alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Minyak Goreng Langka: Dilarang Dijual Bundling, Operasi Pasar Bukan Solusi

BANJARMASIN – Minyak goreng dengan HET (Harga Eceran Tertinggi) masih langka di Kota Banjarmasin.

Warga Jalan Tembus Mantuil, Ropiah mengaku harus mengeluarkan Rp38 ribu untuk dua liter minyak goreng kemasan. Atau Rp19 ribu per liter. Padahal, HET yang ditetapkan pemerintah hanya Rp14 ribu per liter.
Selain mahal, dia mengatakan masih sulit mencari minyak goreng di pasaran.

Ropiah bahkan sampai terpaksa mengubah cara memasaknya. Karena dapurnya sempat kehabisan minyak goreng, ia memasak dengan teknik mengukus.

“Sekitar lima hari kehabisan minyak goreng. Akhirnya, tak ada pilihan selain mengukus makanan,” kisahnya.

Bekerja sama dengan distributor, sudah belasan kali Dinas Perdagangan dan Perindustrian menggelar operasi pasar.

Seperti kemarin (15/3), operasi pasar digelar di halaman kantor Disperdagin di Simpang Tangga, Banjarmasin Utara.

Ropiah salah seorang warga yang mengantre untuk membeli minyak goreng di sana. Ketika gilirannya tiba, wajahnya berubah semringah.

“Dua liter dapat Rp27 ribu. Semoga lebih sering, diadakan sampai ke daerah pelosok,” harapnya.

Kepala Disperdagin Banjarmasin, Ichrom M Tezar menyebutkan, ini operasi pasar yang ke-18 kali.

Kali ini disediakan 3.204 liter dengan harga per liter Rp13.500. Selain minyak goreng, juga ada gula pasir sebanyak satu ton. Per kilogram dijual Rp12.800.

Baca Juga :  Mendekati Ramadhan, Harga Sembako Merangkak Naik

Diakuinya, operasi pasar hanya solusi jangka pendek. Sedangkan untuk jangka panjang merupakan ranah pemerintah pusat.

“Sempat ada subsidi, tapi kemudian dihilangkan. Diganti dengan alokasi 30 persen dari total ekspor,” jelas Tezar.

“Mulanya hanya 20 persen, tapi kemudian ditambah. Alokasi 30 persen itulah yang disalurkan ke daerah-daerah,” lanjutnya.

Namun, Tezar tak menampik, minyak goreng murah masih saja langka. Dia juga mengakui, masih saja ada pedagang yang menjual melebihi HET.

“Kisarannya Rp16 ribu hingga Rp18 ribu per liter. Semestinya untuk minyak curah hanya Rp11.500 per liter. Lalu kemasan sederhana Rp13.500 per liter dan kemasan premium Rp14.000 per liter,” sebutnya.

Dia juga mengingatkan tentang penjualan minyak goreng dengan sistem bundling (paketan). Dijual dengan bahan pokok lainnya. Karena bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

“Kami temukan di Pasar Cemara dan Pasar Kesatriaan. Sudah dilaporkan ke Pemprov Kalsel,” jelasnya.

“Jadi kami menunggu arahan. Kalau harus ditegur, ya ditegur. Jika sanksinya lebih dari itu, akan kami lakukan,” tegasnya.

Operasi Pasar Bukan Solusi

KETUA Yayasan Konsumen (YLK) Kalsel, Ahmad Murjani memandang operasi pasar murah bukan solusi. Malah, berisiko menghamburkan uang daerah.

Baca Juga :  Pemko Banjarmasin Bakal Awasi Minyak Curah

Dia menyarankan, sebaiknya pemda fokus pada pengawasan distribusi level provinsi. “Kalau perlu bentuk satgas minyak goreng,” ujarnya.

Murjani mengacu pada kasus penimbunan yang dibongkar Polda Kalsel. Tapi ia sangsi penimbun bakal jera. Mengingat permintaan minyak goreng di pasaran masih tinggi.

“Setelah terbongkar, masyarakat berharap bisa mudah mendapatkan minyak goreng. Ternyata tetap saja susah,” tambahnya.

Bahkan, di ritel-ritel sama saja. Kerap kosong karena ludes diserbu pembeli.

“Sebentar lagi memasuki bulan puasa, lalu lebaran. Kasihan masyarakat,” ujarnya.

Pantauan Radar Banjarmasin, ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil masih kesulitan mendapatkan minyak goreng sesuai HET.

“Saya dapatnya Rp19 ribu per liter. Mencarinya juga susah,” keluh Diah, kemarin.

Warga Jalan Sutoyo S ini mengaku rutin bolak-balik ke ritel. Tapi kerap kosong. “Makanya mulai rajin mencari info-info di mana ada operasi pasar,” ceritanya.

Sama saja dengan Lia. Warga Sungai Andai ini mengatakan, tak ada pedagang eceran yang mematuhi HET ketetapan pemerintah.

“Saya dapat Rp17 ribu per liter. Sama saja, tidak sesuai HET,” cecarnya.

Salah seorang pedagang di Pasar Lama, Banjarmasin Tengah yang enggan menyebutkan namanya, mengaku kesulitan mengikuti HET.

