alexametrics
32.1 C
Banjarmasin
Wednesday, 25 May 2022

Jejak Ramadan di Pelosok Banua (1)

Jalan Sepi Menuju Masjid Timbul

Sebuah kampung di Desa Antar Jaya, Kecamatan Marabahan dilanda musibah berkepanjangan. Kampung yang ramai itu mati. Yang tersisa hanya Masjid Sinar Sabilal Muhtadin. Seperti namanya, masjid itu pantang redup.

jejak ramadan radar banjarmasin

Kampung itu bernama Sinar Cahaya. Alamnya berkah. Kawasan yang cocok ditanami apa saja. Tanam benih, berbulir padi. Pasang kail atau jala di sungainya, ikan seakan tak malu untuk datang.

Seperti halnya warga yang mendiami Desa Antar Jaya, kampung itu umumnya juga didiami oleh perantau. Rata-rata berasal dari kawasan hulu sungai.

Ada yang berasal dari Kabupaten Tapin, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dan lain sebagainya.

Dahulu, Kampung Sinar Cahaya hanyalah hutan. Perantau yang datang mulai membuka lahan pada tahun 1975. Seiring waktu, di Sinar Cahaya, warga merasa nyaman.

Dari yang semula hanya sekadar membangun dangau, kemudian memilih membangun hunian yang layak.

Kepala Desa Antar Jaya, Kaspul Anwar menjelaskan, kian waktu penduduk yang tinggal di dusun tersebut kian bertambah.

Bahkan menurutnya, pemerintah mendirikan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Antar Jaya 2 di situ. Tapi, lokasinya sedikit agak ke depan dari perkampungan berada.

“Saya rasa itu bangunan sekolah yang paling mewah di Marabahan,” ungkap Kaspul, ketika dibincangi penulis pada Minggu (3/4) pagi.

Dikatakan mewah, lantaran waktu itu, menurutnya, seluruh material bangunan sekolah berbahan kayu besi (ulin). Yang seperti kita ketahui, saat ini cukup sulit didapatkan.

Jerih payah dari penjualan hasil perkebunan, tanam padi hingga menjala ikan, memang dirasakan mampu mencukupi kehidupan sehari-hari warga Sinar Cahaya.

Kendati demikian, keadaan yang nyaman itu masih dirasa kurang. Lantaran tak adanya tempat ibadah berupa masjid di situ. Warga pun berkeinginan untuk membangunnya.

Bukan tanpa alasan. Rasanya, terlalu jauh bila hendak menunaikan ibadah salat Jumat. Untuk sampai ke masjid saja, warga mesti menempuh sejauh sembilan kilometer. Atau keluar dari perkampungan Sinar Cahaya.

Sementara saat itu, alat transportasi yang ada cukup terbatas. Jangankan sepeda motor, sepeda pun menjadi barang mahal, keberadaannya juga masih bisa dihitung jari.

Jadi, selain berjalan kaki, yang bisa digunakan hanyalah perahu kayuh.

Akhirnya, usul pembangunan masjid pun diamini. Warga bergotong royong. Selain urunan membeli material baru untuk bangunan masjid, sebagian material juga diambil dari sisa rehab Masjid Agung Al Anwar.

Masjid tersebut adalah salah satu masjid kebanggaan warga Kabupaten Barito Kuala (Batola). Lokasi masjid ini berada di pinggir Sungai Barito. Tepatnya, di Jalan Panglima Wangkang, RT 10, Kecamatan Marabahan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pembangunan masjid di Kampung Sinar Cahaya Sinar berlangsung antara kurun waktu tahun 1982 hingga 1986.

Ketika pembangunan rampung, warga setempat menamainya: Sinar Sabilal Muhtadin.

Diambil dari potongan nama kampung itu sendiri, kemudian mengambil berkah dari nama Masjid Sabilal Muhtadin yang berada di Kota Banjarmasin.

Namun, masyarakat kini lebih mengenalnya dengan nama Masjid Timbul. Mengapa demikian? Inilah kisahnya.

Bertahun-tahun hidup tentram dan damai, musibah mulai mengusik ketenangan warga di Kampung Sinar Cahaya.

Ragam jenis ikan yang semula nyaman didapatkan, entah mengapa dari tahun ke tahun semakin berkurang keberadaannya.

Benih padi yang ditanam tak satu atau dua kali mengalami gagal panen. Pun demikian dengan perkebunan warga. Tak jarang dirusak hama penganggu. Satu di antaranya babi hutan.

Musibah kian lengkap ketika musim kemarau tiba. Lahan di perkampungan Sinar Cahaya kerap terbakar.

Kondisi seperti itu, dialami warganya berulang-ulang. Bertahun-tahun.

