alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Sejarah H Salman Al Farisi

Al Alimul Fadhil Syekh H Salman Al Farisi merupakan salah satu ulama Tapin.

Ia lahir di Dalam Pagar Martapura pada Rabu 25 Shafar 1279 Hijriah dan meninggal 9 Dzulhijjah 1350 Hijriah atau 15 April 1932 Masehi.

Garis keturunannya dari Datu Kalampaian. Mulai Syekh H Salman Al Farisi bin Al Alimul Allamah Syekh Qadhi H Mahmud bin Al Alimul Fadhil H Muhammad Yasin bin H Muhyiddin Al Banjari, Al Alimul Fadhil H Muhammad Yasin ini kawin dengan Asiah binti Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Berkat jasanya dalam menyebarkan dan berdakwah Islam di Bumi Ruhuy Rahayu, namanya diabadikan di salah satu Perguruan Tinggi yang ada di Kelurahan Tambarangan Kecamatan Tapin Selatan.

Sebut saja Abah Hayan salah satu zuriat, butuh 6 tahun meneliti agar data yang ia sampaikan konkret. Ia pun menceritakan bahwa sejak berumur 3 tahun, Syekh H Salman Al Farisi sudah ditinggal ayahnya meninggal, tepatnya 9 Rajab 1281 Hijriah.“Sejak saat itu, beliau dididik oleh Al Alimul Allamah Syekh Qadhi H Muhammad Amin,” tuturnya.

Massa kecilnya pun banyak mendapat didikan seperti pendidikan yang di ajarkan oleh Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Mulai dari menguasai ilmu ilmu Tauhid, Fiqih, Tasauf, dan ilmu ilmu Alat dan lain sebagainya.

“Menurut cerita turun temurun dari anak beliau tuan guru H Muhammad, dalam belajar kalau mengantuk maka bantal yang digunakan balok kelapa. Kalau tertidur nyenyak akan cepat bangun,” katanya.

Singkat cerita, ketika beliau berumur 15 tahun ibunda tercinta berpulang ke Rahmatullah. Sejak saat itu, Syekh Salman Al Farisi pun berangkat ke tanah suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu agama.“Di Mekkah banyak belajar dari kedua kakaknya, yakni Al Alimul Allamah Syekh H Abdullah dan Al Alimul Allamah Syekh H Muhammad Nur,” ucapnya.

Tidak hanya belajar dengan kedua kakaknya, tapi selama di Mekkah beliau juga belajar ke para Masyayikh dan Masyur pada zaman tersebut. Salah satu guru beliau yang tercatat adalah seorang ulama asal Maghribi, belajar mengenai Ilmu Falaq. Selama di Mekkah pun Syekh Salman Al Farisi mengambil Tariqah Qadriyah Wan Naqsabandiyah kepada Syekh Nuruddin.

Baca Juga :  Pantang Menyerah Meski Seperti Melukis di Atas Air

“Di Mekkah juga beliau mendapatkan jodoh, menikah dengan salah satu kerabat istri kakaknya yang berasal dari Riau Jambi (Tanjung Pinang). Dikaruniai anak, dinamai Malik,” ucapnya.

Lama di Mekkah, dia bersama istri dan anaknya pulang ke Kampung istrinya di Tanjung Pinang dan menetap di sana. “Ada terbesit di hati beliau untuk ke tanah Banjar melaksanakan ziarah ke makam kedua orang tuanya sekaligus bersilaturahmi. Maka bertolaklah ke tanah Banjar. Singkatnya beliau kembali lagi ke kampung istrinya,” katanya.

Begitu kagetnya beliau, ketika kembali ke Tanjung Pinang, istri tercintanya ternyata sudah 40 hari berpulang ke Rahmatullah dan anaknya Malik sudah 7 hari berpulang ke Rahmatullah. “Takdir Allah inilah yang membuat beliau kembali ke tanah Banjar, untuk mengamalkan ilmu yang sudah didapatkannya dan mensyiarkan Islam melanjutkan Datu Kelampaian,” jelasnya.

Sesampainya di Martapura, beliau mengajarkan agama Islam di Kampung Melayu. Atas inisiatif beliau ada peninggalan pusat pendidikan dan Musala.
“Namun saudara dan keluarga beliau menyarankan agar mensyiarkan agama di Desa Gadung Kabupaten Tapin. Beliau pun menyetujui dan ke saja bersama temannya bernama Abdul Qadir dengan menggunakan jalur sungai,” bebernya.

Rupanya kedatangan Syekh Salman Al Farisi disambut dengan suka cita. Waktu itu banyak yang belajar ilmu agama dengan beliau.“Pusat pengajarannya di sebuah langgar yang letaknya sekarang tepat depan makam beliau,” bebernya.

Selama di Desa Gadung, sempat beberapa kali kawin. Hingga dikaruniai 3 orang anak. Pertama Hj Fatimah, kedua H Muhammad atau tuan guru Muhammad dan H Abdul Qadir.

