alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Dibangun atas Saran Datuk Kelampaian

Masjid Jami Sungai Banar salah satu situs bersejarah yang kerap disinggahi pelancong atau peziarah dari berbagai daerah. Mengelilingi tiang utama kemudian memeluknya, adalah ritual populer di masjid tersebut.

jejak ramadan radar banjarmasin

Masjid itu terletak di Desa Jarang Kuantan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Lokasinya berada persis di tepi anak Sungai Nagara, yakni Sungai Banar. Hanya berjarak selemparan batu adalah sebuah jembatan gantung berlantai kayu ulin.

Dari pusat Kota Amuntai yang terkenal dengan aktivitas perdagangannya dan menjadi jantung Kabupaten HSU, masjid itu setidaknya berjarak sekitar tiga kilometer.

Di Kota Amuntai, atau di Kabupaten HSU, masjid itu dinobatkan sebagai salah satu masjid tua. Dibangun pada tahun 1804. Bangunan masjid itu berbahan beton. Didominasi dengan kelir putih dan beberapa aksen biru muda di beberapa bagiannya. Misalnya bagian pagar dan jendela.

Kecuali untuk kubah masjidnya, yang tampak berwarna hijau.

Tabuhan beduk menyentak penulis yang terkantuk-kantuk pada Jumat (22/4) petang. Tak berapa lama, azan pun dikumandangkan.

Masjid itu ramai dengan jemaah. Saat hendak menunaikan salat ashar, penulis sempat menghitung seberapa banyak jemaah masjid itu. Setidaknya ada lebih dari tiga puluh jemaah.

Bakda ashar, penulis menemui Ahmad Royani. Ia marbot di Masjid Jami Sungai Banar. Usianya masih muda, 33 tahun. Ia sudah lima tahun menjadi marbot di masjid tersebut.

Kepada penulis, Royani membenarkan bahwa ada banyak pelancong di berbagai daerah yang berkunjung ke Masjid Sungai Banar.

Ia pula yang biasanya mendampingi pelancong yang datang. Menjelaskan tentang sejarah, berikut berbagai hal yang berkaitan dengan masjid tersebut.

Berbicara tentang sejarah Masjid Sungai Banar, dikisahkan Royani, berdasarkan penuturan marbot sebelumnya, masjid ini dahulunya berbentuk mirip rumah panggung. Hampir menyerupai rumah Banjar.

Bangunannya berbahan kayu ulin. Baik itu dinding, lantai, dan tiangnya. Pun demikian dengan atapnya. Yang Menurut Royani, hanya terbuat dari kayu sirap, alias kayu ulin yang sudah diserut tipis.

Di sisi lain, luas bangunan masjid pun hanya 23×20 meter.

“Salah satu bagian terpenting, pembangunan Masjid Sungai Banar ini tak terlepas dari dorongan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datuk Kalampayan,” jelasnya.

Konon, lantaran saat itu belum ada masjid lain di Kabupaten HSU.

Baca Juga :  MUI Klaim di Kalsel Tak Ada Polemik Soal Pengeras Suara Keagamaan

Seperti apa ceritanya? Kepada penulis, Royani lantas menunjukan buku terkait sejarah pembangunan Masjid Jami Sungai Banar.

Buku itu disusun ketika memperingati 200 tahun dibangunnya masjid tersebut. Ditulis dengan cukup lengkap oleh mantan pengurus Masjid Jami Sungai Banar, yakni H Abidin B. “Saya khawatir salah kalau menjelaskan. Jadi tak ada salahnya kalau mengutip apa yang ada di buku ini,” ucap Royani.

Sungguh, penulis sendiri tak menyangka, bahwa ada pengurus masjid yang mau bersusah payah menyusun buku itu. Sangat jarang pengurus masjid yang meluangkan waktu untuk membuat cacatan atau menyusun buku tentang masjid yang dikelolanya. Sekali pun masjid itu sebenarnya memiliki sejarah yang panjang.

Dalam buku itu disebutkan, selain mendorong dibangunnya sebuah masjid, Datuk Kalampayan juga memberikan sebuah Alquran berukuran besar. Setelah beberapa tahun berada di kawasan Sungai Banar, Alquran itu lantas dibawa seseorang ke Kotabaru.

Sayang, di dalam buku itu sendiri tak dituliskan siapa yang membawa Alquran peninggalan Datuk Kalampayan itu. Dan hingga kini, Alquran itu juga tak diketahui lagi di mana keberadaannya.