“Saya dapatnya sudah mahal. Jadi untungnya juga dapat sedikit,” akunya. (war/gmp/at/fud)

BANJARMASIN – Minyak goreng dengan HET (Harga Eceran Tertinggi) masih langka di Kota Banjarmasin.

Warga Jalan Tembus Mantuil, Ropiah mengaku harus mengeluarkan Rp38 ribu untuk dua liter minyak goreng kemasan. Atau Rp19 ribu per liter. Padahal, HET yang ditetapkan pemerintah hanya Rp14 ribu per liter.
Selain mahal, dia mengatakan masih sulit mencari minyak goreng di pasaran.

Ropiah bahkan sampai terpaksa mengubah cara memasaknya. Karena dapurnya sempat kehabisan minyak goreng, ia memasak dengan teknik mengukus.

“Sekitar lima hari kehabisan minyak goreng. Akhirnya, tak ada pilihan selain mengukus makanan,” kisahnya.

Bekerja sama dengan distributor, sudah belasan kali Dinas Perdagangan dan Perindustrian menggelar operasi pasar.

Seperti kemarin (15/3), operasi pasar digelar di halaman kantor Disperdagin di Simpang Tangga, Banjarmasin Utara.

Ropiah salah seorang warga yang mengantre untuk membeli minyak goreng di sana. Ketika gilirannya tiba, wajahnya berubah semringah.

“Dua liter dapat Rp27 ribu. Semoga lebih sering, diadakan sampai ke daerah pelosok,” harapnya.

Kepala Disperdagin Banjarmasin, Ichrom M Tezar menyebutkan, ini operasi pasar yang ke-18 kali.

Kali ini disediakan 3.204 liter dengan harga per liter Rp13.500. Selain minyak goreng, juga ada gula pasir sebanyak satu ton. Per kilogram dijual Rp12.800.

Baca Juga :  Pemko Banjarmasin Bakal Awasi Minyak Curah

Diakuinya, operasi pasar hanya solusi jangka pendek. Sedangkan untuk jangka panjang merupakan ranah pemerintah pusat.

“Sempat ada subsidi, tapi kemudian dihilangkan. Diganti dengan alokasi 30 persen dari total ekspor,” jelas Tezar.

“Mulanya hanya 20 persen, tapi kemudian ditambah. Alokasi 30 persen itulah yang disalurkan ke daerah-daerah,” lanjutnya.

Namun, Tezar tak menampik, minyak goreng murah masih saja langka. Dia juga mengakui, masih saja ada pedagang yang menjual melebihi HET.

“Kisarannya Rp16 ribu hingga Rp18 ribu per liter. Semestinya untuk minyak curah hanya Rp11.500 per liter. Lalu kemasan sederhana Rp13.500 per liter dan kemasan premium Rp14.000 per liter,” sebutnya.

Dia juga mengingatkan tentang penjualan minyak goreng dengan sistem bundling (paketan). Dijual dengan bahan pokok lainnya. Karena bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

“Kami temukan di Pasar Cemara dan Pasar Kesatriaan. Sudah dilaporkan ke Pemprov Kalsel,” jelasnya.

“Jadi kami menunggu arahan. Kalau harus ditegur, ya ditegur. Jika sanksinya lebih dari itu, akan kami lakukan,” tegasnya.

Operasi Pasar Bukan Solusi

KETUA Yayasan Konsumen (YLK) Kalsel, Ahmad Murjani memandang operasi pasar murah bukan solusi. Malah, berisiko menghamburkan uang daerah.

Baca Juga :  Harga Naik, tapi Tak Perlu Mogok

Dia menyarankan, sebaiknya pemda fokus pada pengawasan distribusi level provinsi. “Kalau perlu bentuk satgas minyak goreng,” ujarnya.

Murjani mengacu pada kasus penimbunan yang dibongkar Polda Kalsel. Tapi ia sangsi penimbun bakal jera. Mengingat permintaan minyak goreng di pasaran masih tinggi.

“Setelah terbongkar, masyarakat berharap bisa mudah mendapatkan minyak goreng. Ternyata tetap saja susah,” tambahnya.

Bahkan, di ritel-ritel sama saja. Kerap kosong karena ludes diserbu pembeli.

“Sebentar lagi memasuki bulan puasa, lalu lebaran. Kasihan masyarakat,” ujarnya.

Pantauan Radar Banjarmasin, ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil masih kesulitan mendapatkan minyak goreng sesuai HET.

“Saya dapatnya Rp19 ribu per liter. Mencarinya juga susah,” keluh Diah, kemarin.

Warga Jalan Sutoyo S ini mengaku rutin bolak-balik ke ritel. Tapi kerap kosong. “Makanya mulai rajin mencari info-info di mana ada operasi pasar,” ceritanya.

Sama saja dengan Lia. Warga Sungai Andai ini mengatakan, tak ada pedagang eceran yang mematuhi HET ketetapan pemerintah.

“Saya dapat Rp17 ribu per liter. Sama saja, tidak sesuai HET,” cecarnya.

Salah seorang pedagang di Pasar Lama, Banjarmasin Tengah yang enggan menyebutkan namanya, mengaku kesulitan mengikuti HET.

“Saya dapatnya sudah mahal. Jadi untungnya juga dapat sedikit,” akunya. (war/gmp/at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/