alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Berlari untuk Ganti Balapan Liar

Malam yang dingin itu tiba-tiba menyentak panas. Di tengah sorakan penonton, dua pemuda bertelanjang dada dan tanpa alas kaki itu tampak berlari. Melaju hingga ke garis finish.

– Oleh: WAHYU RAMADHAN, Kotabaru

Waktu bersantap sahur masih panjang. Tapi pada Jumat (29/4) dini hari itu, Siring Laut Kotabaru sudah tampak ramai dipadati warga. Lokasi yang jaraknya hanya selemparan batu dari Gedung Pemkab Kotabaru itu riuh dengan sorak-sorai warga yang berkerumun. Mereka membentuk antrean panjang.

Di tengah-tengah kerumunan, dua pemuda yang hanya mengenakan celana pendek tampak menanggalkan kaus dan alas kakinya.

Tak berapa lama keduanya pun bersiap. Mengambil posisi ancang-ancang layaknya atlet lari profesional. Dan ya, ketika aba-aba diberikan keduanya sontak berlari.

Keduanya berlari di atas jalanan beraspal sejauh 90 meter. Sorak-sorai kembali terdengar nyaring hingga salah satu di antara dua pemuda itu tiba lebih dulu menyentuh garis finish.

Inilah lomba lari jalanan yang viral itu. Terinspirasi dari beberapa daerah di Pulau Jawa. Yang trek atau lintasannya memakai ruas jalan raya. Lomba itu digelar sebagai ganti ajang balap liar yang kerap dilakukan di jalan raya.

Di Kotabaru, ajang lomba lari jalanan itu sudah digelar sejak awal bulan ramadan tadi. Semula lintasan yang dipakai juga di jalan raya. Tepatnya di kawasan Jalan Veteran, Kecamatan Pulau Laut Utara.

Namun, di situ hanya berlangsung beberapa hari saja.”Karena dianggap bisa mengganggu arus lalu lintas, ajang lomba lari jalanan dialihkan ke di Siring Laut Kotabaru,” ucap salah seorang warga Kotabaru, Masduki, yang ditemui penulis malam itu.

Menurut Duki, ajakan hingga tantangan lomba lari itu semula hanya tersiar dari sejumlah grup whatsapp. Namun kemudian menjadi rutinitas sembari menunggu waktu bersahur.

Tantangan pun kemudian tidak lagi disebar melalui grup whatsapp. Bagi yang ingin mencari lawan tanding, cukup dengan datang ke Siring Laut Kotabaru.”Ada yang mengkoordinir alias jadi panitia. Itu semata-mata dilakukan, agar kegiatan ini bisa berjalan dengan tertib,” timpal warga lainnya, Icahogie.

Dijelaskan Ica, pelari bisa dengan bebas meladeni atau menantang siapa saja yang berkenan. Bahkan, ajang lomba lari jalanan itu pun bisa diikuti oleh siapa saja.

Tua maupun muda, perempuan maupun laki-laki. Atlet maupun non atlet juga boleh. Tak ada larangan. Karena semata-mata, memang hanya digelar memeriahkan bukan ramadan.
“Syaratnya tentu, harus bisa berlari,” jelasnya.

Baca Juga :  Balapan Liar, 15 Motor Disita

Kian malam, Siring Laut Kotabaru kian riuh. Setidaknya, sudah ada empat pertandingan yang digelar malam itu. Benar-benar malam yang menghibur.

“Ini belum seberapa. Coba kalau abang datang di awal-awal Ramadan tadi, lebih seru lagi. Bisa lihat cewek-cewek juga ikutan lomba lari,” tambah Ica.

Di sela-sela kegiatan, penulis bertemu dengan Abdul. Usianya 19 tahun. Ia baru saja memenangkan ajang lomba lari. Dan malam itu adalah lomba lari perdana yang diikutinya.

Abdul mengatakan, sebelumnya ia hanya melihat-lihat saja. Tak puas hanya melihat, pemuda yang tinggal di Jalan Mega Indah Kabupaten Kotabaru itu, lantas merasa tertantang dan ingin menjadi peserta lomba.

“Tak ada persiapan bang. Paling, cuma latihan futsal. Alhamdulillah menang. Ya hitung-hitung persiapan fisik. Soalnya saya mau masuk jadi anggota Polri, bang,” ucapnya.

Disinggung terkait kesulitan yang dihadapi ketika mengikuti ajang balap lari itu, Abdul mengaku hanya sedikit grogi. Lantaran terlalu banyak penonton yang menyaksikan pertandingan.

Penulis juga berbincang dengan pelari lainnya, Rahmat. Usianya 18 tahun. Diungkapkannya, banyaknya penonton juga kerap membuatnya grogi.”Saya ini gampang sekali demam panggung,” ucapnya, lantas terkekeh.

