alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Kisah Fahrureza, Korban Selamat dari Ambruknya Alfamart

Minim Udara, 4 Jam Bernafas Lewat Mulut

Dengan posisi telentang dan badan sulit bergerak karena diapit reruntuhan bangunan Alfamart, Fahrureza masih punya keyakinan bisa selamat. Bahkan dengan kondisi sulit bernafas, dia menyemangati korban lainnya: Lia Agustina yang berada di dekatnya.

– Oleh: SUTRISNO, Banjarbaru

Insiden ambruknya bangunan Alfamart di Jalan A Yani Km 14, Kecamatan Gambut, Senin (18/4) sore membuat semua orang merasa ngeri. Karena ada 13 orang yang terjebak reruntuhan ruko tiga lantai tersebut.

Dari 13 korban, lima orang dinyatakan meninggal dunia. Sedangkan delapan sisanya selamat, hanya saja sebagian mengalami luka-luka.

Melalui program podcast yang akan segera tayang di Kanal YouTube, Radar Banjarmasin, kemarin (20/4) mengundang salah satu korban yang selamat dari tragedi di Kabupaten Banjar itu. Dia adalah Fahrureza.

Datang mengenakan kemeja hitam bermotif kotak-kotak, pria akrab disapa Reza ini menceritakan bagaimana mencekamnya kejadian yang dialaminya ketika terjebak di reruntuhan bangunan selama 4 jam kepada Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin, Toto Fachrudin.

Reza menceritakan, kedatangannya ke Alfamart bermaksud membeli masker dan mengambil uang di ATM yang ada di dalam ruko tersebut. “Mau ke acara buka bersama dengan teman di Banjarmasin, lalu mampir ke sana,” ujar warga Liang Anggang, Kota Banjarbaru ini.

Saat masuk ke Alfamart, dia mengaku tidak merasakan hal yang aneh. Pria 20 tahun ini kemudian mengambil masker di rak dan mengantre di kasir. “Jadi belum mengambil uang di ATM, saya mau bayar masker dulu,” katanya.

Sambil memegang ponsel dan masker, dia menunggu ada satu orang di depannya yang masih melakukan pembayaran di kasir. “Saat menunggu, tiba-tiba ada bunyi di atas. Seperti barang jatuh. Saya berfikir, mungkin ada karyawan Alfamart memindahkan barang,” ujarnya.

Namun, bunyi itu ternyata ada lagi hingga empat kali. “Orang yang ada di dalam mungkin juga heran dengan suara itu. Mereka terlihat celingak-celinguk,” kata Reza.

Setelah itu, hanya hitungan detik dari bunyi yang terakhir, beber dia, bangunan langsung ambruk. “Ambruknya sangat cepat. Sempat ada suara teriakan, tapi langsung hening dan gelap ketika bangunan sudah rata,” ungkapnya.

Saat bangunan runtuh, dia mengaku dalam posisi telentang dan diapit oleh beton-beton besar. “Jadi hanya bisa menggerakkan tangan dan kaki sedikit,” paparnya.

Beruntung kata Reza, tubuhnya dilindungi oleh balok beton dari reruntuhan bangunan. “Tiang beton itu hanya berada satu jengkal dari tubuh saya. Kalau tidak tertahan balokan beton tersebut, mungkin saya sudah tertimpa reruntuhan,” katanya.

TERJEPIT: Lia, karyawati Alfamart saat berjuang bersama Fahrureza di dalam reruntuhan.

Saat mengetahui dia sedang berada di bawah reruntuhan, Reza langsung mengecek ponselnya yang masih dipegangnya. “Saya cek, ternyata HP masih bisa digunakan,” ujarnya.

Dia lalu menyalakan senter di ponselnya untuk menerangi di sekelilingnya. “Ternyata di dekat saya ada korban lain, mbak-mbak. Dia karyawan Alfamart, karena saya lihat ada baju merahnya,” beber Reza.

Baca Juga :  Ranmor Korban Alfamart Ambruk Bisa Diambil di Mapolsek Gambut

Reza melihat karyawan diketahui bernama Lia Agustina, 21 itu menangis ketakutan. “Saya lalu menenangkannya. Saya yakinkan kami akan selamat,” ujar pria berkumis tipis ini.

