alexametrics
31.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Yuda Lalana dan Pertempurannya

Di bawah rindangnya pepohonan jati, ada sebuah kubah makam tua. Konon, di sinilah pimpinan gerakan Baratib Baamal di Desa Jatuh, Penghulu Muda Yuda Lalana dikebumikan.

jejak ramadan radar banjarmasin

Lokasi makam itu persis di belakang Majelis Taklim Darul Khairat. Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Penulis mengunjungi makam itu pada Selasa (19/4) lalu. Makam itu tampak cukup terawat.

Sayangnya, tak ada satu pun tanda atau plang nama bahwa makam itu adalah makam Yuda Lalana. Demikian pula dengan nisan kayu yang sudah sangat tua dan lapuk itu. Tak ada sedikit pun keterangan yang didapatkan.

Kendati demikian, warga yang tinggal di Desa Jatuh meyakini, bahwa di situ bersemayam jenazah Yuda Lalana.

Hal itu juga diungkapkan oleh generasi keenam dari Yuda Lalana. Yakni, Jafar Shadiq. Diungkapkannya, sejak dahulu keluarganya lah yang mengurus makam tersebut.

“Diperkirakan, umur makam itu sudah ratusan tahun. Jadi, bila hendak mengetahui umur Masjid Al A’la, setidaknya bisa diketahui dari lamanya makam itu berada,” ucapnya.

Hal itu diungkapkan Jafar bukan tanpa alasan. Keberadaan Masjid Al A’la, juga tak terlepas dari sejarah Yuda Lalana.

Konon, yang menjadi pembina utama masjid itu dahulunya adalah Yuda Lalana. Lalu diteruskan hingga kini dari generasi ke generasi.

Kini, kepengurusan masjid itu sendiri diketuai oleh Jafar Shadiq.

Kembali ke kisah makam Yuda Lalana. Makam yang satu ini tergolong unik. Meski berbentuk kubah yang dilengkapi dengan atap, namun atapnya hanya mengitari area pinggir makam saja.

Sedangkan di tengah-tengahnya, tidak ada atap sama sekali. Alias seperti sengaja dibuat bolong.

Terkait hal itu, Jafar menjelaskan bahwa kondisi makam itu memiliki makna filosofi tersendiri. Konon, hal itu berkaitan dengan amaliah atau keyakinan Yuda Lalana itu sendiri.

“Beliau sosok penyebar ilmu agama. Sosok yang sangat dekat dengan tuhannya (ahli ibadah). Bahkan dikenal sebagai seorang syekh. Beliau juga pengayom hingga pemimpin masyarakat pada zamannya,” jelasnya.

Baca Juga :  Tiang dan Mimbar Di-Kain Kuningi

”Di sisi lain, beliau juga pengatur siasat dalam peperangan,” tambah Jafar.

Dijelaskan Jafar pula, bahwa Penghulu Muda Yuda Lalana hanyalah gelar. Nama asli yang bersangkutan, hingga kini masih menjadi tanda tanya.

Pun demikian dengan kapan waktu yang bersangkutan dilahirkan, hingga kapan waktu wafatnya.

”Beliau mempunyai banyak nama. Tapi, konon beliau lebih suka dikenal dengan nama Yuda Lalana,” tutupnya.

Kiprah Yuda Lalana sungguh tak asing lagi di ingatan masyarakat Banua. Lebih khusus di Kabupaten HST.

Ia merupakan salah seorang pejuang yang juga memiliki peran besar pada masa dahsyatnya Perang Banjar. Yang berkecamuk dalam kurun waktu tahun 1859 hingga 1906 itu.

Dijelaskan salah satu pengurus di Dewan Harian Cabang Badan Penerus Pembudayaan Kejuangan (DHC 45) Kabupaten HST, Masruswian.

Di Desa Jatuh, Yuda Lalana memimpin sejumlah pasukan dalam gerakan perjuangan yang dinamai Baratib Baamal.