Lalu, kalau pun ada kesulitan, itu lantaran para pelari tidak mengenakan alas kaki jenis apa pun.”Telapak kaki saya saja, sudah dua kali terluka, bang,” tambahnya.

Kendati demikian, Rahmat bukanlah pelari pemula. Buktinya, malam itu ia sedang mondar-mandir mencari penantang. Begitu berani? Wajar. Pemuda asal Desa Sarang Tiung itu, sudah mengikuti pertandingan sebanyak delapan kali. Dan hanya sekali mengalami kekalahan.”Kalahnya pun cuma selangkah. Kalah saat start. Pas hitungan ketiga, pendengaran saya tiba-tiba seperti hilang,” ungkapnya.

Rahmat melanjutkan. Selain perorangan, umumnya mereka yang mengikuti lomba lari itu tergabung dalam beberapa tim. Maka, jangan heran bila para pelari tidak datang sendirian.

Nama tim diambil dari nama desa di mana pelari berasal. Seperti misalnya timnya Rahmat. Namanya Tim Rampa dan Sarang Tiung Full Senyum. Gabungan dari Desa Rampa dan Desa Sarang Tiung.”Kalau pun tidak memiliki tim, si pelari juga pasti didampingi oleh rekan-rekannya, bang,” ucapnya.

Dan umumnya pula, selain pelari sendiri, tim atau rekan-rekan pelari lah yang juga bertugas mencarikan lawan.

Lantas, apa yang membuat dirinya tertarik mengikuti ajang lomba lari itu? Rahmat mengatakan bahwa berlari adalah hobinya. Kemudian, ia mengaku bahwa ke depannya hendak menjadi atlet lari.”Semoga saja tercapai bang,” harapnya.

Baca Juga :  Balapan Liar di Murjani, Puluhan Remaja Diciduk Polisi

Sorak-sorai kembali terdengar. Dari hasil pantauan penulis malam itu, seorang pelari bisa saja bertanding beberapa kali. Asalkan si pelari merasa sanggup atau masih mampu berlari. Lebih hebat lagi, tak ada hadiah dalam lomba itu. Yang didapatkan semata-mata hanyalah sebuah kepuasan.

Di sisi lain, meski situasi ajang lomba lari jalanan itu tampak memanas, tapi suasananya sangat kondusif. Panitia pelaksana betul-betul memerhatikan itu. Untuk keselamatan pelari, panitia bahkan menyediakan ambulans untuk berjaga-jaga.

Terpisah, menjelang tiba waktu bersahur, penulis bertemu dengan salah satu panitia ajang lomba lari jalanan di Kotabaru, itu. Namanya, Ahmad Amiruddin. Dijelaskan Amir, ide mengadakan ajang lomba lari jalanan itu memang terinspirasi dari luar daerah. Seperti misalnya yang digelar di Pulau Jawa.

Kemudian, pihaknya juga sering kali melihat adanya anak muda Kotabaru yang menggelar adu balap motor di jalanan raya, yang tidak sedikit menimbulkan korban jiwa itu.”Dari situ berpikiran, mengapa tidak disalurkan melalui hal lain saja. Seperti misalnya melalui ajang lomba lari jalanan,” ujarnya.

“Dan ternyata, antusiasnya juga cukup tinggi. Yang datang atau yang ikut lomba lari tidak hanya warga dekat sini saja. Tapi hingga ke desa yang lokasinya cukup jauh di Kotabaru,” jelasnya.

“Dari pada melakukan hal macam-macam yang sifatnya negatif, lebih baik ambil positifnya. Kalau seperti ini kan bisa sekalian olah raga sembari menunggu sahur,” tambahnya.

Lalu, Amir juga membenarkan bahwa pertama kalinya, ajang lomba lari jalanan digelar di jalan raya. Namun ditekankannya, itu hanya sempat berlangsung sebentar saja.”Setelah diberikan pemahaman dan diorganisir, mereka bisa memahami,” ungkapnya.

Lebih jauh, lelaki 35 tahun itu mengungkapkan nilai tambah lainnya yang bisa diambil dari ajang lomba lari jalanan tersebut, yakni bisa melihat sejauh mana potensi anak muda Kotabaru dalam hal olahraga.

Khususnya, olahraga lomba lari. Menurutnya, ajang lomba lari jalanan seperti ini, juga bisa menjadi wadah pencarian bibit atlet.”Umur 17 sampai 18, bila memang berpotensi kami usulkan jadi atlet lari,” tekannya.

Tak terasa, sorak-sorai di kawasan Siring Laut Kotabaru mulai meredup. Satu persatu warga mulai meninggalkan kawasan itu.”Di sini, kami cukup kekurangan hiburan. Insyaallah, Ramadan tahun depan kegiatan seperti ini akan kami gelar lagi,” pungkasnya. (war/by/ran)

Malam yang dingin itu tiba-tiba menyentak panas. Di tengah sorakan penonton, dua pemuda bertelanjang dada dan tanpa alas kaki itu tampak berlari. Melaju hingga ke garis finish.

