alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Kualitas Rendah, Petani Oplos Pupuk Bersubsidi

BANJARBARU – Selain pupuk non subsidi yang mahal dan langka. Pupuk bersubsidi ternyata juga dikeluhkan oleh para petani di Kalimantan Selatan.

Salah seorang petani di Desa Jelapat Baru, Kabupaten Barito Kuala, Fakhruzzaini menyebut, kualitas pupuk bersubsidi sangat rendah. Sehingga, para petani harus mengoplosnya dengan pupuk non subsidi.

Dia mengungkapkan, apabila tidak dicampur dengan pupuk non subsidi, tanaman padi mereka tidak bisa berkembang dengan baik. “Kualitas padi juga tidak bagus, kalau hanya mengandalkan pupuk bersubsidi,” ungkapnya.

Selain kualitas, Fakhruzzaini menuturkan, bulir padi juga tidak berkembang banyak apabila pupuk bersubsidi tidak dicampur dengan yang non subsidi. “Jadi kami berharap, pemerintah bisa memperbaiki kualitas pupuk bersubsidi,” tuturnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Selatan Syamsir Rahman menyampaikan, kualitas pupuk bersubsidi urusan pemerintah pusat dan pabrik penyedia. “Kami di sini tidak mengatahui kualitasnya, karena semua dari pabrik,” paparnya.

Baca Juga :  Demo Kejari, Para Petani Sampaikan Sikap Soal Kasus Tukar Guling Tanah

Menurutnya, perlu ada analisa terbaru dari pihak Kementerian Pertanian terkait kandungan pupuk bersubsidi untuk mengetahui kualitasnya. “Karena soal kandungan urusan pabrik dan pihak Kementan,” akunya.

Peminat pupuk bersubsidi sendiri ujar Syamsir masih sangat tinggi, sehingga sektor tanaman pangan banyak yang tidak kebagian. “Kalau ada pupuk bersubsidi di lapangan, stoknya akan cepat habis,” paparnya.

Tingginya peminat pupuk kimia kata dia, harus diubah ke pupuk hayati yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan pencemaran. Tapi produktivitas masih bersaing. “Karena yang kimia pupuknya tidak ada. Juga menjadi beban tanah memikul kimiawi,” ujarnya.

Ditambahkan Syamsir, kini Kementerian Pertanian mulai mengubah sebagian bantuan pupuk kimia menjadi pupuk hayati.

Pupuk kini memang menjadi masalah petani. Selain langka, Serikat Petani Indonesia (SPI) mencatat harga pupuk nonsubsidi melonjak 100 persen sejak awal 2022. Kondisi ini membuat para petani semakin sulit untuk mendapatkan pupuk.

Baca Juga :  Produksi Padi Kalsel Turun Ratusan Ribu Ton

Para petani di Desa Sungai Alang, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan misalnya, saat ini kesulitan mendapatkan pupuk untuk padi mereka.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Sungai Alang, Rawin mengatakan, sulitnya mendapatkan pupuk membuat para petani di sana memilih untuk tidak menggunakannya.

“Sudah beberapa tahun petani menanam seadanya, tanpa menggunakan pupuk. Karena mahal dan susah mencarinya,” katanya.

Karena tanpa menggunakan pupuk, dia menyampaikan, padi yang tumbuh di sawah mereka kualitasnya di bawah standar. “Bulirnya sedikit dan kecil-kecil. Sehingga produksi petani tidak maksimal,” ucapnya.

Rawin menambahkan, selain di desa mereka, petani di daerah lain juga memilih untuk tidak menggunakan pupuk. “Di daerah lain juga sama. Saya tanya teman yang di Kecamatan Gambut, juga sama. Katanya pupuk langka,” pungkasnya. (ris/by/ran)

BANJARBARU – Selain pupuk non subsidi yang mahal dan langka. Pupuk bersubsidi ternyata juga dikeluhkan oleh para petani di Kalimantan Selatan.

Salah seorang petani di Desa Jelapat Baru, Kabupaten Barito Kuala, Fakhruzzaini menyebut, kualitas pupuk bersubsidi sangat rendah. Sehingga, para petani harus mengoplosnya dengan pupuk non subsidi.

Dia mengungkapkan, apabila tidak dicampur dengan pupuk non subsidi, tanaman padi mereka tidak bisa berkembang dengan baik. “Kualitas padi juga tidak bagus, kalau hanya mengandalkan pupuk bersubsidi,” ungkapnya.

Selain kualitas, Fakhruzzaini menuturkan, bulir padi juga tidak berkembang banyak apabila pupuk bersubsidi tidak dicampur dengan yang non subsidi. “Jadi kami berharap, pemerintah bisa memperbaiki kualitas pupuk bersubsidi,” tuturnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Selatan Syamsir Rahman menyampaikan, kualitas pupuk bersubsidi urusan pemerintah pusat dan pabrik penyedia. “Kami di sini tidak mengatahui kualitasnya, karena semua dari pabrik,” paparnya.

Baca Juga :  Tanam Padi Tiga Kali Setahun

Menurutnya, perlu ada analisa terbaru dari pihak Kementerian Pertanian terkait kandungan pupuk bersubsidi untuk mengetahui kualitasnya. “Karena soal kandungan urusan pabrik dan pihak Kementan,” akunya.

Peminat pupuk bersubsidi sendiri ujar Syamsir masih sangat tinggi, sehingga sektor tanaman pangan banyak yang tidak kebagian. “Kalau ada pupuk bersubsidi di lapangan, stoknya akan cepat habis,” paparnya.

Tingginya peminat pupuk kimia kata dia, harus diubah ke pupuk hayati yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan pencemaran. Tapi produktivitas masih bersaing. “Karena yang kimia pupuknya tidak ada. Juga menjadi beban tanah memikul kimiawi,” ujarnya.

Ditambahkan Syamsir, kini Kementerian Pertanian mulai mengubah sebagian bantuan pupuk kimia menjadi pupuk hayati.

Pupuk kini memang menjadi masalah petani. Selain langka, Serikat Petani Indonesia (SPI) mencatat harga pupuk nonsubsidi melonjak 100 persen sejak awal 2022. Kondisi ini membuat para petani semakin sulit untuk mendapatkan pupuk.

Baca Juga :  Selain Sukari dan Ajwa, Kurma Anggur Paling Laku

Para petani di Desa Sungai Alang, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan misalnya, saat ini kesulitan mendapatkan pupuk untuk padi mereka.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Sungai Alang, Rawin mengatakan, sulitnya mendapatkan pupuk membuat para petani di sana memilih untuk tidak menggunakannya.

“Sudah beberapa tahun petani menanam seadanya, tanpa menggunakan pupuk. Karena mahal dan susah mencarinya,” katanya.

Karena tanpa menggunakan pupuk, dia menyampaikan, padi yang tumbuh di sawah mereka kualitasnya di bawah standar. “Bulirnya sedikit dan kecil-kecil. Sehingga produksi petani tidak maksimal,” ucapnya.

Rawin menambahkan, selain di desa mereka, petani di daerah lain juga memilih untuk tidak menggunakan pupuk. “Di daerah lain juga sama. Saya tanya teman yang di Kecamatan Gambut, juga sama. Katanya pupuk langka,” pungkasnya. (ris/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/