alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Saturday, 21 May 2022

Pantang Menyerah Meski Seperti Melukis di Atas Air

Pernah mendengar adanya Kampung Mualaf? Kalau belum, datanglah ke Kecamatan Halong. Saksikan sendiri bagaimana semangat mereka mempelajari Islam. Bila Anda punya waktu dan rezeki lebih, bantulah mereka.

jejak ramadan radar banjarmasin

Kampung Mualaf. Begitulah namanya. Lokasinya berada di Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan.

Dari Kota Paringin yang menjadi pusat pemerintahan kabupaten tersebut, jaraknya sekitar 59 kilometer. Bila diukur dalam hitungan jam, setidaknya membutuhkan waktu satu setengah jam perjalanan.

Tapi berhubung akses menuju desa itu tidak sepenuhya mulus, mungkin membutuhkan waktu sedikit lebih banyak lagi.

Seperti namanya, Kampung Mualaf memang merupakan permukiman khusus untuk orang-orang yang baru memeluk agama Islam. Kampung itu dibangun pada tahun 2013 lalu. Digagas oleh Ansharul Muallafin. Sebuah yayasan yang bergerak menghimpun sekaligus mengayomi para mualaf.

Pencetusnya adalah Ustaz Badaruddin. Lelaki 43 tahun itu warga asli Kecamatan Halong.

Kepada penulis, Badaruddin menjelaskan bahwa sebelum menjadi peemukiman, dahulunya para mualaf yang bermukim di situ hanyalah komunitas kecil.

Jumlahnya hanya beberapa orang. Itu pun, dihimpun dari yang dekat dengan kediamannya, di Desa Halong. Seiring berjalannya waktu. Jumlah mualaf yang dihimpun semakin bertambah. Maka, ia pun berinisatif untuk membentuk organisasi resmi.

“Dahulu, sudah ada sebuah lembaga yang mencatat jumlah para mualaf, tapi tak kunjung ada kelanjutan. Makanya, kami berinisiatif untuk menghimpunnya sendiri,” jelasnya kepada penulis pada Minggu (24/4) lalu.

Gayung bersambut. Mualaf lain yang dahulu tersebar di pelosok pun mulai bergabung. Agar memudahkan pembimbingan, dibelilah sejumlah tanah. Dengan dana urunan alias swadaya masyarakat.

“Kamudian, kami ajukan proposal ke sejumlah instansi atau perusahaan, untuk membangun hunian. Alhamdulillah, tembus. Jadi, kami dirikan rumah-rumah untuk para mualaf itu,” jelasnya.

“Dari jumlah total ada lebih 200 mualaf yang tersebar di Kabupaten Balangan khususnya Kecamatan Halong, setidaknya kini ada 30 orang yang menghuni perkampungan itu,” tambahnya.

Lebih jauh, Badaruddin pun menjelaskan mengapa ia memilih membangun kawasan khusus untuk para mualaf. Itu tak lain hanya ingin agar keyakinan para mualaf tidak mudah goyah.”Saya merasa harus ada yang terus membimbing mereka dengan ilmu agama. Kalau lokasi mereka terpencar-pencar, mungkin akan sulit,” jelasnya.

Di permukiman, Badaruddin mengaku menggelar majelis ilmu agama. Tapi, yang dibahas terfokus pada cara peribadatan. Wudhu, salat, serta belajar membaca Alquran.”Sementara ini, itu terus yang diulang-ulang. Kalau sudah nyaman, baru nanti ke pembahasan lain,” ucapnya.

“Tujuan kami, tak lain agar supaya para mualaf mendapat pendidikan yang lebih terarah. Kami ingin, para mualaf punya kesetaraan dari segi hal keagamaan dan lain sebagainya. Artinya, minimal bisa seperti orang banyak,” tekannya.

Di sisi lain, ditekankan Badaruddin, pihaknya tidak meminta mereka yang non muslim untuk memeluk Agama Islam. Melainkan, hanya merangkul mereka yang baru memeluk Agama Islam alias mualaf.

