama, maka keputusan menaikkan harga gas melon ini bukan semata-mata atas keinginan gubernur. “Sekali lagi ini keputusan bersama semua pihak,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas ESDM Kalsel, Isharwanto tak memberikan jawaban saat dikonfirmasi via WhatsApp terkait dasar dan alasan kenaikan harga gas melon ini. Termasuk apakah sudah ada koordinasi dengan semua pihak termasuk dengan DPRD Kalsel.

Warga Sudah Siap Jika Harus Naik

Pantauan wartawan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), tidak terjadi antrian panjang pembelian di agen-agen.

Santi Annisa salah satu agen gas elpiji di bawah naungan PT Surya Utama Jaya mengaku penjualan gas elpiji di tempatnya normal seperti hari sebelumnya tidak ada antrean panjang yang terjadi akibat akan naiknya harga gas elpiji tiga kilogram. “Normal, dalam sehari sekitar dua ribu lebih tabung habis terjual,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Menurutnya, kenaikan harga ini normal saja. “Karena sudah cukup lama harga gas elpiji tiga kilogram tidak naik,” katanya.

Baca Juga :  Lonjakan Permintaan LPG Jelang Ramadan, Hiswana: Sudah Diantisipasi

Di Tapin, gas elpiji jelang kenaikan harga juga normal seperti biasanya. Murniah pemilik pangkalan LPG 3 Kilogram di Jalan Rangda Kelurahan Rangda Malingkung Kecamatan Tapin Utara menuturkan bahwa dari pagi hingga sore, tidak ada yang mengantre untuk membeli elpiji di sini.

“Normal saja, mungkin karena sebelumnya sudah saya beritahu bahwa akan naik,” tuturnya, Kamis (12/5) sore.

Pemberitahuan hendak naik harga elpiji memang diakui sejak sebulan yang lalu, semenjak itu ia selalu memberitahukan kepada pelanggannya.

“Rata-rata menerima saja. Bahkan ada pelanggan yang selalu tanya apakah sudah baik atau belum,” tuturnya.

Ditambahkannya, untuk pangkalannya bernama H Abdul Salam dalam satu Minggu mendapatkan jatah 140 tabung gas.“Alhamdulillah selalu habis,” jelasnya.

Rencana kenaikan harga Gas Elpiji di Kabupaten Kotabaru juga tidak begitu membuat masyarakat terkejut, selama barangnya tidak langka.

Irommi salah satu ibu rumah tangga di Desa Mekarpura Kecamatan Pulau Laut Tengah Kotabaru mengatakan tidak masalah ada kenaikan asalkan sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah. Di Kotabaru menurutnya harga yang diecersangat melambung tinggi hingga kesannya ada permainan oknum.

“Kalau gas di pangkalan habis, saya terpaksa membelinya di warung- warung yang pengecer. Harganya memang mengejutkan kisaran Rp 45 ribu sampai Rp 50 ribu,” ungkapnya.

Kabid Bina Perdagangan Dinas Perdagangan (Disdag) HSS, Amelia Budhiarti mengenai kenaikan harga gas elpiji tiga kilogram ini cukup disambut baik para agen. Karena harga sebelumnya Rp 17.500 yang ditetapkan dari tahun 2015 sudah tidak sesuai dengan keadaan sekarang. “Kenaikannya juga tidak terlalu signifikan,” katanya.(mof/shn/dly/jum/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/