Sebuah gerakan yang dibentuk di berbagai daerah di Banua untuk melawan penjajah Belanda.

Gerakan tersebut juga menjadi salah satu gerakan perjuangan yang disegani di Banua.

Secara etimologi, Baratib Baamal berarti berzikir dan beramal. Melakukan sebuah perbuatan, diiringi dengan doa serta memohon kebaikan.

Pada masa itu, gerakan Baratib Baamal, diartikan bahwa perjuangan tidak hanya mengandalkan pertahanan secara fisik dengan ragam persenjataan.

Tapi, juga mesti disertai dengan mengisi batin dengan beramal dan memohon perlindungan Allah SWT.

Seperti halnya di daerah lain, di Kabupaten HST pun pemimpin pasukan gerakan Baratib Baamal, juga mengeluarkan fatwa bahwa perang melawan penjajah Belanda hukumnya adalah fisabililah.

”Yang berarti, apabila gugur dalam perang maka berarti mati syahid,” jelas Masruswian.

Lelaki yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Kesenian Kabupaten HST, itu menjelaskan bahwa Desa Jatuh sejak dahulu dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam.

Mengingat lokasinya sendiri berada tidak jauh dengan Desa Pelajau yang juga berada di Kecamatan Pandawan.

Baca Juga :  Kisah Perlawanan Panglima Wangkang

Sejak masuknya Islam di tanah Banjar pada abad ke 16, utusan Kerajaan Demak yakni Khatib Dayan dan para penyebar agama Islam lainnya sudah bermukim dan menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut.

Kembali ke kisah perjuangan Yuda Lalana. Dijelaskan Masruswian, setidaknya ada sebanyak 200 pasukan yang saat itu dipimpin oleh Yuda Lalana.

”Pasukan yang tekun beribadah dan siap untuk melakukan perang sabil melawan penjajah Belanda,” tuturnya.

“Untuk mengatur strategi perlawanan terhadap Belanda, Yuda Lalana dan pasukannya menjadikan masjid Al A’la sebagai markas,” jelasnya.

Setidaknya, ada dua pertempuran yang cukup terkenal di Desa Jatuh. Itu terjadi pada tanggal 5 dan 26 Desember, di tahun 1861.

Saat itu diceritakan, penjajah Belanda mendapatkan informasi bahwa ada gerakan Baratib Baamal di Desa Jatuh.

Pasukan Belanda yang saat itu dipimpin oleh Van Der Hayden, Koch dan lain sebagainya memutuskan menyerbu desa tersebut.

”Ketika pasukan Belanda tiba, mereka disambut serangan secara tiba-tiba dari pasukan Yuda Lalana,” tutur Masruswian.

Dituturkannya, serbuan pertama yang keluar secara tiba-tiba dari semak-semak kebun lada, sempat dijawab oleh pasukan Belanda dengan lontaran meriam.

“Sehingga ada korban yang syahid waktu itu,” tuturnya.

Serangan mengejutkan itu bukanlah serangan yang terakhir. Masih ada serangan lanjutan. Bahkan, seperti seolah-olah tak ada rekan atau pasukan dari pihak Yuda Lalana yang jatuh.

Saat itu, bedil dan meriam itu tiba-tiba tak bisa lagi memuntahkan pelurunya. Pasukan Baratib Baamal yang dipimpin Yuda Lalana itu dengan cepat menghabisi pasukan belanda.

”Beliau yang diceritakan mengenakan jubah kuning dan berserban putih itu, dengan cepat menghabisi pasukan belanda,” tambahnya.

Konon, saat Yuda Lalana, menghujamkan tombak (versi lain menusukan keris) ke arah Van der Heyden, pemimpin belanda itu dapat diselamatkan oleh bawahannya. Yakni, Koch.