Sambil menenangkan Lia, dia mengaku menghubungi teman-temannya yang sedang menunggunya di sekitar Pematang, Gambut untuk bersama-sama berangkat ke acara buka bersama. “Saya telepon mereka dan meminta tolong agar segera menolong kami yang tertimpa reruntuhan,” ujarnya.

Dia juga sengaja merekam video kondisi Lia saat tangan mereka berpegangan untuk dikirim ke teman-temannya. “Tapi saya tidak menghubungi keluarga. Saya takut mereka panik,” paparnya.

Reza menambahkan, tak lama kemudian teman-temannya tiba di lokasi kejadian. “Mereka menelepon dan bertanya posisi saya. Saya bilang tertimbun di bawah. Di tengah dekat kasir,” tambahnya.

Dari saat itu, dia mengaku selalu berkomunikasi dengan teman-temannya. Selain itu, mulai banyak orang yang menghubungi nomornya. “Saya juga berbicara dengan tim emergency, mereka bertanya posisi kami. Saya jelaskan dekat kasir,” paparnya.

Akan tetapi, selama beberapa jam tim SAR belum juga menemukan mereka. Reza mengaku sempat pasrah, namun rasa semangatnya jauh lebih besar. “Saya yakin akan selamat. Karena badan saya tidak kenapa-kenapa. Itu juga yang saya yakinkan ke Mbak di dekat saya, karena dia terlihat panik dan takut,” ujarnya.

Saking takutnya, Lia yang ada di dekatnya tidak ingin senter dimatikan. “Saya terus berkomunikasi dengan dia, dan tanya namanya siapa,” papar Reza.

Dia menyebut, saat itu Lia juga meringis kesakitan karena kakinya tertimpa reruntuhan. “Kakinya tidak bisa ditarik. Dia juga asma, sehingga masker di tangan saya, saya kasihkan ke dia,” sebutnya.

Di dalam reruntuhan itu, Reza mengaku kesulitan bernafas lantaran minimnya udara dan banyaknya debu. “Kami cuma bisa bernafas lewat mulut. Karena lewat hidung seperti tidak ada udara yang masuk,” jelasnya.

Sambil menunggu tim gabungan menemukan mereka, Reza mengaku mencoba mencari celah untuk keluar sambil telentang. “Tapi sangat sulit. Apalagi sinyal ponsel putus-putus,” katanya.

Dia menuturkan, semakin lama, orang di atas bertambah banyak. Bahkan dia mendengar ada suara alat berat. “Kami takut ketika mendengar alat berat. Takut semakin tertindih,” tuturnya.

Semua suara di luar, Reza mengaku mendengarnya. Tapi suaranya tidak didengar oleh orang di luar. “Mungkin karena banyak suara di luar, jadi suara saya tidak terdengar,” ucapnya.

Lia pun ujar dia sempat merasa semakin tertindih, karena banyaknya orang di atas. “Lalu saya telepon teman di luar, supaya beban di lokasi dikurangi. Terbukti Lia merasa bebannya berkurang,” ujarnya.

Baca Juga :  Cari Penyebab Runtuhnya Alfamart, Korban dan Kontraktor Dihadirkan di TKP

Sudah beberapa jam mereka di bawah reruntuhan, namun belum ada yang menemukan. Reza menyebut, temannya lalu meminta dirinya mengeluarkan suara dari benda yang ada di dekatnya. “Saya ambil kaleng susu, lalu saya lempar ke besi. Tapi mereka tetap tidak mendengar,” sebutnya.

Tapi ternyata suara kaleng susu juga terdengar di tempat lain bawah reruntuhan. “Mungkin dari korban lain yang juga ada di bawah,” ucap Reza.

Beberapa lama kemudian, dia mendengar ada suara bor di dekatnya. Dirinya kemudian menelpon temannya via WhatsApp untuk memberitahu posisinya berdekatan dengan bor itu. “Saya terus berkomunikasi dengan teman, sampai akhirnya baterai HP saya sisa satu persen,” katanya.

Dia lalu minta izin ke Lia untuk mematikan senter di ponselnya, agar baterai ponselnya bisa bertahan lama. “Dia takut gelap, tapi setelah saya tenangkan dia bersedia senternya dimatikan,” ungkap Reza.

