alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Hasan Basry dan Pohon Tua yang Menolak Tumbang

Keberadaan Markas Besar Sektor Selatan Gerakan Alam Roh tak pernah terendus penjajah Belanda beserta antek-anteknya. Bahkan hingga kini puing-puing sisa kejayaan juga seakan lenyap ditelan bumi.

jejak ramadan radar banjarmasin

“Tak ada yang tahu di mana puing-puing markas itu. Semuanya hilang,” tutur Riduansyah, juru kunci sekaligus pengelola dua Monumen Peringatan ALRI Divisi IV, di Desa Paku Alam.

Riduansyah yang penasaran, mengaku pernah menjelajahi lahan berdirinya Markas Gerakan Alam Roh. Namun, tak ada satu pun ditemukan sisa bekas bangunan.

Padahal, menurut cerita orang terdahulu, markas itu lumayan besar. Terdiri dari banyaknya bangunan berbahan kayu.

“Yang ada, justru tiang bendera berbahan kayu ulin sepanjang kurang lebih 10 meter, yang terpancang di atas gundukan tanah berbentuk bintang besudut lima itu,” jelasnya.

Menukil dari buku berjudul Alam Roh, Sepenggal Sejarah Perjuangan Rakyat Kalsel Melawan Kolonial Belanda, yang ditulis oleh Hendraswati dijelaskan bahwa selain menjadi tempat persembunyian, markas itu juga berfungsi sebagai tempat pejuang berlatih tempur. Mereka mengatur dan menyusun strategi melawan penjajah Belanda.

Masih berdasarkan data dari buku yang sama, disebutkan bahwa selain sejumlah komandan dan wakil komandan masing-masing, setidaknya ada 647 anggota yang tergabung dalam Markas Alam Roh.Terdiri dari tentara, pekerja dapur, bagian gudang, bagian pos tentara, perawat, hingga bagian persenjataan.

Melihat banyaknya jumlah pasukan, maka adalah hal yang wajar bila Riduansyah, juga penulis, berpikir bahwa markas itu sungguh berupa tempat yang luas atau terdiri dari sejumlah bangunan.

Penasaran dengan kondisi lahan eks Markas Gerakan Alam Roh itu, penulis didampingi Riduansyah, memacu motor sejauh dua hingga tiga kilometer masuk ke Desa Paku Alam.

Dari Monumen Peringatan ALRI Divisi IV, menuju lokasi monumen kedua berada. Yang didirikan di lahan eks Markas Gerakan Alam Roh, itu.

Jalanan yang kami lalui itu tanah bercampur bebatuan. Lumayan lebar. Dan masih bisa dilintasi kendaraan roda empat. Kendati demikian di beberapa bagian masih tak mulus. Berlubang. Kemudian, ada sejumlah jembatan kayu yang sudah tua. Kayunya compang-camping. Berderak ketika dilintasi.

Sekitar satu kilometer sebelum tiba di lokasi monumen kedua itu, kawasan permukiman yang berada di kiri dan kanan jalan desa berganti lahan yang masih berupa semak belukar.

Hanya beberapa lahan yang digarap jadi area persawahan, juga perkebunan limau (jeruk). Yang menurut Riduansyah, pada awal tahun 2021 lalu, semua tanaman itu sempat mengalami gagal panen.

Apa lagi kalau bukan karena terdampak banjir besar di awal tahun tersebut.”Jangankan sawah dan kebun, rumah-rumah terendam. Museum pun sempat difungsikan jadi posko pengungsian,” ucapnya.

Baca Juga :  Asal Usul Pulau Datu

Kawasan yang kami lalui itu sunyi. Tak ada bangunan berupa rumah warga. Selama di perjalanan, kami hanya berpapasan dengan beberapa warga.

Padahal dahulu kawasan itu sungguh ramai seperti kampung-kampung lainnya. Namun semenjak Gerakan Alam Roh dibubarkan, semenjak itu pula kawasan itu menjadi sunyi.

“Sekarang kondisinya terbalik. Dahulu, permukiman di depan itu semak belukar dan kawasan hutan. Kini jadi permukiman,” jelas Riduansyah.

Belasan menit kemudian, kami tiba di lokasi monumen kedua. Sebuah lokasi yang rimbun dengan semak belukar. Baru memarkirkan motor, bulu roma sudah berdiri.