“Kami tidak menarik orang. Kami hanya membuka diri. Bagi mereka yang hendak memeluk Agama Islam dan selama bersedia dibina akan kami bina. Kalau tidak memiliki tempat tinggal, akan kami sediakan tempat tinggal secara gratis,” ucapnya.

Dijelaskan Badaruddin, bagi para mualaf yang masih memiliki keluarga yang tidak seiman pun, menurutnya tak perlu khawatir. Para mualaf, dengan bebas bisa mengunjungi keluarganya.”Kami menekankan agar silaturahmi antar keluarga jangan sampai putus. Karena Islam sendiri mengajarkan untuk terus menjalin tali silaturahmi,” tekannya.

“Dan alhamdulillah, berkat hal itu, ada banyak pihak keluarga mualaf yang mensupport kami. Semoga ke depan, setiap kegiatan kami dilancarkan dan dimudahkan,” harapnya.

Baca Juga :  Inspirasi dari Perempuan Perantau: Berawal dari Keranjingan Berbelanja

Disinggung mengenai rencana ke depan, Badaruddin mengungkapkan bahwa pihaknya sudah membeli sejumlah tanah lagi seluas 20×100 meter. Lokasinya, sekitar 17 kilometer dari Kampung Mualaf sekarang. Ia berharap, tahun ini tanah itu sudah bisa digarap berikut pula dengan pembangunan huniannya.”Pelan-pelan, sambil mencarikan pendanaannya,” ucapnya.

NYAMAN: Suasana di Kampung Mualaf, Kecamatan Halong Kabupaten Balangan. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN 

Di kawasan yang baru itu nantinya, diharapkan bisa menghimpun para mualaf dari berbagai desa. Tiga di antaranya yakni Desa Binuang Santang, Mauya dan Uren.”Bila terwujud, kegiatan keagamaan juga akan kami fokuskan di sana. Ya meskipun, ruas jalannya masih lumayan rusak,” tutupnya.

Sementara itu, tepat pada sehari sebelumnya. Pada Sabtu (23/4) siang, penulis menyambangi Kampung Mualaf yang dimaksud. Suasana kampung itu cukup tenang dan asri. Kampung itu dikelilingi pepohonan karet.

Hunian di situ masih bisa dihitung dengan jari. Tak lebih dari tiga belas unit rumah. Ditambah sebuah musala bernama Ansharul Muhibbin Abdurrahman. Di musala itulah, kajian keagamaan di Kampung Mualaf biasanya dipusatkan.

Siang itu cukup terik, penulis hampir tak menemukan seorang warga pun yang keluyuran di kampung tersebut. Tapi di dalam sejumlah rumah hunian itu, setidaknya terdengar suara sejumlah warga.

Salah satunya dari kediaman Nurhayati. Ketika dikunjungi penulis, setidaknya ada dua orang lagi di situ.Ada anak laki-laki Nurhayati, yakni Sapri. Dan seorang perempuan bernama Siti Aminah yang merupakan tetangganya.

Nurhayati dan anak laki-lakinya itu berasal dari Desa Binuang Santang. Boleh dikatakan, desa ini berada di kawasan ujung Kabupaten Halong. Tepatnya, sekitar 31 kolometer dari Kota Paringin, namun posisi desa itu berada di kawasan Pegunungan Meratus.

Kepada penulis, perempuan 55 tahun itu mengaku bahwa sudah dua tahun terakhir dirinya menjadi mualaf. Sebelumnya, dia beragama Kaharingan (Kepercayaan, red). Dan namanya saat itu adalah Inur.

Nurhayati menjelaskan, kalau diingat-ingat, sebenarnya dia sudah lama berislam. Tepatnya, sejak ia mendapatkan kesempatan untuk jalan-jalan keluar dari desanya di Binuang Santang menuju ke Kota Banjarmasin.”Seperti orang kebanyakan, saya pun ingin melihat kota besar dan keramaiannya,” ucapnya.

