alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

TAHULAH PIAN?

Kisah Datu Taniran

Jika Anda berkunjung ke Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Anda mungkin ingin menziarahi kubah Datu Taniran. Kubah Datu Taniran adalah salah satu wisata religius di kabupaten setempat. Lokasi Kubah Datu Taniran berada di Desa Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang.

Datu Taniran bernama asli Tuan Guru H Muhammad Thaib atau Syekh H Sa’duddin. Dia merupakan salah satu zuriat dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kelampayan.

Datu Taniran lahir di Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1774 Masehi atau tahun 1194 Hijriah dan meninggal 5 Shafar 1278 Hijriah atau 1858 Masehi yang dimakamkan di Taniran dan terkenal dengan sebutan Kubah Taniran.

Zuriat Syekh H Sa’duddin, H Muhammad Arsyad mengatakan Datu Taniran atau Syekh H Sa’duddin selalu berkhidmat atau mengabdikan diri kepada kakak beliau yakni Mufti H Muhammad Arsyad Pagatan.“Beliau selalu mendampingi kemana saja ketika kakaknya berdakwah,” ceritanya saat ditemui, Kamis (5/5) kemarin.

Menurut pria kelahiran 1959 ini, Datu Taniran atau Syekh H Sa’duddin sejak kecil sudah mendapat didikan agama dari ayahnya yaitu, H Mufti Muhammad As’ad, dan juga datuk serta kakak.

Baca Juga :  Detik-Detik Mencekam di Mitra Plaza

Setelah dewasa sekitar usia sekitar 25 tahun, Datu Taniran pergi ke Tanah Suci Makkah untuk belajar berbagai ilmu agama. Sekembalinya dari Makkah, pada tahun 1812 Masehi datanglah tetuha masyarakat atau tokoh masyarakat Desa Taniran menemui orang tua Datu Taniran yaitu H Mufti Muhammad As’ad dengan maksud agar berkenan mengirim seorang guru ke Taniran guna memberikan pendidikan agama.

Mendengar hal demikian, H Mufti Muhammad As’ad selaku mufti di Kerajaan Banjar dengan senang hati mengirim anaknya yang baru datang dari Makkah.

Mendengar kabar H Mufti Muhammad As’ad bersedia mengirim seorang guru agama untuk memimpin masyarakat taniran, Abah Saleh yang saat itu merupakan lurah Kampung Taniran sangat gembira.

“Masyarakat Taniran merasa senang dan bersyukur, mereka akan memperoleh seorang pemimpin agama yang dapat meningkatkan keyakinan beragama dan meningkatkan amaliahnya,” tuturnya.

Menggunakan perahu begiwas yang khusus didatangkan dari Taniran melalui Sungai Nagara (Daha) lengkap dengan awak perahu dan seorang juru mudi bernama Su Salum, masyarakat menjemput Datu Taniran ke Martapura Kabupaten Banjar.

Baca Juga :  Kabar Duka, Guru Napiah Ulama asal Banjarbaru Meninggal Dunia

Sebagai wujud kegembiraan dan rasa syukur masyarakat Taniran atas kesediaan Syekh Sa’duddin tinggal bersama, maka masyarakat Taniran menghibahkan sebidang tanah perkebunan kelapa dengan luasnya sekitar 10 borongan atau 28.900 meter persegi.“Lahan tersebut untuk tempat tinggal dan dijadikan komplek kegiatan belajar mengajar Syekh H Sa’duddin,” ucapnya.

Inilah awal bermula tempat pendidikan agama, atau basisnya dakwah Syekh H Sa’duddin yang setiap hari didatangi orang untuk belajar.“Selain masyarakat Taniran, juga banyak orang datang dari berbagai daerah di Hulu Sungai, seperti Barabai, Nagara, Amuntai dan lainnya,” katanya.

Setelah 45 tahun guru besar ini mencurahkan darma baktinya terhadap agama, bangsa, anak cucu dan santri hingga menjadi alim, tepat pada 5 Shafar 1278 Hijriah atau 1858 Masehi, Datu Taniran berpulang ke rahmatullah, dan dimakamkan di Desa Taniran.

Makam Datu Taniran pernah direhab pada tahun 1919. Banyaknya peziarah juga membuat makam kembali dipugar pada tahun 2000-an.“Mulai subuh biasanya sudah ramai warga ziarah sampai tengah malam,” pungkas H Muhammad Arsyad. (shn/by/ran)

Jika Anda berkunjung ke Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Anda mungkin ingin menziarahi kubah Datu Taniran. Kubah Datu Taniran adalah salah satu wisata religius di kabupaten setempat. Lokasi Kubah Datu Taniran berada di Desa Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang.