– Oleh: WAHYU RAMADHAN, Kotabaru

Waktu bersantap sahur masih panjang. Tapi pada Jumat (29/4) dini hari itu, Siring Laut Kotabaru sudah tampak ramai dipadati warga. Lokasi yang jaraknya hanya selemparan batu dari Gedung Pemkab Kotabaru itu riuh dengan sorak-sorai warga yang berkerumun. Mereka membentuk antrean panjang.

Di tengah-tengah kerumunan, dua pemuda yang hanya mengenakan celana pendek tampak menanggalkan kaus dan alas kakinya.

Tak berapa lama keduanya pun bersiap. Mengambil posisi ancang-ancang layaknya atlet lari profesional. Dan ya, ketika aba-aba diberikan keduanya sontak berlari.

Keduanya berlari di atas jalanan beraspal sejauh 90 meter. Sorak-sorai kembali terdengar nyaring hingga salah satu di antara dua pemuda itu tiba lebih dulu menyentuh garis finish.

Inilah lomba lari jalanan yang viral itu. Terinspirasi dari beberapa daerah di Pulau Jawa. Yang trek atau lintasannya memakai ruas jalan raya. Lomba itu digelar sebagai ganti ajang balap liar yang kerap dilakukan di jalan raya.

Di Kotabaru, ajang lomba lari jalanan itu sudah digelar sejak awal bulan ramadan tadi. Semula lintasan yang dipakai juga di jalan raya. Tepatnya di kawasan Jalan Veteran, Kecamatan Pulau Laut Utara.

Namun, di situ hanya berlangsung beberapa hari saja.”Karena dianggap bisa mengganggu arus lalu lintas, ajang lomba lari jalanan dialihkan ke di Siring Laut Kotabaru,” ucap salah seorang warga Kotabaru, Masduki, yang ditemui penulis malam itu.

Menurut Duki, ajakan hingga tantangan lomba lari itu semula hanya tersiar dari sejumlah grup whatsapp. Namun kemudian menjadi rutinitas sembari menunggu waktu bersahur.

Tantangan pun kemudian tidak lagi disebar melalui grup whatsapp. Bagi yang ingin mencari lawan tanding, cukup dengan datang ke Siring Laut Kotabaru.”Ada yang mengkoordinir alias jadi panitia. Itu semata-mata dilakukan, agar kegiatan ini bisa berjalan dengan tertib,” timpal warga lainnya, Icahogie.

Dijelaskan Ica, pelari bisa dengan bebas meladeni atau menantang siapa saja yang berkenan. Bahkan, ajang lomba lari jalanan itu pun bisa diikuti oleh siapa saja.

Tua maupun muda, perempuan maupun laki-laki. Atlet maupun non atlet juga boleh. Tak ada larangan. Karena semata-mata, memang hanya digelar memeriahkan bukan ramadan.
“Syaratnya tentu, harus bisa berlari,” jelasnya.

Baca Juga :  Balap Liar, 28 Unit Ranmor Langsung Ditilang

Kian malam, Siring Laut Kotabaru kian riuh. Setidaknya, sudah ada empat pertandingan yang digelar malam itu. Benar-benar malam yang menghibur.

“Ini belum seberapa. Coba kalau abang datang di awal-awal Ramadan tadi, lebih seru lagi. Bisa lihat cewek-cewek juga ikutan lomba lari,” tambah Ica.

Di sela-sela kegiatan, penulis bertemu dengan Abdul. Usianya 19 tahun. Ia baru saja memenangkan ajang lomba lari. Dan malam itu adalah lomba lari perdana yang diikutinya.

Abdul mengatakan, sebelumnya ia hanya melihat-lihat saja. Tak puas hanya melihat, pemuda yang tinggal di Jalan Mega Indah Kabupaten Kotabaru itu, lantas merasa tertantang dan ingin menjadi peserta lomba.

“Tak ada persiapan bang. Paling, cuma latihan futsal. Alhamdulillah menang. Ya hitung-hitung persiapan fisik. Soalnya saya mau masuk jadi anggota Polri, bang,” ucapnya.

Disinggung terkait kesulitan yang dihadapi ketika mengikuti ajang balap lari itu, Abdul mengaku hanya sedikit grogi. Lantaran terlalu banyak penonton yang menyaksikan pertandingan.

Penulis juga berbincang dengan pelari lainnya, Rahmat. Usianya 18 tahun. Diungkapkannya, banyaknya penonton juga kerap membuatnya grogi.”Saya ini gampang sekali demam panggung,” ucapnya, lantas terkekeh.