Dituturkan Kepala Desa Antar Jaya, Kaspul Anwar, tak kuat dengan kondisi seperti itu, satu persatu warga mulai meninggalkan dusun tersebut.

“Memilih mencari tempat atau kawasan yang baru untuk mencari rezeki,” ucapnya.

Akhirnya, dusun itu pun sunyi ditinggalkan warganya.

Mantan anggota DPRD Batola periode tahun 1999 hingga 2004, H Aslani Effendy, mengatakan warga Sinar Cahaya hanya merasakan kenyamanan selama sekitar lima tahun saja. Terhitung sejak dibukanya lahan.

“Meski hanya sebentar, tapi rata-rata warga sudah sangat menikmati hasilnya. Bahkan ada yang bisa membeli rumah di tempat lain,” ucapnya, ketika dikunjungi penulis kemarin (4/4) siang di kawasan Handil Bakti, Kabupaten Batola.

“Seingat saya, di tahun 1987, kampung itu sudah tak ada lagi yang menghuni,” lanjutnya.

“Persoalannya, air menjadi masam, padi jadi sulit ditanam. Berkebun pun demikian, hama babi hutannya banyak dan merusak. Termasuk kebakaran lahan,” tutupnya.

Jejak keberadaan kampung Sinar Cahaya masih bisa ditemukan hingga kini. Hanya saja, kondisinya tentu tak seperti dahulu.

Permukiman warga beralih fungsi menjadi kawasan perkebunan sawit. Bekas-bekas perumahan tak lagi tampak. Yang tersisa, hanyalah bangunan Masjid Sinar Cahaya Sabilal Muhtadin atau Masjid Timbul.

Baca Juga :  Satu Menara Islamic Center Patah, Gara-Gara Faktor Kesalahan Manusia

Jalan menuju kawasan Kampung Sinar Cahaya, kini bercampur dengan jalan perusahaan sawit. Kontur tanahnya tak mulus. Rusak parah.

Ketika penulis menuju kawasan tersebut, pada Sabtu (2/4) lalu, berulang kali dihadapkan dengan kondisi yang tak mengenakan.

Pertama, ban motor yang berulang kali berkubang lumpur. Kedua, untuk melintas, tak jarang mesti menerabas rerumputan hingga ilalang, lantaran jalanannya yang samar-samar.

Ketiga, ada beberapa ruas jalan yang putus, lalu dipasang kayu-kayu yang disusun tak beraturan. Laiknya jembatan darurat. Di bawahnya, air sungai tampak mengalir ke kawasan perkebunan sawit.

Menurut wartawan Radar Banjarmasin yang ngepos di Batola, Ahmad Mubarak, yang saat itu menemani perjalanan penulis, ada sejumlah kemungkinan lain mengapa jalan tampak terputus.

Pertama dibuat sengaja agar air sungai mengaliri perkebunan. Kedua, agar memudahkan pekerja membawa pupuk dengan mendayung perahu kecil ke kebun sawit.

“Atau kalau si pekerja malas, bisa saja karung-karung pupuk dihanyutkan, bang,” singgungnya, kemudian tergelak.

Ada pun kesulitan yang keempat yang menurut penulis justru paling apes. Saat matahari tampak terik-teriknya, motor yang kami kendarai justru mogok di tengah jalan. Lengkap bukan?

Jarak dari Marabahan yang merupakan jantung Kabupaten Batola, menuju Kampung Sinar Cahaya semestinya hanya 29 kilometer. Namun Sabtu (2/4) itu, jaraknya seperti berubah menjadi ratusan kilometer saja.

Pun demikian dengan waktu tempuh perjalanan yang dibutuhkan. Yang semestinya hanya 1 jam 26 menit, justru molor menjadi berlipat-lipat.

Oh, tentu itu sudah dihitung dengan waktu istirahat, rebahan di bawah pohon kelapa sawit, sembari mendinginkan kepala dan mesin motor yang panas.

MEDAN BERAT: Penulis mengangkat kendaraan dari kubangan lumpur menuju Masjid Timbul. | FOTO: AHMAD MUBARAK/RADAR BANJARMASIN 

Penulis masih mengingat jelas. Saat busi motor sudah dicabut, dibersihkan dan dipasang lagi, dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara adzan. Melirik jam tangan, waktu menunjukan puluk 12.06 Wita.

Setidaknya sudah memasuki waktu zuhur.

Mubarak yang saat itu masih bersandar di pohon kelapa sawit, lantas mengatakan bahwa suara adzan yang terdengar itu berasal dari Masjid Timbul.

