alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Sanggar DAS Barito: Pernah Dicaci karena Berbeda

Pukulan gendang beradu knong, gong, dan beduk. Diselingi petikan sape juga kecapi. Muda-mudi asyik menari. Diiringi alunan musik khas pedalaman Kalimantan.

– Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Bebunyian yang keluar dari alat musik itu intonasinya cukup cepat. Susunan nada itu dikenal dengan sebutan Seluang Mudik. Konon, diambil dari perilaku ikan seluang yang berenang cepat.

Di tengah-tengah muda-mudi yang asyik memainkan alat musik dan menari, tiba-tiba saja, seorang lelaki dengan topi khas bulu Burung Haruai atau Kuau Raja atau biasa dikenal dengan Merak Kalimantan menyeruak ke tengah barisan penari.

Dengan gagah ia ikut menari. Dia adalah Poyanto, akrab disapa Poyang. Pendiri Sanggar Tari dan Musik Pedalaman Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito.
Rutinitas bermain musik daerah hingga menari, biasa dilakoni anggota sanggar tiap petang. Seperti halnya kemarin (25/3).

Poyang tampak enerjik, menari hingga mengajarkan musik untuk anak didiknya.

Di sisi lain, jangan dikira sanggar tari dan musik yang menjadi tempat Poyang dan anak didiknya berbentuk bangunan sanggar khusus. Yang di dinding-dinding ruangannya dipenuhi cermin itu.

Tapi, sanggar yang menjadi wadah berlatih hanyalah halaman rumah Poyang sendiri. Ruang tebuka, berada di sisi jalan lingkungan kompleks.

Tetapi, meski demikian, suasana latihan petang itu itu sungguh hidup.

Bahkan, bisa dikatakan menjadi hiburan tersendiri bagi warga sekitar di Jalan Daun Salam, Kelurahan Sungai Andai, Banjarmasin Utara.

“Kami hanya ingin menghidupkan kembali seni budaya pedalaman khas Kalimantan,” ucap Poyang, ketika diwawancarai Radar Banjarmasin.

Lelaki kelahiran 14 Juni 1993 itu mengaku lebih menyukai seni tari dan musik pedalaman sejak duduk di bangku kuliah.

Diakuinya, musik dan tarian pedalaman, seakan memiliki karakter tersendiri, bahkan melekat dengan keseharian dan kehidupan masyarakat, khususnya suku Dayak di pedalaman Kalimantan.

Ya, konsentrasi Poyang, memang ada pada musik dan kesenian khususnya tarian pedalaman Kalimantan. Lebih spesifik, seni tari dan musik yang diadopsi oleh Poyang, yang menggambarkan kawasan pinggir Sungai Barito.

“Makanya, saya mengambil nama DAS Barito,” ungkapnya.

Tak mudah membawa musik hingga tarian pedalaman Kalimantan ke kawasan perkotaan. Penuh perjuangan atau pengorbanan. Bahkan, cacian hingga hinaan.

Baca Juga :  Fashion Show Karnaval Daur Ulang Meriahkan Harjad Batola

Sebagai contoh, menurut Poyang, di Kalsel ada perbedaan yang mencolok dalam hal kostum hingga aksesori khas Suku Dayak yang kerap dikenakannya
Poyang, kerap memakai aksesori berupa bulu merak. Sedangkan suku Dayak di kawasan Pegunungan Meratus khususnya di Kalimantan Selatan, tak begitu familiar dengan hal itu.

“Saya pun kerap dikritik hingga dicaci lantaran itu. Tapi, andai kita menengok kostum khas suku Dayak di daerah lain, perbedaan aksesori adalah hal biasa,” ucapnya.

Cacian hingga makian tak mudah membuat Poyang roboh. Ia pun tergerak memulai riset. Menemui narasumber dari daerah satu hingga daerah lainnya.
Demi memantapkan keyakinannya tentang seni budaya tradisi. Khususnya di aliran Sungai Barito.

Dari riset yang dilakukannya bertahun-tahun, ia akhirnya menemui titik temu. Bahwa akar kesenian yang hingga kini dilakoni, semuanya bertemu di satu titik.

