alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Sunday, 29 May 2022

Sebelum Berpulang, H Abidin Sempat Telpon Rudy Ariffin Tanya Kabar

BANJARMASIN – Sejak siang hingga sore hari, pelayat datang silih berganti ke rumah duka almarhum H Abidin di Jalan Pemurus Luar, Banjarmasin, kemarin. Salah satu pelayat yang datang adalah Rudy Ariffin, mantan Gubernur Kalsel.

Sebelum almarhum meninggal kemarin, sekitar pukul 12.30 Wita di RSUD Ulin Banjarmasin, Rudy bercerita, dia belum lama tadi ditelpon oleh almarhum. “Dia mengaku keganangan (rindu) saat itu,” tutur Rudy kemarin.

Rudy tak menyangka, komunikasi itu ternyata yang terakhir dengan almarhum. Dikatakannya, saat itu tak ada tanda-tanda bahwa almarhum sedang sakit. Berbicaranya pun seperti biasa. “Beliau menanyakan kabar saya juga,” katanya.

Bagi Rudy, almarhum tak hanya seorang politikus dan pengusaha, namun sosok yang sangat ramah dan memiliki kepedulian tinggi kepada masyarakat. Khususnya para petani. “Almarhum yang menelpon saya, selain bertanya kabar juga banyak cerita-cerita dan bercanda,” terangnya.

H Abidin diketahui sudah lama mengalami keluhan dengan ginjalnya. Bahkan, hampir empat bulan dia harus berada di Jakarta untuk perawatan dan cuci darah.

Wakil Ketua DPD Gerindra Kalsel, Mariatul Kiptiah mengatakan beliau harusnya masih dirawat di sana. Namun, seiring kondisinya mulai membaik dan karena urusan partai, H Abidin pulang ke Kalsel. “Saat itu pada 6 Februari akan dilaksanakan ulang tahun partai, sehari sebelum acara almarhum pulang dari Jakarta,” terang Atul.

Setelah itu, kurang lebih dua pekan almarhum masuk rumah sakit di RSUD Ulin. Perawatan yang sama ketika di Jakarta lalu. “Sekitar satu minggu setelah pulang, beliau dirawat di RSUD Ulin, dan siang ini (kemarin), beliau meninggal dunia,” ucapnya.

Baca Juga :  H Abidin Tutup Usia

Menyebut nama Abidin, tak bisa dilepaskan dari panasnya konstelasi politik pada Pilgub lalu. Menjadi Ketua DPD Gerindra Kalsel yang saat itu memiliki 8 kursi di DPRD Kalsel, pria kelahiran Satui, 69 tahun lalu itu adalah salah satu sosok yang menjadi rebutan untuk menentukan arah dukungan.

Dua kandidat yang bertarung pada Pilgub lalu, secara bergantian mendatangi beliau. Untuk melamar sebagai calon kepala daerah yang diusung oleh Gerindra. Banyaknya memiliki kursi di DPRD Kalsel, tentu saja Gerindra diperebutkan. Hingga pada akhirnya, partai ini menjatuhkan pilihan mengusung Denny-Indrayana-Difriadi.

Kepala Desa Paling Lama

H Abidin meniti perjalanan hidup sebagai pengusaha dan politisi dari bawah. Dia pernah menjadi petani kelapa hingga ABK (Anak Buah Kapal). Namun pekerjaan yang paling dikenal orang dari Abidin adalah kepala desa.

H Abidin menjadi kepala desa Satui Barat, Kabupaten Tanah Bumbu cukup lama, yakni 31 tahun — dilantik pada 1980 dan baru berakhir pada 2011. Ia akhirnya berhenti karena mengundurkan diri.

Pengunduran diri Abidin memiliki cerita tersendiri. Sebagaimana dilansir dari Majalah Gema Indonesia Raya, pada suatu hari ada acara penyerahan bantuan bagi anak yatim piatu yang dihadiri oleh bupati Tanah Bumbu. H Abidin datang agak telat.

Saat masuk, dia disalami oleh banyak orang dengan beragam sebutan: Pak Bupati memanggilnya “ayah”, kepala desa lain ada yang memanggil “kakek” dan juga “kai”. Abidin kemudian merenung, jangan-jangan dia merasa serakah dengan menjadi kepala desa hingga tiga dekade. Sebab, dilihatnya para kepala desa lain masih muda-muda.

