alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

39 Tahun Aktif Dukung Program KB

Bergelut dalam dunia PKK sejak tahun 1983, Isnaniah sudah sangat fasih dalam program keluarga berencana (KB) di Bumi Antaludin.

Dia mengawali karirnya sebagai Ketua TP PKK Kecamatan Kelumpang dari 1983 sampai tahun 1989. Kemudian menjadi Ketua TP PKK Kecamatan Daha Utara dari tahun 1989 sampai 1994.

Selanjutnya tahun 2000 sampai 2004 diamanahi sebagai Ketua Dharma Wanita Unit Dinas Pendidikan Kabupaten HSS, Ketua Unit Dharma Wanita Bappeda tahun 2005 sampai 2007, Ketua Dharma Wanita Kabupaten HSS tahun 2007 sampai 2012, dan Ketua TP PKK Kabupaten HSS 2013 sampai sekarang.

Dari tahun ke tahun mengabdikan dirinya untuk masyarakat, banyak prestasi serta capaian sudah diraih. Selain itu banyak juga program dilaksanakan dengan nyata berdampak langsung dengan masyarakat.

Menurut Iis, yang mendasari dirinya aktif mendukung program KB karena selaras dengan 10 program pokok PKK di pelaksanaan kelompok kerja (Pokja) empat yaitu kesehatan,
kelestarian lingkungan hidup, dan perencanaan sehat.

“Program keluarga berencana adalah pendewasaan usia perkawinan /PUP dan kesepakatan bersama,” ujarnya.

Menurut Bunda PAUD HSS ini, inovasi yang dilakukannya untuk mendukung program KB di Kabupaten HSS yaitu bergerak jemput bola untuk memberikan pelayanan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).

Jemput bola ini sekarang dilakukan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) HSS dengan inovasi Muyan KB (Mobil Unit Pelayanan Keluarga Berencana).

Baca Juga :  Dorong Kesejahteraan Keluarga Banua

Muyan KB salah satu bentuk revitalisasi bidang pelayanan kepada masyarakat yang merupakan sarana mobile (bergerak) menuju sasaran khalayak masyarakat yang sudah terbiasa dan rutin berada disuatu lokasi desa, tujuan utama memberikan layanan secara langsung pada tempat-tempat dimana masyarakat banyak berkumpul dan cukup jauh dari tempat layanan kesehatan statis, dengan pemasangan alat kontrasepsi KB dan konsultasi program KB menggunakan sarana yang sudah disediakan di dalam Bus Pelayanan, oleh petugas kesehatan baik dokter maupun Bidan pada wilayah setempat tanpa dipungut bayaran (gratis).

Selama mendukung program KB tentu banyak kendala yang dihadapinya, dengan penuh semangat dan dukungan berbagai pihak. Ibu tiga anak ini terus berkomitmen mendkung program KB. “SDM yang masih rendah, sehingga memerlukan kesabaran mengajak masyarakat PUS (Pasangan Usia Subur ) untuk ber-KB,” tutur Ketua GNOTA Kabupaten HSS ini.

Untuk terus mendukung program KB di Kabupaten HSS, perempuan yang juga sebagai Penasehat Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Kabupaten HSS akan melakukan sebagai pilot projetc kegiatan keluarga tangguh. “Serta tanggap bencara disatukan di kampung KB, dimana pertujuan untuk menjadikan keluarga yang berkualitas,” ucapnya.

Saat ditanya bagaimana membagi waktu supaya terus konsisten mendukung program KB ditengah kesibukan sebagai Ketua TP PKK, Isnaniah mengatakan sebagai Ketua TP PKK harus selaras dan dijalankan dengan baik.

Baca Juga :  Punya Resep Mendidik Anak

Ketua TP PKK harusnya tidak melupakan kodratnya sebagai istri dan ibu di rumah. Termasuk mendukung tugas suami sebagai bupati dalam menjalankan program pemerintah. Ketua TP-PKK harus menjalin komunikasi yang baik dengan pengurus. Ketika ada pekerjaan yang tidak dapat dihadiri atau ditinggal dapat mendelegasikannya kepada yang lain.

Menurut pandangan Isnaniah yang menjadi kekurangan Kabupaten HSS dalam konteks kesejahteraan keluarga dan program KB yaitu faktor sosial budaya dan pendidikan yang menyebabkan sumber daya manusianya (SDM-nya) masih kurang, dalam konteks keluarga sejahtera dan program KB.

Oleh karena itu melalui program PKK yang dilaksanakan di desa-desa dengan 10 program pokok PKK diantarannya pendidikan dan perencanaan sehat terutama dalam program KB antara lain pendewasaan usia perkawinan ( tidak kawin usia dini/anak), kawin pada usia Ideal (pria usia 25 tahun dan perempuan 21 tahun ), mengatur jarak kelahiran ( 3 sampai 5 tahun).

Kemudian usia yang ideal untuk melahirkan 21 sampai 35 tahun, menggunakan alat kontrasepsi untuk mengatur jarak kelahiran, pembinaan pada UPPKA ( Upaya Peningkatan pendapatan akseptor ) atau UP2K ( Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga) dan melaksanakan KIE pada warga yang kurang beruntung dan bantuan. (shn/by/ran)

Bergelut dalam dunia PKK sejak tahun 1983, Isnaniah sudah sangat fasih dalam program keluarga berencana (KB) di Bumi Antaludin.