Kami bersemangat. Setidaknya, tempat yang dituju sudah dekat. Dan syukurlah, ketika dinyalakan, motor yang kami kendarai tak lagi mogok. Setidaknya, untuk waktu itu.

Selepas ashar, akhirnya kami sampai ke tempat yang dituju. Masjid Timbul. Masjid ini berwarna hijau. Hanya daun pintu dan atapnya saja yang berwarna cokelat. Di seberang masjid ada sungai selebar 3,5 meter.

Dilihat dari luar, masjid tampak sederhana. Material bangunannya didominasi kayu. Utamanya di bagian dinding. Sedangkan material terasnya sudah bercampur. Sebagian semen, sebagian lagi kayu.

Di bagian atas masjid ada dua kubah. Yang ukurannya paling besar, di pucuknya ada kincir berbentuk arah mata angin. Kincir angin itu berputar-putar bila angin terasa berembus.

Di bagian kiri lahan berdirinya masjid, ada tiga buah bangunan yang posisinya hampir berdampingan.

Bangunan pertama, berpungsi sebagai kamar kaum atau marbot masjid. Bangunan kedua toilet dan bangunan ketiga tempat wudhu.

Pintu masjid tampak tak dikunci. Jadi siapa pun sebenarnya bisa saja masuk ke dalam masjid. Termasuk yang sudah penasaran, membuka pintu masjid untuk melihat ke dalam.

Lantai ruang utama masjid tampak sangat bersih. Di bagian tengah, ada lima tiang penyangga. Lima tiang itu tampak dililit kain kuning.

Satu di antara tiang itu ukurannya hampir selebar drum. Tingginya belasan meter. Posisinya berada di tengah empat tiang lainnya.

Di bawah tiang, ada banyak tumpukan sajadah. Ada kotak amal, dan sebuah bejana. Sedangkan di bagian posisi imam masjid, tampak dua mimbar. Satu mimbar baru dan yang satunya lagi mimbar lama.

Mimbar terakhir yang disebut tadi, seluruhnya tampak berselimut kain kuning.

Puas melihat-lihat kondisi di dalam masjid, penulis memutuskan duduk-duduk di terasnya. Kondisi sekitar masjid masih sama seperti saat penulis sampai. Selain kami berdua, tak tampak ada orang lain.

Angin berembus, mata pun mengantuk. Tapi, penulis seketika terkejut lantaran mendengar suara burung baburak bersahutan di balik rindangnya pohon galam, semak belukar hingga tumbuhan lain yang mengelilingi kawasan tersebut.

Syukurlah, menjelang magrib, sebuah perahu bermesin memecah kesunyian. Kami yakin yang datang adalah orang yang kami tunggu-tunggu. Kaum atau marbot Masjid Timbul.

Sesudah menambatkan perahunya, ia menyapa kami. Kami pun berkenalan, namanya Marhan. Dan benar, ia adalah Marbot Masjid Timbul.

Malam itu, ia mengenakan peci putih. Lalu, kemeja cokelat dengan kancing bagian dadanya sedikit terbuka. Kerutan di wajahnya cukup banyak. Tapi senyumnya lumayan manis.

Ia lupa berapa usianya, tapi ketika disebut 60 tahun, ia hanya tersenyum. Kemudian mengajak kami masuk ke dalam masjid untuk salat magrib berjamaah.

Kondisi dalam masjid kini berbeda dari sebelumnya. Lumayan gelap. Marhan pun menyulam sejumlah kabel yang berada di belakamg mimbar. Rupanya di situ ada dua buah aki seukuran kardus mi instan. Tak lama kemudian lampu pun menyala.

Baca Juga :  Pantang Menyerah Meski Seperti Melukis di Atas Air

Meski tidak terlalu terang, setidaknya penulis masih bisa melihat ke sekeliling ruang dalam masjid itu untuk yang kedua kalinya. Tak berapa lama, Marhan pun pengumandangkan adzan. Terdengar lirih…

BERTUGAS SENDIRI: Marbot Masjid Timbul, Marhan. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN 

Seusai salat, kami pun berbincang. Marhan mengaku seorang perantau asal Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Dijelaskannya, ia sudah dua tahun terakhir menjadi marbot di Masjid Timbul.

“Sebelumnya, sudah ada 6 marbot di sini. Tapi tak ada yang betah. Ada yang hanya bertahan 5 bulan, dan lain-lain,” ucapnya.

“Siapa yang betah di sini, tak ada orang. Mau salat di sini pun jauh. Jalannya juga rusak,” tekannya.

Ya, setidaknya, kami sudah merasakannya. Padahal, tak ada hujan yang turun pada Sabtu (2/4) itu. Bayangkan saja bila hujan mengguyur.

