alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Kamis, 19 Mei 2022

Datuk Daha Ajarkan Akhlak dan Hidup Zuhud

Di balik kisah pergi ke Makkah dalam sekejap mata itu, Datuk Daha terkenal karena ahlaknya yang mulia. Metode dakwahnya berhasil membuat masyarakat jatuh hati dengan Islam.

jejak ramadan radar banjarmasin

Sebuah pintu gerbang berkelir putih, yang beratap laiknya Rumah Banjar seakan menyambut siapa pun yang datang. Di pintu gerbang itu tertulis: Makam Datu Daha/Surgi Tuan, Syekh H M Thahir bin Syekh H Syahbudin. Lokasinya berada Desa Taluk Haur Nagara, di Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Dari pusat kabupaten yang berada di Kota Kandangan itu, desa ini berjarak sekitar 27 kilometer. Atau sekitar satu jam bila ditempuh dengan kendaraan roda dua. Sebutan datu (datuk) umumnya diberikan, lantaran yanb bersangkutan adalah orang yang dihormati, dituakan dan berilmu dari daerahnya.

Di Kabupaten HSS, setidaknya ada dua makam yang kerap disebut dengan Makam Datuk Daha. Selain makam Syekh H M Thahir, ada makam Syekh Jamaluddin bin Syekh H Syahbudin.Lokasinya berada di Desa Bajayau Tengah di Kecamatan Daha Barat. Atau berjarak sekitar 17 kilometer dari lokasi makam pertama.

Ada pun yang diulas penulis kali ini, yakni kisah Syekh H M Thahir yang makamnya ada di Desa Taluk Haur itu. Tidak diketahui pasti kapan Datuk Daha dilahirkan hingga wafat. Di makamnya yang terletak di Desa Taluk Haur Nagara pun juga tak ada keterangan tertulis tentang itu.

Namun setidaknya, bila menilik dari literatur yang ada, misalnya dalam buku berjudul Tapin Bertabur Ulama, karya Ahmad Gazali Usman dan Muhammad Syarifuddin, kita bisa mendapatkan keterangan yang cukup berharga.

Dalam buku yang diterbitkan oleh Pemkab Tapin pada tahun 2010 itu, Datuk Daha diceritakan pernah bertemu dengan Syekh Muhammad Abdussamad. Atau yang biasa dikenal dengan Datuk Sanggul.

Datuk Sanggul Sendiri, merupakan seorang ulama yang berasal dari Kabupaten Tapin.

Keterkaitan antara Datuk Sanggul dan Datuk Daha, diungkapkan dalam sebuah peristiwa yang ajaib. Yang ceritanya masih bisa kita dengar hingga kini.

Cerita itu bermula ketika Datuk Daha hendak berangkat menunaikan ibadah haji di Makkah.

Saat itu, tak ada transportasi lain dan yang lebih cepat bila hendak berangkat ke Makkah selain menggunakan kapal layar. Namun, di tengah lautan lepas, kapal yang ditumpangi Datuk Daha mendadak tak bisa melanjutkan perjalanan.

Padahal ketika diperiksa, tak ada satu pun hal yang aneh atau mengganggu perjalanan kapal. Angin, bahkan bertiup cukup kencang. Tak ada alasan bagi kapal untuk tidak berlayar.

Berdasarkan pendapat seorang ahli nujum yang saat itu juga berada di kapal. Kapal hanya bisa melanjutkan perjalanan apabila ada seseorang yang bersedia dikorbankan ke tengah laut.

Sontak, hal itu membuat terkejut para penumpang kapal. Dan tentu, siapa pun pasti tak ada yang mau atau dengan ikhlas mengajukan diri dijadikan tumbal. Saat itu secara sukarela Datuk Daha justru mengajukan diri untuk dilemparkan ke tengah laut.

Singkat cerita. Seusai dilemparkan ke tengah laut, aneh bin ajaib, kapal layar kembali bisa bergerak dan melanjutkan perjalanan. Sementara sang datuk, justru terombang-ambing di lautan lepas. Sekian lama terombang-ambing di lautan, Datuk Daha terdampar di sebuah pulau yang sangat indah. Penuh dengan bunga.