Datu Taniran bernama asli Tuan Guru H Muhammad Thaib atau Syekh H Sa’duddin. Dia merupakan salah satu zuriat dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kelampayan.

Datu Taniran lahir di Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1774 Masehi atau tahun 1194 Hijriah dan meninggal 5 Shafar 1278 Hijriah atau 1858 Masehi yang dimakamkan di Taniran dan terkenal dengan sebutan Kubah Taniran.

Zuriat Syekh H Sa’duddin, H Muhammad Arsyad mengatakan Datu Taniran atau Syekh H Sa’duddin selalu berkhidmat atau mengabdikan diri kepada kakak beliau yakni Mufti H Muhammad Arsyad Pagatan.“Beliau selalu mendampingi kemana saja ketika kakaknya berdakwah,” ceritanya saat ditemui, Kamis (5/5) kemarin.

Menurut pria kelahiran 1959 ini, Datu Taniran atau Syekh H Sa’duddin sejak kecil sudah mendapat didikan agama dari ayahnya yaitu, H Mufti Muhammad As’ad, dan juga datuk serta kakak.

Baca Juga :  Bukan Insinyur, Ternyata Tugu Obor Dirancang Oleh Seniman

Setelah dewasa sekitar usia sekitar 25 tahun, Datu Taniran pergi ke Tanah Suci Makkah untuk belajar berbagai ilmu agama. Sekembalinya dari Makkah, pada tahun 1812 Masehi datanglah tetuha masyarakat atau tokoh masyarakat Desa Taniran menemui orang tua Datu Taniran yaitu H Mufti Muhammad As’ad dengan maksud agar berkenan mengirim seorang guru ke Taniran guna memberikan pendidikan agama.

Mendengar hal demikian, H Mufti Muhammad As’ad selaku mufti di Kerajaan Banjar dengan senang hati mengirim anaknya yang baru datang dari Makkah.

Mendengar kabar H Mufti Muhammad As’ad bersedia mengirim seorang guru agama untuk memimpin masyarakat taniran, Abah Saleh yang saat itu merupakan lurah Kampung Taniran sangat gembira.

“Masyarakat Taniran merasa senang dan bersyukur, mereka akan memperoleh seorang pemimpin agama yang dapat meningkatkan keyakinan beragama dan meningkatkan amaliahnya,” tuturnya.

Menggunakan perahu begiwas yang khusus didatangkan dari Taniran melalui Sungai Nagara (Daha) lengkap dengan awak perahu dan seorang juru mudi bernama Su Salum, masyarakat menjemput Datu Taniran ke Martapura Kabupaten Banjar.

Baca Juga :  Kisah Wali Katum di HST

Sebagai wujud kegembiraan dan rasa syukur masyarakat Taniran atas kesediaan Syekh Sa’duddin tinggal bersama, maka masyarakat Taniran menghibahkan sebidang tanah perkebunan kelapa dengan luasnya sekitar 10 borongan atau 28.900 meter persegi.“Lahan tersebut untuk tempat tinggal dan dijadikan komplek kegiatan belajar mengajar Syekh H Sa’duddin,” ucapnya.

Inilah awal bermula tempat pendidikan agama, atau basisnya dakwah Syekh H Sa’duddin yang setiap hari didatangi orang untuk belajar.“Selain masyarakat Taniran, juga banyak orang datang dari berbagai daerah di Hulu Sungai, seperti Barabai, Nagara, Amuntai dan lainnya,” katanya.

Setelah 45 tahun guru besar ini mencurahkan darma baktinya terhadap agama, bangsa, anak cucu dan santri hingga menjadi alim, tepat pada 5 Shafar 1278 Hijriah atau 1858 Masehi, Datu Taniran berpulang ke rahmatullah, dan dimakamkan di Desa Taniran.

Makam Datu Taniran pernah direhab pada tahun 1919. Banyaknya peziarah juga membuat makam kembali dipugar pada tahun 2000-an.“Mulai subuh biasanya sudah ramai warga ziarah sampai tengah malam,” pungkas H Muhammad Arsyad. (shn/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

Penyebar Islam Pertama di Balangan

Kyai Hasbullah dari Sungai Pandan

Kisah Gusti Datu Aminin

/