Tidak lama kemudian, Reza mengaku merasa ada yang jatuh di atas kepalanya. Serta melihat ada cahaya di sana. “Jaraknya sekitar satu meter dari posisi kepala saya,” katanya.

Untuk memberitahu keberadaannya, dia lalu mengambil lampu neon yang sudah mati berukuran panjang dan mengeluarkannya ke lubang itu. “Saya gerak-gerakkan lampunya, tapi tidak ada yang melihat,” jelasnya.

Tak kehabisan akal, Reza kemudian menyalakan lagi senter ponselnya dan mengarahkan cahayanya ke lubang itu. “Saya masih telentang, mendekati lubang itu dengan cara menginjak menggunakan kaki,” ceritanya.

Usahanya berhasil, cahaya dari senternya terlihat oleh tim SAR. “Mereka (tim SAR) teriak. Ada orang kah? Senter lalu saya gerakkan terus. Mereka kemudian melebarkan lubangnya,” papar Reza.

Lanjutnya, setelah lubang membesar, kepala seorang relawan kemudian masuk dan menemukan mereka. “Orang itu bertanya nama saya. Saya sampaikan nama saya dan saya bilang ada Lia juga di dalam sana,” tuturnya.

Saat lubang semakin besar, Reza mengaku tidak mau langsung keluar. Sebab, Lia masih terlihat ketakutan. “Saya minta senter dan oksigen dulu ke mereka untuk Lia,” ujarnya.

Setelah lubang semakin besar, dia kemudian dikeluarkan dan langsung dibawa ke RSI Sultan Agung Banjarbaru. “Saat itu sudah pukul 9 malam. Sementara kejadian pukul 5 sore. Jadi selama 4 jam kami di dalam reruntuhan,” beber Reza.

Sepuluh menit di IGD RS, Reza mendengar kabar ada korban lain berjenis kelamin perempuan juga datang. Dia lalu meminta kakaknya yang sudah mendampinginya untuk menanyakan identitas korban itu. “Katanya dia Lia. Saya bersyukur dia juga selamat,” ucapnya.

Meski tidak mengalami luka berat, Reza mengaku kejadian yang menimpanya itu tidak dapat dilupakannya. “Sampai sekarang saya masih trauma,” katanya di ruang Podcast Radar Banjarmasin. (ris/by/ran)

Dengan posisi telentang dan badan sulit bergerak karena diapit reruntuhan bangunan Alfamart, Fahrureza masih punya keyakinan bisa selamat. Bahkan dengan kondisi sulit bernafas, dia menyemangati korban lainnya: Lia Agustina yang berada di dekatnya.

– Oleh: SUTRISNO, Banjarbaru

Insiden ambruknya bangunan Alfamart di Jalan A Yani Km 14, Kecamatan Gambut, Senin (18/4) sore membuat semua orang merasa ngeri. Karena ada 13 orang yang terjebak reruntuhan ruko tiga lantai tersebut.

Dari 13 korban, lima orang dinyatakan meninggal dunia. Sedangkan delapan sisanya selamat, hanya saja sebagian mengalami luka-luka.

Melalui program podcast yang akan segera tayang di Kanal YouTube, Radar Banjarmasin, kemarin (20/4) mengundang salah satu korban yang selamat dari tragedi di Kabupaten Banjar itu. Dia adalah Fahrureza.

Datang mengenakan kemeja hitam bermotif kotak-kotak, pria akrab disapa Reza ini menceritakan bagaimana mencekamnya kejadian yang dialaminya ketika terjebak di reruntuhan bangunan selama 4 jam kepada Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin, Toto Fachrudin.

Reza menceritakan, kedatangannya ke Alfamart bermaksud membeli masker dan mengambil uang di ATM yang ada di dalam ruko tersebut. “Mau ke acara buka bersama dengan teman di Banjarmasin, lalu mampir ke sana,” ujar warga Liang Anggang, Kota Banjarbaru ini.

Saat masuk ke Alfamart, dia mengaku tidak merasakan hal yang aneh. Pria 20 tahun ini kemudian mengambil masker di rak dan mengantre di kasir. “Jadi belum mengambil uang di ATM, saya mau bayar masker dulu,” katanya.

Sambil memegang ponsel dan masker, dia menunggu ada satu orang di depannya yang masih melakukan pembayaran di kasir. “Saat menunggu, tiba-tiba ada bunyi di atas. Seperti barang jatuh. Saya berfikir, mungkin ada karyawan Alfamart memindahkan barang,” ujarnya.