Namun ketika menyusuri pulau itu, Datuk Daha juga melihat banyak kuburan. Menurut kisah, kondisinya sangat terawat.

Belum hilang keheranan sang datuk. Di pulau itu, Datuk Daha bertemu dengan seorang laki-laki yang tak dikenal. Mengenakan kostum yang serba putih.

Menurut cerita, orang tak dikenal itu tak lain adalah Nabi Khidir AS.

Seusai menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada Nabi Khidir AS, Datuk Daha lantas diminta menunggu kedatangan seseorang lainnya.

Di situ diceritakan, orang yang ditunggu kedatangannya itu tak lain dan tak bukan adalah Datuk Sanggul. Ia pula yang akhirnya mengantarkan Datuk Daha ke Makkah.

Baca Juga :  Kisah Unik Tiang Guru dan Masjid Al-Anwar

Konon, hanya dalam sekejap mata, keduanya sudah tiba di Makkah.

Dari keterangan Datu Sanggul pula diketahui bahwa seseorang yang ditemui Datuk Daha di pulau itu, tak lain dan tak bukan adalah Nabi Khidir AS.

LUKISAN: Juru kunci makam Datuk Daha, H Muhammad Hatta menunjukkan lukisan Datuk Daha. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN 

Sementara itu, bila menilik literatur lain, misalnya dari buku berjudul Manakib Datuk Sanggul, di situ disebutkan bahwa Datuk Sanggul juga bertemu dengan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Bahkan, keduanya dikisahkan ‘baangkatan dangsanak’ (bersaudara angkat). Disusul dengan diserahkannya sebuah kitab, oleh Datuk Sanggul kepada Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Ulama fenomenal Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang biasa dikenal dengan nama Datuk Kelampayan, itu lahir pada tahun 1710 dan wafat pada tahun 1812 masehi.

Maka artinya, ada kemungkinan pula, bahwa Datuk Daha, juga hidup dalam kurun waktu tersebut. Wallahu a’lam bissawab.

Sementara itu, kawasan kompleks makam Datuk Daha tampak tertata rapi. Dari pintu gerbang, peziarah hanya perlu berjalan sekitar kurang dari 100 meter menuju sebuah bangunan hijau.

Makam Datuk Daha berada dalam bangun itu. Di salah satu dinding bangunan, terpampang sebuah lukisan berfigura. Lukisan itu diyakini adalah sosok Datu Daha.

Di dalam makam itu, penulis bertemu dengan juru kunci makam. Namanya, H Muhammad Hatta. Lelaki asli Desa Desa Taluk Haur Nagara itu tampak asyik memangku kitab suci Alquran.”Lukisan itu, diantarkan langsung oleh peziarah asal Kapuas, Kalimantan Tengah,” ucapnya, ketika ditemui penulis pada Selasa (12/4) lalu.

Dari keterangan Hatta, makam yang berada dalam bangunan yang ia jaga itu tidak hanya ada makam Datuk Daha saja. Tapi, juga keluarga sang datuk.”Dengan beliau, total ada tujuh makam di sini. Termasuk istri beliau dan keluarga lainnya,” jelasnya.

Lelaki 75 tahun, itu mengaku hanya bisa mengisahkan secara umum saja terkait riwayat hidup sang datuk. Seperti misalnya, pertemuan antara Datuk Daha dan Nabi Khidir AS, itu.

Di sisi lain, ia juga membenarkan bahwa Datuk Daha juga pernah bertemu dengan Datuk Sanggul.

Namun dituturkan oleh Hatta, semasa berada di Makkah, Datuk Daha tidak hanya menunaikan ibadah haji. Tapi, juga berguru dengan sejumlah ulama di Makkah.”Saya tidak bisa menjelaskan siapa saja guru beliau, tahun berapa beliau berada di sana hingga berapa lama. Saya khawatir keliru,” ucapnya.

Pun demikian, ketika penulis meminta Hatta menjelaskan silsilah Datuk Daha.”Ada banyak orang yang datang, dan jngin membuat buku tentang beliau. Tapi, saya tidak bisa menjelaskan secara rinci,” tuturnya.

