alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Demi Hutan Lebih Baik, KPH Tanah Laut Dapat Bantuan Dana dari Bank Dunia

BANJARMASIN – Dari 10 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) se-Indonesia, KPH Tanah Laut menjadi salah satu yang kembali dipercaya menjadi percontohan kegiatan Forest Investment Program II (FIP II) yang didanai World Bank atau Bank Dunia.

FIP sendiri sudah dilaksanakan sejak 2018, dengan kucuran dana berbeda-beda. Pada 2022 ini anggaran yang dikeluarkan Bank Dunia untuk KPH Tanah Laut sekitar Rp800 juta.

Dana tersebut diperuntukkan untuk membantu berbagai lembaga kelompok tani hutan di KPH Tanah Laut.

Program yang sudah dilakukan di antaranya, pengembangan produk kemiri, jasa lingkungan, budidaya jamur, budidaya madu kelulut dan lain-lain.

Kasi Perlindungan pada KPH Tanah Laut, Agus Suparno mengatakan, pada FIP II ini bantuan tidak hanya untuk pengembangan produk. Tapi juga diperuntukkan bagi kelembagaannya, bagaimana agar kelompok tani hutan bisa maju dan mandiri serta berkesinambungan.

Baca Juga :  Sungai di HSU Mulai Meluap, Warga Diminta Siaga

“Salah satu yang dapat bantuan dana world bank ini adalah KPH Tanah Laut. Yang kemudian akan menjadi role model KPH lainnya dalam menjalankan bantuan dari pihak luar pelestarian kawasan hutan,” jelasnya.

Selain bantuan FIP 2 ini, sambung Agus Suparno, Dinas Kehutanan Prov Kalsel juga ikut mendukung dengan kegiatan penyuluhan dan pembinaan kepada Kelompok Tani Hutan (KTH). Sehingga program ini berjalan sesuai apa yang dianggarkan.

Dia berharap, bantuan untuk KPH Tanah Laut berkesinambungan. Sehingga usaha para KTH semakin maju. “Misal di KTH ada pengembang madu, maka ke depannya harus ada tanaman pakan tawonnya,” kata dia.

Dari data yang dimilikinya, jumlah KTH di Tala sebanyak 58. Namun yang difasilitasi program ini sementara masih 10 KTH, atau sekitar 500 petani hutan.

Baca Juga :  Pohon Ulin Semakin Diincar

Sementara itu, Plt Kadishut Kalsel, Fatimatuzzahra menambahkan bahwa tindaklanjut dari program ini selalu dimonitor oleh Dinas Kehutanan Kalsel.

Terbaru dilakukan kunjungan dari humas KLHK dan beberapa jurnalis nasional. Mereka selama empat hingga tujuh hari turun langsung ke lapangan di KPH Tanah Laut untuk memotret bagaimana perkembangan para KTH.

“Beberapa spot yang akan dikunjungi yakni Kelompok Tani Hutan yang pengolahan kemiri, pengolahan madu hutan, dan budidaya jamur,” jelas perempuan yang akrab disapa Aya ini.

Selaku Plt Kadishut Kalsel, dia berharap pengembangan KTH dengan program ini berjalan dan berkembang secara berkelanjutan dan mandiri ke depannya. (ris/by/ran)

BANJARMASIN – Dari 10 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) se-Indonesia, KPH Tanah Laut menjadi salah satu yang kembali dipercaya menjadi percontohan kegiatan Forest Investment Program II (FIP II) yang didanai World Bank atau Bank Dunia.

FIP sendiri sudah dilaksanakan sejak 2018, dengan kucuran dana berbeda-beda. Pada 2022 ini anggaran yang dikeluarkan Bank Dunia untuk KPH Tanah Laut sekitar Rp800 juta.

Dana tersebut diperuntukkan untuk membantu berbagai lembaga kelompok tani hutan di KPH Tanah Laut.

Program yang sudah dilakukan di antaranya, pengembangan produk kemiri, jasa lingkungan, budidaya jamur, budidaya madu kelulut dan lain-lain.

Kasi Perlindungan pada KPH Tanah Laut, Agus Suparno mengatakan, pada FIP II ini bantuan tidak hanya untuk pengembangan produk. Tapi juga diperuntukkan bagi kelembagaannya, bagaimana agar kelompok tani hutan bisa maju dan mandiri serta berkesinambungan.

Baca Juga :  Pohon Ulin Semakin Diincar

“Salah satu yang dapat bantuan dana world bank ini adalah KPH Tanah Laut. Yang kemudian akan menjadi role model KPH lainnya dalam menjalankan bantuan dari pihak luar pelestarian kawasan hutan,” jelasnya.

Selain bantuan FIP 2 ini, sambung Agus Suparno, Dinas Kehutanan Prov Kalsel juga ikut mendukung dengan kegiatan penyuluhan dan pembinaan kepada Kelompok Tani Hutan (KTH). Sehingga program ini berjalan sesuai apa yang dianggarkan.

Dia berharap, bantuan untuk KPH Tanah Laut berkesinambungan. Sehingga usaha para KTH semakin maju. “Misal di KTH ada pengembang madu, maka ke depannya harus ada tanaman pakan tawonnya,” kata dia.

Dari data yang dimilikinya, jumlah KTH di Tala sebanyak 58. Namun yang difasilitasi program ini sementara masih 10 KTH, atau sekitar 500 petani hutan.

Baca Juga :  Kalsel Dapat 161.668 Hektare

Sementara itu, Plt Kadishut Kalsel, Fatimatuzzahra menambahkan bahwa tindaklanjut dari program ini selalu dimonitor oleh Dinas Kehutanan Kalsel.

Terbaru dilakukan kunjungan dari humas KLHK dan beberapa jurnalis nasional. Mereka selama empat hingga tujuh hari turun langsung ke lapangan di KPH Tanah Laut untuk memotret bagaimana perkembangan para KTH.

“Beberapa spot yang akan dikunjungi yakni Kelompok Tani Hutan yang pengolahan kemiri, pengolahan madu hutan, dan budidaya jamur,” jelas perempuan yang akrab disapa Aya ini.

Selaku Plt Kadishut Kalsel, dia berharap pengembangan KTH dengan program ini berjalan dan berkembang secara berkelanjutan dan mandiri ke depannya. (ris/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/