Riduansyah yang melihat penulis mengusap-usapkan lengan, hanya terkekeh. Ia bilang, sensasi itu sudah biasa terjadi bila tiba di lokasi monumen kedua ini.

Penulis bersyukur, tidak ke lokasi ini pada malam hari.

Monumen kedua ini dibangun belakangan seusai monumen pertama. Lokasinya hanya di pinggir jalan lingkungan di ujung Handil atau Sungai Bujur di Desa Paku Alam.

Menurut Riduansyah, semestinya di lahan inilah monumen utama didirikan. Karena di lahan ini pula lokasi eks Markas Gerakan Alam Roh berada.

“Saya tidak tahu mengapa monumen utama dibangun di depan sana. Mungkin karena lokasinya cukup dekat dan tak jauh dari permukiman,” jelasnya.

Selain ada monumen peringatan, di lokasi kedua itu ada tiang bendera sepanjang kurang lebih 10 meter. Ditancapkan di atas gundukan tanah berbentuk sebuah bintang besudut lima.

Lalu, ada pula sebuah batang pohon yang tampak sangat tua dan lapuk. Pohon ini, oleh warga setempat yang juga disebut-sebut sebagai peninggalan para pejuang kemerdekaan.

BELUM WAKTUNYA TUMBANG: Pengelola sekaligus juru kunci monumen, Riduansyah menunjukan batang pohon tua di lahan eks Markas Gerakan Alam Roh. Konon, pohon ini dahulunya berukuran besar dan pernah menjadi tempat istirahat Pejuang Nasional, Hasan Basry. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Batang pohon itu sudah sangat kurus. Tak lagi diselimuti kulit. Jangankan dedaunan. Dahan dan rantingnya saja tak ada. Di ujung bagian atas pohon, kayunya sudah koyak.

Tidak diketahui secara pasti, pohon tersebut termasuk dalam jenis apa.

Secara kasat mata, diterpa angin kencang, kayu yang koyak itu pasti sudah jatuh. Bahkan, tidak menutup kemungkinan batang pohon itu juga turut tumbang. Tapi rupanya, tak kunjung tumbang juga.

Dituturkan Riduansyah berdasarkan cerita orang-orang terdahulu, batang pohon itu dahulunya cukup besar. Batang dan dahannya sangat kokoh, rimbun akan dedaunan.

Konon, Pejuang Nasional yang bergelar Bapak Gerilya Kalimantan itu, Hasan Basry, biasa bersantai atau tertidur di atas pohon itu.

“Saya pernah mendengar cerita. Saking hebatnya beliau, saat tidur pun, jangankan Belanda atau musuh, nyamuk saja tak berani mendekatinya,” tutur Riduansyah.

Menandai monumen beserta dua objek lainnya di kawasan itu, pemda mengecor bagian bawah lahan di kawasan itu dengan semen. Sayang, gundukan tanah yang membentuk bintang bersudut lima itu rupanya juga ikut dicor semen.

Baca Juga :  Darimana Asal Mamanda?

“Padahal, semestinya bisa dibuat semacam pagar pembatas saja di sekeliling gundukan tanah itu. Kalau dicor seperti ini jadi tidak kelihatan asli,” sesal Riduansyah.

Lalu, apa makna dari gundukan tanah berbentuk bintang bersudut lima itu? Riduansyah menjelaskan, bahwa ada lima pimpinan tertinggi yang pernah berada di Markas Gerakan Alam Roh.

Sayangnya, ia tidak mengetahui siapa saja lima pimpinan itu. Yang ia tahu, salah satunya adalah Hasan Basry.”Makanya, patung pejuang di atas diorama yang dibuat itu juga ada lima orang, bukan?,” ucapnya.

Lantas, apa yang membuat puing-puing bekas Markas Gerakan Alam Roh itu lenyap tanpa sisa?

Menurut Riduansyah, kemungkinan besar masih ada sangkut pautnya dengan pasak yang ditanam di lahan markas oleh ulama asal Martapura, Kabupaten Banjar.

Yang dimintai pertolongan, untuk menyembunyikan keberadaan markas dari Belanda hingga antek-anteknya.

