alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Tahulah Pian?

Kisah Tasan Panyi

Tasan dan Panyi adalah nama dua orang pahlawan yang tidak banyak diketahui. Hubungan mereka adalah paman dan keponakan, yang gugur saat berjuang melawan penjajah Belanda di Kabupaten Tapin.

Berkat jasa dan kegigihan mereka melawan Belanda, sekarang Tasan Panyi diabadikan menjadi sebuah jalan di Kecamatan Tapin Utara. Bahkan dibuatkan monumen dekat tempat mereka meninggal dulu.

Namun perjuangan heroik Paman dan Keponakan ini hanya bisa diceritakan secara singkat saja. Karena keluarga sekarang tidak mengetahui pastinya bagaimana awal mereka berjuang.

Seperti yang dituturkan Muhammad Yusuf keluarga pejuang Muhammad Panyi, ia tidak mengetahui secara pasti bagaimana cerita detailnya, hanya sebagian yang diceritakan oleh orang tuanya.

“Yang jelas antara Mat Tasan dan Muhammad Panyi ada berhubungan keluarga. Mereka berdua dulu sangat dekat, walaupun dari segi umur jauh berbeda,” ucapnya.

Mereka meninggal memang sama-sama di tembak oleh penjajah Belanda waktu itu, saat coba menghalangi mobil Belanda hendak lewat kota Rantau.
“Yang diceritakan ke saya, Mat Tasan dulu yang di tembak, baru Muhammad Panyi,” jelasnya.

Tak berbeda, Ghazali Hadi (64) yang termasuk cucu Mat Tasan juga menuturkan bahwa ia kurang mengetahui kisah perjuangan kakeknya dulu. Hanya sebagian saja yang diceritakan orang tuanya.“Secara singkat hanya bercerita saat meninggal ditembak oleh Belanda,” ucapnya.

Sementara Achmad Adjie Al Muas juga mengungkapkan hal yang sama, ia hanya mendengar sejarah singkat saja dari orang tuanya bagaimana perjuangan satunya dulu.

Baca Juga :  Asal Mula Nama Lapangan Murjani

“Memang sejarah singkat, datu meninggal pas menghadang mobil Belanda yang lewat di Rantau. Jadi tidak tahu rincinya bagaimana,” ucap Cicit dari Mat Tasan ini.

Namun ternyata kisah perjuangan Tasan Panyi ternyata ada dituliskan pada sebuah buku Sejarah Banjar yang dibacanya di Perpustakaan Provinsi.

“Jadi sudah ada catatan sejarahnya dalam buku itu,” kata Adjie yang sudah membaca buku tersebut.

Diberitahukan Adjie dalam buku Sejarah Banjar, tanggal 9 November 1945 selesai salat Jumat sebuah mobil Jeep Belanda berhenti di Kampung Banua Padang Rantau.

Usai salat Jumat orang-orang yang keluar dari Masjid bersama dengan pemuda menyerang mobil tersebut, beberapa orang Belanda melarikan diri dengan menumpang mobil lain ke arah Rantau. Mobil Jeep yang ditinggalkan, langsung diceburkan ke sungai.

Orang-orang Belanda yang melarikan diri ke Rantau, meminta bantuan kepada tentara mereka di Kandangan. Tentara penjajah langsung ke Banua Padang, untuk melakukan penembakan secara brutal. Penduduk sekitar pun terkejut dan berlarian.

Rakyat sekitar Rantau seperti Mandarahan, Walang dan Kupang berbondong-bondong ke Rantau untuk bersiap, siaga menghadapi segala kemungkinan. Dengan masing-masing membawa senjata seperti parang, tombak dan keris.

Sedangkan di jalan dipasang rintangan-rintangan, bahkan di depan jembatan kota Rantau dipasang rintangan dari batang pohon kayu dan pohon kelapa. Waktu itu seluruh rakyat siap tempur.