Dalam perjalanannya, Nurhayati mengaku kagum dengan seorang ulama. Yang menurutnya, fotonya selalu ada di mana-mana. Yang dia tahu, ulama itu terkenal dengan sebutan Guru Sekumpul. Saat itulah dia tertarik untuk berislam.

Dengan percaya diri, Nurhayati pun lantas menanyakan ke orang-orang yang ditemuinya, di mana keberadaan ulama tersebut.”Saat itu saya baru tahu bahwa beliau sudah lama wafat,” tuturnya.

Kendati demikian, menurut Nurhayati, dalam hatinya sendiri sudah yakin bahwa dia hendak berislam. Maka, dia pun mengaku mencari seorang guru yang dapat mengislamkannya.”Saat itu, saya mendatangi kawasan Tanjung Rema Seberang, Kabupaten Banjar. Di situ, saya berislam,” ungkapnya.

Seusai berislam, Nurhayati mengaku sempat diajari beberapa hal yang berkaitan dengan Agama Islam. Tak ketinggalan, dia juga sempat berziarah ke makam Guru Sekumpul.
Sayang menurutnya, dia tidak bisa berlama-lama di perantauan. Dia harus kembali ke kampung halaman.

Sekembalinya ke kampung halaman, pelajaran tentang Islam yang dipelajarinya pun perlahan-lahan mulai terkikis. Lantaran dahulu tak ada dai atau guru agama di kampungnya.”Hingga akhirnya saya bertemu dengan Ustaz Badaruddin. Saya pun memutuskan ikut ke Kampung Mualaf. Termasuk anak saya ini,” jelasnya.

Baca Juga :  Tradisi Batumbang Apam di HST

“Saya hanya tinggal berdua di rumah. Suami saya sudah lama meninggal,” tutupnya.

Kisah senada juga disampaikan oleh mualaf lainnya. Namanya Siti Aminah. Sebelumnya dia juga penganut Agama Kaharingan. Sebelum menjadi mualaf, dia bernama Yati.

Siti mengaku, keinginannya untuk memeluk Agama Islam memang atas keinginan dirinya sendiri. Sayang, ia pun juga mengaku lupa, kapan dirinya berislam. Kendati demikian, menurutnya, memeluk Agama Islam itu nyaman.

Namun, menjadi pemeluk agama Islam bukanlah hal yang mudah. Siti mengaku mesti berpisah rumah dengan sang suami.”Suami saya Kaharingan. Ia tidak mau saya ajak ke sini. Sedangkan saya harus menghidupi anak-anak saya. Jadi kami agama masing-masing,” jelasnya perempuan yang berasal dari Desa Kapul itu.

Sembari terus menyerut labu yang nantinya dimasak, kemudian dihidangkan saat berbuka puasa itu, Siti menjelaskan bahwa dirinya termasuk orang pertama yang tinggal di Kampung Mualaf.Setidaknya, sudah sejak tahun 2014 lalu.

“Di sini, saya tinggal bersama dua anak saya,” ucapnya.

Selama di Kampung Mualaf, dia mengaku banyak belajar Agama Islam. Di bulan Ramadan ini, setidaknya ada beberapa kegiatan yang digelar di musala.

Rinciannya, tiga kali dalam sepekan belajar membaca Alquran. Dan dua kali dalam sepekan pengajian umum. Yang jadi pengajar yakni para ustaz yang diundang Yayasan Ansharul Muallafin. “Tapi yang namanya orang tua seperti saya ini, seperti melukis di atas air. Sekejap juga hilang. Tidak seperti anak-anak, lengket. Seperti mengukir di atas batu,” ucapnya perempuan 60 tahun itu, kemudian tergelak.

“Tapi saya tidak menyerah. Saya juga mau terus belajar,” tekannya.

Di sisi lain, penulis juga berbincang dengan mualaf lainnya. Namanya, Siti Khadijah. Usianya 60 tahun. Ketika dikunjungi, ia rupanya sedang asyik bersantai dengan cucunya.

