alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Bengkel dan Pesan Sang Guru

Selepas menuntut ilmu di salah satu pondok pesantren di Jawa Timur, Syaifullah terpikir akan pesan sang guru: Jangan bangun showroom. Tapi bukalah bengkel. Kini, bengkel itu diberinama Al Fatih Wal Imdad.

jejak ramadan radar banjarmasin

Dari Kota Banjarmasin, Ekspedisi Ramadan di Pelosok Banua kini tiba di Kota Banjarbaru. Kota yang belum lama ini cukup mengagetkan publik dengan statusnya yang baru: Ibu Kota Provinsi Kalsel.

Sebelum menyandang status tersebut, Banjarbaru menyandang sejumlah julukan, dari Kota Idaman, Kota Seribu Taman, hingga Kota Pelajar.

Untuk julukan yang terakhir itu, Banjarbaru patut diacungi jempol. Apalagi kalau bukan karena banyaknya pembangunan sarana pendidikan.

Salah satu di antaranya, bengkel yang dipimpin oleh Syaifullah. Bengkel yang dimaksud berupa sebuah pondok pesantren (Ponpes). Yang diberinama Al Fatih Wal Imdad, itu

Ponpes ini berada di Desa Batu Ampar, Kecamatan Cempaka. Dibangun pada akhir 2017 lalu, di atas lahan dengan luas lebih dari 3.000 hektare. Membaur dengan kawasan perkebunan karet.

Sekitar 500 meter dari lokasi ponpes Al Fatih Wal Imdad, ada sebuah sungai yang lebarnya sekitar tiga hingga empat meter. Sungai itu menjadi penanda batas wilayah, antara Kota Banjarbaru dan Kabupaten Tanah Laut (Tala).

Jalan menuju kawasan ponpes itu mulus dan berliku. Menuju kawasan ponpes, penulis dihamparkan dengan lansekap alam yang cukup membuat mata nyaman memandang. Hijaunya kawasan perbukitan, hingga perkebunan.

Riuh tadarus Alquran terdengar menggema di Musala Raudhatul Jannah (Taman Surga), pada Kamis (7/4) siang di kompleks ponpes tersebut.

Di dalam musala, seorang pemuda tampak memimpin tadarus siang itu. Selebihnya, pembaca Alquran didominasi anak-anak usia sekolah dasar (SD). Laki-laki maupun perempuan.

Tidak berapa lama, tadarus Alquran pun berhenti. Sejumlah bocah berhamburan dari musala menuju ke bangunan lain di belakang musala. Bangunan itu berkelir hijau, terdiri dari empat ruang kelas.

Di situ, bocah-bocah tadi kembali melanjutkan bacaan Alqurannya. Yang membedakan, masing-masing kelas yang diisi para bocah itu, juga diisi oleh sejumlah pembimbing.

Penulis berbincang dengan salah seorang pembimbing, itu. Namanya, Arfiannur. Usianya, 33 tahun. Dijelaskannya, Ponpes Al Fatih Wal Imdad sedang membuka Pesantren Ramadan.

Jadi, yang mengikuti pelajaran tidak hanya para santri di ponpes tersebut. Tapi, juga diikuti oleh kalangan umum ragam umur, dari bocah yang duduk di bangku SD hingga usia 19 tahun.

Sistem belajar dalam program pesantren Ramadan, sedikit sama dengan program pembelajaran khusus di ponpes. Setidaknya ada tiga hal yang dipelajari.

Untuk sepuluh hari pertama di bulan Ramadan, pembelajaran membaca Alquran. Sepuluh hari selanjutnya, belajar ilmu fiqih. Lalu, sepuluh hari terakhir yakni, menghapal doa-doa dan seterusnya.

Baca Juga :  Belajar Persatuan dan Kerja Keras dari Rumah Betang Khas Suku Dayak

“Pembelajaran dimulai sejak siang hingga sore hari, menjelang ashar. Lalu, mesti diikuti hingga selesai bulan Ramadan,” tambahnya.

Siang itu, di bangunan berkelir hijau tersebut, riuh pembelajaran Alquran kembali terdengar. Asyik melihat aktivitas tersebut, penulis bertemu seorang lelaki berkemeja dan berpeci putih. Ia adalah Syaifullah.

