alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Cahaya Makamnya Memandu Para Pelaut

Di lingkungan kerajaan, ia menjadi penasihat. Bahkan hingga seusai wafatnya, Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus selalu menjadi rujukan tempat orang bertanya ini-itu.

jejak ramadan radar banjarmasin

Pada suatu ketika, sebuah kapal yang berlayar dari selat Sulawesi kehilangan arah. Kompas yang digunakan tak dapat membantu. Terombang-ambing di tengah samudera luas.

Sekian lama kapal itu tak kunjung melihat adanya tanda-tanda daratan. Pagi berganti siang, kemudian siang berganti malam. Namun sang nakhoda, tak kunjung menemukan arah yang tepat.

Hingga suatu ketika di kejauhan, tampak sinar cahaya yang membumbung tinggi ke angkasa. Nakhoda yang melihat cahaya itu membelokan kemudi kapalnya. Mengarahkan kapal menuju cahaya itu.

Alhasil, sebuah daratan pun tampak. Nakhoda beserta anak buah kapal (ABK) pun akhirnya tiba di daratan. Di Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu.

Konon, diceritakan bahwa cahaya yang membumbung tinggi itu berasal dari sebuah makam di Kompleks Makam Raja Batulicin. Yakni, Makam Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus.

Penulis mengunjungi makam itu pada Kamis (28/4) pagi. Lokasinya berada tak jauh dari pusat keramaian Kota Batulicin. Tak jauh dari jalan menuju Pelabuhan Fery Batulicin.

Dari pintu gerbang kompleks makam itu, tampak hamparan makam tua. Umumnya makam bernisan kayu dengan tinggi rata-rata sekitar satu meter.

Namun di antara ratusan makam itu, ada bangunan yang cukup mencolok. Seperti bangunan rumah. Namun di dalamnya juga terdapat banyak makam tua.

Di dalam bangunan itu pula, ada makam yang paling berbeda. Makam itu berupa gundukan semen yang dilapisi tegel. Diselimuti kain berkelir kuning, dengan kain hijau bertuliskan kalimat tauhid di atasnya.

Itulah makam Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus.

Saat penulis mengunjungi makam itu, belum ada satu pun tampak peziarah. Yang ada hanya penjaga makam. Namanya Usman. Saat ditemui, ia sedang asyik membersihkan bangunan makam dengan sapunya.

Kepada penulis, Usman mengaku sudah 34 tahun menjaga kompleks Makam Raja Batulicin itu.

Sayang, ketika penulis memintanya untuk menceritakan kisah Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus, ia mengaku tak bisa menuturkannya.”Saya tahu cerita tentang beliau. Beliau adalah waliyullah. Tapi mohon maaf, saya tidak bisa menceritakannya,” ucapnya.

“Saya sudah berjanji untuk tidak menceritakan apa pun tentang beliau. Meskipun kepada istri saya sendiri,” tambahnya kemudian tersenyum.

Cukup lama penulis berada di makam itu. Tapi, tak ada satu pun cerita yang keluar dari Usman. Kecuali hanya bahwa tiap hari, selalu ada peziarah yang datang.

Meskipun saat kondisi yang masih dilanda pandemi.”Yang datang biasanya ada yang sendirian, rombongan, bahkan sampai menggunakan bus. Paling ramai itu pada malam Jumat,” jelasnya.”Seingat saya, yang belum lama ini datang itu berasal dari Pontianak,” tambahnya.

Lantaran tidak bisa mendapatkan cerita tentang Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus, penulis pun memohon izin untuk melihat-lihat makam dan memotretnya. Untuk yang satu ini, Usman mengizinkannya.

Baca Juga :  Yuda Lalana dan Pertempurannya

Di makam Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus, tertulis bahwa yang bersangkutan wafat pada tahun 1915 masehi.

Kendati demikian, di situ setidaknya diketahui, bahwa beliau adalah keturunan dari Pangeran Syarif Ali Alaydrus.