Kepada penulis, Khadijah menuturkan bahwa sudah dua tahun tinggal di Kampung Mualaf. Sebelumnya, dia ikut sang suami. Tinggal di Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong. Selepas sang suami meninggal pada 2019 lalu, ia pun memutuskan untuk tinggal di kampung itu.

Keputusan tersebut diambil bukan tanpa alasan. Khadijah mengaku perlu ada seseorang yang mengajarkannya ilmu Agama Islam. Tak lama, ia pun juga bertemu dengan Ustaz Badaruddin.

Diungkapkan Siti, sebenarnya jiwanya sudah lama menjadi muslim. Tepatnya, ketika menikah dengan sang suami pada tahun 1985.

“Saya dahulu juga Kaharingan. Ketika menikah dengan suami, saya memang berkeinginan masuk Islam. Salat, saya ikut. Tapi, saya belum bersyahadat,” tuturnya.

Di Kampung Mualaf, Khadijah tidak tinggal sendiri. Dengannya, ada delapan orang di rumah. Empat orang cucu, dua orang anak, dan seorang mantu. Semua keluarganya itu sudah masuk Islam.”Anak-anak saya lebih dulu memeluk islamnya daripada saya. Saya yang terakhir,” ungkap Khadijah.

Diakui Khadijah, selama berada di Kampung Mualaf, dia bisa dengan nyaman belajar Islam. Pengajarnya hampir tak pernah absen mengajai. Di sisi lain, dia berikut warga setempat juga merasa sangat terayomi.

“Sekarang ini pengajarnya bertambah. Ada mahasiswa KKN yang mengajari. Tapi sepertinya hari ini belum datang,” ungkapnya.

Dituturkan Khadijah, hidup sebagai mualaf, maka dia mesti belajar lebih banyak tentang Agama Islam. Ambil contoh, membaca Alquran.”Saya sangat ingin membaca Alquran. Tapi apa boleh buat, bacaan saya belum lancar. Masih sebatas Iqra (metode baca Alquran) IV. Semoga bisa lekas baca Alquran,” harapnya. (war/by/ran)

Pernah mendengar adanya Kampung Mualaf? Kalau belum, datanglah ke Kecamatan Halong. Saksikan sendiri bagaimana semangat mereka mempelajari Islam. Bila Anda punya waktu dan rezeki lebih, bantulah mereka.

jejak ramadan radar banjarmasin

Kampung Mualaf. Begitulah namanya. Lokasinya berada di Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan.

Dari Kota Paringin yang menjadi pusat pemerintahan kabupaten tersebut, jaraknya sekitar 59 kilometer. Bila diukur dalam hitungan jam, setidaknya membutuhkan waktu satu setengah jam perjalanan.

Tapi berhubung akses menuju desa itu tidak sepenuhya mulus, mungkin membutuhkan waktu sedikit lebih banyak lagi.

Seperti namanya, Kampung Mualaf memang merupakan permukiman khusus untuk orang-orang yang baru memeluk agama Islam. Kampung itu dibangun pada tahun 2013 lalu. Digagas oleh Ansharul Muallafin. Sebuah yayasan yang bergerak menghimpun sekaligus mengayomi para mualaf.

Pencetusnya adalah Ustaz Badaruddin. Lelaki 43 tahun itu warga asli Kecamatan Halong.

Kepada penulis, Badaruddin menjelaskan bahwa sebelum menjadi peemukiman, dahulunya para mualaf yang bermukim di situ hanyalah komunitas kecil.

Jumlahnya hanya beberapa orang. Itu pun, dihimpun dari yang dekat dengan kediamannya, di Desa Halong. Seiring berjalannya waktu. Jumlah mualaf yang dihimpun semakin bertambah. Maka, ia pun berinisatif untuk membentuk organisasi resmi.

“Dahulu, sudah ada sebuah lembaga yang mencatat jumlah para mualaf, tapi tak kunjung ada kelanjutan. Makanya, kami berinisiatif untuk menghimpunnya sendiri,” jelasnya kepada penulis pada Minggu (24/4) lalu.