Kepada penulis, Syaifullah menuturkan, sebelum menjadi ponpes, Al Fatih Wal Imdad beberapa tahun yang lalu hanyalah sebuah majelis taklim wadah belajar membaca Alquran saja. Seperti dirinya, santri yang belajar Alquran pun hanya berasal dari Desa Batu Ampar.

Namun, seiring berjalannya waktu, juga adanya dorongan dari warga desa hingga dibentuknya sebuah yayasan, majelis taklim dan wadah belajar membaca Alquran itu pun berubah menjadi ponpes.

Dan keterangan Syaifullah, total santri maupun santriwati berjumlah 95 orang. Mereka tidak hanya berasal dari Kota Banjarbaru saja. Ada pula dari Banjarmasin dan Kotabaru.”Yang paling jauh, berasal dari Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng),” jelasnya.

GURU: Syaifullah, ketika berbincang dengan penulis pada Kamis (7/4) tadi.

Ponpes Al Fatih Wal Imdad tidak menerapkan metode pembelajaran berupa jenjang pendidikan. Misalnya, ada yang duduk di kelas 1, kelas 2 dan lain sebagainya. Sebaliknya, mereka digabung dalam beberapa ruangan belajar. Metode yang diterapkan, adalah metode belajar bersama-sama atau metode belajar secara kekeluargaan.”Yang lebih dahulu paham, mengajari adik-adik atau santri lain yang belum paham. Tentu, dalam pengawasan pembimbing atau pengajar,” ucapnya.

Hal itu dilakukannya bukan tanpa alasan, pihaknya menginginkan agar para santri merasa seperti di rumah.”Kami melihat melalui pemahamannya, bukan memandang umur. Yang paham, diupayakan mengajari yang belum paham,” tekannya.

Metode itu menurutnya sama dengan apa yang diterapkan ketika ia belajar di Ponpes Darunnasyiien di daerah Lawang, Jawa Timur.”Waktu saya belajar di sana, minta maaf, ada yang jenggotan ada anak kecil tapi semuanya duduk sama-sama,” ungkapnya.

Di sisi lain, ia juga mengingat dengan jelas apa yang disampaikan gurunya ketika ia mondok di Ponpes Darunnasyiien itu. Pesan yang cukup sederhana, namun dalam maknanya.”Pesan guru saya, almarhum Habib Ali bin Muhammad bin Husein Ba’bud. Amanah beliau bikin bengkel, bukan show room,” tuturnya.

Maka menurutnya, Ponpes Al Fatih Wal Imdad, dibangun bukan untuk jadi pesantren yang memilah dan memilih. Pesantren dibangun juga bukan menjadikan seseorang sebagai dai atau kiai.

“Kalau seperti itu, kasihan anak-anak yang mau belajar. Bisa saja mereka merasa tertekan. Sebenarnya sah-sah saja sebuah pesantren mentargetkan atau menginginkan santrinya menjadi dai atau kiai,” ucapnya.

“Tapi di sini, kami hanya ingin pesantren itu seperti dulu, membuat siapa saja nyaman belajar dan nyaman ketika mengamalkannya,” harapnya.

Baca Juga :  Masjid Timbul: Tak Tersentuh Api Meski Kebakaran Hutan

Secara khusus, selain program yang ada dalam pesantren Ramadan, ponpes Al Fatih Wal Imdad juga menerapkan metode Ta’limul Kitab, yakni pembahasan pembelajaran yang mengedepankan akhlak.

Saat pembelajaran yang digelar pada pagi hari itu, semua santri belajar secara gabungan hingga siang hari. Di sebuah bangunan, yang berada di samping musala.
“Sesudah itu (dari siang hingga menjelang sore), baru mereka belajar di lokal masing-masing. Kemudian, saat pengajian malam hari, baru mereka digabung lagi,” jelasnya.

Sejauh ini, bersama dengan Syaifullah, setidaknya ponpes tersebut memiliki tiga orang pengajar laki-laki dan dua orang pengajar perempuan. Semuanya, juga dibantu para pembimbing atau santri senior.

Di sisi lain, Syaifullah juga menjelaskan bahwa tidak semua santri bermukim atau berdiam di ponpes tersebut. Yang bermukim, hanya santri yang berasal dari jauh.
“Dari total 95 santri, hanya ada 18 santri yang menetap. Selebihnya, bolak-balik saja dari rumah. Karena rata-rata, santri berasal dari desa ini. Termasuk santriwati,” tuturnya.