Namun, bunyi itu ternyata ada lagi hingga empat kali. “Orang yang ada di dalam mungkin juga heran dengan suara itu. Mereka terlihat celingak-celinguk,” kata Reza.

Setelah itu, hanya hitungan detik dari bunyi yang terakhir, beber dia, bangunan langsung ambruk. “Ambruknya sangat cepat. Sempat ada suara teriakan, tapi langsung hening dan gelap ketika bangunan sudah rata,” ungkapnya.

Saat bangunan runtuh, dia mengaku dalam posisi telentang dan diapit oleh beton-beton besar. “Jadi hanya bisa menggerakkan tangan dan kaki sedikit,” paparnya.

Beruntung kata Reza, tubuhnya dilindungi oleh balok beton dari reruntuhan bangunan. “Tiang beton itu hanya berada satu jengkal dari tubuh saya. Kalau tidak tertahan balokan beton tersebut, mungkin saya sudah tertimpa reruntuhan,” katanya.

TERJEPIT: Lia, karyawati Alfamart saat berjuang bersama Fahrureza di dalam reruntuhan.

Saat mengetahui dia sedang berada di bawah reruntuhan, Reza langsung mengecek ponselnya yang masih dipegangnya. “Saya cek, ternyata HP masih bisa digunakan,” ujarnya.

Dia lalu menyalakan senter di ponselnya untuk menerangi di sekelilingnya. “Ternyata di dekat saya ada korban lain, mbak-mbak. Dia karyawan Alfamart, karena saya lihat ada baju merahnya,” beber Reza.

Baca Juga :  Diperkirakan Masih Banyak Korban Tertimbun Belum Ditemukan

Reza melihat karyawan diketahui bernama Lia Agustina, 21 itu menangis ketakutan. “Saya lalu menenangkannya. Saya yakinkan kami akan selamat,” ujar pria berkumis tipis ini.

Sambil menenangkan Lia, dia mengaku menghubungi teman-temannya yang sedang menunggunya di sekitar Pematang, Gambut untuk bersama-sama berangkat ke acara buka bersama. “Saya telepon mereka dan meminta tolong agar segera menolong kami yang tertimpa reruntuhan,” ujarnya.

Dia juga sengaja merekam video kondisi Lia saat tangan mereka berpegangan untuk dikirim ke teman-temannya. “Tapi saya tidak menghubungi keluarga. Saya takut mereka panik,” paparnya.

Reza menambahkan, tak lama kemudian teman-temannya tiba di lokasi kejadian. “Mereka menelepon dan bertanya posisi saya. Saya bilang tertimbun di bawah. Di tengah dekat kasir,” tambahnya.

Dari saat itu, dia mengaku selalu berkomunikasi dengan teman-temannya. Selain itu, mulai banyak orang yang menghubungi nomornya. “Saya juga berbicara dengan tim emergency, mereka bertanya posisi kami. Saya jelaskan dekat kasir,” paparnya.

Akan tetapi, selama beberapa jam tim SAR belum juga menemukan mereka. Reza mengaku sempat pasrah, namun rasa semangatnya jauh lebih besar. “Saya yakin akan selamat. Karena badan saya tidak kenapa-kenapa. Itu juga yang saya yakinkan ke Mbak di dekat saya, karena dia terlihat panik dan takut,” ujarnya.

Saking takutnya, Lia yang ada di dekatnya tidak ingin senter dimatikan. “Saya terus berkomunikasi dengan dia, dan tanya namanya siapa,” papar Reza.

Dia menyebut, saat itu Lia juga meringis kesakitan karena kakinya tertimpa reruntuhan. “Kakinya tidak bisa ditarik. Dia juga asma, sehingga masker di tangan saya, saya kasihkan ke dia,” sebutnya.

Di dalam reruntuhan itu, Reza mengaku kesulitan bernafas lantaran minimnya udara dan banyaknya debu. “Kami cuma bisa bernafas lewat mulut. Karena lewat hidung seperti tidak ada udara yang masuk,” jelasnya.

Sambil menunggu tim gabungan menemukan mereka, Reza mengaku mencoba mencari celah untuk keluar sambil telentang. “Tapi sangat sulit. Apalagi sinyal ponsel putus-putus,” katanya.