“Cerita orang terdahulu, jangankan penjajah Belanda atau mata-matanya. Orang yang punya niat buruk pun, tak akan bisa menemukan markas itu,” tambahnya.

Sebelum menuju lokasi monumen kedua itu, penulis sempat membaca catatan dokumentasi kegiatan komandan beserta prajurit Lanal Banjarmasin. Periode tahun 2019-2020.

Di situ ditulis, tentang sejarah singkat berdirinya Monumen ALRI Divisi IV Alam Roh, juga kehebatan para pejuang.

Dalam catatan yang ditempel di dinding museum itu, juga disebutkan tentang pasak yang ditanam di lahan berdirinya Markas Gerakan Alam Roh. Pasak itu diketahui berupa jimat yang diberikan oleh ulama asal Martapura Kabupaten Banjar, lalu ditanam oleh para pejuang di empat penjuru mata angin, di lahan berdirinya markas. Fungsinya untuk mengelabui mata Belanda, juga pribumi yang berkhianat.

Kemudian, catatan itu juga menyebutkan bahwa, Bapak Gerilya Kalimantan, Hasan Basry, juga meletakan empat bilah kayu bamban di sekitar Markas Gerakan Alam Roh, tujuannya sebagai pelindung.

“Istilah kami di sini, markas itu digaibkan sampai sekarang. Konon, hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya. Bahkan sampai sekarang, puing-puing markas itu sebenarnya masih ada di kawasan ini,” tutupnya lelaki 49 tahun itu.

Di sisi lain, berdasarkan catatan di buku berjudul Alam Roh, Sepenggal Sejarah Perjuangan Rakyat Kalsel Melawan Kolonial Belanda, seringnya patroli pasukan Belanda di daerah Banjarmasin dan sekitarnya, Markas Gerakan Alam Roh pun sering berpindah-pindah sesuai situasi dan kondisi.

Tujuannya, tak lain agar tidak terendus oleh pihak musuh.

Kendati demikian, secara administratif, Markas Besar Sektor Selatan Gerakan Alam Roh, masih berada di pedalaman Handil atau Sungai Bujur di Desa Paku Alam. (war/by/ran)

Keberadaan Markas Besar Sektor Selatan Gerakan Alam Roh tak pernah terendus penjajah Belanda beserta antek-anteknya. Bahkan hingga kini puing-puing sisa kejayaan juga seakan lenyap ditelan bumi.

jejak ramadan radar banjarmasin

“Tak ada yang tahu di mana puing-puing markas itu. Semuanya hilang,” tutur Riduansyah, juru kunci sekaligus pengelola dua Monumen Peringatan ALRI Divisi IV, di Desa Paku Alam.

Riduansyah yang penasaran, mengaku pernah menjelajahi lahan berdirinya Markas Gerakan Alam Roh. Namun, tak ada satu pun ditemukan sisa bekas bangunan.

Padahal, menurut cerita orang terdahulu, markas itu lumayan besar. Terdiri dari banyaknya bangunan berbahan kayu.

“Yang ada, justru tiang bendera berbahan kayu ulin sepanjang kurang lebih 10 meter, yang terpancang di atas gundukan tanah berbentuk bintang besudut lima itu,” jelasnya.

Menukil dari buku berjudul Alam Roh, Sepenggal Sejarah Perjuangan Rakyat Kalsel Melawan Kolonial Belanda, yang ditulis oleh Hendraswati dijelaskan bahwa selain menjadi tempat persembunyian, markas itu juga berfungsi sebagai tempat pejuang berlatih tempur. Mereka mengatur dan menyusun strategi melawan penjajah Belanda.

Masih berdasarkan data dari buku yang sama, disebutkan bahwa selain sejumlah komandan dan wakil komandan masing-masing, setidaknya ada 647 anggota yang tergabung dalam Markas Alam Roh.Terdiri dari tentara, pekerja dapur, bagian gudang, bagian pos tentara, perawat, hingga bagian persenjataan.

Melihat banyaknya jumlah pasukan, maka adalah hal yang wajar bila Riduansyah, juga penulis, berpikir bahwa markas itu sungguh berupa tempat yang luas atau terdiri dari sejumlah bangunan.