Menurut Syaifullah, sebenarnya ada banyak santri yang mau menetap di ponpes tersebut. Namun sayang, minimnya ketersediaan tempat berupa bengunan untuk santri menginap, membuat hal hal itu terpaksa urung dilakukan.”Tempatnya belum memadai. Jadi kami hanya meminta kerja sama orang tua santri. Yang jauh silakan menginap, yang dekat bisa bolak-balik saja,” pintanya.

Lantas, bagaimana bila ada orang yang hendak belajar di ponpes tersebut? Syaifullah tersenyum. Ia mengatakan Ponpes Al Fatih Wal Imdad, terbuka untuk siapa saja yang hendak belajar.

“Tak ada persyaratan khusus. Di sini, dari nol (tak punya kebisaan atau tak tahu apa-apa) pun diterima. Muda maupun tua. Yang penting, ada kemauan hendak belajar,” ucapnya.

Ya, selama ada kemauan, ditekankan Syaifullah, siapa saja dan dari mana saja, bisa datang dan belajar dengan gratis di Ponpes Al Fatih Wal Imdad. Kuncinya ditekannya lagi, yakni hanya satu: kemauan.

“Alhamdulillah, untuk makanan pun santri tidak perlu khawatir. Di sini ada dapur, dan koki yang memasakan. Tapi terkadang, ada juga santri yang membantu, sambil belajar memasak. Belajar mandiri,” ucapnya.

Dengan digratiskannya ponpes tersebut, diakui Syaifullah, tentu tak sedikit kesulitan yang dialami ponpes. Namun, ia mengaku bersyukur, selalu ada hikmah serta jalan keluar di balik segala kesulitan. “Di bawah yayasan Ikwanul Muslimin Banjarbaru, alhamdulillah anak-anak di sini bisa belajar dengan nyaman,” pungkasnya.

Di balik nama Pondok Pesantren Al Fatih Wal Imdad, ada banyak kisah yang menyertainya. Seperti namanya, ponpes itu diharapkan menjadi pembuka jalan dan penolong umat. Seperti apa kisahnya? Semua hal itu akan diulas lengkap pada edisi selanjutnya. (war/by/ran)

Selepas menuntut ilmu di salah satu pondok pesantren di Jawa Timur, Syaifullah terpikir akan pesan sang guru: Jangan bangun showroom. Tapi bukalah bengkel. Kini, bengkel itu diberinama Al Fatih Wal Imdad.

jejak ramadan radar banjarmasin

Dari Kota Banjarmasin, Ekspedisi Ramadan di Pelosok Banua kini tiba di Kota Banjarbaru. Kota yang belum lama ini cukup mengagetkan publik dengan statusnya yang baru: Ibu Kota Provinsi Kalsel.

Sebelum menyandang status tersebut, Banjarbaru menyandang sejumlah julukan, dari Kota Idaman, Kota Seribu Taman, hingga Kota Pelajar.

Untuk julukan yang terakhir itu, Banjarbaru patut diacungi jempol. Apalagi kalau bukan karena banyaknya pembangunan sarana pendidikan.

Salah satu di antaranya, bengkel yang dipimpin oleh Syaifullah. Bengkel yang dimaksud berupa sebuah pondok pesantren (Ponpes). Yang diberinama Al Fatih Wal Imdad, itu

Ponpes ini berada di Desa Batu Ampar, Kecamatan Cempaka. Dibangun pada akhir 2017 lalu, di atas lahan dengan luas lebih dari 3.000 hektare. Membaur dengan kawasan perkebunan karet.

Sekitar 500 meter dari lokasi ponpes Al Fatih Wal Imdad, ada sebuah sungai yang lebarnya sekitar tiga hingga empat meter. Sungai itu menjadi penanda batas wilayah, antara Kota Banjarbaru dan Kabupaten Tanah Laut (Tala).

Jalan menuju kawasan ponpes itu mulus dan berliku. Menuju kawasan ponpes, penulis dihamparkan dengan lansekap alam yang cukup membuat mata nyaman memandang. Hijaunya kawasan perbukitan, hingga perkebunan.

Riuh tadarus Alquran terdengar menggema di Musala Raudhatul Jannah (Taman Surga), pada Kamis (7/4) siang di kompleks ponpes tersebut.