Seusai mencatat, penulis pun beekoordinasi dengan wartawan Radar Banjarmasin yang ngepos di Kabupaten Tanah Bumbu. Dari informasi yang di himpun, zuriat dari Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus itu masih ada. Dan tinggal di kawasan Batulicin.

Namanya, Habib Andi Abdurrahman Alaydrus bin Abbas. Ia saat ini menjabat sebagai Ketua Yayasan Pangeran Syarif Ahmad.

MAKAM KERAMAT: Deretan makam-makam tua di Kompleks Makam Raja Batulicin. | Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin

Dari keterangan Andi Abdurrahman, diketahui bahwa Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus memang merupakan keturunan dari Pangeran Syarif Ali Alaydrus.

Siapa Pangeran Syarif Ali Alaydrus? Ia tak lain adalah Raja sekaligus pendiri Kerajaan Sebamban.

Kerajaan itu berdiri berdiri pada pertengahan abad ke-18. Atau hampir bersamaan dengan periode pemerintahan Sultan Adam, Raja Banjar ke-12 periode 1825-1857.

Pangeran Syarif Ali Alaydrus merupakan putra Syarif Abdurrahman Alaydrus, bin Syarif Idrus Alaydrus yang merupakan Raja Kubu pertama.

Sedangkan sang ibu, yakni Syarifah Aisyah Al-Qadri Jamalullail. Putri Syarif Abdurrahman Al Qadri Jamalullail pendiri Kerajaan Pontianak.

Pada masa Pangeran Syarif Ali Alaydrus menjabat sebagai Raja Sebamban (wilayah kerajaan saat itu kini menjadi Kecamatan Sungai Loban, Kabupaten Tanah Bumbu), kawasan tersebut menjadi berkembang, ramai dan makmur.

Banyak pedagang dari luar daerah berdatangan ke Sebamban. Dan dari para pedagang itu pula tersebar berita tentang keberadaan serta kemasyhuran kerajaan Sebamban.

Menjelang Perang Banjar, yang di mulai dari tahun 1859, Pengeran Syarif Ali Alaydrus pun mangkat.

Jabatan sebagai Raja Sabamban II pun lantas dijabat oleh sang ponakan. Yakni, Syarif Gasim bin Syarif Hasan bin Pangeran Syarif Ali Alaydrus.

Lantaran Pangeran Syarif Mustafa Alaydrus selaku putra pertama dari Pangeran Syarif Ali Alaydrus tidak berkenan, juga tidak menginginkan kedudukan itu.

Konon, seusai wafatnya dua Raja yang sangat gigih menentang Belanda yakni Raja Sabamban I, Pangeran Syarif Ali Alaydrus serta Sultan Adam Raja Banjar ke-12, penjajah Belanda pun semakin semena-mena.

Kekacauan di mana-mana hingga pecahlah perang banjar yang pertama pada 1859 itu. Kekacauan menyelimuti seluruh wilayah di Provinsi Kalsel.

Berkobarnya perang dan hasrat penjajah Belanda yang ingin menguasai kerajaan Sebamban beserta asetnya, membuat para keturunan Pangeran Syarif Ali Ali Alaydrus yang anti penjajah Belanda, memilih membumihanguskan sendiri istana Kerajaan Sebamban.

Tujuannya, agar tak bisa dikuasai pihak Belanda.

Syukurlah, hingga saat ini kita masih bisa menjumpai jejak warisan peninggalan Kerajaan Sebamban. Melalui kehalusan akhlak dan budi pekerti, serta kedalaman ilmu para keturunannya.

Lantas, bagaimana dengan jejak berupa bukti fisik?

Jejak bukti peninggalan Kerajaan Sebamban, juga masih bisa dilihat. Salah satunya, berupa meriam milik Kerajaan Sebamban yang sekarang di tempatkan di Kantor Kecamatan Angsana.