Kembali pada penuturan Royani. Saat pembangunan, tepatnya ketika semua bahan pembangunan masjid ini sudah terkumpul seluruhnya, keanehan sempat terjadi.

Warga, justru sempat kehilangan sejumlah tiang utama atau yang biasa disebut dengan Tiang Guru. Padahal, Tiang Guru itu dikumpulkan bersama dengan bahan-bahan lain untuk pembangunan Masjid Sungai Banar.

“Tak berapa lama, Tiang Guru itu justru ditemukan sekitar 500 meter dari lokasi awal yang rencananya menjadi tempat masjid ini didirikan,” tuturnya.

“Dan anehnya, Tiang Guru itu sudah terpancang alias sudah didirikan. Entah siapa yang mendirikannya. Padahal saat itu, pemancangan Tiang Guru belum dilakukan sama sekali,” tekannya.

Menurut Royani, kisah terkait Tiang Guru yang terpancang dengan sendirinya itu ada dua versi.

Versi pertama menyebutkan, Tiang Guru yang berpindah dan terpancang dengan sendirinya itu hanya berjumlah satu tiang. Sedangkan versi lain, tiang guru yang berpindah dan terpancang itu berjumlah empat buah.

Tapi terlepas dari itu, masyarakat meyakini peristiwa itu menjadi isyarat bahwa di situlah semestinya masjid didirikan.”Dan lokasi inilah tempatnya,” ungkap Royani.

Hingga kini, Tiang Guru yang dimaksud bisa dilihat di situ. Konon, setiap seusai salat, para pelancong yang datang juga kerap mengitari tiang guru yang dimaksud beberapakali. Kemudian memeluk Tiang Guru itu.”Itu, sudah dilakukan orang-orang sejak zaman dahulu. Seusai masjid ini selesai dibangun,” jelasnya.

Baca Juga :  Sejarah Masjid Lancip Waringin

“Kata orang-orang terdahulu di sini, selain sebagai bentuk penghormatan, juga mengambil berkat para ulama yang menginisiasi serta memperjuangkan pembangunan masjid ini,” jelas Royani.

Tak ingin melewatkan kesempatan, penulis yang saat itu didampingi wartawan Radar Banjarmasin yang ngepos di Kabupaten HSU, yakni M Akbar pun juga tertarik mengitari Tiang Guru masjid tersebut.

TERCATAT JELAS: Pengurus masjid menunjukkan ukiran tanggal, bulan dan tahun, di salah satu Tiang Guru. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN 

Kemudian, bergantian, kami juga memeluk tiang itu. Tentu, sebagai bentuk penghormatan.

Di sisi lain, Royani menjelaskan bahwa banyak masyarakat yang meyakini bahwa Masjid Sungai Banar, juga menjadi wadah siapa saja yang hendak menunaikan nazarnya.”Ada yang bilang ke saya, bahwa hajatnya terkabul. Jadi, ia datang ke sini untuk menunaikan nazarnya,” tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, seperti masjid-masjid pada umumnya, Masjid Sungai Banar pun tak luput dari adanya pemugaran. Itu terjadi dalam kurun waktu tahun 1887 hingga di tahun 2004.

Dijelaskan Royani, di tahun 1887, pemugaran pertama dilakukan dengan mengganti sejumlah kayu bangunan masjid yang sudah rusak.Namun, konstruksi bangunan serta arsitekturnya tetap mempertahankan bangunan lama. Alias tak ada yang berubah.

Lalu pada pemugaran kedua, di tahun 1953, ada banyak perubahan. Bagian atap masjid ditambah dengan kubah.

Tiang utama masjid yang biasa disebut dengan nama Tiang Guru, masing-masing digeser sejauh satu meter untuk memperluas masjid.

“Pergeseran tiang itu pun dicatat oleh pengurus masjid terdahulu. Di tiang itu, diukir tanggal, bulan dan tahun berapa hal itu dilakukan,” tutup Royani.

Di sisi lain sejumlah tiang kayu yang jadi pondasi selain tiang utama alias Tiang Guru, diganti dengan beton. Demikian pula dengan dinding dan lantainya juga diganti dengan semen berlapis tegel.

Dalam perkembangannya, masjid tersebut juga menjadi salah satu markas pejuang melawan penjajah Belanda. Pasukan pejuang yang tergabung di dalamnya terkenal dengan nama Tentara Gaib.