Baca Juga :  Muhammad Nur Susul Sang Ayah

Didorong oleh perasaan tak ingin lama berkuasa, sepulang dari acara penyerahan bantuan, malam itu juga Abidin membuat surat pengunduran diri sebagai kepala desa. Besoknya surat disampaikan ke bupati melalui sekretaris bupati. Tak lama kemudian sang bupati pun meneleponnya. “Pak Abidin boleh mundur dari kepala desa, tapi bantuannya tidak boleh mundur, “ kata sang bupati seperti ditirukan Abidin.

Almarhum rencananya setelah disemayamkan kemarin, hari ini akan dikembumikan di Kabupaten Tanah Bumbu. “Akan dikebumikan sebelum Salat Zuhur besok (hari ini) di Tanah Bumbu,” ujar Atul.

Sekda Banjarmasin pun Mengenang H Abidin

Dari Pemko Banjarmasin, Sekdako Banjarmasin, Ikhsan Budiman mengucapkan bela sungkawa.

Sebagai mantan staf ahli Bupati Tanah Bumbu, Ikhsan cukup mengenal almarhum.

“Saya sudah lama mengenal beliau, sejak saya masih ASN di pemkab,” ujarnya di Balai Kota. “Bagi masyarakat di sana, beliau terkenal dermawan,” sambungnya.

“Pertama kali bertemu, beliau masih menjabat Kepala Desa Satui Barat,” tuturnya.

“Selama dipimpinnya, desa di Kecamatan Satui itu berkembang pesat. Tak ada warga yang menganggur. Semua dipekerjakan menjadi karyawan di perusahaan milik almarhum,” ceritanya.

Pertemuan berikutnya terjadi dalam rapat kerja Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) yang digelar di Batulicin. H Abidin memang sempat menjabat sebagai Ketua ORARI pusat.

“Mewakili Pemko Banjarmasin, kami turut berduka yang sedalam-dalamnya,” tutup Ikhsan. (mof/war/at/fud)

BANJARMASIN – Sejak siang hingga sore hari, pelayat datang silih berganti ke rumah duka almarhum H Abidin di Jalan Pemurus Luar, Banjarmasin, kemarin. Salah satu pelayat yang datang adalah Rudy Ariffin, mantan Gubernur Kalsel.

Sebelum almarhum meninggal kemarin, sekitar pukul 12.30 Wita di RSUD Ulin Banjarmasin, Rudy bercerita, dia belum lama tadi ditelpon oleh almarhum. “Dia mengaku keganangan (rindu) saat itu,” tutur Rudy kemarin.

Rudy tak menyangka, komunikasi itu ternyata yang terakhir dengan almarhum. Dikatakannya, saat itu tak ada tanda-tanda bahwa almarhum sedang sakit. Berbicaranya pun seperti biasa. “Beliau menanyakan kabar saya juga,” katanya.

Bagi Rudy, almarhum tak hanya seorang politikus dan pengusaha, namun sosok yang sangat ramah dan memiliki kepedulian tinggi kepada masyarakat. Khususnya para petani. “Almarhum yang menelpon saya, selain bertanya kabar juga banyak cerita-cerita dan bercanda,” terangnya.

H Abidin diketahui sudah lama mengalami keluhan dengan ginjalnya. Bahkan, hampir empat bulan dia harus berada di Jakarta untuk perawatan dan cuci darah.

Wakil Ketua DPD Gerindra Kalsel, Mariatul Kiptiah mengatakan beliau harusnya masih dirawat di sana. Namun, seiring kondisinya mulai membaik dan karena urusan partai, H Abidin pulang ke Kalsel. “Saat itu pada 6 Februari akan dilaksanakan ulang tahun partai, sehari sebelum acara almarhum pulang dari Jakarta,” terang Atul.

Setelah itu, kurang lebih dua pekan almarhum masuk rumah sakit di RSUD Ulin. Perawatan yang sama ketika di Jakarta lalu. “Sekitar satu minggu setelah pulang, beliau dirawat di RSUD Ulin, dan siang ini (kemarin), beliau meninggal dunia,” ucapnya.