“Memang, ada akses jalur sungai. Tapi, kan ada masjid-masjid lain di luar,” lanjutnya.

Diakui Marhan, dahulu masjid ini memang ramai diisi jemaah. Semenjak Kampung Sinar Cahaya mati ditinggalkan penghuninya, semenjak itu pula masjid ini sunyi.

Lantas, sejak kapan dan mengapa masjid ini justru kembali dipungsikan?

Berdasarkan cerita Marhan, bertahun-tahun ditinggal warga, wilayah berdirinya kampung dan masjid itu kembali ke wujudnya semula. Kawasan hutan.

Hingga suatu ketika, ada sejumlah pemuai madu lebah yang kelelahan dalam perjalanannya.

“Saat kelelahan dan ingin beristirahat, mereka menemukan masjid ini,” tutur Marhan.

Saat ditemukan, kondisi masjid tampak masih layak digunakan. Meski beberapa atapnya tampak bolong-bolong, tapi lantai dalam masjid tampak bersih. Seperti selesai dipel.

Di sisi lain. Bila melihat dari sekeliling masjid waktu ditemukan, tampak ada bekas hutan yang terbakar hebat. Namun uniknya, tak satu pun bagian masjid itu yang gosong atau tampak seperti bekas terbakar.

Sontak, hal itu membuat geger warga khususnya yang tinggal di Kecamatan Marabahan, saat itu. Saat itulah, orang-orang mulai berdatangan ke masjid tersebut.

Berbarengan dengan itulah, masjid ini lantas disebut sebagai Masjid Timbul (Muncul).

“Masjid yang sekian lama tidak dipungsikan kembali dipungsikan. Makanya disebut Masjid Timbul. Bukan masjid yang tiba-tiba ada atau keluar dari tanah. Bukan,” tekan Marhan.

Disinggung tahun berapa masjid tersebut ditemukan sejumlah pemuai lebah itu, Marhan mengaku lupa. Namun perkiraannya itu terjadi sekitar belasan tahun yang lewat.

Sejak saat itu, menurut Marhan, masih ada jemaah yang datang untuk salat. Baik saat salat lima waktu, atau pun salat Jumat. Silih berganti orang-orang yang menjadi marbot di situ. Hanya saja memang, jemaahnya tidak begitu banyak.

Jemaahnya yang umumnya datang hanyalah pekerja kebun sawit yang menghuni mes. Yang terkadang ke masjid terkadang tidak. Meskipun diakui Marhan, lebih banyak tidaknya. Sekali lagi karena akses jalannya.

Di sisi lain. Jarak antara mes pekerja sawit dengan Masjid Timbul, setidaknya sepanjang dua kilometer. Jalanan yang rusak, menjadi pertimbangan utama untuk ke masjid.

“Belum lagi hewan liar di sekitar perkebunan. Misalnya mau salat subuh, magrib, dan isya. Di sini mana ada penerangan jalan. Risikonya besar,” ucapnya.

Lantas, apakah kini hanya Marhan saja yang rajin salat dan mengurus masjid itu? Jawabannya, iya.

Marhan pun lantas mengutarakan alasannya. Ia mengaku, yang ia lakukan hanya meneruskan perjuangan sang ayah. Ia merasa miris bila masjid yang dibangun justru terbengkalai.

“Ayah saya termasuk dalam kepanitiaan pembangunan masjid ini,” ungkapnya.

“Saya memang tidak terlibat secara langsung pembangunan masji, karena merantau ke daerah lain. Tapi setidaknya, saya juga pernah tinggal di sini menemani ayah. Sebelum akhirnya kembali ke Danau Panggang,” ucapnya.

Marhan pun menekankan, sebenarnya ada banyak orang yang hendak salat di Masjid Timbul. Namun, akses yang sulit menjadi salah satu kendala mengapa masjid itu sunyi dengan jemaah.

“Lain halnya bila jalan benar-benar diperbaiki. Rerumputan dan tumbuhan liar lainnya itu dibersihkan. Setidaknya, mereka bisa nyaman ke sini,” sarannya.

Dari ketarangan Marhan, jalan lingkungan kawasan berdirinya masjid itu kini bercampur dengan jalan perusahaan. Artinya, ada jalan milik perusahaan, ada pula jalan umum.

“Terus terang, saya merasa miris melihat keadaan seperti ini. Kasihan orang yang hendak salat atau yang datang ke masjid ini untuk keperluan lain,” tekannya.

“Orang bilang, bila ada masjid tapi tidak disalati, itu marbot yang berdosa. Tapi, lebih berdosa mana dengan orang yang membiarkan jalanan menuju masjid ini rusak dan tidak memperbaikinya,” ucapnya.