Lalu, kalau pun ada kesulitan, itu lantaran para pelari tidak mengenakan alas kaki jenis apa pun.”Telapak kaki saya saja, sudah dua kali terluka, bang,” tambahnya.

Kendati demikian, Rahmat bukanlah pelari pemula. Buktinya, malam itu ia sedang mondar-mandir mencari penantang. Begitu berani? Wajar. Pemuda asal Desa Sarang Tiung itu, sudah mengikuti pertandingan sebanyak delapan kali. Dan hanya sekali mengalami kekalahan.”Kalahnya pun cuma selangkah. Kalah saat start. Pas hitungan ketiga, pendengaran saya tiba-tiba seperti hilang,” ungkapnya.

Rahmat melanjutkan. Selain perorangan, umumnya mereka yang mengikuti lomba lari itu tergabung dalam beberapa tim. Maka, jangan heran bila para pelari tidak datang sendirian.

Nama tim diambil dari nama desa di mana pelari berasal. Seperti misalnya timnya Rahmat. Namanya Tim Rampa dan Sarang Tiung Full Senyum. Gabungan dari Desa Rampa dan Desa Sarang Tiung.”Kalau pun tidak memiliki tim, si pelari juga pasti didampingi oleh rekan-rekannya, bang,” ucapnya.

Dan umumnya pula, selain pelari sendiri, tim atau rekan-rekan pelari lah yang juga bertugas mencarikan lawan.

Lantas, apa yang membuat dirinya tertarik mengikuti ajang lomba lari itu? Rahmat mengatakan bahwa berlari adalah hobinya. Kemudian, ia mengaku bahwa ke depannya hendak menjadi atlet lari.”Semoga saja tercapai bang,” harapnya.

Baca Juga :  Balapan Liar, 15 Motor Disita

Sorak-sorai kembali terdengar. Dari hasil pantauan penulis malam itu, seorang pelari bisa saja bertanding beberapa kali. Asalkan si pelari merasa sanggup atau masih mampu berlari. Lebih hebat lagi, tak ada hadiah dalam lomba itu. Yang didapatkan semata-mata hanyalah sebuah kepuasan.

Di sisi lain, meski situasi ajang lomba lari jalanan itu tampak memanas, tapi suasananya sangat kondusif. Panitia pelaksana betul-betul memerhatikan itu. Untuk keselamatan pelari, panitia bahkan menyediakan ambulans untuk berjaga-jaga.

Terpisah, menjelang tiba waktu bersahur, penulis bertemu dengan salah satu panitia ajang lomba lari jalanan di Kotabaru, itu. Namanya, Ahmad Amiruddin. Dijelaskan Amir, ide mengadakan ajang lomba lari jalanan itu memang terinspirasi dari luar daerah. Seperti misalnya yang digelar di Pulau Jawa.

Kemudian, pihaknya juga sering kali melihat adanya anak muda Kotabaru yang menggelar adu balap motor di jalanan raya, yang tidak sedikit menimbulkan korban jiwa itu.”Dari situ berpikiran, mengapa tidak disalurkan melalui hal lain saja. Seperti misalnya melalui ajang lomba lari jalanan,” ujarnya.

“Dan ternyata, antusiasnya juga cukup tinggi. Yang datang atau yang ikut lomba lari tidak hanya warga dekat sini saja. Tapi hingga ke desa yang lokasinya cukup jauh di Kotabaru,” jelasnya.

“Dari pada melakukan hal macam-macam yang sifatnya negatif, lebih baik ambil positifnya. Kalau seperti ini kan bisa sekalian olah raga sembari menunggu sahur,” tambahnya.

Lalu, Amir juga membenarkan bahwa pertama kalinya, ajang lomba lari jalanan digelar di jalan raya. Namun ditekankannya, itu hanya sempat berlangsung sebentar saja.”Setelah diberikan pemahaman dan diorganisir, mereka bisa memahami,” ungkapnya.

Lebih jauh, lelaki 35 tahun itu mengungkapkan nilai tambah lainnya yang bisa diambil dari ajang lomba lari jalanan tersebut, yakni bisa melihat sejauh mana potensi anak muda Kotabaru dalam hal olahraga.

Khususnya, olahraga lomba lari. Menurutnya, ajang lomba lari jalanan seperti ini, juga bisa menjadi wadah pencarian bibit atlet.”Umur 17 sampai 18, bila memang berpotensi kami usulkan jadi atlet lari,” tekannya.

Tak terasa, sorak-sorai di kawasan Siring Laut Kotabaru mulai meredup. Satu persatu warga mulai meninggalkan kawasan itu.”Di sini, kami cukup kekurangan hiburan. Insyaallah, Ramadan tahun depan kegiatan seperti ini akan kami gelar lagi,” pungkasnya. (war/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/