Di dalam musala, seorang pemuda tampak memimpin tadarus siang itu. Selebihnya, pembaca Alquran didominasi anak-anak usia sekolah dasar (SD). Laki-laki maupun perempuan.

Tidak berapa lama, tadarus Alquran pun berhenti. Sejumlah bocah berhamburan dari musala menuju ke bangunan lain di belakang musala. Bangunan itu berkelir hijau, terdiri dari empat ruang kelas.

Di situ, bocah-bocah tadi kembali melanjutkan bacaan Alqurannya. Yang membedakan, masing-masing kelas yang diisi para bocah itu, juga diisi oleh sejumlah pembimbing.

Penulis berbincang dengan salah seorang pembimbing, itu. Namanya, Arfiannur. Usianya, 33 tahun. Dijelaskannya, Ponpes Al Fatih Wal Imdad sedang membuka Pesantren Ramadan.

Jadi, yang mengikuti pelajaran tidak hanya para santri di ponpes tersebut. Tapi, juga diikuti oleh kalangan umum ragam umur, dari bocah yang duduk di bangku SD hingga usia 19 tahun.

Sistem belajar dalam program pesantren Ramadan, sedikit sama dengan program pembelajaran khusus di ponpes. Setidaknya ada tiga hal yang dipelajari.

Untuk sepuluh hari pertama di bulan Ramadan, pembelajaran membaca Alquran. Sepuluh hari selanjutnya, belajar ilmu fiqih. Lalu, sepuluh hari terakhir yakni, menghapal doa-doa dan seterusnya.

Baca Juga :  Pelatihan Memandikan Jenazah

“Pembelajaran dimulai sejak siang hingga sore hari, menjelang ashar. Lalu, mesti diikuti hingga selesai bulan Ramadan,” tambahnya.

Siang itu, di bangunan berkelir hijau tersebut, riuh pembelajaran Alquran kembali terdengar. Asyik melihat aktivitas tersebut, penulis bertemu seorang lelaki berkemeja dan berpeci putih. Ia adalah Syaifullah.

Kepada penulis, Syaifullah menuturkan, sebelum menjadi ponpes, Al Fatih Wal Imdad beberapa tahun yang lalu hanyalah sebuah majelis taklim wadah belajar membaca Alquran saja. Seperti dirinya, santri yang belajar Alquran pun hanya berasal dari Desa Batu Ampar.

Namun, seiring berjalannya waktu, juga adanya dorongan dari warga desa hingga dibentuknya sebuah yayasan, majelis taklim dan wadah belajar membaca Alquran itu pun berubah menjadi ponpes.

Dan keterangan Syaifullah, total santri maupun santriwati berjumlah 95 orang. Mereka tidak hanya berasal dari Kota Banjarbaru saja. Ada pula dari Banjarmasin dan Kotabaru.”Yang paling jauh, berasal dari Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng),” jelasnya.

GURU: Syaifullah, ketika berbincang dengan penulis pada Kamis (7/4) tadi.

Ponpes Al Fatih Wal Imdad tidak menerapkan metode pembelajaran berupa jenjang pendidikan. Misalnya, ada yang duduk di kelas 1, kelas 2 dan lain sebagainya. Sebaliknya, mereka digabung dalam beberapa ruangan belajar. Metode yang diterapkan, adalah metode belajar bersama-sama atau metode belajar secara kekeluargaan.”Yang lebih dahulu paham, mengajari adik-adik atau santri lain yang belum paham. Tentu, dalam pengawasan pembimbing atau pengajar,” ucapnya.

Hal itu dilakukannya bukan tanpa alasan, pihaknya menginginkan agar para santri merasa seperti di rumah.”Kami melihat melalui pemahamannya, bukan memandang umur. Yang paham, diupayakan mengajari yang belum paham,” tekannya.

Metode itu menurutnya sama dengan apa yang diterapkan ketika ia belajar di Ponpes Darunnasyiien di daerah Lawang, Jawa Timur.”Waktu saya belajar di sana, minta maaf, ada yang jenggotan ada anak kecil tapi semuanya duduk sama-sama,” ungkapnya.

Di sisi lain, ia juga mengingat dengan jelas apa yang disampaikan gurunya ketika ia mondok di Ponpes Darunnasyiien itu. Pesan yang cukup sederhana, namun dalam maknanya.”Pesan guru saya, almarhum Habib Ali bin Muhammad bin Husein Ba’bud. Amanah beliau bikin bengkel, bukan show room,” tuturnya.