“Semoga ada yang bersedia memperbaiki jalan lingkungan ini,” pungkasnya. (war)

Sebuah kampung di Desa Antar Jaya, Kecamatan Marabahan dilanda musibah berkepanjangan. Kampung yang ramai itu mati. Yang tersisa hanya Masjid Sinar Sabilal Muhtadin. Seperti namanya, masjid itu pantang redup.

jejak ramadan radar banjarmasin

Kampung itu bernama Sinar Cahaya. Alamnya berkah. Kawasan yang cocok ditanami apa saja. Tanam benih, berbulir padi. Pasang kail atau jala di sungainya, ikan seakan tak malu untuk datang.

Seperti halnya warga yang mendiami Desa Antar Jaya, kampung itu umumnya juga didiami oleh perantau. Rata-rata berasal dari kawasan hulu sungai.

Ada yang berasal dari Kabupaten Tapin, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dan lain sebagainya.

Dahulu, Kampung Sinar Cahaya hanyalah hutan. Perantau yang datang mulai membuka lahan pada tahun 1975. Seiring waktu, di Sinar Cahaya, warga merasa nyaman.

Dari yang semula hanya sekadar membangun dangau, kemudian memilih membangun hunian yang layak.

Kepala Desa Antar Jaya, Kaspul Anwar menjelaskan, kian waktu penduduk yang tinggal di dusun tersebut kian bertambah.

Bahkan menurutnya, pemerintah mendirikan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Antar Jaya 2 di situ. Tapi, lokasinya sedikit agak ke depan dari perkampungan berada.

“Saya rasa itu bangunan sekolah yang paling mewah di Marabahan,” ungkap Kaspul, ketika dibincangi penulis pada Minggu (3/4) pagi.

Dikatakan mewah, lantaran waktu itu, menurutnya, seluruh material bangunan sekolah berbahan kayu besi (ulin). Yang seperti kita ketahui, saat ini cukup sulit didapatkan.

Jerih payah dari penjualan hasil perkebunan, tanam padi hingga menjala ikan, memang dirasakan mampu mencukupi kehidupan sehari-hari warga Sinar Cahaya.

Kendati demikian, keadaan yang nyaman itu masih dirasa kurang. Lantaran tak adanya tempat ibadah berupa masjid di situ. Warga pun berkeinginan untuk membangunnya.

Bukan tanpa alasan. Rasanya, terlalu jauh bila hendak menunaikan ibadah salat Jumat. Untuk sampai ke masjid saja, warga mesti menempuh sejauh sembilan kilometer. Atau keluar dari perkampungan Sinar Cahaya.

Sementara saat itu, alat transportasi yang ada cukup terbatas. Jangankan sepeda motor, sepeda pun menjadi barang mahal, keberadaannya juga masih bisa dihitung jari.

Jadi, selain berjalan kaki, yang bisa digunakan hanyalah perahu kayuh.

Akhirnya, usul pembangunan masjid pun diamini. Warga bergotong royong. Selain urunan membeli material baru untuk bangunan masjid, sebagian material juga diambil dari sisa rehab Masjid Agung Al Anwar.

Masjid tersebut adalah salah satu masjid kebanggaan warga Kabupaten Barito Kuala (Batola). Lokasi masjid ini berada di pinggir Sungai Barito. Tepatnya, di Jalan Panglima Wangkang, RT 10, Kecamatan Marabahan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pembangunan masjid di Kampung Sinar Cahaya Sinar berlangsung antara kurun waktu tahun 1982 hingga 1986.

Ketika pembangunan rampung, warga setempat menamainya: Sinar Sabilal Muhtadin.

Diambil dari potongan nama kampung itu sendiri, kemudian mengambil berkah dari nama Masjid Sabilal Muhtadin yang berada di Kota Banjarmasin.

Namun, masyarakat kini lebih mengenalnya dengan nama Masjid Timbul. Mengapa demikian? Inilah kisahnya.

Bertahun-tahun hidup tentram dan damai, musibah mulai mengusik ketenangan warga di Kampung Sinar Cahaya.

Ragam jenis ikan yang semula nyaman didapatkan, entah mengapa dari tahun ke tahun semakin berkurang keberadaannya.

Benih padi yang ditanam tak satu atau dua kali mengalami gagal panen. Pun demikian dengan perkebunan warga. Tak jarang dirusak hama penganggu. Satu di antaranya babi hutan.

Musibah kian lengkap ketika musim kemarau tiba. Lahan di perkampungan Sinar Cahaya kerap terbakar.

Kondisi seperti itu, dialami warganya berulang-ulang. Bertahun-tahun.

