alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Kamis, 19 Mei 2022

Belajar Persatuan dan Kerja Keras dari Rumah Betang Khas Suku Dayak

Rumah Betang khas Suku Dayak bukan sekadar hunian, bangunan yang biasa disebut dengan ‘Lewu Hante’ ini juga sarat makna filosofis.

jejak ramadan radar banjarmasin

Jejak Ramadan di Pelosok Banua kini bergeser ke Kabupaten Tabalong. Kabupaten terujung di Provinsi Kalsel. Meski berada di Tabalong, yang disasar penulis kali ini adalah sebuah kawasan yang berada di Jalan Pasar Panas. Tepatnya, di Desa Taniran.

Secara administratif, desa itu berada di Kabupaten Barito Timur (Bartim), Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Persis di perbatasan Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan selatan (Kalsel).

Ada dua hal yang menjadi pertimbangan mengapa kawasan ini menjadi titik liputan.

Pertama, sebagian besar kawasan di Tabalong sudah diliput saat Ekspedisi Ramadan di Tahun 2016 dan Tahun 2018 lalu. Dan kedua, perlu melihat bagaimana situasi dan kondisi di perbatasan. Syukur-syukur bila ada cerita menarik. Hal inilah yang menggiring penulis untuk mendatangi kawasan itu.

Di Kabupaten Bartim, mayoritas masyarakat yang mendiaminya adalah Suku Dayak Maanyan. Salah satu sub Suku Dayak tertua. Khususnya di Kalimantan bagian selatan dan tengah.

Di perbatasan dua provinsi tersebut, berdiri dua buah bangunan besar khas Suku Dayak. Oleh masyarakat setempat bangunan itu disebut Lewu Hante. Dalam kosa kata Suku Dayak Maanyan, Lewu Hante berarti Rumah Betang atau Rumah Besar.

Secara umum, bangunan itu berbentuk rumah panggung yang memanjang. Dari permukaan tanah, tinggi pondasinya mencapai 5 meter.Panjang bangunan mencapai 150 meter. Dan lebar mencapai 30 meter. Seluruh bahan bangunannya terbuat dari kayu ulin atau kayu besi.

Dua bangunan yang dikunjungi penulis pada Minggu (24/4) petang itu memang sangat besar. Dua buah Lewu Hante yang dibangun itu tidak difungsikan sebagai hunian. Melainkan untuk hal lain.

Bangunan pertama difungsikan sebagai museum. Di bangunan ini, ada banyak koleksi benda-benda yang biasa digunakan oleh Suku Dayak Maanyan zaman dahulu.

Mulai dari alat makan, pakaian hingga sejumlah senjata. Lalu, benda-benda yang digunakan untuk keperluan adat, alat musik, hingga meriam yang dipercaya bekas milik penjajah belanda.

Ada pun bangunan yang satunya lagi, difungsikan sebagai galeri seni. Di sini, kita bisa melihat sejumlah foto, serta produk-produk kerajinan tangan khas Suku Dayak Maanyan.

Kedua bangunan itu dijaga oleh sejumlah petugas dari dinas pariwisata setempat. Salah seorang petugas yang ditemui penulis adalah Novi. Perempuan muda berusia 22 tahun itu, sudah bertugas sejak tahun 2018 lalu.

Dituturkannya, kedua bangunan itu seyogianya hanyalah replika. Dibangun oleh Pemkab Bartim di atas sebuah lahan kosong pada tahun 1.995 lalu. Kendati hanya replika, Rumah Betang yang dibangun itu sama persis dengan bangunan aslinya.

Baca Juga :  Ajak Pemabuk ke Majelis Hingga Jadi Jemaah Tetap

Bahkan, proses pembangunannya sendiri juga tak sembarangan. Dalam arti sederhana, bangunan yang dibuat itu tetap mengedepankan aspek filosofis Suku Dayak.

Aspek filosofis seperti apa? Novi, lantas menyarankan penulis untuk mewawancarai salah satu pengurus sekaligus kurator museum itu. Namanya, Elahniyati. Sayang, yang bersangkutan rupanya saat itu tidak berada di tempat. Karena memang bukan jadwal atau gilirannya untuk mengurus bangunan itu.