Kendati demikian, Hatta meyakini bahwa Datuk Daha, merupakan waliyullah. Mengingat selama hidupnya, Datuk Daha, juga merupakan salah seorang ulama besar. Lantas, apakah sang datuk memiliki keturunan? Menurut Hatta, sang datuk tidak memiliki seorang pun keturunan.

“Meskipun sang istri mengizinkan Datuk Daha menikah lagi agar bisa mempunyai keturunan, kesempatan itu tidak diambil. Beliau memilih setia dengan sang istri,” jelasnya.”Berbanding terbalik dengan kondisi sekarang,” ucapnya kemudian terkekeh.

Kembali ke kisah Datuk Daha. Ketika sampai di Makkah, sang datuk pun lantas melaksanakan ibadah hajinya. Dan selama beberapa waktu kemudian, akhirnya rombongan jemaah yang sebelumnya menaiki kapal bersama dengan Datuk Daha pun tiba di Makkah.

Rombongan jemaah melihat Datuk Daha sehat wal afiat. Bahkan, lebih dulu datang dan sudah melaksanakan ibadah haji. Jemaah yang heran pun menanyakannya ke Datuk Daha.

Dengan lemah lembut, sang datuk mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah kehendak dan kuasa Allah SWT.

Sepulangnya dari Makkah, menurut penuturan Hatta, Datuk Daha diketahui sempat membuka pengajian. Mengajarkan ilmu agama yang didapatnya ke tengah masyarakat. Ada dua tempat yang biasa digunakan Datuk Daha dalam menyebarkan ilmu agama. Pertama, di kediamannya sendiri. Lokasinya hanya beberapa meter dari makamnya.

Baca Juga :  Tiang dan Mimbar Di-Kain Kuningi

Kedua, di lokasi berdirinya sebuah musala bernama Musala Syamsu wal Qamar. Musala ini berdiri tepat di samping pintu gerbang makam Datuk Daha. Dan satu-satunya musala yang masih terbuat dari kayu di Desa Taluk Haur.

Sedangkan kediaman sang datuk, kini sudah tak ada lagi. Alias sudah lama hancur. Sisa-sisa bangunannya pun sudah tak tampak lagi.

Konon, pada zaman dahulu, jemaah yang datang belajar ke Datuk Daha sungguh banyak. Datang dari berbagai daerah.

Lantas, ajaran seperti apa yang disampaikan oleh Datuk Daha?

Di samping berbagai pelajaran ilmu agama, sang datuk kerap menekankan adab dan zuhud pada tiap muridnya.Salah satunya, dengan tidak mencari atau mempertanyakan sesuatu yang dimiliki, apa bila hilang di kemudian hari.

Ajaran itu, juga diamalkan oleh Datuk Daha semasa hidupnya.

Sebagai contoh, dituturkan Hatta, seusai pengajian, para murid kerap memberikan sejumlah uang kepada sang datuk. Uang itu, biasanya diletakan di dalam kitab yang ia bawa kemana-mana. Atau biasa diletakan di bawah sajadah di mana pun ia menunaikan salat.

Sang datuk, menurut Hatta tak pernah memperdulikan uang-uang itu. Bahkan, ketika uang itu hilang.”Beliau tak pernah mempermasalahkan. Bahkan menanyakan pun tidak. Berbeda dengan kita, uang hilang pasti ditanyakan. Bahkan dicari kemana-mana,” ucap Hatta.

Sebaliknya, sang datuk, justru mempersilakan siapa pun yang membutuhkan uang untuk mengambilnya.”Datuk Daha, lebih memilih hidup sederhana. Saking sederhananya, beliau tidak memiliki sebidang tanah pun,” ucap Hatta.”Termasuk tanah yang di atasnya didirikan rumah oleh beliau. Itu dipinjamkan oleh orang lain,” tambahnya.

Selanjutnya, ajaran yang juga ditekankan sang datuk adalah akhlak. Baik dalam hal pergaulan, maupun ketika mengajar ilmu agama hingga berdakwah.”Datuk Daha terkenal memiliki kepribadian yang lembut. Sangat santun. Tidak pernah marah,” ucapnya.