Bahwa apa yang dilakukan hingga diperkenalkannya ini adalah bagian dari budaya pedalaman Kalimantan.

“Jadi, tak ada istilah ini bukan kebudayaan atau seni tradisi. Atau ini adalah seni tradisi provinsi Kalimantan di bagian lain,” ucapnya.

“Tapi, yang saya temukan, ini merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Sama-sama seni tradisi pedalaman,” tekannya.

Sisi lain, Sanggar DAS Barito berdiri pada tahun 2015 lalu. Saat itu, Poyang mengaku, sanggarnya sudah menghimpun banyak anggota. Terdiri berbagai usia.

Secara sederhana, bila mengacu pada jenjang pendidikan, sanggarnya diisi dari kalangan pelajar SD hingga mahasiswa.

“Ada pula yang bekerja. Tapi secara umum, sanggar ini bebas dan terbuka bagi siapapun yang ingin belajar musik dan tarian pedalaman,” jelasnya.

Diungkapkan Poyang, di sanggarnya tak ada istilah biaya pendaftaran atau penarikan uang iuran. Semuanya bisa datang dan belajar tanpa harus mempersiapkan apa pun. Bahkan alat musik sekalipun.

Ya, di sanggar DAS Barito, alat musik sudah disediakan. Dari hasil ia menggelar pertunjukan secara solo di kawasan Siring Menara Pandang di Jalan Pierre Tendean.

“Penghasilan itu saya tabung dan belikan alat-alat ini,” tuturnya.

Baca Juga :  Kumpulan Seniman yang Ingin Populerkan Gamalan

Seiring waktu, keberadaan Sanggar DAS Barito kian diperhitungkan. Bahkan, tak satu atau dua kali diundang untuk mengisi berbagai pertunjukan.

“Alhamdulillah, setelah perjalanan panjang, saya rasa kami kini hanya tinggal menyemai apa yang kami tanam,” ungkapnya seraya tersenyum.

Namun, bukan berarti sanggar ini tak pernah mengalami kendala. Ketika pagebluk melanda, hampir selama itu pula Poyang menghentikan segala aktivitas sanggarnya.

Sungguh baginya, dan bagi kita semua, saat pagebluk melanda, memang menjadi masa yang sangat menyakitkan.

Padahal, sebelum corona mewabah, ia kerap diundang untuk tampil di luar negeri. Salah satunya Finlandia.

Agar dapurnya tetap mengepul, ia pun banting setir dengan berdagang makanan olahan rumahan.

“Sesuai dengan anjuran presiden, tetap berada di rumah saat COVID-19 melanda,” ucapnya lantas terkekeh.

Beruntung, ketika pandemi mulai mereda, berbagai pelonggaran diterapkan pemerintah, ia pun bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Meskipun, untuk urusan ‘konser’ alias undangan penampilan masih tergolong minim.

“Tapi setidaknya, kami jadi bisa kembali bermain sekaligu berlatih seperti biasa. Kalau saya tidak keliru, sanggar ini mulai aktif kembali, sedari tanggal 17 Februari tadi,” ucapnya.

Petang itu, matahari kian meredup. Muda-mudi yang semula bermain musik dan menari kini menghentikan aktivitasnya.

Salah seorang anak didik poyang, Rosita Sari, tampak berbenah. Membantu rekan-rekannya yang lain membereskan alat musik dan pernak-pernik lainnya.

Dituturkan Rosita, siswi SMAN 11 Banjarmasin itu, keinginananya belajar di Sanggar DAS Barito, tak lain hanya karena ketertarikannya dengan seni tradisi atau budaya pedalaman.

“Unik dan mengasyikkan,” ucapnya gadis 16 tahun itu.

Dan seperti halnya Poyang, Rosita pun mengaku tak ingin seni tradisi pedalaman seperti apa yang diajarkan gurunya itu hilang ditelan perkembangan zaman.

“Sungguh sayang bila hilang. Kita mungkin merasa asyik dengan seni tradisi budaya tradisi luar, tapi bagaimana dengan seni tradisi atau budaya yang ada di daerah kita sendiri,” tekannya.