Dia menuturkan, semakin lama, orang di atas bertambah banyak. Bahkan dia mendengar ada suara alat berat. “Kami takut ketika mendengar alat berat. Takut semakin tertindih,” tuturnya.

Semua suara di luar, Reza mengaku mendengarnya. Tapi suaranya tidak didengar oleh orang di luar. “Mungkin karena banyak suara di luar, jadi suara saya tidak terdengar,” ucapnya.

Lia pun ujar dia sempat merasa semakin tertindih, karena banyaknya orang di atas. “Lalu saya telepon teman di luar, supaya beban di lokasi dikurangi. Terbukti Lia merasa bebannya berkurang,” ujarnya.

Baca Juga :  Cari Penyebab Runtuhnya Alfamart, Korban dan Kontraktor Dihadirkan di TKP

Sudah beberapa jam mereka di bawah reruntuhan, namun belum ada yang menemukan. Reza menyebut, temannya lalu meminta dirinya mengeluarkan suara dari benda yang ada di dekatnya. “Saya ambil kaleng susu, lalu saya lempar ke besi. Tapi mereka tetap tidak mendengar,” sebutnya.

Tapi ternyata suara kaleng susu juga terdengar di tempat lain bawah reruntuhan. “Mungkin dari korban lain yang juga ada di bawah,” ucap Reza.

Beberapa lama kemudian, dia mendengar ada suara bor di dekatnya. Dirinya kemudian menelpon temannya via WhatsApp untuk memberitahu posisinya berdekatan dengan bor itu. “Saya terus berkomunikasi dengan teman, sampai akhirnya baterai HP saya sisa satu persen,” katanya.

Dia lalu minta izin ke Lia untuk mematikan senter di ponselnya, agar baterai ponselnya bisa bertahan lama. “Dia takut gelap, tapi setelah saya tenangkan dia bersedia senternya dimatikan,” ungkap Reza.

Tidak lama kemudian, Reza mengaku merasa ada yang jatuh di atas kepalanya. Serta melihat ada cahaya di sana. “Jaraknya sekitar satu meter dari posisi kepala saya,” katanya.

Untuk memberitahu keberadaannya, dia lalu mengambil lampu neon yang sudah mati berukuran panjang dan mengeluarkannya ke lubang itu. “Saya gerak-gerakkan lampunya, tapi tidak ada yang melihat,” jelasnya.

Tak kehabisan akal, Reza kemudian menyalakan lagi senter ponselnya dan mengarahkan cahayanya ke lubang itu. “Saya masih telentang, mendekati lubang itu dengan cara menginjak menggunakan kaki,” ceritanya.

Usahanya berhasil, cahaya dari senternya terlihat oleh tim SAR. “Mereka (tim SAR) teriak. Ada orang kah? Senter lalu saya gerakkan terus. Mereka kemudian melebarkan lubangnya,” papar Reza.

Lanjutnya, setelah lubang membesar, kepala seorang relawan kemudian masuk dan menemukan mereka. “Orang itu bertanya nama saya. Saya sampaikan nama saya dan saya bilang ada Lia juga di dalam sana,” tuturnya.

Saat lubang semakin besar, Reza mengaku tidak mau langsung keluar. Sebab, Lia masih terlihat ketakutan. “Saya minta senter dan oksigen dulu ke mereka untuk Lia,” ujarnya.

Setelah lubang semakin besar, dia kemudian dikeluarkan dan langsung dibawa ke RSI Sultan Agung Banjarbaru. “Saat itu sudah pukul 9 malam. Sementara kejadian pukul 5 sore. Jadi selama 4 jam kami di dalam reruntuhan,” beber Reza.

Sepuluh menit di IGD RS, Reza mendengar kabar ada korban lain berjenis kelamin perempuan juga datang. Dia lalu meminta kakaknya yang sudah mendampinginya untuk menanyakan identitas korban itu. “Katanya dia Lia. Saya bersyukur dia juga selamat,” ucapnya.

Meski tidak mengalami luka berat, Reza mengaku kejadian yang menimpanya itu tidak dapat dilupakannya. “Sampai sekarang saya masih trauma,” katanya di ruang Podcast Radar Banjarmasin. (ris/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/