Kemudian, Masjid Sungai Banar juga sudah berulang kali berganti nama. Menyimpan kisah yang mengasyikan untuk dikenang. Seperti apa ceritanya? Semua itu akan diulas pada edisi selanjutnya. (war/by/ran)

Masjid Jami Sungai Banar salah satu situs bersejarah yang kerap disinggahi pelancong atau peziarah dari berbagai daerah. Mengelilingi tiang utama kemudian memeluknya, adalah ritual populer di masjid tersebut.

jejak ramadan radar banjarmasin

Masjid itu terletak di Desa Jarang Kuantan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Lokasinya berada persis di tepi anak Sungai Nagara, yakni Sungai Banar. Hanya berjarak selemparan batu adalah sebuah jembatan gantung berlantai kayu ulin.

Dari pusat Kota Amuntai yang terkenal dengan aktivitas perdagangannya dan menjadi jantung Kabupaten HSU, masjid itu setidaknya berjarak sekitar tiga kilometer.

Di Kota Amuntai, atau di Kabupaten HSU, masjid itu dinobatkan sebagai salah satu masjid tua. Dibangun pada tahun 1804. Bangunan masjid itu berbahan beton. Didominasi dengan kelir putih dan beberapa aksen biru muda di beberapa bagiannya. Misalnya bagian pagar dan jendela.

Kecuali untuk kubah masjidnya, yang tampak berwarna hijau.

Tabuhan beduk menyentak penulis yang terkantuk-kantuk pada Jumat (22/4) petang. Tak berapa lama, azan pun dikumandangkan.

Masjid itu ramai dengan jemaah. Saat hendak menunaikan salat ashar, penulis sempat menghitung seberapa banyak jemaah masjid itu. Setidaknya ada lebih dari tiga puluh jemaah.

Bakda ashar, penulis menemui Ahmad Royani. Ia marbot di Masjid Jami Sungai Banar. Usianya masih muda, 33 tahun. Ia sudah lima tahun menjadi marbot di masjid tersebut.

Kepada penulis, Royani membenarkan bahwa ada banyak pelancong di berbagai daerah yang berkunjung ke Masjid Sungai Banar.

Ia pula yang biasanya mendampingi pelancong yang datang. Menjelaskan tentang sejarah, berikut berbagai hal yang berkaitan dengan masjid tersebut.

Berbicara tentang sejarah Masjid Sungai Banar, dikisahkan Royani, berdasarkan penuturan marbot sebelumnya, masjid ini dahulunya berbentuk mirip rumah panggung. Hampir menyerupai rumah Banjar.

Bangunannya berbahan kayu ulin. Baik itu dinding, lantai, dan tiangnya. Pun demikian dengan atapnya. Yang Menurut Royani, hanya terbuat dari kayu sirap, alias kayu ulin yang sudah diserut tipis.

Di sisi lain, luas bangunan masjid pun hanya 23×20 meter.

“Salah satu bagian terpenting, pembangunan Masjid Sungai Banar ini tak terlepas dari dorongan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datuk Kalampayan,” jelasnya.

Konon, lantaran saat itu belum ada masjid lain di Kabupaten HSU.

Baca Juga :  Masjid Sultan Suriansyah Mirip Masjid Demak

Seperti apa ceritanya? Kepada penulis, Royani lantas menunjukan buku terkait sejarah pembangunan Masjid Jami Sungai Banar.

Buku itu disusun ketika memperingati 200 tahun dibangunnya masjid tersebut. Ditulis dengan cukup lengkap oleh mantan pengurus Masjid Jami Sungai Banar, yakni H Abidin B. “Saya khawatir salah kalau menjelaskan. Jadi tak ada salahnya kalau mengutip apa yang ada di buku ini,” ucap Royani.

Sungguh, penulis sendiri tak menyangka, bahwa ada pengurus masjid yang mau bersusah payah menyusun buku itu. Sangat jarang pengurus masjid yang meluangkan waktu untuk membuat cacatan atau menyusun buku tentang masjid yang dikelolanya. Sekali pun masjid itu sebenarnya memiliki sejarah yang panjang.

Dalam buku itu disebutkan, selain mendorong dibangunnya sebuah masjid, Datuk Kalampayan juga memberikan sebuah Alquran berukuran besar. Setelah beberapa tahun berada di kawasan Sungai Banar, Alquran itu lantas dibawa seseorang ke Kotabaru.

Sayang, di dalam buku itu sendiri tak dituliskan siapa yang membawa Alquran peninggalan Datuk Kalampayan itu. Dan hingga kini, Alquran itu juga tak diketahui lagi di mana keberadaannya.

Kembali pada penuturan Royani. Saat pembangunan, tepatnya ketika semua bahan pembangunan masjid ini sudah terkumpul seluruhnya, keanehan sempat terjadi.