Semangat membara rakyat saat itu, dipelopori oleh orang yang bernama Mat Tasan bersama Abul Hasan Gaffar sambil meneriakkan Allahu Akbar dan ucapan Jihad fii Sabilillah mereka siap menunggu kembali tentara Belanda dari kampung Banua Padang, untuk pulang ke Kandangan.

Baca Juga :  Legenda Kepahlawanan Haji Buyasin

Tepat pukul 16.03, militer Belanda tiba di kota Rantau. Mobil terhenti saat melihat tumpukan batang pohon kelapa merintangi jalan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara teriakan Tasan memberi aba-aba penyerbuan. Belanda yang cukup siaga langsung menembakkan tembakan otomatis dengan membabi buta.

Saat itulah, Mat Tasan dan Muhammad Panyi, tepat di depan jalan yang sekarang jadi nama jalan dua orang tersebut, gugur. Tembakan baru terhenti, setelah kiai Muhammad Said datang dan mengadakan pembicaraan militer dengan Belanda.

Sehari setelah kejadian itu, tepatnya 10 November 1945 di Masjid Kota Rantau diadakan pertemuan. Para alim ulama yang berkumpul, memutuskan secara hukum Islam Mat Tasan dan Muhammad Panyi dinyatakan sebagai syuhada.Keputusan itu mengejutkan pemerintah Belanda. Mereka mengkhawatirkan label syuhada akan memicu kalangan rakyat untuk ikut melawan Belanda.

Ternyata memang benar kecemasan penjajah itu. Seminggu setelah gugurnya Mat Tasan dan Muhammad Panyi, dibentuklah gerakan rahasia bernama Barisan Perjuangan Indonesia (BPI) dipimpin H Marjuki Amin.

Gerakan ini sangat rahasia, menghimpun kekuatan, jumlah anggota dengan perumusan “Satu Mencari Dua” dengan sumpah alquran. Tujuannya mempertahankan proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. (dly/by/ran)

Tasan dan Panyi adalah nama dua orang pahlawan yang tidak banyak diketahui. Hubungan mereka adalah paman dan keponakan, yang gugur saat berjuang melawan penjajah Belanda di Kabupaten Tapin.

Berkat jasa dan kegigihan mereka melawan Belanda, sekarang Tasan Panyi diabadikan menjadi sebuah jalan di Kecamatan Tapin Utara. Bahkan dibuatkan monumen dekat tempat mereka meninggal dulu.

Namun perjuangan heroik Paman dan Keponakan ini hanya bisa diceritakan secara singkat saja. Karena keluarga sekarang tidak mengetahui pastinya bagaimana awal mereka berjuang.

Seperti yang dituturkan Muhammad Yusuf keluarga pejuang Muhammad Panyi, ia tidak mengetahui secara pasti bagaimana cerita detailnya, hanya sebagian yang diceritakan oleh orang tuanya.

“Yang jelas antara Mat Tasan dan Muhammad Panyi ada berhubungan keluarga. Mereka berdua dulu sangat dekat, walaupun dari segi umur jauh berbeda,” ucapnya.

Mereka meninggal memang sama-sama di tembak oleh penjajah Belanda waktu itu, saat coba menghalangi mobil Belanda hendak lewat kota Rantau.
“Yang diceritakan ke saya, Mat Tasan dulu yang di tembak, baru Muhammad Panyi,” jelasnya.

Tak berbeda, Ghazali Hadi (64) yang termasuk cucu Mat Tasan juga menuturkan bahwa ia kurang mengetahui kisah perjuangan kakeknya dulu. Hanya sebagian saja yang diceritakan orang tuanya.“Secara singkat hanya bercerita saat meninggal ditembak oleh Belanda,” ucapnya.

Sementara Achmad Adjie Al Muas juga mengungkapkan hal yang sama, ia hanya mendengar sejarah singkat saja dari orang tuanya bagaimana perjuangan satunya dulu.

