alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Friday, 20 May 2022

Stunting Banjarmasin Peringkat 5 Terendah, Pemko: Dipicu Pernikahan Dini

BANJARMASIN – Kota Banjarmasin menempati peringkat kelima terendah untuk kasus stunting di 13 kabupaten dan kota di Provinsi Kalsel.

“Angka kasus stunting di Banjarmasin ada 27 persen,” sebut Plt Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin, Machli Riyadi, kemarin (6/4).
Artinya, pemko harus berusaha keras untuk mengejar standar terendah Kementerian Kesehatan yang ditetapkan 21 persen. “Target kami, tahun ini turun paling tidak 24 persen,” tambahnya.

Dinkes tak bisa bekerja sendirian tanpa bantuan SKDP lain.

“10 SKPD berembuk untuk mempercepat penurunan stunting pada Selasa kemarin,” bebernya.

Machli berharap, lewat rembuk itu, strategi bisa disusun. Programnya dikerjakan, lalu dievaluasi.

“Jangan sampai tak beranjak dari rangking lima,” tukas Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdako Banjarmasin itu.

Baca Juga :  Kasus Stunting dan Obesitas Masih Tinggi di Kalsel

Machli menyebut sejumlah faktor mengapa stunting masih tinggi.

Pertama, pernikahan dini. Dinding rahim yang masih terlalu muda belum siap untuk dibuahi. Ketika kekurangan zat besi, anak yang lahir berisiko menderita stunting.

Penyebab lain, kebiasaan memberikan makanan tambahan kepada bayi. Padahal bayi wajib mendapat ASI eksklusif hingga usia 6 bulan.
Terakhir, lingkungan tempat tinggal anak yang tidak sehat.

“Tidak semua rumah tangga di Banjarmasin berlangganan air bersih PDAM. Banyak juga hunian rumah di permukiman padat yang ventilasi udaranya tidak standar,” pungkasnya.

Stunting adalah gagal tumbuh akibat kekurangan gizi dalam kehidupan dini anak. Pengaruhnya jangka panjang hingga dewasa dan lanjut usia. (gmp/fud)

BANJARMASIN – Kota Banjarmasin menempati peringkat kelima terendah untuk kasus stunting di 13 kabupaten dan kota di Provinsi Kalsel.

“Angka kasus stunting di Banjarmasin ada 27 persen,” sebut Plt Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin, Machli Riyadi, kemarin (6/4).
Artinya, pemko harus berusaha keras untuk mengejar standar terendah Kementerian Kesehatan yang ditetapkan 21 persen. “Target kami, tahun ini turun paling tidak 24 persen,” tambahnya.

Dinkes tak bisa bekerja sendirian tanpa bantuan SKDP lain.

“10 SKPD berembuk untuk mempercepat penurunan stunting pada Selasa kemarin,” bebernya.

Machli berharap, lewat rembuk itu, strategi bisa disusun. Programnya dikerjakan, lalu dievaluasi.

“Jangan sampai tak beranjak dari rangking lima,” tukas Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdako Banjarmasin itu.

Baca Juga :  Kasus Stunting dan Obesitas Masih Tinggi di Kalsel

Machli menyebut sejumlah faktor mengapa stunting masih tinggi.

Pertama, pernikahan dini. Dinding rahim yang masih terlalu muda belum siap untuk dibuahi. Ketika kekurangan zat besi, anak yang lahir berisiko menderita stunting.

Penyebab lain, kebiasaan memberikan makanan tambahan kepada bayi. Padahal bayi wajib mendapat ASI eksklusif hingga usia 6 bulan.
Terakhir, lingkungan tempat tinggal anak yang tidak sehat.

“Tidak semua rumah tangga di Banjarmasin berlangganan air bersih PDAM. Banyak juga hunian rumah di permukiman padat yang ventilasi udaranya tidak standar,” pungkasnya.

Stunting adalah gagal tumbuh akibat kekurangan gizi dalam kehidupan dini anak. Pengaruhnya jangka panjang hingga dewasa dan lanjut usia. (gmp/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/