“Koch tewas seusai menyelamatkan atasannya. Sedangkan Van Der Heyden sendiri, diketahui tewas pada pertempuran di tanggal 26 Desember tahun 1861,” tutupnya. (war)

Di bawah rindangnya pepohonan jati, ada sebuah kubah makam tua. Konon, di sinilah pimpinan gerakan Baratib Baamal di Desa Jatuh, Penghulu Muda Yuda Lalana dikebumikan.

jejak ramadan radar banjarmasin

Lokasi makam itu persis di belakang Majelis Taklim Darul Khairat. Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Penulis mengunjungi makam itu pada Selasa (19/4) lalu. Makam itu tampak cukup terawat.

Sayangnya, tak ada satu pun tanda atau plang nama bahwa makam itu adalah makam Yuda Lalana. Demikian pula dengan nisan kayu yang sudah sangat tua dan lapuk itu. Tak ada sedikit pun keterangan yang didapatkan.

Kendati demikian, warga yang tinggal di Desa Jatuh meyakini, bahwa di situ bersemayam jenazah Yuda Lalana.

Hal itu juga diungkapkan oleh generasi keenam dari Yuda Lalana. Yakni, Jafar Shadiq. Diungkapkannya, sejak dahulu keluarganya lah yang mengurus makam tersebut.

“Diperkirakan, umur makam itu sudah ratusan tahun. Jadi, bila hendak mengetahui umur Masjid Al A’la, setidaknya bisa diketahui dari lamanya makam itu berada,” ucapnya.

Hal itu diungkapkan Jafar bukan tanpa alasan. Keberadaan Masjid Al A’la, juga tak terlepas dari sejarah Yuda Lalana.

Konon, yang menjadi pembina utama masjid itu dahulunya adalah Yuda Lalana. Lalu diteruskan hingga kini dari generasi ke generasi.

Kini, kepengurusan masjid itu sendiri diketuai oleh Jafar Shadiq.

Kembali ke kisah makam Yuda Lalana. Makam yang satu ini tergolong unik. Meski berbentuk kubah yang dilengkapi dengan atap, namun atapnya hanya mengitari area pinggir makam saja.

Sedangkan di tengah-tengahnya, tidak ada atap sama sekali. Alias seperti sengaja dibuat bolong.

Terkait hal itu, Jafar menjelaskan bahwa kondisi makam itu memiliki makna filosofi tersendiri. Konon, hal itu berkaitan dengan amaliah atau keyakinan Yuda Lalana itu sendiri.

“Beliau sosok penyebar ilmu agama. Sosok yang sangat dekat dengan tuhannya (ahli ibadah). Bahkan dikenal sebagai seorang syekh. Beliau juga pengayom hingga pemimpin masyarakat pada zamannya,” jelasnya.

Baca Juga :  Islamnya Pangeran Sultan Suriansyah

”Di sisi lain, beliau juga pengatur siasat dalam peperangan,” tambah Jafar.

Dijelaskan Jafar pula, bahwa Penghulu Muda Yuda Lalana hanyalah gelar. Nama asli yang bersangkutan, hingga kini masih menjadi tanda tanya.

Pun demikian dengan kapan waktu yang bersangkutan dilahirkan, hingga kapan waktu wafatnya.

”Beliau mempunyai banyak nama. Tapi, konon beliau lebih suka dikenal dengan nama Yuda Lalana,” tutupnya.

Kiprah Yuda Lalana sungguh tak asing lagi di ingatan masyarakat Banua. Lebih khusus di Kabupaten HST.

Ia merupakan salah seorang pejuang yang juga memiliki peran besar pada masa dahsyatnya Perang Banjar. Yang berkecamuk dalam kurun waktu tahun 1859 hingga 1906 itu.

Dijelaskan salah satu pengurus di Dewan Harian Cabang Badan Penerus Pembudayaan Kejuangan (DHC 45) Kabupaten HST, Masruswian.

Di Desa Jatuh, Yuda Lalana memimpin sejumlah pasukan dalam gerakan perjuangan yang dinamai Baratib Baamal.

Sebuah gerakan yang dibentuk di berbagai daerah di Banua untuk melawan penjajah Belanda.