Baca Juga :  Islamnya Pangeran Sultan Suriansyah

“Memang sejarah singkat, datu meninggal pas menghadang mobil Belanda yang lewat di Rantau. Jadi tidak tahu rincinya bagaimana,” ucap Cicit dari Mat Tasan ini.

Namun ternyata kisah perjuangan Tasan Panyi ternyata ada dituliskan pada sebuah buku Sejarah Banjar yang dibacanya di Perpustakaan Provinsi.

“Jadi sudah ada catatan sejarahnya dalam buku itu,” kata Adjie yang sudah membaca buku tersebut.

Diberitahukan Adjie dalam buku Sejarah Banjar, tanggal 9 November 1945 selesai salat Jumat sebuah mobil Jeep Belanda berhenti di Kampung Banua Padang Rantau.

Usai salat Jumat orang-orang yang keluar dari Masjid bersama dengan pemuda menyerang mobil tersebut, beberapa orang Belanda melarikan diri dengan menumpang mobil lain ke arah Rantau. Mobil Jeep yang ditinggalkan, langsung diceburkan ke sungai.

Orang-orang Belanda yang melarikan diri ke Rantau, meminta bantuan kepada tentara mereka di Kandangan. Tentara penjajah langsung ke Banua Padang, untuk melakukan penembakan secara brutal. Penduduk sekitar pun terkejut dan berlarian.

Rakyat sekitar Rantau seperti Mandarahan, Walang dan Kupang berbondong-bondong ke Rantau untuk bersiap, siaga menghadapi segala kemungkinan. Dengan masing-masing membawa senjata seperti parang, tombak dan keris.

Sedangkan di jalan dipasang rintangan-rintangan, bahkan di depan jembatan kota Rantau dipasang rintangan dari batang pohon kayu dan pohon kelapa. Waktu itu seluruh rakyat siap tempur.

Semangat membara rakyat saat itu, dipelopori oleh orang yang bernama Mat Tasan bersama Abul Hasan Gaffar sambil meneriakkan Allahu Akbar dan ucapan Jihad fii Sabilillah mereka siap menunggu kembali tentara Belanda dari kampung Banua Padang, untuk pulang ke Kandangan.

Baca Juga :  Tumenggung Jalil, Panglima yang Terlupakan

Tepat pukul 16.03, militer Belanda tiba di kota Rantau. Mobil terhenti saat melihat tumpukan batang pohon kelapa merintangi jalan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara teriakan Tasan memberi aba-aba penyerbuan. Belanda yang cukup siaga langsung menembakkan tembakan otomatis dengan membabi buta.

Saat itulah, Mat Tasan dan Muhammad Panyi, tepat di depan jalan yang sekarang jadi nama jalan dua orang tersebut, gugur. Tembakan baru terhenti, setelah kiai Muhammad Said datang dan mengadakan pembicaraan militer dengan Belanda.

Sehari setelah kejadian itu, tepatnya 10 November 1945 di Masjid Kota Rantau diadakan pertemuan. Para alim ulama yang berkumpul, memutuskan secara hukum Islam Mat Tasan dan Muhammad Panyi dinyatakan sebagai syuhada.Keputusan itu mengejutkan pemerintah Belanda. Mereka mengkhawatirkan label syuhada akan memicu kalangan rakyat untuk ikut melawan Belanda.

Ternyata memang benar kecemasan penjajah itu. Seminggu setelah gugurnya Mat Tasan dan Muhammad Panyi, dibentuklah gerakan rahasia bernama Barisan Perjuangan Indonesia (BPI) dipimpin H Marjuki Amin.

Gerakan ini sangat rahasia, menghimpun kekuatan, jumlah anggota dengan perumusan “Satu Mencari Dua” dengan sumpah alquran. Tujuannya mempertahankan proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. (dly/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

Kisah Gusti Datu Aminin

Tradisi Batumbang Apam di HST

Asal Usul Mappanre Ri Tasi

Legenda Pantai Batu Lima

/