Alhasil, untuk berjaga-jaga, penulis pun membuat janji dengan yang bersangkutan keesokan harinya.”Beliau yang tahu betul. Karena sedari awal pembangunan, beliau juga dilibatkan,” ucapnya.”Secara umum, bangunan ini mempunyai arti sebagai simbol kekompakan, kebersamaan, dan persatuan Suku Dayak,” tambahnya.

Sebelum bertemu dengan Elahniyati, penulis pun melihat-lihat kedua bangunan itu. Di kompleks berdirinya bangunan itu, tidak hanya ada dua buah Rumah Betang.
Tapi, juga ada sejumlah panggung terbuka yang cukup besar.

Menurut Novi, panggung itu biasanya digunakan anak muda berkegiatan. Misalnya, latihan menari dan sebagainya. Di sisi lain, di kompleks bangunan itu juga dilengkapi dengan wadah MCK. Kafe dan lain sebagainya. Khusus untuk kafe, masih ditutup mengingat masih suasana ramadan.

“Seluruh kawasan ini biasa digunakan untuk event seni budaya tahunan di Kabupaten Bartim, yakni festival Jari Janang Kalalawah atau Jajakah,” jelasnya.

Keesokan harinya, Senin (25/4) penulis kembali mengunjungi Rumah Betang. Dari lokasi penulis menginap di rumah rekan tak jauh dari Desa Warukin, lokasi ini berjarak 34 kilometer.

Agar bisa lebih cepat penulis mengambil jalan pintas. Melintasi, Jalan Hauling PT Adaro, Tabalong. Jalan yang khusus dibuat untuk angkutan tambang batu bara. Jalan yang sesekali juga dilintasi oleh warga dari berbagai desa di sekitarnya.

Sayang, meski jarak tempuh bisa dipangkas lebih cepat, penulis tak berani berlama-lama melintas di kawasan jalan itu.Nyali seketika ciut ketika terus menerus di belakang truk-truk besar penuh dengan muatan batu bara. Di sisi lain, pemandangan yang ada di jalanan itu juga tampak monoton. Sawit, sawit dan sawit.

Pilihan lain pun lantas diambil, melintas Jalan Kelua, menuju ke Jalan Pasar Panas.

Singkat cerita, ketika penulis sampai di Lewu Hante, penulis bertemu dengan Elahniyati. Petugas penjaga bangunan sekaligus kurator benda-benda di museum itu.

Perempuan asli Suku Dayak Maanyan dari sub etnis Maanyan Paju Epat (sebutan untuk Dayak Maanyan murni) itu, membenarkan bahwa Lewu Hante adalah simbol kebersamaan dan persatuan Suku Dayak.”Rumah Betang, tidak hanya dihuni satu kepala keluarga. Tapi bisa lebih dari lima kepala keluarga. Jadi, banyak sekali penghuninya,” ungkapnya.

Dijelaskan Elahniyati, dalam Rumah Betang, Suku Dayak hidup saling melindungi antar satu dan yang lainnya. Lalu, menjunjung tinggi kehormatan, kerukunan, serta rasa saling menghargai.

Baca Juga :  Menilik Pembuatan Gelang Khas Kalimantan: Ternyata Sepupu Kupiah Jangang

Dalam Rumah Betang pula, biasa digelar musyawarah dalam hal mengambil keputusan. Damai dan gemar gotong royong. Kemudian, menyangkut aspek filosofis terkait pembangunan Rumah Betang itu. Menurutnya, Rumah Betang itu selalu dibangun dengan memerhatikan arah matahari.

Saat matahari muncul maupun kembali ke peraduan. Misalnya, hulu bangunan yang menghadap ke arah timur. Sedangkan hilirnya, menghadap ke arah barat. Bagian hulu yang mengarah ke timur atau matahari tenggelam itu, memiliki makna yakni bekerja sedini mungkin.

Sebaliknya, bagian hilir yang mengarah ke barat, atau ke arah matahari terbenam itu memiliki makna tak akan pulang atau berhenti bekerja sebelum matahari tenggelam.
“Secara umum, Suku Dayak memiliki semangat kerja keras. Semangat itu ditujukan untuk menghidupi keluarga dan dan dalam bertahan hidup,” jelasnya.

Apakah hanya sampai di situ makna filosofisnya? Tentu saja tidak. Masih banyak lagi.Namun menurut Elahniyati, tak bisa dijabarkan secara ringkas. Akan sangat panjang bila nantinya diturunkan dalam sebuah tulisan.”Berkunjunglah lagi ke sini. Berdiamlah dalam waktu yang lumayan lama. Agar bisa mendapatkan penjelasan yang lengkap,” sarannya.