Maka menurutnya, Ponpes Al Fatih Wal Imdad, dibangun bukan untuk jadi pesantren yang memilah dan memilih. Pesantren dibangun juga bukan menjadikan seseorang sebagai dai atau kiai.

“Kalau seperti itu, kasihan anak-anak yang mau belajar. Bisa saja mereka merasa tertekan. Sebenarnya sah-sah saja sebuah pesantren mentargetkan atau menginginkan santrinya menjadi dai atau kiai,” ucapnya.

“Tapi di sini, kami hanya ingin pesantren itu seperti dulu, membuat siapa saja nyaman belajar dan nyaman ketika mengamalkannya,” harapnya.

Baca Juga :  Batumbang Apam untuk Berkati Anak-Anak

Secara khusus, selain program yang ada dalam pesantren Ramadan, ponpes Al Fatih Wal Imdad juga menerapkan metode Ta’limul Kitab, yakni pembahasan pembelajaran yang mengedepankan akhlak.

Saat pembelajaran yang digelar pada pagi hari itu, semua santri belajar secara gabungan hingga siang hari. Di sebuah bangunan, yang berada di samping musala.
“Sesudah itu (dari siang hingga menjelang sore), baru mereka belajar di lokal masing-masing. Kemudian, saat pengajian malam hari, baru mereka digabung lagi,” jelasnya.

Sejauh ini, bersama dengan Syaifullah, setidaknya ponpes tersebut memiliki tiga orang pengajar laki-laki dan dua orang pengajar perempuan. Semuanya, juga dibantu para pembimbing atau santri senior.

Di sisi lain, Syaifullah juga menjelaskan bahwa tidak semua santri bermukim atau berdiam di ponpes tersebut. Yang bermukim, hanya santri yang berasal dari jauh.
“Dari total 95 santri, hanya ada 18 santri yang menetap. Selebihnya, bolak-balik saja dari rumah. Karena rata-rata, santri berasal dari desa ini. Termasuk santriwati,” tuturnya.

Menurut Syaifullah, sebenarnya ada banyak santri yang mau menetap di ponpes tersebut. Namun sayang, minimnya ketersediaan tempat berupa bengunan untuk santri menginap, membuat hal hal itu terpaksa urung dilakukan.”Tempatnya belum memadai. Jadi kami hanya meminta kerja sama orang tua santri. Yang jauh silakan menginap, yang dekat bisa bolak-balik saja,” pintanya.

Lantas, bagaimana bila ada orang yang hendak belajar di ponpes tersebut? Syaifullah tersenyum. Ia mengatakan Ponpes Al Fatih Wal Imdad, terbuka untuk siapa saja yang hendak belajar.

“Tak ada persyaratan khusus. Di sini, dari nol (tak punya kebisaan atau tak tahu apa-apa) pun diterima. Muda maupun tua. Yang penting, ada kemauan hendak belajar,” ucapnya.

Ya, selama ada kemauan, ditekankan Syaifullah, siapa saja dan dari mana saja, bisa datang dan belajar dengan gratis di Ponpes Al Fatih Wal Imdad. Kuncinya ditekannya lagi, yakni hanya satu: kemauan.

“Alhamdulillah, untuk makanan pun santri tidak perlu khawatir. Di sini ada dapur, dan koki yang memasakan. Tapi terkadang, ada juga santri yang membantu, sambil belajar memasak. Belajar mandiri,” ucapnya.

Dengan digratiskannya ponpes tersebut, diakui Syaifullah, tentu tak sedikit kesulitan yang dialami ponpes. Namun, ia mengaku bersyukur, selalu ada hikmah serta jalan keluar di balik segala kesulitan. “Di bawah yayasan Ikwanul Muslimin Banjarbaru, alhamdulillah anak-anak di sini bisa belajar dengan nyaman,” pungkasnya.

Di balik nama Pondok Pesantren Al Fatih Wal Imdad, ada banyak kisah yang menyertainya. Seperti namanya, ponpes itu diharapkan menjadi pembuka jalan dan penolong umat. Seperti apa kisahnya? Semua hal itu akan diulas lengkap pada edisi selanjutnya. (war/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/