Penasaran dengan kondisi lahan eks Markas Gerakan Alam Roh itu, penulis didampingi Riduansyah, memacu motor sejauh dua hingga tiga kilometer masuk ke Desa Paku Alam.

Dari Monumen Peringatan ALRI Divisi IV, menuju lokasi monumen kedua berada. Yang didirikan di lahan eks Markas Gerakan Alam Roh, itu.

Jalanan yang kami lalui itu tanah bercampur bebatuan. Lumayan lebar. Dan masih bisa dilintasi kendaraan roda empat. Kendati demikian di beberapa bagian masih tak mulus. Berlubang. Kemudian, ada sejumlah jembatan kayu yang sudah tua. Kayunya compang-camping. Berderak ketika dilintasi.

Sekitar satu kilometer sebelum tiba di lokasi monumen kedua itu, kawasan permukiman yang berada di kiri dan kanan jalan desa berganti lahan yang masih berupa semak belukar.

Hanya beberapa lahan yang digarap jadi area persawahan, juga perkebunan limau (jeruk). Yang menurut Riduansyah, pada awal tahun 2021 lalu, semua tanaman itu sempat mengalami gagal panen.

Apa lagi kalau bukan karena terdampak banjir besar di awal tahun tersebut.”Jangankan sawah dan kebun, rumah-rumah terendam. Museum pun sempat difungsikan jadi posko pengungsian,” ucapnya.

Baca Juga :  Kisah Sedih Tugu 3 Januari

Kawasan yang kami lalui itu sunyi. Tak ada bangunan berupa rumah warga. Selama di perjalanan, kami hanya berpapasan dengan beberapa warga.

Padahal dahulu kawasan itu sungguh ramai seperti kampung-kampung lainnya. Namun semenjak Gerakan Alam Roh dibubarkan, semenjak itu pula kawasan itu menjadi sunyi.

“Sekarang kondisinya terbalik. Dahulu, permukiman di depan itu semak belukar dan kawasan hutan. Kini jadi permukiman,” jelas Riduansyah.

Belasan menit kemudian, kami tiba di lokasi monumen kedua. Sebuah lokasi yang rimbun dengan semak belukar. Baru memarkirkan motor, bulu roma sudah berdiri.

Riduansyah yang melihat penulis mengusap-usapkan lengan, hanya terkekeh. Ia bilang, sensasi itu sudah biasa terjadi bila tiba di lokasi monumen kedua ini.

Penulis bersyukur, tidak ke lokasi ini pada malam hari.

Monumen kedua ini dibangun belakangan seusai monumen pertama. Lokasinya hanya di pinggir jalan lingkungan di ujung Handil atau Sungai Bujur di Desa Paku Alam.

Menurut Riduansyah, semestinya di lahan inilah monumen utama didirikan. Karena di lahan ini pula lokasi eks Markas Gerakan Alam Roh berada.

“Saya tidak tahu mengapa monumen utama dibangun di depan sana. Mungkin karena lokasinya cukup dekat dan tak jauh dari permukiman,” jelasnya.

Selain ada monumen peringatan, di lokasi kedua itu ada tiang bendera sepanjang kurang lebih 10 meter. Ditancapkan di atas gundukan tanah berbentuk sebuah bintang besudut lima.

Lalu, ada pula sebuah batang pohon yang tampak sangat tua dan lapuk. Pohon ini, oleh warga setempat yang juga disebut-sebut sebagai peninggalan para pejuang kemerdekaan.

BELUM WAKTUNYA TUMBANG: Pengelola sekaligus juru kunci monumen, Riduansyah menunjukan batang pohon tua di lahan eks Markas Gerakan Alam Roh. Konon, pohon ini dahulunya berukuran besar dan pernah menjadi tempat istirahat Pejuang Nasional, Hasan Basry. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Batang pohon itu sudah sangat kurus. Tak lagi diselimuti kulit. Jangankan dedaunan. Dahan dan rantingnya saja tak ada. Di ujung bagian atas pohon, kayunya sudah koyak.

Tidak diketahui secara pasti, pohon tersebut termasuk dalam jenis apa.

Secara kasat mata, diterpa angin kencang, kayu yang koyak itu pasti sudah jatuh. Bahkan, tidak menutup kemungkinan batang pohon itu juga turut tumbang. Tapi rupanya, tak kunjung tumbang juga.

