alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Sunday, 29 May 2022

Ramadan, Santri Mengabdi di Desa Terpencil

AMUNTAI – Beberapa pondok pesantren (Ponpes) memilih meliburkan santrinya, namun ada juga Ponpes tetap melaksanakan pengajaran di Ramadan 1443 Hijriah tahun 2022 ini.

Dakwah dan syiar Islam mengabdi ke pelosok di beberapa wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah ini, menjadi simulasi lapangan bagi santri Muhammadiyah Boarding School (MBS) Nurul Amin Alabio di Kecamatan Sungai Pandan Kabupaten HSU.

Wakil Direktur I MBS Nurul Amin Alabio, Ustaz Sahlipani menjelaskan, penerjunan santri kelas akhir ke lapangan dakwah merupakan program santri mengabdi yang ada di pondok pesantren ini.

“Tujuan dakwah dan syiar Islam ini, sebagai pembelajaran lapangan bagi santri sebelum mereka benar-benar terjun di masyarakat nantinya,” katanya.

Ustaz Sahlipani menambahkan, bahwa sebelum santri diturunkan untuk mengabdi melakukan dakwah dan syiar Islam, para santri lebih dulu melalui proses pembekalan dan pelatihan selama dua hari.

Baca Juga :  Kaligrafi Gerbang Sekumpul Tak Sesuai Kaidah, Baru Dipasang Langsung Dilepas

Materinya berupa, pembekalan publik speaking, fiqih khutbah, fiqih imam dan lain-lain.

Sementara, daerah yang menjadi fokus dakwah yakni Desa Durian Bungkuk di Kabupaten Tanah Laut.

Selanjutnya Desa Patikalain, Kabupaten HST (Bina Mualaf), Desa Tampa Bartim, Provinsi Kalteng juga Bina Mualaf.

“Terdekat penerjunan santri di Desa Kamawakan, Loksado serta sejumlah TPA/TPQ dan Musala AUM Muhammadiyah di Kabupaten HSU,” jawabnya.

Sementara itu, salah satu pengasuh atau mudabir MBS Nurul Amin Ustaz Khairiyadi mengaku bersyukur, sebab program santri mengabdi tetap bisa dilaksanakan seperti tahun sebelumnya.

“Saya berharap agar anak-anak santri kami tetap diberikan bimbingan dan arahan, sebab mereka pada dasarnya juga masih proses pembelajaran. Apabila terdapat kekurangan agar bisa dimaklumi dan diberikan bimbingan,” harapnya, ditujukan pada tokoh masyarakat di mana santrinya mengabdi selama Ramadan ini.

Baca Juga :  Perda Ramadan Boleh Direvisi, tapi Jangan Dilemahkan

Sementara itu, salah satu santri tingkat Aliah atau SMA kelas akhir MBS Nurul Amin Alabio, Ahmad Agus Shobari asal Provinsi Kaltim, mengaku senang bisa diikutkan dalam program dakwah dan syiar Islam di wilayah Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Di sana, ungkap Agus, dirinya berdua dengan rekannya bernama Syahid Akbar, asal Kabupaten Tabalong. Sementara, puluhan lainnya tersebar di Kalsel dan Kalteng.

“Selama beberapa hari Ramadan ini saya dan rekan bersama-sama mengajar tentang baca Alquran dan mengisi ceramah. Warga baik dan ramah, ditambah kondisi alam Loksado yang masih hutan alami, jadi belajar sambil menikmati alam,” ucapnya. (mar)

AMUNTAI – Beberapa pondok pesantren (Ponpes) memilih meliburkan santrinya, namun ada juga Ponpes tetap melaksanakan pengajaran di Ramadan 1443 Hijriah tahun 2022 ini.

Dakwah dan syiar Islam mengabdi ke pelosok di beberapa wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah ini, menjadi simulasi lapangan bagi santri Muhammadiyah Boarding School (MBS) Nurul Amin Alabio di Kecamatan Sungai Pandan Kabupaten HSU.

Wakil Direktur I MBS Nurul Amin Alabio, Ustaz Sahlipani menjelaskan, penerjunan santri kelas akhir ke lapangan dakwah merupakan program santri mengabdi yang ada di pondok pesantren ini.

“Tujuan dakwah dan syiar Islam ini, sebagai pembelajaran lapangan bagi santri sebelum mereka benar-benar terjun di masyarakat nantinya,” katanya.

Ustaz Sahlipani menambahkan, bahwa sebelum santri diturunkan untuk mengabdi melakukan dakwah dan syiar Islam, para santri lebih dulu melalui proses pembekalan dan pelatihan selama dua hari.

Baca Juga :  Ajak Pemabuk ke Majelis Hingga Jadi Jemaah Tetap

Materinya berupa, pembekalan publik speaking, fiqih khutbah, fiqih imam dan lain-lain.

Sementara, daerah yang menjadi fokus dakwah yakni Desa Durian Bungkuk di Kabupaten Tanah Laut.

Selanjutnya Desa Patikalain, Kabupaten HST (Bina Mualaf), Desa Tampa Bartim, Provinsi Kalteng juga Bina Mualaf.

“Terdekat penerjunan santri di Desa Kamawakan, Loksado serta sejumlah TPA/TPQ dan Musala AUM Muhammadiyah di Kabupaten HSU,” jawabnya.

Sementara itu, salah satu pengasuh atau mudabir MBS Nurul Amin Ustaz Khairiyadi mengaku bersyukur, sebab program santri mengabdi tetap bisa dilaksanakan seperti tahun sebelumnya.

“Saya berharap agar anak-anak santri kami tetap diberikan bimbingan dan arahan, sebab mereka pada dasarnya juga masih proses pembelajaran. Apabila terdapat kekurangan agar bisa dimaklumi dan diberikan bimbingan,” harapnya, ditujukan pada tokoh masyarakat di mana santrinya mengabdi selama Ramadan ini.

Baca Juga :  Mamagang dan Bedug yang Dibelah Dua

Sementara itu, salah satu santri tingkat Aliah atau SMA kelas akhir MBS Nurul Amin Alabio, Ahmad Agus Shobari asal Provinsi Kaltim, mengaku senang bisa diikutkan dalam program dakwah dan syiar Islam di wilayah Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Di sana, ungkap Agus, dirinya berdua dengan rekannya bernama Syahid Akbar, asal Kabupaten Tabalong. Sementara, puluhan lainnya tersebar di Kalsel dan Kalteng.

“Selama beberapa hari Ramadan ini saya dan rekan bersama-sama mengajar tentang baca Alquran dan mengisi ceramah. Warga baik dan ramah, ditambah kondisi alam Loksado yang masih hutan alami, jadi belajar sambil menikmati alam,” ucapnya. (mar)

Most Read

Artikel Terbaru

/