Baca Juga :  Kampung Mualaf Ingin Kebun Dekat Pengajian

Kembali ke kisah Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus. Berdasarkan keterangan Andi Abdurrahman, Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus, bungsu dari 12 bersaudara.

“Salah satu istri Pangeran Syarif Ali Alaydrus adalah keturunan Kesultanan Bone Sulawesi Selatan. Dari istri beliau itulah, lahir Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus.” jelasnya, kepada penulis pada Kamis (28/4) malam.

“Sepengetahuan saya, berdasarkan silsilah juga penuturan nenek saya, Pengeran Syarif Ahmad Alaydrus mempunyai istri. Tapi, beliau tidak memiliki keturunan,” tambahnya.

Andi Abdurrahman pun juga menuturkan bahwa Pangeran Syarif Ahmad, tak diketahui pernah berdakwah. Ia hanya diketahui pernah menjabat sebagai penasehat Kerajaan Batulicin.

Kerajaan ini, berdiri pada tahun 1860. Sebuah kerajaan kecil pecahan dari Kerajaan Tanah Bumbu.

“Beliau selalu jadi rujukan ketika lingkungan kerajaan hingga masyarakat menemui masalah. Beliau sering mendamaikan orang-orang yang bermasalah,” jelasnya.

Lebih jauh, di lingkungan masyarakat, Pangeran Syarif Ahmad juga diketahui seorang waliyullah yang mastur atau seorang walyullah yang memilki maqam tersembunyi.

“Kewalian beliau, hanya diketahui ketika sudah wafat. Pasalnya, selama hidup bermasyarakat, beliau juga dikenal seorang habaib yang nyeleneh. Tidak seperti masyarakat pada umumnya,” ungkapnya.

Kendati demikian, menurut Habib Andi Abdurrahman, pernah suatu ketika Pangeran Syarif Ahmad pergi memancing kelaut.
Sang pangeran tak balik ke rumahnya selama dua hari.”Tapi anehnya, ketika dicari malah ada di rumah. Seperti tidak kemana-mana,” tuturnya.

Lantas, bagaimana ceritanya kewalian Pangeran Syarif Ahmad bisa sampai diketahui masyarakat banyak? Dituturkan oleh Andi Abdurrahman. Saat wafat, tanah makam sang pangeran terus terangkat alias meninggi.

“Lalu, ada banyak yang pernah melihat makam beliau mengeluarkan sinar yang begitu terang. Membumbung ke langit,” ucapnya.

“Cahaya itu, biasa menjadi penuntun bagi para pelayar yang tersesat di tengah lautan. Ada banyak pelayar, masyarakat yang melihatnya. Termasuk Usman, si penjaga makam,” tambah Andi Abdurrahman.

Di sisi lain, menurutnya, hal yang hingga saat ini juga masih berlaku di makam itu, yakni tentang hilangnya ilmu-ilmu kekebalan seseorang bila menziarahi makam Pangeran Syarif Ahmad.

“Terutama, mereka yang memiliki ‘Untalan’ (ilmu kebal yang biasanya didapat dari menelan sesuatu, red). Dijamin pasti dimuntahkan di situ,” jelasnya.

Lebih jauh, hal yang konon paling sering diketahui, yakni tentang banyaknya para pemimpin dan orang-orang yang sukses di Tanah Bumbu, sebelumnya pasti datang dan berziarah ke makam itu.

“Konon, itu ada kaitannya dengan pesan beliau. Kalau mau jadi orang sukses di Kabupaten Tanah Bumbu, mesti izin dulu ke beliau. Kalau tidak minta izin, bakal hancur,” ucapnya.