Dituturkan Riduansyah berdasarkan cerita orang-orang terdahulu, batang pohon itu dahulunya cukup besar. Batang dan dahannya sangat kokoh, rimbun akan dedaunan.

Konon, Pejuang Nasional yang bergelar Bapak Gerilya Kalimantan itu, Hasan Basry, biasa bersantai atau tertidur di atas pohon itu.

“Saya pernah mendengar cerita. Saking hebatnya beliau, saat tidur pun, jangankan Belanda atau musuh, nyamuk saja tak berani mendekatinya,” tutur Riduansyah.

Menandai monumen beserta dua objek lainnya di kawasan itu, pemda mengecor bagian bawah lahan di kawasan itu dengan semen. Sayang, gundukan tanah yang membentuk bintang bersudut lima itu rupanya juga ikut dicor semen.

Baca Juga :  Asal Usul Pulau Datu

“Padahal, semestinya bisa dibuat semacam pagar pembatas saja di sekeliling gundukan tanah itu. Kalau dicor seperti ini jadi tidak kelihatan asli,” sesal Riduansyah.

Lalu, apa makna dari gundukan tanah berbentuk bintang bersudut lima itu? Riduansyah menjelaskan, bahwa ada lima pimpinan tertinggi yang pernah berada di Markas Gerakan Alam Roh.

Sayangnya, ia tidak mengetahui siapa saja lima pimpinan itu. Yang ia tahu, salah satunya adalah Hasan Basry.”Makanya, patung pejuang di atas diorama yang dibuat itu juga ada lima orang, bukan?,” ucapnya.

Lantas, apa yang membuat puing-puing bekas Markas Gerakan Alam Roh itu lenyap tanpa sisa?

Menurut Riduansyah, kemungkinan besar masih ada sangkut pautnya dengan pasak yang ditanam di lahan markas oleh ulama asal Martapura, Kabupaten Banjar.

Yang dimintai pertolongan, untuk menyembunyikan keberadaan markas dari Belanda hingga antek-anteknya.

“Cerita orang terdahulu, jangankan penjajah Belanda atau mata-matanya. Orang yang punya niat buruk pun, tak akan bisa menemukan markas itu,” tambahnya.

Sebelum menuju lokasi monumen kedua itu, penulis sempat membaca catatan dokumentasi kegiatan komandan beserta prajurit Lanal Banjarmasin. Periode tahun 2019-2020.

Di situ ditulis, tentang sejarah singkat berdirinya Monumen ALRI Divisi IV Alam Roh, juga kehebatan para pejuang.

Dalam catatan yang ditempel di dinding museum itu, juga disebutkan tentang pasak yang ditanam di lahan berdirinya Markas Gerakan Alam Roh. Pasak itu diketahui berupa jimat yang diberikan oleh ulama asal Martapura Kabupaten Banjar, lalu ditanam oleh para pejuang di empat penjuru mata angin, di lahan berdirinya markas. Fungsinya untuk mengelabui mata Belanda, juga pribumi yang berkhianat.

Kemudian, catatan itu juga menyebutkan bahwa, Bapak Gerilya Kalimantan, Hasan Basry, juga meletakan empat bilah kayu bamban di sekitar Markas Gerakan Alam Roh, tujuannya sebagai pelindung.

“Istilah kami di sini, markas itu digaibkan sampai sekarang. Konon, hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya. Bahkan sampai sekarang, puing-puing markas itu sebenarnya masih ada di kawasan ini,” tutupnya lelaki 49 tahun itu.

Di sisi lain, berdasarkan catatan di buku berjudul Alam Roh, Sepenggal Sejarah Perjuangan Rakyat Kalsel Melawan Kolonial Belanda, seringnya patroli pasukan Belanda di daerah Banjarmasin dan sekitarnya, Markas Gerakan Alam Roh pun sering berpindah-pindah sesuai situasi dan kondisi.

Tujuannya, tak lain agar tidak terendus oleh pihak musuh.

Kendati demikian, secara administratif, Markas Besar Sektor Selatan Gerakan Alam Roh, masih berada di pedalaman Handil atau Sungai Bujur di Desa Paku Alam. (war/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/