Warga, justru sempat kehilangan sejumlah tiang utama atau yang biasa disebut dengan Tiang Guru. Padahal, Tiang Guru itu dikumpulkan bersama dengan bahan-bahan lain untuk pembangunan Masjid Sungai Banar.

“Tak berapa lama, Tiang Guru itu justru ditemukan sekitar 500 meter dari lokasi awal yang rencananya menjadi tempat masjid ini didirikan,” tuturnya.

“Dan anehnya, Tiang Guru itu sudah terpancang alias sudah didirikan. Entah siapa yang mendirikannya. Padahal saat itu, pemancangan Tiang Guru belum dilakukan sama sekali,” tekannya.

Menurut Royani, kisah terkait Tiang Guru yang terpancang dengan sendirinya itu ada dua versi.

Versi pertama menyebutkan, Tiang Guru yang berpindah dan terpancang dengan sendirinya itu hanya berjumlah satu tiang. Sedangkan versi lain, tiang guru yang berpindah dan terpancang itu berjumlah empat buah.

Tapi terlepas dari itu, masyarakat meyakini peristiwa itu menjadi isyarat bahwa di situlah semestinya masjid didirikan.”Dan lokasi inilah tempatnya,” ungkap Royani.

Hingga kini, Tiang Guru yang dimaksud bisa dilihat di situ. Konon, setiap seusai salat, para pelancong yang datang juga kerap mengitari tiang guru yang dimaksud beberapakali. Kemudian memeluk Tiang Guru itu.”Itu, sudah dilakukan orang-orang sejak zaman dahulu. Seusai masjid ini selesai dibangun,” jelasnya.

Baca Juga :  Masjid Timbul: Tak Tersentuh Api Meski Kebakaran Hutan

“Kata orang-orang terdahulu di sini, selain sebagai bentuk penghormatan, juga mengambil berkat para ulama yang menginisiasi serta memperjuangkan pembangunan masjid ini,” jelas Royani.

Tak ingin melewatkan kesempatan, penulis yang saat itu didampingi wartawan Radar Banjarmasin yang ngepos di Kabupaten HSU, yakni M Akbar pun juga tertarik mengitari Tiang Guru masjid tersebut.

TERCATAT JELAS: Pengurus masjid menunjukkan ukiran tanggal, bulan dan tahun, di salah satu Tiang Guru. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN 

Kemudian, bergantian, kami juga memeluk tiang itu. Tentu, sebagai bentuk penghormatan.

Di sisi lain, Royani menjelaskan bahwa banyak masyarakat yang meyakini bahwa Masjid Sungai Banar, juga menjadi wadah siapa saja yang hendak menunaikan nazarnya.”Ada yang bilang ke saya, bahwa hajatnya terkabul. Jadi, ia datang ke sini untuk menunaikan nazarnya,” tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, seperti masjid-masjid pada umumnya, Masjid Sungai Banar pun tak luput dari adanya pemugaran. Itu terjadi dalam kurun waktu tahun 1887 hingga di tahun 2004.

Dijelaskan Royani, di tahun 1887, pemugaran pertama dilakukan dengan mengganti sejumlah kayu bangunan masjid yang sudah rusak.Namun, konstruksi bangunan serta arsitekturnya tetap mempertahankan bangunan lama. Alias tak ada yang berubah.

Lalu pada pemugaran kedua, di tahun 1953, ada banyak perubahan. Bagian atap masjid ditambah dengan kubah.

Tiang utama masjid yang biasa disebut dengan nama Tiang Guru, masing-masing digeser sejauh satu meter untuk memperluas masjid.

“Pergeseran tiang itu pun dicatat oleh pengurus masjid terdahulu. Di tiang itu, diukir tanggal, bulan dan tahun berapa hal itu dilakukan,” tutup Royani.

Di sisi lain sejumlah tiang kayu yang jadi pondasi selain tiang utama alias Tiang Guru, diganti dengan beton. Demikian pula dengan dinding dan lantainya juga diganti dengan semen berlapis tegel.

Dalam perkembangannya, masjid tersebut juga menjadi salah satu markas pejuang melawan penjajah Belanda. Pasukan pejuang yang tergabung di dalamnya terkenal dengan nama Tentara Gaib.

Kemudian, Masjid Sungai Banar juga sudah berulang kali berganti nama. Menyimpan kisah yang mengasyikan untuk dikenang. Seperti apa ceritanya? Semua itu akan diulas pada edisi selanjutnya. (war/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/