Dituturkan Kepala Desa Antar Jaya, Kaspul Anwar, tak kuat dengan kondisi seperti itu, satu persatu warga mulai meninggalkan dusun tersebut.

“Memilih mencari tempat atau kawasan yang baru untuk mencari rezeki,” ucapnya.

Akhirnya, dusun itu pun sunyi ditinggalkan warganya.

Mantan anggota DPRD Batola periode tahun 1999 hingga 2004, H Aslani Effendy, mengatakan warga Sinar Cahaya hanya merasakan kenyamanan selama sekitar lima tahun saja. Terhitung sejak dibukanya lahan.

“Meski hanya sebentar, tapi rata-rata warga sudah sangat menikmati hasilnya. Bahkan ada yang bisa membeli rumah di tempat lain,” ucapnya, ketika dikunjungi penulis kemarin (4/4) siang di kawasan Handil Bakti, Kabupaten Batola.

“Seingat saya, di tahun 1987, kampung itu sudah tak ada lagi yang menghuni,” lanjutnya.

“Persoalannya, air menjadi masam, padi jadi sulit ditanam. Berkebun pun demikian, hama babi hutannya banyak dan merusak. Termasuk kebakaran lahan,” tutupnya.

Jejak keberadaan kampung Sinar Cahaya masih bisa ditemukan hingga kini. Hanya saja, kondisinya tentu tak seperti dahulu.

Permukiman warga beralih fungsi menjadi kawasan perkebunan sawit. Bekas-bekas perumahan tak lagi tampak. Yang tersisa, hanyalah bangunan Masjid Sinar Cahaya Sabilal Muhtadin atau Masjid Timbul.

Baca Juga :  Menghidupkan Ramadan dengan Badamaran

Jalan menuju kawasan Kampung Sinar Cahaya, kini bercampur dengan jalan perusahaan sawit. Kontur tanahnya tak mulus. Rusak parah.

Ketika penulis menuju kawasan tersebut, pada Sabtu (2/4) lalu, berulang kali dihadapkan dengan kondisi yang tak mengenakan.

Pertama, ban motor yang berulang kali berkubang lumpur. Kedua, untuk melintas, tak jarang mesti menerabas rerumputan hingga ilalang, lantaran jalanannya yang samar-samar.

Ketiga, ada beberapa ruas jalan yang putus, lalu dipasang kayu-kayu yang disusun tak beraturan. Laiknya jembatan darurat. Di bawahnya, air sungai tampak mengalir ke kawasan perkebunan sawit.

Menurut wartawan Radar Banjarmasin yang ngepos di Batola, Ahmad Mubarak, yang saat itu menemani perjalanan penulis, ada sejumlah kemungkinan lain mengapa jalan tampak terputus.

Pertama dibuat sengaja agar air sungai mengaliri perkebunan. Kedua, agar memudahkan pekerja membawa pupuk dengan mendayung perahu kecil ke kebun sawit.

“Atau kalau si pekerja malas, bisa saja karung-karung pupuk dihanyutkan, bang,” singgungnya, kemudian tergelak.

Ada pun kesulitan yang keempat yang menurut penulis justru paling apes. Saat matahari tampak terik-teriknya, motor yang kami kendarai justru mogok di tengah jalan. Lengkap bukan?

Jarak dari Marabahan yang merupakan jantung Kabupaten Batola, menuju Kampung Sinar Cahaya semestinya hanya 29 kilometer. Namun Sabtu (2/4) itu, jaraknya seperti berubah menjadi ratusan kilometer saja.

Pun demikian dengan waktu tempuh perjalanan yang dibutuhkan. Yang semestinya hanya 1 jam 26 menit, justru molor menjadi berlipat-lipat.

Oh, tentu itu sudah dihitung dengan waktu istirahat, rebahan di bawah pohon kelapa sawit, sembari mendinginkan kepala dan mesin motor yang panas.

MEDAN BERAT: Penulis mengangkat kendaraan dari kubangan lumpur menuju Masjid Timbul. | FOTO: AHMAD MUBARAK/RADAR BANJARMASIN 

Penulis masih mengingat jelas. Saat busi motor sudah dicabut, dibersihkan dan dipasang lagi, dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara adzan. Melirik jam tangan, waktu menunjukan puluk 12.06 Wita.

Setidaknya sudah memasuki waktu zuhur.

Mubarak yang saat itu masih bersandar di pohon kelapa sawit, lantas mengatakan bahwa suara adzan yang terdengar itu berasal dari Masjid Timbul.

Kami bersemangat. Setidaknya, tempat yang dituju sudah dekat. Dan syukurlah, ketika dinyalakan, motor yang kami kendarai tak lagi mogok. Setidaknya, untuk waktu itu.

