alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Saturday, 28 May 2022

Bahan Baku Mebel Meroket

AMUNTAI – Industri mebel di Kabupaten Hulu Sungai Utara, seperti jatuh tertimpa tangga. Bagaimana tidak, ketika omset penjualan tertekan selama pandemi, kini mereka pun harus menghadapi tingginya harga bahan-bahan produksi.

Hal ini diungkapkan oleh Iyus, salah seorang perajin mebel di jalan poros Kota Raja Kecamatan Amuntai Selatan, tidak banyak pilihan bagi mereka, kecuali menaikkan harga, sekadar mencegah kerugian.

“Cat pelapis atau dasar dulunya Rp25 ribu untuk kaleng sedang, saat ini naik Rp55 ribu. Sementara cat utama kaleng ukuran ember 25 kg, dulu Rp 500 ribu per ember saat ini naik Rp 700 ribu. Tiner juga naik. Meski begitu kami tetap harus jalan meski keuntungan sangat tipis,” ujar Iyus yang juga harus berbagi rezeki dengan lima orang pekerjanya.

Baca Juga :  Harga Bahan Mebel Meroket, Perajin Bertahan dengan Keuntungan Menipis

Bahan tersebut ujarnya, dapat digunakan untuk mengecat maksimal sembilan lemari pakaian tiga pintu dengan tinggi 180 cm dan lebar 200 cm.

“Untuk mempertahankan pasar, kami juga harus mengikuti tren pasar, ada yang gemar motif klasik, ada juga minimalis. Sesuai permintaan pemesan juga,” jawabnya.

Iyus pun berharap pemerintah bisa berbuat, agar harga-harga bisa kembali normal seperti sebelum pandemi.

Sementara itu, Plt Kadis Diskuperindag HSU HM Yani, mengatakan industri mebel jati putih di daerah ini, salah satu motor penggerak ekonomi kerakyatan. Sebab mampu menyerap tenaga kerja lokal. “Bagi perajin mebel jati yang besar, biasanya memberikan pesanan ke individu dan selanjutnya mebel masuk pengecatan baru diantar ke perajin besar,” jawabnya.

Baca Juga :  Harga Bahan Mebel Meroket, Perajin Bertahan dengan Keuntungan Menipis

Menurutnya, HSU merupakan kota industri rumahan, sebab rata-rata warga bergelut pada sektor industri seperti kerajinan tangan, mebel kayu dan aluminium sampai rotan.

“Kami melakukan pembinaan seperti pelatihan pada warga agar dapat mandiri maupun membuka usaha dari hasil kerajinan,” sampainya.

Sementara itu, H Ahdiyat Gazali Rahman selaku pemerhati sejarah lokal HSU, mengaku trend mebel kayu di Kecamatan Amuntai Selatan, sudah berjalan sejak tahun 1974. “Yang berubah hanya model mebel yang terus mengalami perubahan model dan alat pertukangan yang semakin canggih saat ini. Sehingga produksi bisa lebih cepat,” singkatnya. (mar/yn/bin)

AMUNTAI – Industri mebel di Kabupaten Hulu Sungai Utara, seperti jatuh tertimpa tangga. Bagaimana tidak, ketika omset penjualan tertekan selama pandemi, kini mereka pun harus menghadapi tingginya harga bahan-bahan produksi.

Hal ini diungkapkan oleh Iyus, salah seorang perajin mebel di jalan poros Kota Raja Kecamatan Amuntai Selatan, tidak banyak pilihan bagi mereka, kecuali menaikkan harga, sekadar mencegah kerugian.

“Cat pelapis atau dasar dulunya Rp25 ribu untuk kaleng sedang, saat ini naik Rp55 ribu. Sementara cat utama kaleng ukuran ember 25 kg, dulu Rp 500 ribu per ember saat ini naik Rp 700 ribu. Tiner juga naik. Meski begitu kami tetap harus jalan meski keuntungan sangat tipis,” ujar Iyus yang juga harus berbagi rezeki dengan lima orang pekerjanya.

Baca Juga :  Harga Bahan Mebel Meroket, Perajin Bertahan dengan Keuntungan Menipis

Bahan tersebut ujarnya, dapat digunakan untuk mengecat maksimal sembilan lemari pakaian tiga pintu dengan tinggi 180 cm dan lebar 200 cm.

“Untuk mempertahankan pasar, kami juga harus mengikuti tren pasar, ada yang gemar motif klasik, ada juga minimalis. Sesuai permintaan pemesan juga,” jawabnya.

Iyus pun berharap pemerintah bisa berbuat, agar harga-harga bisa kembali normal seperti sebelum pandemi.

Sementara itu, Plt Kadis Diskuperindag HSU HM Yani, mengatakan industri mebel jati putih di daerah ini, salah satu motor penggerak ekonomi kerakyatan. Sebab mampu menyerap tenaga kerja lokal. “Bagi perajin mebel jati yang besar, biasanya memberikan pesanan ke individu dan selanjutnya mebel masuk pengecatan baru diantar ke perajin besar,” jawabnya.

Baca Juga :  Harga Bahan Mebel Meroket, Perajin Bertahan dengan Keuntungan Menipis

Menurutnya, HSU merupakan kota industri rumahan, sebab rata-rata warga bergelut pada sektor industri seperti kerajinan tangan, mebel kayu dan aluminium sampai rotan.

“Kami melakukan pembinaan seperti pelatihan pada warga agar dapat mandiri maupun membuka usaha dari hasil kerajinan,” sampainya.

Sementara itu, H Ahdiyat Gazali Rahman selaku pemerhati sejarah lokal HSU, mengaku trend mebel kayu di Kecamatan Amuntai Selatan, sudah berjalan sejak tahun 1974. “Yang berubah hanya model mebel yang terus mengalami perubahan model dan alat pertukangan yang semakin canggih saat ini. Sehingga produksi bisa lebih cepat,” singkatnya. (mar/yn/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/