alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Soal Terorisme, Kalsel Masuk Zona Soft and Cool

BANJARMASIN – Lewat workshop Ekspresi Indonesia Muda, 115 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa dan OKP coba dijauhkan dari paham radikal dan terorisme.

Ini agenda Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalsel dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Digelar kemarin (20/4) di Gedung Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Jalan Pangeran Hidayatullah, Benua Anyar.

Direktur Perlindungan BNPT, Brigjen Pol Imam Margono mengatakan, sangat penting membentengi kaum muda dari paham radikal. Sebab, paham-paham intoleran itu menyebar dengan leluasa dan masif di media sosial.

“Sementara, pengguna medsos adalah kebanyakan anak muda. Sebagian lagi, cenderung menyukai konten-konten intoleran itu,” ujarnya.

Namun, ia gembira melihat Kalimantan Selatan. Menurutnya, di sini, sulit bagi penyebar paham radikal untuk meracuni generasi mudanya.

Baca Juga :  Heli Canggih Pertama di Kalimantan

“Di Kalsel masih pada taraf aman. Masih di zona soft and cool. Makanya harus dibentengi agar tak keluar dari zona itu,” lanjut Imam.

Ketua FKPT Kalsel, Aliansyah Mahadi menambahkan, dari data tahun 2020, sebanyak 15,2 persen masyarakat termasuk indeks potensi radikal.

“Dan 85 persen dari 15,2 persen itu, berasal dari anak muda. Ini luar biasa,” ujarnya.

Maka, di sinilah pentingnya bersikap bijak dalam menggunakan medsos. “Lewat kegiatan ini, setidaknya mereka dibekali, bagaimana menangkal konten intoleran dan radikal,” tutup Aliansyah. (gmp/az/fud)

BANJARMASIN – Lewat workshop Ekspresi Indonesia Muda, 115 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa dan OKP coba dijauhkan dari paham radikal dan terorisme.

Ini agenda Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalsel dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Digelar kemarin (20/4) di Gedung Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Jalan Pangeran Hidayatullah, Benua Anyar.

Direktur Perlindungan BNPT, Brigjen Pol Imam Margono mengatakan, sangat penting membentengi kaum muda dari paham radikal. Sebab, paham-paham intoleran itu menyebar dengan leluasa dan masif di media sosial.

“Sementara, pengguna medsos adalah kebanyakan anak muda. Sebagian lagi, cenderung menyukai konten-konten intoleran itu,” ujarnya.

Namun, ia gembira melihat Kalimantan Selatan. Menurutnya, di sini, sulit bagi penyebar paham radikal untuk meracuni generasi mudanya.

Baca Juga :  Rekrutmen Komponen Cadangan Matra Darat

“Di Kalsel masih pada taraf aman. Masih di zona soft and cool. Makanya harus dibentengi agar tak keluar dari zona itu,” lanjut Imam.

Ketua FKPT Kalsel, Aliansyah Mahadi menambahkan, dari data tahun 2020, sebanyak 15,2 persen masyarakat termasuk indeks potensi radikal.

“Dan 85 persen dari 15,2 persen itu, berasal dari anak muda. Ini luar biasa,” ujarnya.

Maka, di sinilah pentingnya bersikap bijak dalam menggunakan medsos. “Lewat kegiatan ini, setidaknya mereka dibekali, bagaimana menangkal konten intoleran dan radikal,” tutup Aliansyah. (gmp/az/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/