alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Saturday, 21 May 2022

Tahulah Pian?

Taman Kamboja Dulunya Kuburan Belanda

Warga Banjarmasin tentu tidak asing dengan Taman Kamboja. Lokasinya di Jalan H Anang Adenansi, Kelurahan Kertak Baru Ulu, Banjarmasin Tengah. Sebelum Pemko Banjarmasin menyulap menjadi ruang terbuka hijau (RTH), dulunya kawasan tersebut merupakan kompleks pekuburan zaman Belanda.

Akademisi Sejarah Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur, mengungkapkan, Taman Kamboja pada masa Hindia Belanda adalah kompleks Pekuburan bernama Nieuw Kerkhof (pekuburan Baru). Jalan di depan Kompleks Pekuburan ini bernama Kerkhofflaan, sebelum berubah menjadi Jalan Kamboja tahun 1950 an.

“Dalam perkembangannya jalan sekitar pekuburan ini menjadi jalan Anang Adenansi. Diiringi status pekuburan ini yang menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH),” katanya.

Sebelumnya dipindah, Belanda punya pekuburan lama, letaknya di belakang Benteng Tatas yang sekarang berdiri Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Karena penjajah ingin memperluas benteng, maka kuburan dipindahkan ke Jalan Kamboja. Bukan hanya dijadikan sebagai pekuburan, di kawasan tersebut didirikan bangunan untuk tempat tinggal serdadu.

Dikatakan, makam-makam di kompleks Pekuburan bernama Nieuw Kerkhof umumnya dibuat dalam bentuk artistik seperti tugu kecil serta dilengkapi dengan prasasti terbuat dari batu marmer. Seiring pergantian masa penjajahan kawasan itu tidak lagi menjadi zona terlarang bagi masyarakat umum.

“Pada masa penjajahan Jepang, Nieuw Kerkhof (Pekuburan Kamboja) tak lagi jadi zona terlarang. Malah, di kawasan pemakaman yang dulu dianggap angker, sudah terdapat pemukiman penduduk. Kebanyakan berasal dari para pendatang,” jelasnya.

Dalam perkembangannya, warga pribumi dan pendatang bisa dimakamkan di Pekuburan Kamboja berdampingan dengan makam orang-orang Eropa. Saking banyaknya warga Kristen dan Katolik yang dimakamkan di Pekuburan Kamboja, akhirnya areal peristirahatan terakhir itu pun melebar hingga ke Jalan Simpang Teluk Dalam.

Baca Juga :  Mastora yang Dilupakan

Seiring pengakuan Ratu Belanda Juliana dalam sebuah sidang di Istana Amsterdam atas kemerdekaan Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949 saat penyerahan kedaulatan (soevenereiniteit soverdracht) di hadapan delegasi Republik Indonesia Serikat (RIS) pimpinan Perdana Menteri Mohammad Hatta, semua aset Belanda berpindah tangan menjadi milik Indonesia. Termasuk kompleks Pekuburan Kamboja yang luasnya 4 hektar lebih.

Setelah kemerdekaan untuk mengelola pekuburan Nasrani di pusat kota di Jalan Anang Adenansi (dulu bernama Jalan Kamboja), berdasar Staatsblad 121 tentang Ordenering, Pekuburan Kamboja diserahkan ke ahli waris warga keturunan Belanda yang ada di Kalsel.

Koridor Nieuw Kerkhof itu juga mencakup kawasan Puskesmas Cempaka, hingga ke gedung bekas Bank Panin, dan berbatasan dengan Kampung Teluk Dalam. Kawasan pekuburan itu membentang hingga lahan yang kini berdiri Masjid Al Jihad dan Pasar Teluk Dalam. “Komplek pekuburan Kamboja atau Nieuw Kerkhof 4 hektar lebih,” jelasnya.

Hingga, akhirnya 8 gereja di Banjarmasin membentuk Perkumpulan Gereja-Gereja di Banjarmasin, dari kalangan penganut Kristen Protestan dan Katolik pada 1950. Mereka sebagai pengelola (bezitter) Pekuburan Kamboja pada 1950, yang merupakan eks Nieuw Kerkhof. Agar lebih kuat, para petinggi gereja sepakat membentuk badan hukum bernama Yayasan Sejahtera Abadi pada 1985.

Dikatakan, kerkhofan tak hanya ada di Jalan Anang Adenansi, dulu juga tersebar di beberapa kabupaten/kota, namun sekarang sudah berubah. Di Kota Kandangan berubah menjadi Lapangan Tenis Tumpang Talu, Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) menjadi Terminal Barabai. Terakhir, pekuburan Belanda ada di Guntung Payung, Banjarbaru, sebelum akhirnya didirikan Asrama Haji Banjarbaru.