Gerakan tersebut juga menjadi salah satu gerakan perjuangan yang disegani di Banua.

Secara etimologi, Baratib Baamal berarti berzikir dan beramal. Melakukan sebuah perbuatan, diiringi dengan doa serta memohon kebaikan.

Pada masa itu, gerakan Baratib Baamal, diartikan bahwa perjuangan tidak hanya mengandalkan pertahanan secara fisik dengan ragam persenjataan.

Tapi, juga mesti disertai dengan mengisi batin dengan beramal dan memohon perlindungan Allah SWT.

Seperti halnya di daerah lain, di Kabupaten HST pun pemimpin pasukan gerakan Baratib Baamal, juga mengeluarkan fatwa bahwa perang melawan penjajah Belanda hukumnya adalah fisabililah.

”Yang berarti, apabila gugur dalam perang maka berarti mati syahid,” jelas Masruswian.

Lelaki yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Kesenian Kabupaten HST, itu menjelaskan bahwa Desa Jatuh sejak dahulu dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam.

Mengingat lokasinya sendiri berada tidak jauh dengan Desa Pelajau yang juga berada di Kecamatan Pandawan.

Baca Juga :  Datuk Daha Ajarkan Akhlak dan Hidup Zuhud

Sejak masuknya Islam di tanah Banjar pada abad ke 16, utusan Kerajaan Demak yakni Khatib Dayan dan para penyebar agama Islam lainnya sudah bermukim dan menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut.

Kembali ke kisah perjuangan Yuda Lalana. Dijelaskan Masruswian, setidaknya ada sebanyak 200 pasukan yang saat itu dipimpin oleh Yuda Lalana.

”Pasukan yang tekun beribadah dan siap untuk melakukan perang sabil melawan penjajah Belanda,” tuturnya.

“Untuk mengatur strategi perlawanan terhadap Belanda, Yuda Lalana dan pasukannya menjadikan masjid Al A’la sebagai markas,” jelasnya.

Setidaknya, ada dua pertempuran yang cukup terkenal di Desa Jatuh. Itu terjadi pada tanggal 5 dan 26 Desember, di tahun 1861.

Saat itu diceritakan, penjajah Belanda mendapatkan informasi bahwa ada gerakan Baratib Baamal di Desa Jatuh.

Pasukan Belanda yang saat itu dipimpin oleh Van Der Hayden, Koch dan lain sebagainya memutuskan menyerbu desa tersebut.

”Ketika pasukan Belanda tiba, mereka disambut serangan secara tiba-tiba dari pasukan Yuda Lalana,” tutur Masruswian.

Dituturkannya, serbuan pertama yang keluar secara tiba-tiba dari semak-semak kebun lada, sempat dijawab oleh pasukan Belanda dengan lontaran meriam.

“Sehingga ada korban yang syahid waktu itu,” tuturnya.

Serangan mengejutkan itu bukanlah serangan yang terakhir. Masih ada serangan lanjutan. Bahkan, seperti seolah-olah tak ada rekan atau pasukan dari pihak Yuda Lalana yang jatuh.

Saat itu, bedil dan meriam itu tiba-tiba tak bisa lagi memuntahkan pelurunya. Pasukan Baratib Baamal yang dipimpin Yuda Lalana itu dengan cepat menghabisi pasukan belanda.

”Beliau yang diceritakan mengenakan jubah kuning dan berserban putih itu, dengan cepat menghabisi pasukan belanda,” tambahnya.

Konon, saat Yuda Lalana, menghujamkan tombak (versi lain menusukan keris) ke arah Van der Heyden, pemimpin belanda itu dapat diselamatkan oleh bawahannya. Yakni, Koch.

“Koch tewas seusai menyelamatkan atasannya. Sedangkan Van Der Heyden sendiri, diketahui tewas pada pertempuran di tanggal 26 Desember tahun 1861,” tutupnya. (war)

Most Read

Artikel Terbaru

/