Baca Juga :  Mantan Gubernur Kalsel M Said Meninggal Dunia

Menyebut nama Abidin, tak bisa dilepaskan dari panasnya konstelasi politik pada Pilgub lalu. Menjadi Ketua DPD Gerindra Kalsel yang saat itu memiliki 8 kursi di DPRD Kalsel, pria kelahiran Satui, 69 tahun lalu itu adalah salah satu sosok yang menjadi rebutan untuk menentukan arah dukungan.

Dua kandidat yang bertarung pada Pilgub lalu, secara bergantian mendatangi beliau. Untuk melamar sebagai calon kepala daerah yang diusung oleh Gerindra. Banyaknya memiliki kursi di DPRD Kalsel, tentu saja Gerindra diperebutkan. Hingga pada akhirnya, partai ini menjatuhkan pilihan mengusung Denny-Indrayana-Difriadi.

Kepala Desa Paling Lama

H Abidin meniti perjalanan hidup sebagai pengusaha dan politisi dari bawah. Dia pernah menjadi petani kelapa hingga ABK (Anak Buah Kapal). Namun pekerjaan yang paling dikenal orang dari Abidin adalah kepala desa.

H Abidin menjadi kepala desa Satui Barat, Kabupaten Tanah Bumbu cukup lama, yakni 31 tahun — dilantik pada 1980 dan baru berakhir pada 2011. Ia akhirnya berhenti karena mengundurkan diri.

Pengunduran diri Abidin memiliki cerita tersendiri. Sebagaimana dilansir dari Majalah Gema Indonesia Raya, pada suatu hari ada acara penyerahan bantuan bagi anak yatim piatu yang dihadiri oleh bupati Tanah Bumbu. H Abidin datang agak telat.

Saat masuk, dia disalami oleh banyak orang dengan beragam sebutan: Pak Bupati memanggilnya “ayah”, kepala desa lain ada yang memanggil “kakek” dan juga “kai”. Abidin kemudian merenung, jangan-jangan dia merasa serakah dengan menjadi kepala desa hingga tiga dekade. Sebab, dilihatnya para kepala desa lain masih muda-muda.

Baca Juga :  Dikenal Sebagai Legislator yang Humoris

Didorong oleh perasaan tak ingin lama berkuasa, sepulang dari acara penyerahan bantuan, malam itu juga Abidin membuat surat pengunduran diri sebagai kepala desa. Besoknya surat disampaikan ke bupati melalui sekretaris bupati. Tak lama kemudian sang bupati pun meneleponnya. “Pak Abidin boleh mundur dari kepala desa, tapi bantuannya tidak boleh mundur, “ kata sang bupati seperti ditirukan Abidin.

Almarhum rencananya setelah disemayamkan kemarin, hari ini akan dikembumikan di Kabupaten Tanah Bumbu. “Akan dikebumikan sebelum Salat Zuhur besok (hari ini) di Tanah Bumbu,” ujar Atul.

Sekda Banjarmasin pun Mengenang H Abidin

Dari Pemko Banjarmasin, Sekdako Banjarmasin, Ikhsan Budiman mengucapkan bela sungkawa.

Sebagai mantan staf ahli Bupati Tanah Bumbu, Ikhsan cukup mengenal almarhum.

“Saya sudah lama mengenal beliau, sejak saya masih ASN di pemkab,” ujarnya di Balai Kota. “Bagi masyarakat di sana, beliau terkenal dermawan,” sambungnya.

“Pertama kali bertemu, beliau masih menjabat Kepala Desa Satui Barat,” tuturnya.

“Selama dipimpinnya, desa di Kecamatan Satui itu berkembang pesat. Tak ada warga yang menganggur. Semua dipekerjakan menjadi karyawan di perusahaan milik almarhum,” ceritanya.

Pertemuan berikutnya terjadi dalam rapat kerja Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) yang digelar di Batulicin. H Abidin memang sempat menjabat sebagai Ketua ORARI pusat.

“Mewakili Pemko Banjarmasin, kami turut berduka yang sedalam-dalamnya,” tutup Ikhsan. (mof/war/at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/