Selepas ashar, akhirnya kami sampai ke tempat yang dituju. Masjid Timbul. Masjid ini berwarna hijau. Hanya daun pintu dan atapnya saja yang berwarna cokelat. Di seberang masjid ada sungai selebar 3,5 meter.

Dilihat dari luar, masjid tampak sederhana. Material bangunannya didominasi kayu. Utamanya di bagian dinding. Sedangkan material terasnya sudah bercampur. Sebagian semen, sebagian lagi kayu.

Di bagian atas masjid ada dua kubah. Yang ukurannya paling besar, di pucuknya ada kincir berbentuk arah mata angin. Kincir angin itu berputar-putar bila angin terasa berembus.

Di bagian kiri lahan berdirinya masjid, ada tiga buah bangunan yang posisinya hampir berdampingan.

Bangunan pertama, berpungsi sebagai kamar kaum atau marbot masjid. Bangunan kedua toilet dan bangunan ketiga tempat wudhu.

Pintu masjid tampak tak dikunci. Jadi siapa pun sebenarnya bisa saja masuk ke dalam masjid. Termasuk yang sudah penasaran, membuka pintu masjid untuk melihat ke dalam.

Lantai ruang utama masjid tampak sangat bersih. Di bagian tengah, ada lima tiang penyangga. Lima tiang itu tampak dililit kain kuning.

Satu di antara tiang itu ukurannya hampir selebar drum. Tingginya belasan meter. Posisinya berada di tengah empat tiang lainnya.

Di bawah tiang, ada banyak tumpukan sajadah. Ada kotak amal, dan sebuah bejana. Sedangkan di bagian posisi imam masjid, tampak dua mimbar. Satu mimbar baru dan yang satunya lagi mimbar lama.

Mimbar terakhir yang disebut tadi, seluruhnya tampak berselimut kain kuning.

Puas melihat-lihat kondisi di dalam masjid, penulis memutuskan duduk-duduk di terasnya. Kondisi sekitar masjid masih sama seperti saat penulis sampai. Selain kami berdua, tak tampak ada orang lain.

Angin berembus, mata pun mengantuk. Tapi, penulis seketika terkejut lantaran mendengar suara burung baburak bersahutan di balik rindangnya pohon galam, semak belukar hingga tumbuhan lain yang mengelilingi kawasan tersebut.

Syukurlah, menjelang magrib, sebuah perahu bermesin memecah kesunyian. Kami yakin yang datang adalah orang yang kami tunggu-tunggu. Kaum atau marbot Masjid Timbul.

Sesudah menambatkan perahunya, ia menyapa kami. Kami pun berkenalan, namanya Marhan. Dan benar, ia adalah Marbot Masjid Timbul.

Malam itu, ia mengenakan peci putih. Lalu, kemeja cokelat dengan kancing bagian dadanya sedikit terbuka. Kerutan di wajahnya cukup banyak. Tapi senyumnya lumayan manis.

Ia lupa berapa usianya, tapi ketika disebut 60 tahun, ia hanya tersenyum. Kemudian mengajak kami masuk ke dalam masjid untuk salat magrib berjamaah.

Kondisi dalam masjid kini berbeda dari sebelumnya. Lumayan gelap. Marhan pun menyulam sejumlah kabel yang berada di belakamg mimbar. Rupanya di situ ada dua buah aki seukuran kardus mi instan. Tak lama kemudian lampu pun menyala.

Baca Juga :  Pantang Menyerah Meski Seperti Melukis di Atas Air

Meski tidak terlalu terang, setidaknya penulis masih bisa melihat ke sekeliling ruang dalam masjid itu untuk yang kedua kalinya. Tak berapa lama, Marhan pun pengumandangkan adzan. Terdengar lirih…

BERTUGAS SENDIRI: Marbot Masjid Timbul, Marhan. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN 

Seusai salat, kami pun berbincang. Marhan mengaku seorang perantau asal Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Dijelaskannya, ia sudah dua tahun terakhir menjadi marbot di Masjid Timbul.

“Sebelumnya, sudah ada 6 marbot di sini. Tapi tak ada yang betah. Ada yang hanya bertahan 5 bulan, dan lain-lain,” ucapnya.

“Siapa yang betah di sini, tak ada orang. Mau salat di sini pun jauh. Jalannya juga rusak,” tekannya.

Ya, setidaknya, kami sudah merasakannya. Padahal, tak ada hujan yang turun pada Sabtu (2/4) itu. Bayangkan saja bila hujan mengguyur.

“Memang, ada akses jalur sungai. Tapi, kan ada masjid-masjid lain di luar,” lanjutnya.