“Saya hanya bisa berharap, akan banyak orang-orang yang menyukai dan menggeluti seni tradisi atau budaya daerah sendiri,” harapnya. (at/fud)

Pukulan gendang beradu knong, gong, dan beduk. Diselingi petikan sape juga kecapi. Muda-mudi asyik menari. Diiringi alunan musik khas pedalaman Kalimantan.

– Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Bebunyian yang keluar dari alat musik itu intonasinya cukup cepat. Susunan nada itu dikenal dengan sebutan Seluang Mudik. Konon, diambil dari perilaku ikan seluang yang berenang cepat.

Di tengah-tengah muda-mudi yang asyik memainkan alat musik dan menari, tiba-tiba saja, seorang lelaki dengan topi khas bulu Burung Haruai atau Kuau Raja atau biasa dikenal dengan Merak Kalimantan menyeruak ke tengah barisan penari.

Dengan gagah ia ikut menari. Dia adalah Poyanto, akrab disapa Poyang. Pendiri Sanggar Tari dan Musik Pedalaman Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito.
Rutinitas bermain musik daerah hingga menari, biasa dilakoni anggota sanggar tiap petang. Seperti halnya kemarin (25/3).

Poyang tampak enerjik, menari hingga mengajarkan musik untuk anak didiknya.

Di sisi lain, jangan dikira sanggar tari dan musik yang menjadi tempat Poyang dan anak didiknya berbentuk bangunan sanggar khusus. Yang di dinding-dinding ruangannya dipenuhi cermin itu.

Tapi, sanggar yang menjadi wadah berlatih hanyalah halaman rumah Poyang sendiri. Ruang tebuka, berada di sisi jalan lingkungan kompleks.

Tetapi, meski demikian, suasana latihan petang itu itu sungguh hidup.

Bahkan, bisa dikatakan menjadi hiburan tersendiri bagi warga sekitar di Jalan Daun Salam, Kelurahan Sungai Andai, Banjarmasin Utara.

“Kami hanya ingin menghidupkan kembali seni budaya pedalaman khas Kalimantan,” ucap Poyang, ketika diwawancarai Radar Banjarmasin.

Lelaki kelahiran 14 Juni 1993 itu mengaku lebih menyukai seni tari dan musik pedalaman sejak duduk di bangku kuliah.

Diakuinya, musik dan tarian pedalaman, seakan memiliki karakter tersendiri, bahkan melekat dengan keseharian dan kehidupan masyarakat, khususnya suku Dayak di pedalaman Kalimantan.

Ya, konsentrasi Poyang, memang ada pada musik dan kesenian khususnya tarian pedalaman Kalimantan. Lebih spesifik, seni tari dan musik yang diadopsi oleh Poyang, yang menggambarkan kawasan pinggir Sungai Barito.

“Makanya, saya mengambil nama DAS Barito,” ungkapnya.

Tak mudah membawa musik hingga tarian pedalaman Kalimantan ke kawasan perkotaan. Penuh perjuangan atau pengorbanan. Bahkan, cacian hingga hinaan.

Baca Juga :  Darimana Asal Mamanda?

Sebagai contoh, menurut Poyang, di Kalsel ada perbedaan yang mencolok dalam hal kostum hingga aksesori khas Suku Dayak yang kerap dikenakannya
Poyang, kerap memakai aksesori berupa bulu merak. Sedangkan suku Dayak di kawasan Pegunungan Meratus khususnya di Kalimantan Selatan, tak begitu familiar dengan hal itu.

“Saya pun kerap dikritik hingga dicaci lantaran itu. Tapi, andai kita menengok kostum khas suku Dayak di daerah lain, perbedaan aksesori adalah hal biasa,” ucapnya.

Cacian hingga makian tak mudah membuat Poyang roboh. Ia pun tergerak memulai riset. Menemui narasumber dari daerah satu hingga daerah lainnya.
Demi memantapkan keyakinannya tentang seni budaya tradisi. Khususnya di aliran Sungai Barito.

Dari riset yang dilakukannya bertahun-tahun, ia akhirnya menemui titik temu. Bahwa akar kesenian yang hingga kini dilakoni, semuanya bertemu di satu titik.

Bahwa apa yang dilakukan hingga diperkenalkannya ini adalah bagian dari budaya pedalaman Kalimantan.

