alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Manusia Gerobak Ramai Setiap Ramadan, Bagaimana Tanggapan Pemko Banjarmasin?

BANJARMASIN – Kemunculan pengemis musiman setiap Ramadan dan Idul Fitri menuntut perhatian serius dari Pemko Banjarmasin.

Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Banjarmasin, Ikhsan Budiman meminta instansi terkait segera mengantisipasi.

“Dinas Sosial dan Satpol PP sudah diminta untuk mengantisipasinya,” ujarnya kemarin (5/4) siang di Balai Kota.

Kedok pengemis beragam, ada yang mendorong gerobak. Ada pula yang hanya duduk-duduk di tepi jalan.
Penyakit masyarakat seperti ini sudah lumrah terjadi di lingkungan urban perkotaan.

Parahnya, tak jarang pengemis melibatkan anak-anak dalam aksinya untuk mengundang rasa iba penderma. Banyak dari mereka yang berasal dari luar kota.

“Misalkan terdapat dugaan eksploitasi anak, maka Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Perempuan dan Anak yang menanganinya,” jelas mantan staf ahli Bupati Tanah Bumbu ini.

Baca Juga :  Pol PP Bongkar Gubuk Pengumpul Barang Bekas

Ikhsan menganggap, lonjakan pengemis tak hanya terjadi pada bulan puasa saja. Pada hari biasa, sering terlihat pengemis berkumpul di trotoar depan kampus Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Ia memahami, pandemi membuat banyak warga kehilangan pekerjaan, kesulitan dalam mencari nafkah.

“Tapi yang dihadapi ini diduga cuma modus. Terlihat miskin saja untuk mendapatkan belas kasihan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Anggota Komisi IV DPRD Banjarmasin, Hari Kartono mengingatkan, Ramadan kerap dimanfaatkan pengemis gadungan. Sebab pada bulan penuh berkah dan ampunan itu, selain dianjurkan memperbanyak ibadah, umat Islam juga dianjurkan banyak bersedekah.

“Golongan masyarakat satu ini adalah orang yang sengaja meminta belas kasihan orang agar memberi sedekah,” ujar politikus Partai Gerindra ini.

Baca Juga :  Padahal Gratis, Penghuni Kolong Jembatan Menolak Tinggal di Rumah Singgah

Dalam pandangannya, tak sedikit orang yang menjadi pengemis bukan karena terpaksa. Tapi justru sudah menjadi mata pencaharian utama. Lantaran cukup mudah untuk mendapatkan uang.

Makanya, dalam perda sebenarnya sudah dilarang membagikan uang kepada pengemis. “Dalam perda, si pemberi juga diancam sanksi,” katanya.

Menukil fatwa majelis Ulama Indonesia (MUI), larangan memberi pengemis dadakan karena mereka patut diduga orang yang tidak berhak menerima sedekah.

Memberi sah-sah saja, tapi dianjurkan hanya kepada orang yang berhak menerima. Seperti pengemis renta atau cacat fisik sehingga tidak mampu mencari nafkah.

“Mungkin bisa disalurkan kepada Badan Amil Zakat (BAZ),” tutup Hari. (gmp/fud)

BANJARMASIN – Kemunculan pengemis musiman setiap Ramadan dan Idul Fitri menuntut perhatian serius dari Pemko Banjarmasin.

Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Banjarmasin, Ikhsan Budiman meminta instansi terkait segera mengantisipasi.

“Dinas Sosial dan Satpol PP sudah diminta untuk mengantisipasinya,” ujarnya kemarin (5/4) siang di Balai Kota.

Kedok pengemis beragam, ada yang mendorong gerobak. Ada pula yang hanya duduk-duduk di tepi jalan.
Penyakit masyarakat seperti ini sudah lumrah terjadi di lingkungan urban perkotaan.

Parahnya, tak jarang pengemis melibatkan anak-anak dalam aksinya untuk mengundang rasa iba penderma. Banyak dari mereka yang berasal dari luar kota.

“Misalkan terdapat dugaan eksploitasi anak, maka Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Perempuan dan Anak yang menanganinya,” jelas mantan staf ahli Bupati Tanah Bumbu ini.

Baca Juga :  Padahal Gratis, Penghuni Kolong Jembatan Menolak Tinggal di Rumah Singgah

Ikhsan menganggap, lonjakan pengemis tak hanya terjadi pada bulan puasa saja. Pada hari biasa, sering terlihat pengemis berkumpul di trotoar depan kampus Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Ia memahami, pandemi membuat banyak warga kehilangan pekerjaan, kesulitan dalam mencari nafkah.

“Tapi yang dihadapi ini diduga cuma modus. Terlihat miskin saja untuk mendapatkan belas kasihan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Anggota Komisi IV DPRD Banjarmasin, Hari Kartono mengingatkan, Ramadan kerap dimanfaatkan pengemis gadungan. Sebab pada bulan penuh berkah dan ampunan itu, selain dianjurkan memperbanyak ibadah, umat Islam juga dianjurkan banyak bersedekah.

“Golongan masyarakat satu ini adalah orang yang sengaja meminta belas kasihan orang agar memberi sedekah,” ujar politikus Partai Gerindra ini.

Baca Juga :  Anak Jalanan Seakan Tak Ada Habisnya, Satpol PP: Mereka Hafal Jadwal Razia

Dalam pandangannya, tak sedikit orang yang menjadi pengemis bukan karena terpaksa. Tapi justru sudah menjadi mata pencaharian utama. Lantaran cukup mudah untuk mendapatkan uang.

Makanya, dalam perda sebenarnya sudah dilarang membagikan uang kepada pengemis. “Dalam perda, si pemberi juga diancam sanksi,” katanya.

Menukil fatwa majelis Ulama Indonesia (MUI), larangan memberi pengemis dadakan karena mereka patut diduga orang yang tidak berhak menerima sedekah.

Memberi sah-sah saja, tapi dianjurkan hanya kepada orang yang berhak menerima. Seperti pengemis renta atau cacat fisik sehingga tidak mampu mencari nafkah.

“Mungkin bisa disalurkan kepada Badan Amil Zakat (BAZ),” tutup Hari. (gmp/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/