Pernah suatu ketika, Datuk Daha didapati nongkrong di sebuah arena permainan yang ramai dengan orang-orang. Di situ, sang datuk juga dikisahkan ikut bermain. Ketika azan berkumandang, salah seorang pemain mengingatkan sang datuk agar menunaikan panggilan salat.

Dengan tersenyum, sang datuk menjelaskan bahwa sungguh tidak enak kalau ia saja yang salat. Menurut datuk, akan lebih mengasyikan bila salat bersama-sama.Ajakan itu pun lantas diamini oleh orang yang bermain tadi. Pun demikian dengan banyaknya orang yang berhadir di tempat permainan itu.

Kisah lainnya. Suatu ketika, sang datuk menginginkan adanya sebuah masjid. Saat semua bahan untuk mendirikan masjid sudah didapat, kini hanya tinggal mencari lahannya saja.

Tersebutlah di sebuah lahan yang dikuasai serta biasa digunakan oleh jawara kampung, untuk menggelar acara hiburan yang sifatnya mengundang keramaian. Sang datuk merasa, kawasan itu adalah tempat yang cocok untuk dibangun sebuah masjid. Datuk Daha pun lantas mencoba datang ke tempat itu.

Meskipun saat itu diketahui, ada banyak orang yang melarang datuk untuk pergi ke tempat tersebut.

Pasalnya, si jawara kampung yang menguasai lahan itu adalah orang yang tidak sedikit pun mau diajak berbincang.”Suka berkelahi. Sedikit-sedikit langsung main tampar,” tutur Hatta.

Namun, karena kesantunan dan kelemahlembutan akhlak sang datuk, seusai mengutarakan keinginannya, si jawara kampung itu justru sangat antusias.

Si jawara kampung, bahkan dengan senang hati menyerahkan tanah yang dikuasainya itu. Untuk kemudian didirikan sebuah masjid di atasnya.”Begitulah Datuk Daha. Terkenal lemah lembut dan santun. Tak pernah memaksa. Beliau membawa rasa nyaman di mana pun berada,” tutupnya. (war/by/ran)

Di balik kisah pergi ke Makkah dalam sekejap mata itu, Datuk Daha terkenal karena ahlaknya yang mulia. Metode dakwahnya berhasil membuat masyarakat jatuh hati dengan Islam.

jejak ramadan radar banjarmasin

Sebuah pintu gerbang berkelir putih, yang beratap laiknya Rumah Banjar seakan menyambut siapa pun yang datang. Di pintu gerbang itu tertulis: Makam Datu Daha/Surgi Tuan, Syekh H M Thahir bin Syekh H Syahbudin. Lokasinya berada Desa Taluk Haur Nagara, di Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Dari pusat kabupaten yang berada di Kota Kandangan itu, desa ini berjarak sekitar 27 kilometer. Atau sekitar satu jam bila ditempuh dengan kendaraan roda dua. Sebutan datu (datuk) umumnya diberikan, lantaran yanb bersangkutan adalah orang yang dihormati, dituakan dan berilmu dari daerahnya.

Di Kabupaten HSS, setidaknya ada dua makam yang kerap disebut dengan Makam Datuk Daha. Selain makam Syekh H M Thahir, ada makam Syekh Jamaluddin bin Syekh H Syahbudin.Lokasinya berada di Desa Bajayau Tengah di Kecamatan Daha Barat. Atau berjarak sekitar 17 kilometer dari lokasi makam pertama.

Ada pun yang diulas penulis kali ini, yakni kisah Syekh H M Thahir yang makamnya ada di Desa Taluk Haur itu. Tidak diketahui pasti kapan Datuk Daha dilahirkan hingga wafat. Di makamnya yang terletak di Desa Taluk Haur Nagara pun juga tak ada keterangan tertulis tentang itu.

Namun setidaknya, bila menilik dari literatur yang ada, misalnya dalam buku berjudul Tapin Bertabur Ulama, karya Ahmad Gazali Usman dan Muhammad Syarifuddin, kita bisa mendapatkan keterangan yang cukup berharga.