“Dan yang saya tahu, semua orang-orang yang sukses di Kabupaten Tanah Bumbu, memang pernah ziarah ke makam beliau. Biasanya malam Jumat, penuh dengan peziarah, apalagi kalau di bulan maulid nabi,” pungkasnya. (war/by/ran)

Di lingkungan kerajaan, ia menjadi penasihat. Bahkan hingga seusai wafatnya, Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus selalu menjadi rujukan tempat orang bertanya ini-itu.

jejak ramadan radar banjarmasin

Pada suatu ketika, sebuah kapal yang berlayar dari selat Sulawesi kehilangan arah. Kompas yang digunakan tak dapat membantu. Terombang-ambing di tengah samudera luas.

Sekian lama kapal itu tak kunjung melihat adanya tanda-tanda daratan. Pagi berganti siang, kemudian siang berganti malam. Namun sang nakhoda, tak kunjung menemukan arah yang tepat.

Hingga suatu ketika di kejauhan, tampak sinar cahaya yang membumbung tinggi ke angkasa. Nakhoda yang melihat cahaya itu membelokan kemudi kapalnya. Mengarahkan kapal menuju cahaya itu.

Alhasil, sebuah daratan pun tampak. Nakhoda beserta anak buah kapal (ABK) pun akhirnya tiba di daratan. Di Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu.

Konon, diceritakan bahwa cahaya yang membumbung tinggi itu berasal dari sebuah makam di Kompleks Makam Raja Batulicin. Yakni, Makam Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus.

Penulis mengunjungi makam itu pada Kamis (28/4) pagi. Lokasinya berada tak jauh dari pusat keramaian Kota Batulicin. Tak jauh dari jalan menuju Pelabuhan Fery Batulicin.

Dari pintu gerbang kompleks makam itu, tampak hamparan makam tua. Umumnya makam bernisan kayu dengan tinggi rata-rata sekitar satu meter.

Namun di antara ratusan makam itu, ada bangunan yang cukup mencolok. Seperti bangunan rumah. Namun di dalamnya juga terdapat banyak makam tua.

Di dalam bangunan itu pula, ada makam yang paling berbeda. Makam itu berupa gundukan semen yang dilapisi tegel. Diselimuti kain berkelir kuning, dengan kain hijau bertuliskan kalimat tauhid di atasnya.

Itulah makam Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus.

Saat penulis mengunjungi makam itu, belum ada satu pun tampak peziarah. Yang ada hanya penjaga makam. Namanya Usman. Saat ditemui, ia sedang asyik membersihkan bangunan makam dengan sapunya.

Kepada penulis, Usman mengaku sudah 34 tahun menjaga kompleks Makam Raja Batulicin itu.

Sayang, ketika penulis memintanya untuk menceritakan kisah Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus, ia mengaku tak bisa menuturkannya.”Saya tahu cerita tentang beliau. Beliau adalah waliyullah. Tapi mohon maaf, saya tidak bisa menceritakannya,” ucapnya.

“Saya sudah berjanji untuk tidak menceritakan apa pun tentang beliau. Meskipun kepada istri saya sendiri,” tambahnya kemudian tersenyum.

Cukup lama penulis berada di makam itu. Tapi, tak ada satu pun cerita yang keluar dari Usman. Kecuali hanya bahwa tiap hari, selalu ada peziarah yang datang.

Meskipun saat kondisi yang masih dilanda pandemi.”Yang datang biasanya ada yang sendirian, rombongan, bahkan sampai menggunakan bus. Paling ramai itu pada malam Jumat,” jelasnya.”Seingat saya, yang belum lama ini datang itu berasal dari Pontianak,” tambahnya.

Lantaran tidak bisa mendapatkan cerita tentang Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus, penulis pun memohon izin untuk melihat-lihat makam dan memotretnya. Untuk yang satu ini, Usman mengizinkannya.

Baca Juga :  Sejarah Gedung Balai Kota Banjarmasin

Di makam Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus, tertulis bahwa yang bersangkutan wafat pada tahun 1915 masehi.

Kendati demikian, di situ setidaknya diketahui, bahwa beliau adalah keturunan dari Pangeran Syarif Ali Alaydrus.

