alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Bisnis Kucing-Kucingan Batu Bara Karungan

Dilematis karena Urusan Perut Warga Sekitar

Batu bara karungan bukan barang baru.Di beberapa titik, warga biasa melakukan aktivitas mengepul emas hitam ini. Seperti di awal 2021 silam, yang terungkap akibat longsornya tambang manual di Tanah Bumbu.

Dari warga di sekitar tambang terungkap, satu hari para pekerja bisa sampai dapat seratus karung. Satu karung dibeli Rp5 ribu sampai Rp7 ribu. Artinya dalam sehari, warga bisa mengantongi setengah juta.

Dari penelurusan Radar Banjarmasin, walau produksi batu bara karungan tidak seperti hasil alat berat, tapi keuntungan bisnisnya terbilang lumayan. Itu karena, pembeli batu bara tidak keluar biaya operasional eksplorasi seperti sewa alat berat.

“Lumayan. Misalnya dalam sehari ada 50 pekerja mengarungi batu bara, bisa berapa truk itu sehari ke luar batu,” kata seorang pekerja yang enggan namanya dikorankan.

Dalam beberapa kasus, pekerjaan mengarungi batu bara terbilang berisiko. Misalnya batu bara diambil dari dalam terowongan. Walaupun tambang terbuka, risiko longsor juga masih berpotensi datang.

Pun begitu, tiap kali ada tambang batu bara manual dibuka, warga biasanya ramai ke sana. Mereka mengadu nasib walau tahu risiko yang harus dihadapi.

“Di luaran jadi buruh paling Rp150 ribu. Mengeruk batu bara dikarungi bisa saja dapat Rp500 ribu,” kata Eko bekas penambang karungan.

Baca Juga :  Produksi Intan di Kalsel Tak Terpantau

Bukan hanya pekerja, warga sekitar pun dapat untung. Seperti pengakuan Wahidah yang pernah jualan di kompleks tambang manual. Dalam sepekan dia biasa meraup Rp6 juta. “Pekerja itu makan di warung. Seminggu sekali baru dibayar, pas sudah gajian,” ujarnya.

Sejatinya tambang manual merupakan gambaran, bahwa industri mineral ini tidak memerlukan kemampuan teknis yang cukup tinggi. Bahan melimpah dan harga jual yang tinggi, sayangnya rakyat hanya kebagian karungan.

Di banyak daerah, pemerintah sibuk “menjual” konsesi. Ketimbang membeli alat berat, mempekerjakan mahasiswa lulusan tambang dan alat berat, untuk kebutuhan energi industri lokal.

“Dari dulu saya tidak mengerti. Ini bahan bakar. Kenapa selalu konsesi ke orang luar. Kenapa tidak kita tambang sendiri, untuk PLTU sendiri. Kaya kita, bisa buka industri raksasa. Cina kalah kalau kita mau mandiri,” kata Randi warga Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir.

Menurutnya bisnis tambang sekarang sama saja dengan zaman penjajahan. Belanda dahulu menambang untuk dijual ke luar negeri. Sekarang pun begitu, kebanyakan emas hitam dikapalkan buat menerangi pabrik-pabrik negara lain.

“Kuncinya itu di pemerintah, mau gak maju. Kalau mau maju ya mandirlah. Kita kaya energi. Ekspor terus mineral mau sampai kapan. Orang kaya, kita tinggal menunggu longsor dan banjir,” sungutnya.

Baca Juga :  Ekspor Batubara Dilarang, Ekonomi Kalsel Terancam Lesu

Di Kotabaru, beberapa hari belakangan tambang karungan mulai berhenti beraktivitas. Ronny, warga Desa Mekarpura Kecamatan Pulau Laut Tengah yang melakukan tambang batubara karungan di Kecamatan Pulau Laut Tengah mengatakan, dirinya dalam beberapa hari ini tidak lagi melakukan aktivitas menambang karungan.“Kita sudah tidak jalan lagi,” ungkapnya kepada Radar Banjarmasin.

