alexametrics
31.1 C
Banjarmasin
Friday, 20 May 2022

Status Pandemi di Banjarbaru, Sudah Memungkinkankah jadi Endemi?

BANJARBARU – Belakangan ini, pemerintah pusat mulai melempar isu potensi turunnya status pandemi Covid-19 ke endemi. Sejumlah kajian dan skenario disebut sedang disusun.

Bahkan, sejumlah daerah mulai menyiapkan persiapan peralihan status ini. Sebut saja Depok, yang tak lama tadi menyatakan kesiapan dan mendorong pemerintah untuk masuk ke fase endemi.

Meski belum ada kepastian kapan penurunan kasta ini diketok. Namun, banyak pihak yang memprediksi bahwa dalam waktu dekat ada potensi besar status pandemi dicabut. Terlebih angka kasus penularan kian melandai.

Di Kota Banjarbaru, kasus juga mulai terpantau menjinak. Angka kematian tak lagi meneror tajam. Bahkan sepanjang tahun 2022 ini, angka Case Fatality Rate di Banjarbaru di bawah satu persen. Berbeda jauh dengan tahun 2021 ke bawah yang persentasenya masih di 3-4 persen.

Epidemiolog yang juga Koordinator Tim Surveilans Epidemiologi Penanggulangan Wabah Corona Virus Disease Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Edi Sampana menilai bahwasanya kondisi pagebluk di Banjarbaru sudah memungkinkan jika ingin diturunkan statusnya.

“Memungkinkan, karena dilihat dari beberapa aspek memang nada penurunan. Namun kembali lagi, yang bisa mencabut status itu bukan daerah, tetapi pemerintah pusat. Jadi kita harus mengikuti keputusannya apa nanti,” katanya.

Baca Juga :  Cegah Kerumunan, Banjarmasin akan Gencarkan Patroli Akhir Pekan

Edi sendiri memprediksi ada potensi besar pemerintah pusat mencabut status pandemi. Ia pun menganalisa kemungkinan di bulan April mendatang. Akan tetapi, menurutnya pandemi sebetulnya ditetapkan oleh WHO yang merupakan organisasi kesehatan dunia.

“Nah tinggal kita lihat apakah pemerintah pusat akan mencabutnya, karena dari awal penetapan pandemi kan dari WHO. Artinya wabahnya sudah lintas negara. Kalau saya lihat kemungkinannya yang dicabut pemerintah adalah status epideminya untuk skala nasional,” analisanya.

Daerah dalam hal ini Pemko Banjarbaru ujar Edi tak bisa ujug-ujug mendeklarasikan statusnya endemi. Sebab, berubahnya status wabah ini katanya juga akan ada konsekuensi yang besar. Tak sekadar ditiadakannya pembatasan kegiatan ataupun tak wajib masker lagi.

Diurai Edi, bahwa apabila status pandemi jadi endemi, maka penyakit atau wabah itu telah dianggap kejadian biasa. Artinya levelnya bukan kejadian luar biasa seperti sekarang ini.

“Jika itu sudah dianggap endemi maka tes-tes yang selama ini ditanggung pemerintah sudah tak berlaku lagi. Begitupun juga semisal ada pengobatan atau bahkan BPJS, bisa saja itu tak ditanggung lagi,” paparnya.

Baca Juga :  Gara-Gara Omicron, Razia Prokes Bisa Digencarkan Lagi di Banjarmasin

Hal di atas ujar Edi sebetulnya bisa saja tertanggulangi. Lantaran, tingkat penularan atau kefatalan penyakitnya sudah menurun. Yang mana kondisi ini dipastikannya karena antibodi masyarakat yang sudah terbentuk dan dapat mencegah kejadian luar biasa.

“Sekarang cakupan vaksinasi kita sudah di atas 80 persen. Jadi antibodi spesifik bisa dikatakan sudah terbentuk. Tentu hal ini juga jadi indikator bisa turun ke endemi. Karena memang dari data kita, pasien yang wafat atau terkonfirmasi positif itu sebagian besar yang belum pernah divaksin,” katanya.

Di samping itu, jikalau nanti akan diputuskan menjadi endemi. Edi memaparkan bahwa tak ujug-ujug penggunaan masker boleh ditanggalkan. Endemi kata Edi tetap tak merubah sifat wabah yang menular melalui droplet.