Dijelaskannya beliau 34 tahun berdakwah di Desa Gadung. Dalam berdakwah ada tiga cara yang dilakukan beliau. Mulai dari mengetahui tingkah laku masyarakat, memberitahukan langsung ke masyarakat sampai menggunakan kitab.“Untuk kitab yang diketahui ada tiga, tentang sifat 20, kerukunan sampai Sabilal Muhtadin,” ucapnya.

Baca Juga :  Ngaji Bareng di Trotoar

Desa Gadung terkenal akan wilayah yang banyak orang-orang nakal. Namun berkat pendekatan yang dilakukan, orang-orang kebanyakan jadi murid beliau. “Memang wilayah Gadung kebanyakan orang nakal. Nah mereka ini diberi amaliah sesuai dengan kemampuan mereka. Tapi berkat itu, kenakalan mereka berkurang, hingga ikut belajar ilmu agama,” jelasnya.

Memang beliau menguasai ilmu Falaq, dakwahnya pun kebanyakan langsung ke masyarakat. Yang paling banyak tentang ilmu tentang musim tanam, di sini rata-rata masyarakat banyak yang bertanya.“Sampai-sampai beliau membuat kalender pertanian,” tuturnya.

Beliau lalu menggerakkan masyarakat untuk mengeruk sungai saat musim kemarau hanya menggunakan tangan saja. Kegiatan dilakukan untuk memperlancar air ke persawahan.

“Beliau juga suka silaturahmi, kalau ada mendengar warga yang sakit, langsung dijenguknya. Hal ini dilakukan beliau untuk mencontohkan kepada masyarakat,” tambahnya.

Dakwah beliau memang bertepatan dengan zaman penjajahan Belanda, tapi cara berdakwah beliau, di bidang rohani. Para pejuang dibuatkan baju bersyarat (barajah).
“Di samping itu, sebelum berjuang para pejuang terlebih dahulu dimandikan beliau,” jelasnya.

Dijelaskannya juga banyak keramat Syekh Salman Al Farisi, diantaranya dapat menyaung lesung untuk menambah semangat masyarakat dalam menuntut ilmu agama. Selain itu, beliau bisa menangkap ikan dengan alat penangkap di bawah ranjang, walaupun hujan beliau tidak kehujanan saat dalam perjalanan dakwah.

“Lalu dapat melihat dan memperlihatkan intan di kuku, dapat mengerti bahasa burung yang saat itu mengabarkan bahwa kakak beliau telah meninggal, menunjukkan sendiri tempat beliau akan dikubur malamnya beliau wafat dan liang lahat beliau tidak ada air saat banjir padahal di sekeliling berair,” pungkasnya. (dly/by/ran)

Al Alimul Fadhil Syekh H Salman Al Farisi merupakan salah satu ulama Tapin.

Ia lahir di Dalam Pagar Martapura pada Rabu 25 Shafar 1279 Hijriah dan meninggal 9 Dzulhijjah 1350 Hijriah atau 15 April 1932 Masehi.

Garis keturunannya dari Datu Kalampaian. Mulai Syekh H Salman Al Farisi bin Al Alimul Allamah Syekh Qadhi H Mahmud bin Al Alimul Fadhil H Muhammad Yasin bin H Muhyiddin Al Banjari, Al Alimul Fadhil H Muhammad Yasin ini kawin dengan Asiah binti Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Berkat jasanya dalam menyebarkan dan berdakwah Islam di Bumi Ruhuy Rahayu, namanya diabadikan di salah satu Perguruan Tinggi yang ada di Kelurahan Tambarangan Kecamatan Tapin Selatan.

Sebut saja Abah Hayan salah satu zuriat, butuh 6 tahun meneliti agar data yang ia sampaikan konkret. Ia pun menceritakan bahwa sejak berumur 3 tahun, Syekh H Salman Al Farisi sudah ditinggal ayahnya meninggal, tepatnya 9 Rajab 1281 Hijriah.“Sejak saat itu, beliau dididik oleh Al Alimul Allamah Syekh Qadhi H Muhammad Amin,” tuturnya.

Massa kecilnya pun banyak mendapat didikan seperti pendidikan yang di ajarkan oleh Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Mulai dari menguasai ilmu ilmu Tauhid, Fiqih, Tasauf, dan ilmu ilmu Alat dan lain sebagainya.

“Menurut cerita turun temurun dari anak beliau tuan guru H Muhammad, dalam belajar kalau mengantuk maka bantal yang digunakan balok kelapa. Kalau tertidur nyenyak akan cepat bangun,” katanya.

Singkat cerita, ketika beliau berumur 15 tahun ibunda tercinta berpulang ke Rahmatullah. Sejak saat itu, Syekh Salman Al Farisi pun berangkat ke tanah suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu agama.“Di Mekkah banyak belajar dari kedua kakaknya, yakni Al Alimul Allamah Syekh H Abdullah dan Al Alimul Allamah Syekh H Muhammad Nur,” ucapnya.

Tidak hanya belajar dengan kedua kakaknya, tapi selama di Mekkah beliau juga belajar ke para Masyayikh dan Masyur pada zaman tersebut. Salah satu guru beliau yang tercatat adalah seorang ulama asal Maghribi, belajar mengenai Ilmu Falaq. Selama di Mekkah pun Syekh Salman Al Farisi mengambil Tariqah Qadriyah Wan Naqsabandiyah kepada Syekh Nuruddin.