Kendati demikian, Ibu dua anak itu lantas membeberkan hal lain. Sepengetahuannya, pada zaman dahulu, Rumah Betang juga berfungsi sebagai ‘benteng’.

Contoh, agar tidak gampang terendam banjir, iasanya Rumah Betang juga dibangun tak jauh dari aliran sungai. Atau pedalaman hutan.”Mengurangi risiko serangan hewan buas, atau serangan musuh,” jelasnya.

Ditambahkan Elahniyati, di lokasi dibangunnya Rumah Betang itu, juga biasa digelar event tahunan. Yang Festival Jajakah itu.

Menurutnya, saat event itu digelar, akan ada banyak pelancong yang berkumpul. Tidak hanya dari Kabupaten Tabalong Provinsi Kalsel, atau Kabupaten Bartim Provinsi Kalteng saja.Tapi, jagi dari luar daerah lainnya, hingga pelancong asal mancanegara. “Semua festival adat dan kebudayaan, biasanya ditampilkan dan berpusat di sini,” ucapnya.

Lantas, kapan festival itu digelar? Menurut Elahniyati, pelaksanaannya berlangsung pada Agustus mendatang.”Semestinya di bulan April. Tapi, kami memilih menunda karena berbarengan dengan Bulan Ramadan,” ucapnya.

Penundaan penting dilakukan, karena menurut Elahniyati, saling menghargai antar sesama umat beragama adalah hal yang paling penting.

Dengan begitu, kerukunan antar umat beragama bisa semakin erat terjalin.”Kami tidak ingin kegiatan itu justru menghambat atau mengganggu ibadah Ramadan yang dilakukan umat muslim,” ucapnya.

“Suku Dayak tidak hanya diisi oleh mereka yang beragama nenek moyang saja. Seperti misalnya Agama Kaharingan (kepercayaan, red). Tapi, juga ada muslim, kristen dan lain sebagainya,” lanjutnya.”Semuanya hidup rukun, tidak ingin terjadi adanya perpecahan dalam bentuk apa pun,” pungkasnya. (war/by/ran)

Rumah Betang khas Suku Dayak bukan sekadar hunian, bangunan yang biasa disebut dengan ‘Lewu Hante’ ini juga sarat makna filosofis.

jejak ramadan radar banjarmasin

Jejak Ramadan di Pelosok Banua kini bergeser ke Kabupaten Tabalong. Kabupaten terujung di Provinsi Kalsel. Meski berada di Tabalong, yang disasar penulis kali ini adalah sebuah kawasan yang berada di Jalan Pasar Panas. Tepatnya, di Desa Taniran.

Secara administratif, desa itu berada di Kabupaten Barito Timur (Bartim), Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Persis di perbatasan Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan selatan (Kalsel).

Ada dua hal yang menjadi pertimbangan mengapa kawasan ini menjadi titik liputan.

Pertama, sebagian besar kawasan di Tabalong sudah diliput saat Ekspedisi Ramadan di Tahun 2016 dan Tahun 2018 lalu. Dan kedua, perlu melihat bagaimana situasi dan kondisi di perbatasan. Syukur-syukur bila ada cerita menarik. Hal inilah yang menggiring penulis untuk mendatangi kawasan itu.

Di Kabupaten Bartim, mayoritas masyarakat yang mendiaminya adalah Suku Dayak Maanyan. Salah satu sub Suku Dayak tertua. Khususnya di Kalimantan bagian selatan dan tengah.

Di perbatasan dua provinsi tersebut, berdiri dua buah bangunan besar khas Suku Dayak. Oleh masyarakat setempat bangunan itu disebut Lewu Hante. Dalam kosa kata Suku Dayak Maanyan, Lewu Hante berarti Rumah Betang atau Rumah Besar.

Secara umum, bangunan itu berbentuk rumah panggung yang memanjang. Dari permukaan tanah, tinggi pondasinya mencapai 5 meter.Panjang bangunan mencapai 150 meter. Dan lebar mencapai 30 meter. Seluruh bahan bangunannya terbuat dari kayu ulin atau kayu besi.