Baca Juga :  Ada Kompleks Makam Belanda di Kotabaru

Pembongkaran Pekuburan Kamboja itu dimulai sejak era Walikotamadya Banjarmasin Riduan Iman periode 1971-1973, dengan persyaratan pemakaman baru bagi warga Nasrani itu harus berada tidak boleh lebih dari 30 kilometer dari Kota Banjarmasin.

Namun realisasi pembongkaran dan pemindahan di era Walikota Madya Sadjoko 1989-1999. Sempat ada penolakan, tapi pekuburan lawas yang ‘dihuni’ jasad berbagai etnis, baik keturunan Eropa seperti Belanda, Amerika Serikat, serta penduduk lokal berhasil digusur.

“Penolakan dimotori delapan gereja seperti Gereja Maranatha, Gereja Epphata, HKBP dan Gereja Katedral Banjarmasin yang membentuk Yayasan Sejahtera Abdi,” jelasnya.

November 1993, selama jangka waktu dua pekan, semua pusara khas arsitektur gotik dan lainnya, dipindahkan dari Pekuburan Kamboja ke Pulau Beruang, Jalan Ahmad Yani Km 21, Banjarbaru. Ternyata, kondisi Pekuburan Nasrani di Pulau Beruang itu tak seperti yang dibayangkan para keluarga Belanda.

“Keluarga besar Dessire dan Fred, Fredrick, Tjhi Menl, Charlie, Anoun dan Poginem yang datang berziarah terkejut karena Nieuw Lkerkhof Taman Kamboja sudah disulap menjadi RTH,” jelasnya.

Kenyataan demikian menunjukkan bahwa kerkhof merupakan salah satu peninggalan masa kolonial yang rentan rusak dan hilang. Mengapa kerkhof harus dilestarikan? Kerkhof tak sekadar tempat menguburkan jasad, namun juga berhubungan erat dengan keberadaan sebuah komunitas, kebudayaan, dan kepercayaan.

“Data prasasti yang terdapat di makam dapat memberi informasi sejarah, misal genealogi, ragam pekerjaan di masa lampau, data kelahiran atau kematian yang terjadi pada tahun tertentu. Bahkan keberadaan kerkhof dapat menjadi habitat tanaman atau hewan liar,” cetus Mansyur.(gmp/by/ran)

Warga Banjarmasin tentu tidak asing dengan Taman Kamboja. Lokasinya di Jalan H Anang Adenansi, Kelurahan Kertak Baru Ulu, Banjarmasin Tengah. Sebelum Pemko Banjarmasin menyulap menjadi ruang terbuka hijau (RTH), dulunya kawasan tersebut merupakan kompleks pekuburan zaman Belanda.

Akademisi Sejarah Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur, mengungkapkan, Taman Kamboja pada masa Hindia Belanda adalah kompleks Pekuburan bernama Nieuw Kerkhof (pekuburan Baru). Jalan di depan Kompleks Pekuburan ini bernama Kerkhofflaan, sebelum berubah menjadi Jalan Kamboja tahun 1950 an.

“Dalam perkembangannya jalan sekitar pekuburan ini menjadi jalan Anang Adenansi. Diiringi status pekuburan ini yang menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH),” katanya.

Sebelumnya dipindah, Belanda punya pekuburan lama, letaknya di belakang Benteng Tatas yang sekarang berdiri Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Karena penjajah ingin memperluas benteng, maka kuburan dipindahkan ke Jalan Kamboja. Bukan hanya dijadikan sebagai pekuburan, di kawasan tersebut didirikan bangunan untuk tempat tinggal serdadu.

Dikatakan, makam-makam di kompleks Pekuburan bernama Nieuw Kerkhof umumnya dibuat dalam bentuk artistik seperti tugu kecil serta dilengkapi dengan prasasti terbuat dari batu marmer. Seiring pergantian masa penjajahan kawasan itu tidak lagi menjadi zona terlarang bagi masyarakat umum.

“Pada masa penjajahan Jepang, Nieuw Kerkhof (Pekuburan Kamboja) tak lagi jadi zona terlarang. Malah, di kawasan pemakaman yang dulu dianggap angker, sudah terdapat pemukiman penduduk. Kebanyakan berasal dari para pendatang,” jelasnya.

Dalam perkembangannya, warga pribumi dan pendatang bisa dimakamkan di Pekuburan Kamboja berdampingan dengan makam orang-orang Eropa. Saking banyaknya warga Kristen dan Katolik yang dimakamkan di Pekuburan Kamboja, akhirnya areal peristirahatan terakhir itu pun melebar hingga ke Jalan Simpang Teluk Dalam.