Diakui Marhan, dahulu masjid ini memang ramai diisi jemaah. Semenjak Kampung Sinar Cahaya mati ditinggalkan penghuninya, semenjak itu pula masjid ini sunyi.

Lantas, sejak kapan dan mengapa masjid ini justru kembali dipungsikan?

Berdasarkan cerita Marhan, bertahun-tahun ditinggal warga, wilayah berdirinya kampung dan masjid itu kembali ke wujudnya semula. Kawasan hutan.

Hingga suatu ketika, ada sejumlah pemuai madu lebah yang kelelahan dalam perjalanannya.

“Saat kelelahan dan ingin beristirahat, mereka menemukan masjid ini,” tutur Marhan.

Saat ditemukan, kondisi masjid tampak masih layak digunakan. Meski beberapa atapnya tampak bolong-bolong, tapi lantai dalam masjid tampak bersih. Seperti selesai dipel.

Di sisi lain. Bila melihat dari sekeliling masjid waktu ditemukan, tampak ada bekas hutan yang terbakar hebat. Namun uniknya, tak satu pun bagian masjid itu yang gosong atau tampak seperti bekas terbakar.

Sontak, hal itu membuat geger warga khususnya yang tinggal di Kecamatan Marabahan, saat itu. Saat itulah, orang-orang mulai berdatangan ke masjid tersebut.

Berbarengan dengan itulah, masjid ini lantas disebut sebagai Masjid Timbul (Muncul).

“Masjid yang sekian lama tidak dipungsikan kembali dipungsikan. Makanya disebut Masjid Timbul. Bukan masjid yang tiba-tiba ada atau keluar dari tanah. Bukan,” tekan Marhan.

Disinggung tahun berapa masjid tersebut ditemukan sejumlah pemuai lebah itu, Marhan mengaku lupa. Namun perkiraannya itu terjadi sekitar belasan tahun yang lewat.

Sejak saat itu, menurut Marhan, masih ada jemaah yang datang untuk salat. Baik saat salat lima waktu, atau pun salat Jumat. Silih berganti orang-orang yang menjadi marbot di situ. Hanya saja memang, jemaahnya tidak begitu banyak.

Jemaahnya yang umumnya datang hanyalah pekerja kebun sawit yang menghuni mes. Yang terkadang ke masjid terkadang tidak. Meskipun diakui Marhan, lebih banyak tidaknya. Sekali lagi karena akses jalannya.

Di sisi lain. Jarak antara mes pekerja sawit dengan Masjid Timbul, setidaknya sepanjang dua kilometer. Jalanan yang rusak, menjadi pertimbangan utama untuk ke masjid.

“Belum lagi hewan liar di sekitar perkebunan. Misalnya mau salat subuh, magrib, dan isya. Di sini mana ada penerangan jalan. Risikonya besar,” ucapnya.

Lantas, apakah kini hanya Marhan saja yang rajin salat dan mengurus masjid itu? Jawabannya, iya.

Marhan pun lantas mengutarakan alasannya. Ia mengaku, yang ia lakukan hanya meneruskan perjuangan sang ayah. Ia merasa miris bila masjid yang dibangun justru terbengkalai.

“Ayah saya termasuk dalam kepanitiaan pembangunan masjid ini,” ungkapnya.

“Saya memang tidak terlibat secara langsung pembangunan masji, karena merantau ke daerah lain. Tapi setidaknya, saya juga pernah tinggal di sini menemani ayah. Sebelum akhirnya kembali ke Danau Panggang,” ucapnya.

Marhan pun menekankan, sebenarnya ada banyak orang yang hendak salat di Masjid Timbul. Namun, akses yang sulit menjadi salah satu kendala mengapa masjid itu sunyi dengan jemaah.

“Lain halnya bila jalan benar-benar diperbaiki. Rerumputan dan tumbuhan liar lainnya itu dibersihkan. Setidaknya, mereka bisa nyaman ke sini,” sarannya.

Dari ketarangan Marhan, jalan lingkungan kawasan berdirinya masjid itu kini bercampur dengan jalan perusahaan. Artinya, ada jalan milik perusahaan, ada pula jalan umum.

“Terus terang, saya merasa miris melihat keadaan seperti ini. Kasihan orang yang hendak salat atau yang datang ke masjid ini untuk keperluan lain,” tekannya.

“Orang bilang, bila ada masjid tapi tidak disalati, itu marbot yang berdosa. Tapi, lebih berdosa mana dengan orang yang membiarkan jalanan menuju masjid ini rusak dan tidak memperbaikinya,” ucapnya.

“Semoga ada yang bersedia memperbaiki jalan lingkungan ini,” pungkasnya. (war)

Most Read

Artikel Terbaru

/