Dua bangunan yang dikunjungi penulis pada Minggu (24/4) petang itu memang sangat besar. Dua buah Lewu Hante yang dibangun itu tidak difungsikan sebagai hunian. Melainkan untuk hal lain.

Bangunan pertama difungsikan sebagai museum. Di bangunan ini, ada banyak koleksi benda-benda yang biasa digunakan oleh Suku Dayak Maanyan zaman dahulu.

Mulai dari alat makan, pakaian hingga sejumlah senjata. Lalu, benda-benda yang digunakan untuk keperluan adat, alat musik, hingga meriam yang dipercaya bekas milik penjajah belanda.

Ada pun bangunan yang satunya lagi, difungsikan sebagai galeri seni. Di sini, kita bisa melihat sejumlah foto, serta produk-produk kerajinan tangan khas Suku Dayak Maanyan.

Kedua bangunan itu dijaga oleh sejumlah petugas dari dinas pariwisata setempat. Salah seorang petugas yang ditemui penulis adalah Novi. Perempuan muda berusia 22 tahun itu, sudah bertugas sejak tahun 2018 lalu.

Dituturkannya, kedua bangunan itu seyogianya hanyalah replika. Dibangun oleh Pemkab Bartim di atas sebuah lahan kosong pada tahun 1.995 lalu. Kendati hanya replika, Rumah Betang yang dibangun itu sama persis dengan bangunan aslinya.

Baca Juga :  Datuk Daha Ajarkan Akhlak dan Hidup Zuhud

Bahkan, proses pembangunannya sendiri juga tak sembarangan. Dalam arti sederhana, bangunan yang dibuat itu tetap mengedepankan aspek filosofis Suku Dayak.

Aspek filosofis seperti apa? Novi, lantas menyarankan penulis untuk mewawancarai salah satu pengurus sekaligus kurator museum itu. Namanya, Elahniyati. Sayang, yang bersangkutan rupanya saat itu tidak berada di tempat. Karena memang bukan jadwal atau gilirannya untuk mengurus bangunan itu.

Alhasil, untuk berjaga-jaga, penulis pun membuat janji dengan yang bersangkutan keesokan harinya.”Beliau yang tahu betul. Karena sedari awal pembangunan, beliau juga dilibatkan,” ucapnya.”Secara umum, bangunan ini mempunyai arti sebagai simbol kekompakan, kebersamaan, dan persatuan Suku Dayak,” tambahnya.

Sebelum bertemu dengan Elahniyati, penulis pun melihat-lihat kedua bangunan itu. Di kompleks berdirinya bangunan itu, tidak hanya ada dua buah Rumah Betang.
Tapi, juga ada sejumlah panggung terbuka yang cukup besar.

Menurut Novi, panggung itu biasanya digunakan anak muda berkegiatan. Misalnya, latihan menari dan sebagainya. Di sisi lain, di kompleks bangunan itu juga dilengkapi dengan wadah MCK. Kafe dan lain sebagainya. Khusus untuk kafe, masih ditutup mengingat masih suasana ramadan.

“Seluruh kawasan ini biasa digunakan untuk event seni budaya tahunan di Kabupaten Bartim, yakni festival Jari Janang Kalalawah atau Jajakah,” jelasnya.

Keesokan harinya, Senin (25/4) penulis kembali mengunjungi Rumah Betang. Dari lokasi penulis menginap di rumah rekan tak jauh dari Desa Warukin, lokasi ini berjarak 34 kilometer.

Agar bisa lebih cepat penulis mengambil jalan pintas. Melintasi, Jalan Hauling PT Adaro, Tabalong. Jalan yang khusus dibuat untuk angkutan tambang batu bara. Jalan yang sesekali juga dilintasi oleh warga dari berbagai desa di sekitarnya.

Sayang, meski jarak tempuh bisa dipangkas lebih cepat, penulis tak berani berlama-lama melintas di kawasan jalan itu.Nyali seketika ciut ketika terus menerus di belakang truk-truk besar penuh dengan muatan batu bara. Di sisi lain, pemandangan yang ada di jalanan itu juga tampak monoton. Sawit, sawit dan sawit.

Pilihan lain pun lantas diambil, melintas Jalan Kelua, menuju ke Jalan Pasar Panas.

Singkat cerita, ketika penulis sampai di Lewu Hante, penulis bertemu dengan Elahniyati. Petugas penjaga bangunan sekaligus kurator benda-benda di museum itu.