Dalam buku yang diterbitkan oleh Pemkab Tapin pada tahun 2010 itu, Datuk Daha diceritakan pernah bertemu dengan Syekh Muhammad Abdussamad. Atau yang biasa dikenal dengan Datuk Sanggul.

Datuk Sanggul Sendiri, merupakan seorang ulama yang berasal dari Kabupaten Tapin.

Keterkaitan antara Datuk Sanggul dan Datuk Daha, diungkapkan dalam sebuah peristiwa yang ajaib. Yang ceritanya masih bisa kita dengar hingga kini.

Cerita itu bermula ketika Datuk Daha hendak berangkat menunaikan ibadah haji di Makkah.

Saat itu, tak ada transportasi lain dan yang lebih cepat bila hendak berangkat ke Makkah selain menggunakan kapal layar. Namun, di tengah lautan lepas, kapal yang ditumpangi Datuk Daha mendadak tak bisa melanjutkan perjalanan.

Padahal ketika diperiksa, tak ada satu pun hal yang aneh atau mengganggu perjalanan kapal. Angin, bahkan bertiup cukup kencang. Tak ada alasan bagi kapal untuk tidak berlayar.

Berdasarkan pendapat seorang ahli nujum yang saat itu juga berada di kapal. Kapal hanya bisa melanjutkan perjalanan apabila ada seseorang yang bersedia dikorbankan ke tengah laut.

Sontak, hal itu membuat terkejut para penumpang kapal. Dan tentu, siapa pun pasti tak ada yang mau atau dengan ikhlas mengajukan diri dijadikan tumbal. Saat itu secara sukarela Datuk Daha justru mengajukan diri untuk dilemparkan ke tengah laut.

Singkat cerita. Seusai dilemparkan ke tengah laut, aneh bin ajaib, kapal layar kembali bisa bergerak dan melanjutkan perjalanan. Sementara sang datuk, justru terombang-ambing di lautan lepas. Sekian lama terombang-ambing di lautan, Datuk Daha terdampar di sebuah pulau yang sangat indah. Penuh dengan bunga.

Namun ketika menyusuri pulau itu, Datuk Daha juga melihat banyak kuburan. Menurut kisah, kondisinya sangat terawat.

Belum hilang keheranan sang datuk. Di pulau itu, Datuk Daha bertemu dengan seorang laki-laki yang tak dikenal. Mengenakan kostum yang serba putih.

Menurut cerita, orang tak dikenal itu tak lain adalah Nabi Khidir AS.

Seusai menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada Nabi Khidir AS, Datuk Daha lantas diminta menunggu kedatangan seseorang lainnya.

Di situ diceritakan, orang yang ditunggu kedatangannya itu tak lain dan tak bukan adalah Datuk Sanggul. Ia pula yang akhirnya mengantarkan Datuk Daha ke Makkah.

Baca Juga :  Jalan ini Ditutup Selama Haul Datu Kelampayan

Konon, hanya dalam sekejap mata, keduanya sudah tiba di Makkah.

Dari keterangan Datu Sanggul pula diketahui bahwa seseorang yang ditemui Datuk Daha di pulau itu, tak lain dan tak bukan adalah Nabi Khidir AS.

LUKISAN: Juru kunci makam Datuk Daha, H Muhammad Hatta menunjukkan lukisan Datuk Daha. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN 

Sementara itu, bila menilik literatur lain, misalnya dari buku berjudul Manakib Datuk Sanggul, di situ disebutkan bahwa Datuk Sanggul juga bertemu dengan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Bahkan, keduanya dikisahkan ‘baangkatan dangsanak’ (bersaudara angkat). Disusul dengan diserahkannya sebuah kitab, oleh Datuk Sanggul kepada Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Ulama fenomenal Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang biasa dikenal dengan nama Datuk Kelampayan, itu lahir pada tahun 1710 dan wafat pada tahun 1812 masehi.

Maka artinya, ada kemungkinan pula, bahwa Datuk Daha, juga hidup dalam kurun waktu tersebut. Wallahu a’lam bissawab.