Gayung bersambut. Mualaf lain yang dahulu tersebar di pelosok pun mulai bergabung. Agar memudahkan pembimbingan, dibelilah sejumlah tanah. Dengan dana urunan alias swadaya masyarakat.

“Kamudian, kami ajukan proposal ke sejumlah instansi atau perusahaan, untuk membangun hunian. Alhamdulillah, tembus. Jadi, kami dirikan rumah-rumah untuk para mualaf itu,” jelasnya.

“Dari jumlah total ada lebih 200 mualaf yang tersebar di Kabupaten Balangan khususnya Kecamatan Halong, setidaknya kini ada 30 orang yang menghuni perkampungan itu,” tambahnya.

Lebih jauh, Badaruddin pun menjelaskan mengapa ia memilih membangun kawasan khusus untuk para mualaf. Itu tak lain hanya ingin agar keyakinan para mualaf tidak mudah goyah.”Saya merasa harus ada yang terus membimbing mereka dengan ilmu agama. Kalau lokasi mereka terpencar-pencar, mungkin akan sulit,” jelasnya.

Di permukiman, Badaruddin mengaku menggelar majelis ilmu agama. Tapi, yang dibahas terfokus pada cara peribadatan. Wudhu, salat, serta belajar membaca Alquran.”Sementara ini, itu terus yang diulang-ulang. Kalau sudah nyaman, baru nanti ke pembahasan lain,” ucapnya.

“Tujuan kami, tak lain agar supaya para mualaf mendapat pendidikan yang lebih terarah. Kami ingin, para mualaf punya kesetaraan dari segi hal keagamaan dan lain sebagainya. Artinya, minimal bisa seperti orang banyak,” tekannya.

Di sisi lain, ditekankan Badaruddin, pihaknya tidak meminta mereka yang non muslim untuk memeluk Agama Islam. Melainkan, hanya merangkul mereka yang baru memeluk Agama Islam alias mualaf.

“Kami tidak menarik orang. Kami hanya membuka diri. Bagi mereka yang hendak memeluk Agama Islam dan selama bersedia dibina akan kami bina. Kalau tidak memiliki tempat tinggal, akan kami sediakan tempat tinggal secara gratis,” ucapnya.

Dijelaskan Badaruddin, bagi para mualaf yang masih memiliki keluarga yang tidak seiman pun, menurutnya tak perlu khawatir. Para mualaf, dengan bebas bisa mengunjungi keluarganya.”Kami menekankan agar silaturahmi antar keluarga jangan sampai putus. Karena Islam sendiri mengajarkan untuk terus menjalin tali silaturahmi,” tekannya.

“Dan alhamdulillah, berkat hal itu, ada banyak pihak keluarga mualaf yang mensupport kami. Semoga ke depan, setiap kegiatan kami dilancarkan dan dimudahkan,” harapnya.

Baca Juga :  Batumbang Apam untuk Berkati Anak-Anak

Disinggung mengenai rencana ke depan, Badaruddin mengungkapkan bahwa pihaknya sudah membeli sejumlah tanah lagi seluas 20×100 meter. Lokasinya, sekitar 17 kilometer dari Kampung Mualaf sekarang. Ia berharap, tahun ini tanah itu sudah bisa digarap berikut pula dengan pembangunan huniannya.”Pelan-pelan, sambil mencarikan pendanaannya,” ucapnya.

NYAMAN: Suasana di Kampung Mualaf, Kecamatan Halong Kabupaten Balangan. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN 

Di kawasan yang baru itu nantinya, diharapkan bisa menghimpun para mualaf dari berbagai desa. Tiga di antaranya yakni Desa Binuang Santang, Mauya dan Uren.”Bila terwujud, kegiatan keagamaan juga akan kami fokuskan di sana. Ya meskipun, ruas jalannya masih lumayan rusak,” tutupnya.