Baca Juga :  Datuk Daha Ajarkan Akhlak dan Hidup Zuhud

“Di Mekkah juga beliau mendapatkan jodoh, menikah dengan salah satu kerabat istri kakaknya yang berasal dari Riau Jambi (Tanjung Pinang). Dikaruniai anak, dinamai Malik,” ucapnya.

Lama di Mekkah, dia bersama istri dan anaknya pulang ke Kampung istrinya di Tanjung Pinang dan menetap di sana. “Ada terbesit di hati beliau untuk ke tanah Banjar melaksanakan ziarah ke makam kedua orang tuanya sekaligus bersilaturahmi. Maka bertolaklah ke tanah Banjar. Singkatnya beliau kembali lagi ke kampung istrinya,” katanya.

Begitu kagetnya beliau, ketika kembali ke Tanjung Pinang, istri tercintanya ternyata sudah 40 hari berpulang ke Rahmatullah dan anaknya Malik sudah 7 hari berpulang ke Rahmatullah. “Takdir Allah inilah yang membuat beliau kembali ke tanah Banjar, untuk mengamalkan ilmu yang sudah didapatkannya dan mensyiarkan Islam melanjutkan Datu Kelampaian,” jelasnya.

Sesampainya di Martapura, beliau mengajarkan agama Islam di Kampung Melayu. Atas inisiatif beliau ada peninggalan pusat pendidikan dan Musala.
“Namun saudara dan keluarga beliau menyarankan agar mensyiarkan agama di Desa Gadung Kabupaten Tapin. Beliau pun menyetujui dan ke saja bersama temannya bernama Abdul Qadir dengan menggunakan jalur sungai,” bebernya.

Rupanya kedatangan Syekh Salman Al Farisi disambut dengan suka cita. Waktu itu banyak yang belajar ilmu agama dengan beliau.“Pusat pengajarannya di sebuah langgar yang letaknya sekarang tepat depan makam beliau,” bebernya.

Selama di Desa Gadung, sempat beberapa kali kawin. Hingga dikaruniai 3 orang anak. Pertama Hj Fatimah, kedua H Muhammad atau tuan guru Muhammad dan H Abdul Qadir.

Dijelaskannya beliau 34 tahun berdakwah di Desa Gadung. Dalam berdakwah ada tiga cara yang dilakukan beliau. Mulai dari mengetahui tingkah laku masyarakat, memberitahukan langsung ke masyarakat sampai menggunakan kitab.“Untuk kitab yang diketahui ada tiga, tentang sifat 20, kerukunan sampai Sabilal Muhtadin,” ucapnya.

Baca Juga :  Masjid Pertama di Kalsel

Desa Gadung terkenal akan wilayah yang banyak orang-orang nakal. Namun berkat pendekatan yang dilakukan, orang-orang kebanyakan jadi murid beliau. “Memang wilayah Gadung kebanyakan orang nakal. Nah mereka ini diberi amaliah sesuai dengan kemampuan mereka. Tapi berkat itu, kenakalan mereka berkurang, hingga ikut belajar ilmu agama,” jelasnya.

Memang beliau menguasai ilmu Falaq, dakwahnya pun kebanyakan langsung ke masyarakat. Yang paling banyak tentang ilmu tentang musim tanam, di sini rata-rata masyarakat banyak yang bertanya.“Sampai-sampai beliau membuat kalender pertanian,” tuturnya.

Beliau lalu menggerakkan masyarakat untuk mengeruk sungai saat musim kemarau hanya menggunakan tangan saja. Kegiatan dilakukan untuk memperlancar air ke persawahan.

“Beliau juga suka silaturahmi, kalau ada mendengar warga yang sakit, langsung dijenguknya. Hal ini dilakukan beliau untuk mencontohkan kepada masyarakat,” tambahnya.

Dakwah beliau memang bertepatan dengan zaman penjajahan Belanda, tapi cara berdakwah beliau, di bidang rohani. Para pejuang dibuatkan baju bersyarat (barajah).
“Di samping itu, sebelum berjuang para pejuang terlebih dahulu dimandikan beliau,” jelasnya.

Dijelaskannya juga banyak keramat Syekh Salman Al Farisi, diantaranya dapat menyaung lesung untuk menambah semangat masyarakat dalam menuntut ilmu agama. Selain itu, beliau bisa menangkap ikan dengan alat penangkap di bawah ranjang, walaupun hujan beliau tidak kehujanan saat dalam perjalanan dakwah.

“Lalu dapat melihat dan memperlihatkan intan di kuku, dapat mengerti bahasa burung yang saat itu mengabarkan bahwa kakak beliau telah meninggal, menunjukkan sendiri tempat beliau akan dikubur malamnya beliau wafat dan liang lahat beliau tidak ada air saat banjir padahal di sekeliling berair,” pungkasnya. (dly/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

Tari Kanjar Khas Meratus

Asal Usul Kampung Ketupat

Asal Mula Nama Lapangan Murjani

Kisah Datu Taniran

/