“Jadi, tak ada istilah ini bukan kebudayaan atau seni tradisi. Atau ini adalah seni tradisi provinsi Kalimantan di bagian lain,” ucapnya.

“Tapi, yang saya temukan, ini merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Sama-sama seni tradisi pedalaman,” tekannya.

Sisi lain, Sanggar DAS Barito berdiri pada tahun 2015 lalu. Saat itu, Poyang mengaku, sanggarnya sudah menghimpun banyak anggota. Terdiri berbagai usia.

Secara sederhana, bila mengacu pada jenjang pendidikan, sanggarnya diisi dari kalangan pelajar SD hingga mahasiswa.

“Ada pula yang bekerja. Tapi secara umum, sanggar ini bebas dan terbuka bagi siapapun yang ingin belajar musik dan tarian pedalaman,” jelasnya.

Diungkapkan Poyang, di sanggarnya tak ada istilah biaya pendaftaran atau penarikan uang iuran. Semuanya bisa datang dan belajar tanpa harus mempersiapkan apa pun. Bahkan alat musik sekalipun.

Ya, di sanggar DAS Barito, alat musik sudah disediakan. Dari hasil ia menggelar pertunjukan secara solo di kawasan Siring Menara Pandang di Jalan Pierre Tendean.

“Penghasilan itu saya tabung dan belikan alat-alat ini,” tuturnya.

Baca Juga :  Pameran Lukisan Sepi Pembeli, Ibnu Memaklumi

Seiring waktu, keberadaan Sanggar DAS Barito kian diperhitungkan. Bahkan, tak satu atau dua kali diundang untuk mengisi berbagai pertunjukan.

“Alhamdulillah, setelah perjalanan panjang, saya rasa kami kini hanya tinggal menyemai apa yang kami tanam,” ungkapnya seraya tersenyum.

Namun, bukan berarti sanggar ini tak pernah mengalami kendala. Ketika pagebluk melanda, hampir selama itu pula Poyang menghentikan segala aktivitas sanggarnya.

Sungguh baginya, dan bagi kita semua, saat pagebluk melanda, memang menjadi masa yang sangat menyakitkan.

Padahal, sebelum corona mewabah, ia kerap diundang untuk tampil di luar negeri. Salah satunya Finlandia.

Agar dapurnya tetap mengepul, ia pun banting setir dengan berdagang makanan olahan rumahan.

“Sesuai dengan anjuran presiden, tetap berada di rumah saat COVID-19 melanda,” ucapnya lantas terkekeh.

Beruntung, ketika pandemi mulai mereda, berbagai pelonggaran diterapkan pemerintah, ia pun bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Meskipun, untuk urusan ‘konser’ alias undangan penampilan masih tergolong minim.

“Tapi setidaknya, kami jadi bisa kembali bermain sekaligu berlatih seperti biasa. Kalau saya tidak keliru, sanggar ini mulai aktif kembali, sedari tanggal 17 Februari tadi,” ucapnya.

Petang itu, matahari kian meredup. Muda-mudi yang semula bermain musik dan menari kini menghentikan aktivitasnya.

Salah seorang anak didik poyang, Rosita Sari, tampak berbenah. Membantu rekan-rekannya yang lain membereskan alat musik dan pernak-pernik lainnya.

Dituturkan Rosita, siswi SMAN 11 Banjarmasin itu, keinginananya belajar di Sanggar DAS Barito, tak lain hanya karena ketertarikannya dengan seni tradisi atau budaya pedalaman.

“Unik dan mengasyikkan,” ucapnya gadis 16 tahun itu.

Dan seperti halnya Poyang, Rosita pun mengaku tak ingin seni tradisi pedalaman seperti apa yang diajarkan gurunya itu hilang ditelan perkembangan zaman.

“Sungguh sayang bila hilang. Kita mungkin merasa asyik dengan seni tradisi budaya tradisi luar, tapi bagaimana dengan seni tradisi atau budaya yang ada di daerah kita sendiri,” tekannya.

“Saya hanya bisa berharap, akan banyak orang-orang yang menyukai dan menggeluti seni tradisi atau budaya daerah sendiri,” harapnya. (at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/