Sementara itu, kawasan kompleks makam Datuk Daha tampak tertata rapi. Dari pintu gerbang, peziarah hanya perlu berjalan sekitar kurang dari 100 meter menuju sebuah bangunan hijau.

Makam Datuk Daha berada dalam bangun itu. Di salah satu dinding bangunan, terpampang sebuah lukisan berfigura. Lukisan itu diyakini adalah sosok Datu Daha.

Di dalam makam itu, penulis bertemu dengan juru kunci makam. Namanya, H Muhammad Hatta. Lelaki asli Desa Desa Taluk Haur Nagara itu tampak asyik memangku kitab suci Alquran.”Lukisan itu, diantarkan langsung oleh peziarah asal Kapuas, Kalimantan Tengah,” ucapnya, ketika ditemui penulis pada Selasa (12/4) lalu.

Dari keterangan Hatta, makam yang berada dalam bangunan yang ia jaga itu tidak hanya ada makam Datuk Daha saja. Tapi, juga keluarga sang datuk.”Dengan beliau, total ada tujuh makam di sini. Termasuk istri beliau dan keluarga lainnya,” jelasnya.

Lelaki 75 tahun, itu mengaku hanya bisa mengisahkan secara umum saja terkait riwayat hidup sang datuk. Seperti misalnya, pertemuan antara Datuk Daha dan Nabi Khidir AS, itu.

Di sisi lain, ia juga membenarkan bahwa Datuk Daha juga pernah bertemu dengan Datuk Sanggul.

Namun dituturkan oleh Hatta, semasa berada di Makkah, Datuk Daha tidak hanya menunaikan ibadah haji. Tapi, juga berguru dengan sejumlah ulama di Makkah.”Saya tidak bisa menjelaskan siapa saja guru beliau, tahun berapa beliau berada di sana hingga berapa lama. Saya khawatir keliru,” ucapnya.

Pun demikian, ketika penulis meminta Hatta menjelaskan silsilah Datuk Daha.”Ada banyak orang yang datang, dan jngin membuat buku tentang beliau. Tapi, saya tidak bisa menjelaskan secara rinci,” tuturnya.

Kendati demikian, Hatta meyakini bahwa Datuk Daha, merupakan waliyullah. Mengingat selama hidupnya, Datuk Daha, juga merupakan salah seorang ulama besar. Lantas, apakah sang datuk memiliki keturunan? Menurut Hatta, sang datuk tidak memiliki seorang pun keturunan.

“Meskipun sang istri mengizinkan Datuk Daha menikah lagi agar bisa mempunyai keturunan, kesempatan itu tidak diambil. Beliau memilih setia dengan sang istri,” jelasnya.”Berbanding terbalik dengan kondisi sekarang,” ucapnya kemudian terkekeh.

Kembali ke kisah Datuk Daha. Ketika sampai di Makkah, sang datuk pun lantas melaksanakan ibadah hajinya. Dan selama beberapa waktu kemudian, akhirnya rombongan jemaah yang sebelumnya menaiki kapal bersama dengan Datuk Daha pun tiba di Makkah.

Rombongan jemaah melihat Datuk Daha sehat wal afiat. Bahkan, lebih dulu datang dan sudah melaksanakan ibadah haji. Jemaah yang heran pun menanyakannya ke Datuk Daha.

Dengan lemah lembut, sang datuk mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah kehendak dan kuasa Allah SWT.

Sepulangnya dari Makkah, menurut penuturan Hatta, Datuk Daha diketahui sempat membuka pengajian. Mengajarkan ilmu agama yang didapatnya ke tengah masyarakat. Ada dua tempat yang biasa digunakan Datuk Daha dalam menyebarkan ilmu agama. Pertama, di kediamannya sendiri. Lokasinya hanya beberapa meter dari makamnya.

Baca Juga :  Tiang dan Mimbar Di-Kain Kuningi

Kedua, di lokasi berdirinya sebuah musala bernama Musala Syamsu wal Qamar. Musala ini berdiri tepat di samping pintu gerbang makam Datuk Daha. Dan satu-satunya musala yang masih terbuat dari kayu di Desa Taluk Haur.

