alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Minyak Goreng

ADAKAH hikmah dari kenaikan harga minyak goreng? Sulit menjawabnya, tapi ternyata ada. Iwan Fals akhirnya insaf. Rupanya beliau tak tahan juga.

==========================
Oleh: Muhammad Syarafuddin
Editor Hal Metropolis Radar Banjarmasin
==========================

Musikus 60 tahun itu kembali menulis lagu kritis. Judulnya ‘Minyak Goreng’.

Dirilis di YouTube 10 hari yang lewat. Jangan tunggu WiFi gratisan, putar sekarang juga!

Pertama kali mendengarnya, saya teringat karya-karya terbaik Kang Iwan dari era album ‘Belum Ada Judul’.

Sebagian pembaca mungkin kesal. Karena kolom ini masih sempat-sempatnya mencari hal baik di balik masalah minyak goreng.

Tapi, memangnya kita bisa apa? Betul, Indonesia adalah pemilik kebun sawit terbesar di dunia.

Fakta berikutnya, jangan lupa, harga CPO dunia masih dikendalikan oleh Malaysia.

Indonesia adalah produsen yang tak bisa berbuat banyak. Tampak jelas dari responsnya.

Baca Juga :  Operasi Murah Serasa Pemilu

Awalnya, pemerintah menetapkan HET (Harga Eceran Tertinggi). Kemudian mencabutnya. Mulanya menyangkal kelangkaan. Eh ternyata ada penimbunan.

Apalagi, kenaikan harga terjadi menjelang bulan Ramadan.

Perlahan, benak masyarakat digiring: lebih baik mahal ketimbang langka.

Sementara di luar sana, para ibu-ibu sedang berjuang. Mengantre jatah dua liter minyak goreng dari operasi pasar murah.

Pemandangan itu rupanya mengingatkan seorang kawan dengan Tritura 1966 dan Krismon 1998.

Ada tiga kesamaan dari dua peristiwa bersejarah ini. Pertama, diaktori mahasiswa. Kedua, dipicu kenaikan harga barang kebutuhan. Ketiga, rezim yang berkuasa terjungkal.

Kawan ini dengan menggebu-gebu meyakini, Presiden Jokowi bakal lengser gara-gara minyak goreng.
Kasihan. Dia terlalu naif. Terlampau optimis.

Mungkin ia baru mendaras ‘Catatan Seorang Demonstran’ karya Soe Hok Gie.

Baca Juga :  Politik "Membanjur" Upaya Tunda Pemilu

Saya menampiknya bukan karena tak lagi mempercayai aktivis mahasiswa. Bukan. Tapi karena zaman sudah berubah.

Dahulu, ketika kekecewaan kepada pemerintah menumpuk, saluran yang tersumbat bakal jebol ke jalan. Demo besar-besaran adalah pilihan yang tersisa.

Sekarang, sumbatan itu tak pernah benar-benar ada. Semua amarah mudah tumpah di media sosial.

Di Twitter, banyak orang kritis dengan kaliber melebihi seorang Iwan Fals sekalipun.

Intinya, harga daging sapi, gas elpiji, tahu tempe, minyak goreng dan apapun nanti silakan naik. Selama kuota internet masih terbeli, keadaan tetap aman terkendali.

Setelah menggerutu dan mengomel di medsos, dada menjadi terasa plong. Merasa sudah berbuat banyak. Dan oligarki bisa tidur dengan nyenyak. (*)

ADAKAH hikmah dari kenaikan harga minyak goreng? Sulit menjawabnya, tapi ternyata ada. Iwan Fals akhirnya insaf. Rupanya beliau tak tahan juga.

==========================
Oleh: Muhammad Syarafuddin
Editor Hal Metropolis Radar Banjarmasin
==========================

Musikus 60 tahun itu kembali menulis lagu kritis. Judulnya ‘Minyak Goreng’.

Dirilis di YouTube 10 hari yang lewat. Jangan tunggu WiFi gratisan, putar sekarang juga!

Pertama kali mendengarnya, saya teringat karya-karya terbaik Kang Iwan dari era album ‘Belum Ada Judul’.

Sebagian pembaca mungkin kesal. Karena kolom ini masih sempat-sempatnya mencari hal baik di balik masalah minyak goreng.

Tapi, memangnya kita bisa apa? Betul, Indonesia adalah pemilik kebun sawit terbesar di dunia.

Fakta berikutnya, jangan lupa, harga CPO dunia masih dikendalikan oleh Malaysia.

Indonesia adalah produsen yang tak bisa berbuat banyak. Tampak jelas dari responsnya.

Baca Juga :  Buru Minyak Curah, Warga Ramai Kumpulkan Jeriken

Awalnya, pemerintah menetapkan HET (Harga Eceran Tertinggi). Kemudian mencabutnya. Mulanya menyangkal kelangkaan. Eh ternyata ada penimbunan.

Apalagi, kenaikan harga terjadi menjelang bulan Ramadan.

Perlahan, benak masyarakat digiring: lebih baik mahal ketimbang langka.

Sementara di luar sana, para ibu-ibu sedang berjuang. Mengantre jatah dua liter minyak goreng dari operasi pasar murah.

Pemandangan itu rupanya mengingatkan seorang kawan dengan Tritura 1966 dan Krismon 1998.

Ada tiga kesamaan dari dua peristiwa bersejarah ini. Pertama, diaktori mahasiswa. Kedua, dipicu kenaikan harga barang kebutuhan. Ketiga, rezim yang berkuasa terjungkal.

Kawan ini dengan menggebu-gebu meyakini, Presiden Jokowi bakal lengser gara-gara minyak goreng.
Kasihan. Dia terlalu naif. Terlampau optimis.

Mungkin ia baru mendaras ‘Catatan Seorang Demonstran’ karya Soe Hok Gie.

Baca Juga :  Minyak Goreng: Yang Mahal Saja Langka, Cara Memasak Harus Diubah

Saya menampiknya bukan karena tak lagi mempercayai aktivis mahasiswa. Bukan. Tapi karena zaman sudah berubah.

Dahulu, ketika kekecewaan kepada pemerintah menumpuk, saluran yang tersumbat bakal jebol ke jalan. Demo besar-besaran adalah pilihan yang tersisa.

Sekarang, sumbatan itu tak pernah benar-benar ada. Semua amarah mudah tumpah di media sosial.

Di Twitter, banyak orang kritis dengan kaliber melebihi seorang Iwan Fals sekalipun.

Intinya, harga daging sapi, gas elpiji, tahu tempe, minyak goreng dan apapun nanti silakan naik. Selama kuota internet masih terbeli, keadaan tetap aman terkendali.

Setelah menggerutu dan mengomel di medsos, dada menjadi terasa plong. Merasa sudah berbuat banyak. Dan oligarki bisa tidur dengan nyenyak. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

Madam dan Mudik

Majas, Bukan Poster Seksis

Politisi dan Air Mata Tak Terbukti

Organisasi Kepemudaan

/