Perempuan asli Suku Dayak Maanyan dari sub etnis Maanyan Paju Epat (sebutan untuk Dayak Maanyan murni) itu, membenarkan bahwa Lewu Hante adalah simbol kebersamaan dan persatuan Suku Dayak.”Rumah Betang, tidak hanya dihuni satu kepala keluarga. Tapi bisa lebih dari lima kepala keluarga. Jadi, banyak sekali penghuninya,” ungkapnya.

Dijelaskan Elahniyati, dalam Rumah Betang, Suku Dayak hidup saling melindungi antar satu dan yang lainnya. Lalu, menjunjung tinggi kehormatan, kerukunan, serta rasa saling menghargai.

Baca Juga :  Ajak Pemabuk ke Majelis Hingga Jadi Jemaah Tetap

Dalam Rumah Betang pula, biasa digelar musyawarah dalam hal mengambil keputusan. Damai dan gemar gotong royong. Kemudian, menyangkut aspek filosofis terkait pembangunan Rumah Betang itu. Menurutnya, Rumah Betang itu selalu dibangun dengan memerhatikan arah matahari.

Saat matahari muncul maupun kembali ke peraduan. Misalnya, hulu bangunan yang menghadap ke arah timur. Sedangkan hilirnya, menghadap ke arah barat. Bagian hulu yang mengarah ke timur atau matahari tenggelam itu, memiliki makna yakni bekerja sedini mungkin.

Sebaliknya, bagian hilir yang mengarah ke barat, atau ke arah matahari terbenam itu memiliki makna tak akan pulang atau berhenti bekerja sebelum matahari tenggelam.
“Secara umum, Suku Dayak memiliki semangat kerja keras. Semangat itu ditujukan untuk menghidupi keluarga dan dan dalam bertahan hidup,” jelasnya.

Apakah hanya sampai di situ makna filosofisnya? Tentu saja tidak. Masih banyak lagi.Namun menurut Elahniyati, tak bisa dijabarkan secara ringkas. Akan sangat panjang bila nantinya diturunkan dalam sebuah tulisan.”Berkunjunglah lagi ke sini. Berdiamlah dalam waktu yang lumayan lama. Agar bisa mendapatkan penjelasan yang lengkap,” sarannya.

Kendati demikian, Ibu dua anak itu lantas membeberkan hal lain. Sepengetahuannya, pada zaman dahulu, Rumah Betang juga berfungsi sebagai ‘benteng’.

Contoh, agar tidak gampang terendam banjir, iasanya Rumah Betang juga dibangun tak jauh dari aliran sungai. Atau pedalaman hutan.”Mengurangi risiko serangan hewan buas, atau serangan musuh,” jelasnya.

Ditambahkan Elahniyati, di lokasi dibangunnya Rumah Betang itu, juga biasa digelar event tahunan. Yang Festival Jajakah itu.

Menurutnya, saat event itu digelar, akan ada banyak pelancong yang berkumpul. Tidak hanya dari Kabupaten Tabalong Provinsi Kalsel, atau Kabupaten Bartim Provinsi Kalteng saja.Tapi, jagi dari luar daerah lainnya, hingga pelancong asal mancanegara. “Semua festival adat dan kebudayaan, biasanya ditampilkan dan berpusat di sini,” ucapnya.

Lantas, kapan festival itu digelar? Menurut Elahniyati, pelaksanaannya berlangsung pada Agustus mendatang.”Semestinya di bulan April. Tapi, kami memilih menunda karena berbarengan dengan Bulan Ramadan,” ucapnya.

Penundaan penting dilakukan, karena menurut Elahniyati, saling menghargai antar sesama umat beragama adalah hal yang paling penting.

Dengan begitu, kerukunan antar umat beragama bisa semakin erat terjalin.”Kami tidak ingin kegiatan itu justru menghambat atau mengganggu ibadah Ramadan yang dilakukan umat muslim,” ucapnya.

“Suku Dayak tidak hanya diisi oleh mereka yang beragama nenek moyang saja. Seperti misalnya Agama Kaharingan (kepercayaan, red). Tapi, juga ada muslim, kristen dan lain sebagainya,” lanjutnya.”Semuanya hidup rukun, tidak ingin terjadi adanya perpecahan dalam bentuk apa pun,” pungkasnya. (war/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/