Seusai mencatat, penulis pun beekoordinasi dengan wartawan Radar Banjarmasin yang ngepos di Kabupaten Tanah Bumbu. Dari informasi yang di himpun, zuriat dari Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus itu masih ada. Dan tinggal di kawasan Batulicin.

Namanya, Habib Andi Abdurrahman Alaydrus bin Abbas. Ia saat ini menjabat sebagai Ketua Yayasan Pangeran Syarif Ahmad.

MAKAM KERAMAT: Deretan makam-makam tua di Kompleks Makam Raja Batulicin. | Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin

Dari keterangan Andi Abdurrahman, diketahui bahwa Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus memang merupakan keturunan dari Pangeran Syarif Ali Alaydrus.

Siapa Pangeran Syarif Ali Alaydrus? Ia tak lain adalah Raja sekaligus pendiri Kerajaan Sebamban.

Kerajaan itu berdiri berdiri pada pertengahan abad ke-18. Atau hampir bersamaan dengan periode pemerintahan Sultan Adam, Raja Banjar ke-12 periode 1825-1857.

Pangeran Syarif Ali Alaydrus merupakan putra Syarif Abdurrahman Alaydrus, bin Syarif Idrus Alaydrus yang merupakan Raja Kubu pertama.

Sedangkan sang ibu, yakni Syarifah Aisyah Al-Qadri Jamalullail. Putri Syarif Abdurrahman Al Qadri Jamalullail pendiri Kerajaan Pontianak.

Pada masa Pangeran Syarif Ali Alaydrus menjabat sebagai Raja Sebamban (wilayah kerajaan saat itu kini menjadi Kecamatan Sungai Loban, Kabupaten Tanah Bumbu), kawasan tersebut menjadi berkembang, ramai dan makmur.

Banyak pedagang dari luar daerah berdatangan ke Sebamban. Dan dari para pedagang itu pula tersebar berita tentang keberadaan serta kemasyhuran kerajaan Sebamban.

Menjelang Perang Banjar, yang di mulai dari tahun 1859, Pengeran Syarif Ali Alaydrus pun mangkat.

Jabatan sebagai Raja Sabamban II pun lantas dijabat oleh sang ponakan. Yakni, Syarif Gasim bin Syarif Hasan bin Pangeran Syarif Ali Alaydrus.

Lantaran Pangeran Syarif Mustafa Alaydrus selaku putra pertama dari Pangeran Syarif Ali Alaydrus tidak berkenan, juga tidak menginginkan kedudukan itu.

Konon, seusai wafatnya dua Raja yang sangat gigih menentang Belanda yakni Raja Sabamban I, Pangeran Syarif Ali Alaydrus serta Sultan Adam Raja Banjar ke-12, penjajah Belanda pun semakin semena-mena.

Kekacauan di mana-mana hingga pecahlah perang banjar yang pertama pada 1859 itu. Kekacauan menyelimuti seluruh wilayah di Provinsi Kalsel.

Berkobarnya perang dan hasrat penjajah Belanda yang ingin menguasai kerajaan Sebamban beserta asetnya, membuat para keturunan Pangeran Syarif Ali Ali Alaydrus yang anti penjajah Belanda, memilih membumihanguskan sendiri istana Kerajaan Sebamban.

Tujuannya, agar tak bisa dikuasai pihak Belanda.

Syukurlah, hingga saat ini kita masih bisa menjumpai jejak warisan peninggalan Kerajaan Sebamban. Melalui kehalusan akhlak dan budi pekerti, serta kedalaman ilmu para keturunannya.

Lantas, bagaimana dengan jejak berupa bukti fisik?

Jejak bukti peninggalan Kerajaan Sebamban, juga masih bisa dilihat. Salah satunya, berupa meriam milik Kerajaan Sebamban yang sekarang di tempatkan di Kantor Kecamatan Angsana.