Dia mengawali karirnya sebagai Ketua TP PKK Kecamatan Kelumpang dari 1983 sampai tahun 1989. Kemudian menjadi Ketua TP PKK Kecamatan Daha Utara dari tahun 1989 sampai 1994.

Selanjutnya tahun 2000 sampai 2004 diamanahi sebagai Ketua Dharma Wanita Unit Dinas Pendidikan Kabupaten HSS, Ketua Unit Dharma Wanita Bappeda tahun 2005 sampai 2007, Ketua Dharma Wanita Kabupaten HSS tahun 2007 sampai 2012, dan Ketua TP PKK Kabupaten HSS 2013 sampai sekarang.

Dari tahun ke tahun mengabdikan dirinya untuk masyarakat, banyak prestasi serta capaian sudah diraih. Selain itu banyak juga program dilaksanakan dengan nyata berdampak langsung dengan masyarakat.

Menurut Iis, yang mendasari dirinya aktif mendukung program KB karena selaras dengan 10 program pokok PKK di pelaksanaan kelompok kerja (Pokja) empat yaitu kesehatan,
kelestarian lingkungan hidup, dan perencanaan sehat.

“Program keluarga berencana adalah pendewasaan usia perkawinan /PUP dan kesepakatan bersama,” ujarnya.

Menurut Bunda PAUD HSS ini, inovasi yang dilakukannya untuk mendukung program KB di Kabupaten HSS yaitu bergerak jemput bola untuk memberikan pelayanan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).

Jemput bola ini sekarang dilakukan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) HSS dengan inovasi Muyan KB (Mobil Unit Pelayanan Keluarga Berencana).

Baca Juga :  Didik Anak Dengan Agama

Muyan KB salah satu bentuk revitalisasi bidang pelayanan kepada masyarakat yang merupakan sarana mobile (bergerak) menuju sasaran khalayak masyarakat yang sudah terbiasa dan rutin berada disuatu lokasi desa, tujuan utama memberikan layanan secara langsung pada tempat-tempat dimana masyarakat banyak berkumpul dan cukup jauh dari tempat layanan kesehatan statis, dengan pemasangan alat kontrasepsi KB dan konsultasi program KB menggunakan sarana yang sudah disediakan di dalam Bus Pelayanan, oleh petugas kesehatan baik dokter maupun Bidan pada wilayah setempat tanpa dipungut bayaran (gratis).

Selama mendukung program KB tentu banyak kendala yang dihadapinya, dengan penuh semangat dan dukungan berbagai pihak. Ibu tiga anak ini terus berkomitmen mendkung program KB. “SDM yang masih rendah, sehingga memerlukan kesabaran mengajak masyarakat PUS (Pasangan Usia Subur ) untuk ber-KB,” tutur Ketua GNOTA Kabupaten HSS ini.

Untuk terus mendukung program KB di Kabupaten HSS, perempuan yang juga sebagai Penasehat Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Kabupaten HSS akan melakukan sebagai pilot projetc kegiatan keluarga tangguh. “Serta tanggap bencara disatukan di kampung KB, dimana pertujuan untuk menjadikan keluarga yang berkualitas,” ucapnya.

Saat ditanya bagaimana membagi waktu supaya terus konsisten mendukung program KB ditengah kesibukan sebagai Ketua TP PKK, Isnaniah mengatakan sebagai Ketua TP PKK harus selaras dan dijalankan dengan baik.

Baca Juga :  Dorong Kesejahteraan Keluarga Banua

Ketua TP PKK harusnya tidak melupakan kodratnya sebagai istri dan ibu di rumah. Termasuk mendukung tugas suami sebagai bupati dalam menjalankan program pemerintah. Ketua TP-PKK harus menjalin komunikasi yang baik dengan pengurus. Ketika ada pekerjaan yang tidak dapat dihadiri atau ditinggal dapat mendelegasikannya kepada yang lain.

Menurut pandangan Isnaniah yang menjadi kekurangan Kabupaten HSS dalam konteks kesejahteraan keluarga dan program KB yaitu faktor sosial budaya dan pendidikan yang menyebabkan sumber daya manusianya (SDM-nya) masih kurang, dalam konteks keluarga sejahtera dan program KB.

Oleh karena itu melalui program PKK yang dilaksanakan di desa-desa dengan 10 program pokok PKK diantarannya pendidikan dan perencanaan sehat terutama dalam program KB antara lain pendewasaan usia perkawinan ( tidak kawin usia dini/anak), kawin pada usia Ideal (pria usia 25 tahun dan perempuan 21 tahun ), mengatur jarak kelahiran ( 3 sampai 5 tahun).

Kemudian usia yang ideal untuk melahirkan 21 sampai 35 tahun, menggunakan alat kontrasepsi untuk mengatur jarak kelahiran, pembinaan pada UPPKA ( Upaya Peningkatan pendapatan akseptor ) atau UP2K ( Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga) dan melaksanakan KIE pada warga yang kurang beruntung dan bantuan. (shn/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/