“Hanya saja mungkin nanti pembatasan tak lagi diberlakukan. Namun karena endemi ini terjadi terus menerus di waktu tertentu, masker itu saya kira tetap penting khususnya yang bergejala,” tuntasnya. (rvn/ij/bin)

BANJARBARU – Belakangan ini, pemerintah pusat mulai melempar isu potensi turunnya status pandemi Covid-19 ke endemi. Sejumlah kajian dan skenario disebut sedang disusun.

Bahkan, sejumlah daerah mulai menyiapkan persiapan peralihan status ini. Sebut saja Depok, yang tak lama tadi menyatakan kesiapan dan mendorong pemerintah untuk masuk ke fase endemi.

Meski belum ada kepastian kapan penurunan kasta ini diketok. Namun, banyak pihak yang memprediksi bahwa dalam waktu dekat ada potensi besar status pandemi dicabut. Terlebih angka kasus penularan kian melandai.

Di Kota Banjarbaru, kasus juga mulai terpantau menjinak. Angka kematian tak lagi meneror tajam. Bahkan sepanjang tahun 2022 ini, angka Case Fatality Rate di Banjarbaru di bawah satu persen. Berbeda jauh dengan tahun 2021 ke bawah yang persentasenya masih di 3-4 persen.

Epidemiolog yang juga Koordinator Tim Surveilans Epidemiologi Penanggulangan Wabah Corona Virus Disease Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Edi Sampana menilai bahwasanya kondisi pagebluk di Banjarbaru sudah memungkinkan jika ingin diturunkan statusnya.

“Memungkinkan, karena dilihat dari beberapa aspek memang nada penurunan. Namun kembali lagi, yang bisa mencabut status itu bukan daerah, tetapi pemerintah pusat. Jadi kita harus mengikuti keputusannya apa nanti,” katanya.

Baca Juga :  RS Datu Sanggul: Pasien Covid-19 Hampir Semua Belum Vaksin

Edi sendiri memprediksi ada potensi besar pemerintah pusat mencabut status pandemi. Ia pun menganalisa kemungkinan di bulan April mendatang. Akan tetapi, menurutnya pandemi sebetulnya ditetapkan oleh WHO yang merupakan organisasi kesehatan dunia.

“Nah tinggal kita lihat apakah pemerintah pusat akan mencabutnya, karena dari awal penetapan pandemi kan dari WHO. Artinya wabahnya sudah lintas negara. Kalau saya lihat kemungkinannya yang dicabut pemerintah adalah status epideminya untuk skala nasional,” analisanya.

Daerah dalam hal ini Pemko Banjarbaru ujar Edi tak bisa ujug-ujug mendeklarasikan statusnya endemi. Sebab, berubahnya status wabah ini katanya juga akan ada konsekuensi yang besar. Tak sekadar ditiadakannya pembatasan kegiatan ataupun tak wajib masker lagi.

Diurai Edi, bahwa apabila status pandemi jadi endemi, maka penyakit atau wabah itu telah dianggap kejadian biasa. Artinya levelnya bukan kejadian luar biasa seperti sekarang ini.

“Jika itu sudah dianggap endemi maka tes-tes yang selama ini ditanggung pemerintah sudah tak berlaku lagi. Begitupun juga semisal ada pengobatan atau bahkan BPJS, bisa saja itu tak ditanggung lagi,” paparnya.

Baca Juga :  Ancaman Omicron di Lapas Banjarbaru, Titipan Makanan Ikut Dibatasi

Hal di atas ujar Edi sebetulnya bisa saja tertanggulangi. Lantaran, tingkat penularan atau kefatalan penyakitnya sudah menurun. Yang mana kondisi ini dipastikannya karena antibodi masyarakat yang sudah terbentuk dan dapat mencegah kejadian luar biasa.

“Sekarang cakupan vaksinasi kita sudah di atas 80 persen. Jadi antibodi spesifik bisa dikatakan sudah terbentuk. Tentu hal ini juga jadi indikator bisa turun ke endemi. Karena memang dari data kita, pasien yang wafat atau terkonfirmasi positif itu sebagian besar yang belum pernah divaksin,” katanya.

Di samping itu, jikalau nanti akan diputuskan menjadi endemi. Edi memaparkan bahwa tak ujug-ujug penggunaan masker boleh ditanggalkan. Endemi kata Edi tetap tak merubah sifat wabah yang menular melalui droplet.

“Hanya saja mungkin nanti pembatasan tak lagi diberlakukan. Namun karena endemi ini terjadi terus menerus di waktu tertentu, masker itu saya kira tetap penting khususnya yang bergejala,” tuntasnya. (rvn/ij/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/