Sedangkan kediaman sang datuk, kini sudah tak ada lagi. Alias sudah lama hancur. Sisa-sisa bangunannya pun sudah tak tampak lagi.

Konon, pada zaman dahulu, jemaah yang datang belajar ke Datuk Daha sungguh banyak. Datang dari berbagai daerah.

Lantas, ajaran seperti apa yang disampaikan oleh Datuk Daha?

Di samping berbagai pelajaran ilmu agama, sang datuk kerap menekankan adab dan zuhud pada tiap muridnya.Salah satunya, dengan tidak mencari atau mempertanyakan sesuatu yang dimiliki, apa bila hilang di kemudian hari.

Ajaran itu, juga diamalkan oleh Datuk Daha semasa hidupnya.

Sebagai contoh, dituturkan Hatta, seusai pengajian, para murid kerap memberikan sejumlah uang kepada sang datuk. Uang itu, biasanya diletakan di dalam kitab yang ia bawa kemana-mana. Atau biasa diletakan di bawah sajadah di mana pun ia menunaikan salat.

Sang datuk, menurut Hatta tak pernah memperdulikan uang-uang itu. Bahkan, ketika uang itu hilang.”Beliau tak pernah mempermasalahkan. Bahkan menanyakan pun tidak. Berbeda dengan kita, uang hilang pasti ditanyakan. Bahkan dicari kemana-mana,” ucap Hatta.

Sebaliknya, sang datuk, justru mempersilakan siapa pun yang membutuhkan uang untuk mengambilnya.”Datuk Daha, lebih memilih hidup sederhana. Saking sederhananya, beliau tidak memiliki sebidang tanah pun,” ucap Hatta.”Termasuk tanah yang di atasnya didirikan rumah oleh beliau. Itu dipinjamkan oleh orang lain,” tambahnya.

Selanjutnya, ajaran yang juga ditekankan sang datuk adalah akhlak. Baik dalam hal pergaulan, maupun ketika mengajar ilmu agama hingga berdakwah.”Datuk Daha terkenal memiliki kepribadian yang lembut. Sangat santun. Tidak pernah marah,” ucapnya.

Pernah suatu ketika, Datuk Daha didapati nongkrong di sebuah arena permainan yang ramai dengan orang-orang. Di situ, sang datuk juga dikisahkan ikut bermain. Ketika azan berkumandang, salah seorang pemain mengingatkan sang datuk agar menunaikan panggilan salat.

Dengan tersenyum, sang datuk menjelaskan bahwa sungguh tidak enak kalau ia saja yang salat. Menurut datuk, akan lebih mengasyikan bila salat bersama-sama.Ajakan itu pun lantas diamini oleh orang yang bermain tadi. Pun demikian dengan banyaknya orang yang berhadir di tempat permainan itu.

Kisah lainnya. Suatu ketika, sang datuk menginginkan adanya sebuah masjid. Saat semua bahan untuk mendirikan masjid sudah didapat, kini hanya tinggal mencari lahannya saja.

Tersebutlah di sebuah lahan yang dikuasai serta biasa digunakan oleh jawara kampung, untuk menggelar acara hiburan yang sifatnya mengundang keramaian. Sang datuk merasa, kawasan itu adalah tempat yang cocok untuk dibangun sebuah masjid. Datuk Daha pun lantas mencoba datang ke tempat itu.

Meskipun saat itu diketahui, ada banyak orang yang melarang datuk untuk pergi ke tempat tersebut.

Pasalnya, si jawara kampung yang menguasai lahan itu adalah orang yang tidak sedikit pun mau diajak berbincang.”Suka berkelahi. Sedikit-sedikit langsung main tampar,” tutur Hatta.

Namun, karena kesantunan dan kelemahlembutan akhlak sang datuk, seusai mengutarakan keinginannya, si jawara kampung itu justru sangat antusias.

Si jawara kampung, bahkan dengan senang hati menyerahkan tanah yang dikuasainya itu. Untuk kemudian didirikan sebuah masjid di atasnya.”Begitulah Datuk Daha. Terkenal lemah lembut dan santun. Tak pernah memaksa. Beliau membawa rasa nyaman di mana pun berada,” tutupnya. (war/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/