Baca Juga :  Jalan Sepi Menuju Masjid Timbul

Kembali ke kisah Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus. Berdasarkan keterangan Andi Abdurrahman, Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus, bungsu dari 12 bersaudara.

“Salah satu istri Pangeran Syarif Ali Alaydrus adalah keturunan Kesultanan Bone Sulawesi Selatan. Dari istri beliau itulah, lahir Pangeran Syarif Ahmad Alaydrus.” jelasnya, kepada penulis pada Kamis (28/4) malam.

“Sepengetahuan saya, berdasarkan silsilah juga penuturan nenek saya, Pengeran Syarif Ahmad Alaydrus mempunyai istri. Tapi, beliau tidak memiliki keturunan,” tambahnya.

Andi Abdurrahman pun juga menuturkan bahwa Pangeran Syarif Ahmad, tak diketahui pernah berdakwah. Ia hanya diketahui pernah menjabat sebagai penasehat Kerajaan Batulicin.

Kerajaan ini, berdiri pada tahun 1860. Sebuah kerajaan kecil pecahan dari Kerajaan Tanah Bumbu.

“Beliau selalu jadi rujukan ketika lingkungan kerajaan hingga masyarakat menemui masalah. Beliau sering mendamaikan orang-orang yang bermasalah,” jelasnya.

Lebih jauh, di lingkungan masyarakat, Pangeran Syarif Ahmad juga diketahui seorang waliyullah yang mastur atau seorang walyullah yang memilki maqam tersembunyi.

“Kewalian beliau, hanya diketahui ketika sudah wafat. Pasalnya, selama hidup bermasyarakat, beliau juga dikenal seorang habaib yang nyeleneh. Tidak seperti masyarakat pada umumnya,” ungkapnya.

Kendati demikian, menurut Habib Andi Abdurrahman, pernah suatu ketika Pangeran Syarif Ahmad pergi memancing kelaut.
Sang pangeran tak balik ke rumahnya selama dua hari.”Tapi anehnya, ketika dicari malah ada di rumah. Seperti tidak kemana-mana,” tuturnya.

Lantas, bagaimana ceritanya kewalian Pangeran Syarif Ahmad bisa sampai diketahui masyarakat banyak? Dituturkan oleh Andi Abdurrahman. Saat wafat, tanah makam sang pangeran terus terangkat alias meninggi.

“Lalu, ada banyak yang pernah melihat makam beliau mengeluarkan sinar yang begitu terang. Membumbung ke langit,” ucapnya.

“Cahaya itu, biasa menjadi penuntun bagi para pelayar yang tersesat di tengah lautan. Ada banyak pelayar, masyarakat yang melihatnya. Termasuk Usman, si penjaga makam,” tambah Andi Abdurrahman.

Di sisi lain, menurutnya, hal yang hingga saat ini juga masih berlaku di makam itu, yakni tentang hilangnya ilmu-ilmu kekebalan seseorang bila menziarahi makam Pangeran Syarif Ahmad.

“Terutama, mereka yang memiliki ‘Untalan’ (ilmu kebal yang biasanya didapat dari menelan sesuatu, red). Dijamin pasti dimuntahkan di situ,” jelasnya.

Lebih jauh, hal yang konon paling sering diketahui, yakni tentang banyaknya para pemimpin dan orang-orang yang sukses di Tanah Bumbu, sebelumnya pasti datang dan berziarah ke makam itu.

“Konon, itu ada kaitannya dengan pesan beliau. Kalau mau jadi orang sukses di Kabupaten Tanah Bumbu, mesti izin dulu ke beliau. Kalau tidak minta izin, bakal hancur,” ucapnya.

“Dan yang saya tahu, semua orang-orang yang sukses di Kabupaten Tanah Bumbu, memang pernah ziarah ke makam beliau. Biasanya malam Jumat, penuh dengan peziarah, apalagi kalau di bulan maulid nabi,” pungkasnya. (war/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/