Sementara itu, tepat pada sehari sebelumnya. Pada Sabtu (23/4) siang, penulis menyambangi Kampung Mualaf yang dimaksud. Suasana kampung itu cukup tenang dan asri. Kampung itu dikelilingi pepohonan karet.

Hunian di situ masih bisa dihitung dengan jari. Tak lebih dari tiga belas unit rumah. Ditambah sebuah musala bernama Ansharul Muhibbin Abdurrahman. Di musala itulah, kajian keagamaan di Kampung Mualaf biasanya dipusatkan.

Siang itu cukup terik, penulis hampir tak menemukan seorang warga pun yang keluyuran di kampung tersebut. Tapi di dalam sejumlah rumah hunian itu, setidaknya terdengar suara sejumlah warga.

Salah satunya dari kediaman Nurhayati. Ketika dikunjungi penulis, setidaknya ada dua orang lagi di situ.Ada anak laki-laki Nurhayati, yakni Sapri. Dan seorang perempuan bernama Siti Aminah yang merupakan tetangganya.

Nurhayati dan anak laki-lakinya itu berasal dari Desa Binuang Santang. Boleh dikatakan, desa ini berada di kawasan ujung Kabupaten Halong. Tepatnya, sekitar 31 kolometer dari Kota Paringin, namun posisi desa itu berada di kawasan Pegunungan Meratus.

Kepada penulis, perempuan 55 tahun itu mengaku bahwa sudah dua tahun terakhir dirinya menjadi mualaf. Sebelumnya, dia beragama Kaharingan (Kepercayaan, red). Dan namanya saat itu adalah Inur.

Nurhayati menjelaskan, kalau diingat-ingat, sebenarnya dia sudah lama berislam. Tepatnya, sejak ia mendapatkan kesempatan untuk jalan-jalan keluar dari desanya di Binuang Santang menuju ke Kota Banjarmasin.”Seperti orang kebanyakan, saya pun ingin melihat kota besar dan keramaiannya,” ucapnya.

Dalam perjalanannya, Nurhayati mengaku kagum dengan seorang ulama. Yang menurutnya, fotonya selalu ada di mana-mana. Yang dia tahu, ulama itu terkenal dengan sebutan Guru Sekumpul. Saat itulah dia tertarik untuk berislam.

Dengan percaya diri, Nurhayati pun lantas menanyakan ke orang-orang yang ditemuinya, di mana keberadaan ulama tersebut.”Saat itu saya baru tahu bahwa beliau sudah lama wafat,” tuturnya.

Kendati demikian, menurut Nurhayati, dalam hatinya sendiri sudah yakin bahwa dia hendak berislam. Maka, dia pun mengaku mencari seorang guru yang dapat mengislamkannya.”Saat itu, saya mendatangi kawasan Tanjung Rema Seberang, Kabupaten Banjar. Di situ, saya berislam,” ungkapnya.

Seusai berislam, Nurhayati mengaku sempat diajari beberapa hal yang berkaitan dengan Agama Islam. Tak ketinggalan, dia juga sempat berziarah ke makam Guru Sekumpul.
Sayang menurutnya, dia tidak bisa berlama-lama di perantauan. Dia harus kembali ke kampung halaman.

Sekembalinya ke kampung halaman, pelajaran tentang Islam yang dipelajarinya pun perlahan-lahan mulai terkikis. Lantaran dahulu tak ada dai atau guru agama di kampungnya.”Hingga akhirnya saya bertemu dengan Ustaz Badaruddin. Saya pun memutuskan ikut ke Kampung Mualaf. Termasuk anak saya ini,” jelasnya.

Baca Juga :  Inspirasi dari Perempuan Perantau: Berawal dari Keranjingan Berbelanja

“Saya hanya tinggal berdua di rumah. Suami saya sudah lama meninggal,” tutupnya.

Kisah senada juga disampaikan oleh mualaf lainnya. Namanya Siti Aminah. Sebelumnya dia juga penganut Agama Kaharingan. Sebelum menjadi mualaf, dia bernama Yati.