Baca Juga :  Mastora yang Dilupakan

Seiring pengakuan Ratu Belanda Juliana dalam sebuah sidang di Istana Amsterdam atas kemerdekaan Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949 saat penyerahan kedaulatan (soevenereiniteit soverdracht) di hadapan delegasi Republik Indonesia Serikat (RIS) pimpinan Perdana Menteri Mohammad Hatta, semua aset Belanda berpindah tangan menjadi milik Indonesia. Termasuk kompleks Pekuburan Kamboja yang luasnya 4 hektar lebih.

Setelah kemerdekaan untuk mengelola pekuburan Nasrani di pusat kota di Jalan Anang Adenansi (dulu bernama Jalan Kamboja), berdasar Staatsblad 121 tentang Ordenering, Pekuburan Kamboja diserahkan ke ahli waris warga keturunan Belanda yang ada di Kalsel.

Koridor Nieuw Kerkhof itu juga mencakup kawasan Puskesmas Cempaka, hingga ke gedung bekas Bank Panin, dan berbatasan dengan Kampung Teluk Dalam. Kawasan pekuburan itu membentang hingga lahan yang kini berdiri Masjid Al Jihad dan Pasar Teluk Dalam. “Komplek pekuburan Kamboja atau Nieuw Kerkhof 4 hektar lebih,” jelasnya.

Hingga, akhirnya 8 gereja di Banjarmasin membentuk Perkumpulan Gereja-Gereja di Banjarmasin, dari kalangan penganut Kristen Protestan dan Katolik pada 1950. Mereka sebagai pengelola (bezitter) Pekuburan Kamboja pada 1950, yang merupakan eks Nieuw Kerkhof. Agar lebih kuat, para petinggi gereja sepakat membentuk badan hukum bernama Yayasan Sejahtera Abadi pada 1985.

Dikatakan, kerkhofan tak hanya ada di Jalan Anang Adenansi, dulu juga tersebar di beberapa kabupaten/kota, namun sekarang sudah berubah. Di Kota Kandangan berubah menjadi Lapangan Tenis Tumpang Talu, Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) menjadi Terminal Barabai. Terakhir, pekuburan Belanda ada di Guntung Payung, Banjarbaru, sebelum akhirnya didirikan Asrama Haji Banjarbaru.

Baca Juga :  Darimana Asal Mamanda?

Pembongkaran Pekuburan Kamboja itu dimulai sejak era Walikotamadya Banjarmasin Riduan Iman periode 1971-1973, dengan persyaratan pemakaman baru bagi warga Nasrani itu harus berada tidak boleh lebih dari 30 kilometer dari Kota Banjarmasin.

Namun realisasi pembongkaran dan pemindahan di era Walikota Madya Sadjoko 1989-1999. Sempat ada penolakan, tapi pekuburan lawas yang ‘dihuni’ jasad berbagai etnis, baik keturunan Eropa seperti Belanda, Amerika Serikat, serta penduduk lokal berhasil digusur.

“Penolakan dimotori delapan gereja seperti Gereja Maranatha, Gereja Epphata, HKBP dan Gereja Katedral Banjarmasin yang membentuk Yayasan Sejahtera Abdi,” jelasnya.

November 1993, selama jangka waktu dua pekan, semua pusara khas arsitektur gotik dan lainnya, dipindahkan dari Pekuburan Kamboja ke Pulau Beruang, Jalan Ahmad Yani Km 21, Banjarbaru. Ternyata, kondisi Pekuburan Nasrani di Pulau Beruang itu tak seperti yang dibayangkan para keluarga Belanda.

“Keluarga besar Dessire dan Fred, Fredrick, Tjhi Menl, Charlie, Anoun dan Poginem yang datang berziarah terkejut karena Nieuw Lkerkhof Taman Kamboja sudah disulap menjadi RTH,” jelasnya.

Kenyataan demikian menunjukkan bahwa kerkhof merupakan salah satu peninggalan masa kolonial yang rentan rusak dan hilang. Mengapa kerkhof harus dilestarikan? Kerkhof tak sekadar tempat menguburkan jasad, namun juga berhubungan erat dengan keberadaan sebuah komunitas, kebudayaan, dan kepercayaan.

“Data prasasti yang terdapat di makam dapat memberi informasi sejarah, misal genealogi, ragam pekerjaan di masa lampau, data kelahiran atau kematian yang terjadi pada tahun tertentu. Bahkan keberadaan kerkhof dapat menjadi habitat tanaman atau hewan liar,” cetus Mansyur.(gmp/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

Tradisi Batumbang Apam di HST

Asal Usul Mappanre Ri Tasi

Legenda Pantai Batu Lima

Tari Kanjar Khas Meratus

Asal Usul Kampung Ketupat

/