Siti mengaku, keinginannya untuk memeluk Agama Islam memang atas keinginan dirinya sendiri. Sayang, ia pun juga mengaku lupa, kapan dirinya berislam. Kendati demikian, menurutnya, memeluk Agama Islam itu nyaman.

Namun, menjadi pemeluk agama Islam bukanlah hal yang mudah. Siti mengaku mesti berpisah rumah dengan sang suami.”Suami saya Kaharingan. Ia tidak mau saya ajak ke sini. Sedangkan saya harus menghidupi anak-anak saya. Jadi kami agama masing-masing,” jelasnya perempuan yang berasal dari Desa Kapul itu.

Sembari terus menyerut labu yang nantinya dimasak, kemudian dihidangkan saat berbuka puasa itu, Siti menjelaskan bahwa dirinya termasuk orang pertama yang tinggal di Kampung Mualaf.Setidaknya, sudah sejak tahun 2014 lalu.

“Di sini, saya tinggal bersama dua anak saya,” ucapnya.

Selama di Kampung Mualaf, dia mengaku banyak belajar Agama Islam. Di bulan Ramadan ini, setidaknya ada beberapa kegiatan yang digelar di musala.

Rinciannya, tiga kali dalam sepekan belajar membaca Alquran. Dan dua kali dalam sepekan pengajian umum. Yang jadi pengajar yakni para ustaz yang diundang Yayasan Ansharul Muallafin. “Tapi yang namanya orang tua seperti saya ini, seperti melukis di atas air. Sekejap juga hilang. Tidak seperti anak-anak, lengket. Seperti mengukir di atas batu,” ucapnya perempuan 60 tahun itu, kemudian tergelak.

“Tapi saya tidak menyerah. Saya juga mau terus belajar,” tekannya.

Di sisi lain, penulis juga berbincang dengan mualaf lainnya. Namanya, Siti Khadijah. Usianya 60 tahun. Ketika dikunjungi, ia rupanya sedang asyik bersantai dengan cucunya.

Kepada penulis, Khadijah menuturkan bahwa sudah dua tahun tinggal di Kampung Mualaf. Sebelumnya, dia ikut sang suami. Tinggal di Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong. Selepas sang suami meninggal pada 2019 lalu, ia pun memutuskan untuk tinggal di kampung itu.

Keputusan tersebut diambil bukan tanpa alasan. Khadijah mengaku perlu ada seseorang yang mengajarkannya ilmu Agama Islam. Tak lama, ia pun juga bertemu dengan Ustaz Badaruddin.

Diungkapkan Siti, sebenarnya jiwanya sudah lama menjadi muslim. Tepatnya, ketika menikah dengan sang suami pada tahun 1985.

“Saya dahulu juga Kaharingan. Ketika menikah dengan suami, saya memang berkeinginan masuk Islam. Salat, saya ikut. Tapi, saya belum bersyahadat,” tuturnya.

Di Kampung Mualaf, Khadijah tidak tinggal sendiri. Dengannya, ada delapan orang di rumah. Empat orang cucu, dua orang anak, dan seorang mantu. Semua keluarganya itu sudah masuk Islam.”Anak-anak saya lebih dulu memeluk islamnya daripada saya. Saya yang terakhir,” ungkap Khadijah.

Diakui Khadijah, selama berada di Kampung Mualaf, dia bisa dengan nyaman belajar Islam. Pengajarnya hampir tak pernah absen mengajai. Di sisi lain, dia berikut warga setempat juga merasa sangat terayomi.

“Sekarang ini pengajarnya bertambah. Ada mahasiswa KKN yang mengajari. Tapi sepertinya hari ini belum datang,” ungkapnya.

Dituturkan Khadijah, hidup sebagai mualaf, maka dia mesti belajar lebih banyak tentang Agama Islam. Ambil contoh, membaca Alquran.”Saya sangat ingin membaca Alquran. Tapi apa boleh buat, bacaan saya belum lancar. Masih sebatas Iqra (metode baca Alquran) IV. Semoga bisa lekas baca Alquran,” harapnya. (war/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/