Dia takut setelah adanya penangkapan terhadap lima orang penambang ilegal di Desa Megasari minggu lalu.

Ronny mengatakan mereka nekat melakukan tambang karungan seperti ini karena kebutuhan perut. Bahkan pekerjanya pun hanya digaji Rp. 5 ribu per karungnya. “Pekerjaanya sekarang dari masyarakat kalangan bawah yang memang tidak mempunyai pekerjaan. Mereka pun paling banyak digaji cuma Rp. 100 ribu perhari paling banyak,” lanjutnya.

Hal serupa juga dijelaskan Amat, oleh salah satu warga di Kecamatan Pulau Laut Utara. “Kami awal pekerjanya berjumlah 9 orang. Namun lambat laun sisa lima orang. Karena memang pekerjaannya berat dan gajinya sangat sedikit,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Kasat Reskrim Polres Kotabaru AKP Abdul Jalilmengatakan, tambang ilegal di Kotabaru memang marak beberapa minggu yang lalu. Tapi sudah ditindak. “Intinya kalau ada tambang Ilegal dan ada laporan masyarakat maka akan kami tindak,” ungkap Kasat. (zal/jum/by/ran)

Batu bara karungan bukan barang baru.Di beberapa titik, warga biasa melakukan aktivitas mengepul emas hitam ini. Seperti di awal 2021 silam, yang terungkap akibat longsornya tambang manual di Tanah Bumbu.

Dari warga di sekitar tambang terungkap, satu hari para pekerja bisa sampai dapat seratus karung. Satu karung dibeli Rp5 ribu sampai Rp7 ribu. Artinya dalam sehari, warga bisa mengantongi setengah juta.

Dari penelurusan Radar Banjarmasin, walau produksi batu bara karungan tidak seperti hasil alat berat, tapi keuntungan bisnisnya terbilang lumayan. Itu karena, pembeli batu bara tidak keluar biaya operasional eksplorasi seperti sewa alat berat.

“Lumayan. Misalnya dalam sehari ada 50 pekerja mengarungi batu bara, bisa berapa truk itu sehari ke luar batu,” kata seorang pekerja yang enggan namanya dikorankan.

Dalam beberapa kasus, pekerjaan mengarungi batu bara terbilang berisiko. Misalnya batu bara diambil dari dalam terowongan. Walaupun tambang terbuka, risiko longsor juga masih berpotensi datang.

Pun begitu, tiap kali ada tambang batu bara manual dibuka, warga biasanya ramai ke sana. Mereka mengadu nasib walau tahu risiko yang harus dihadapi.

“Di luaran jadi buruh paling Rp150 ribu. Mengeruk batu bara dikarungi bisa saja dapat Rp500 ribu,” kata Eko bekas penambang karungan.

Baca Juga :  Pemkab HST: Pajak Galian C untuk Perbaikan dan Pemeliharaan Jalan

Bukan hanya pekerja, warga sekitar pun dapat untung. Seperti pengakuan Wahidah yang pernah jualan di kompleks tambang manual. Dalam sepekan dia biasa meraup Rp6 juta. “Pekerja itu makan di warung. Seminggu sekali baru dibayar, pas sudah gajian,” ujarnya.

Sejatinya tambang manual merupakan gambaran, bahwa industri mineral ini tidak memerlukan kemampuan teknis yang cukup tinggi. Bahan melimpah dan harga jual yang tinggi, sayangnya rakyat hanya kebagian karungan.

Di banyak daerah, pemerintah sibuk “menjual” konsesi. Ketimbang membeli alat berat, mempekerjakan mahasiswa lulusan tambang dan alat berat, untuk kebutuhan energi industri lokal.

“Dari dulu saya tidak mengerti. Ini bahan bakar. Kenapa selalu konsesi ke orang luar. Kenapa tidak kita tambang sendiri, untuk PLTU sendiri. Kaya kita, bisa buka industri raksasa. Cina kalah kalau kita mau mandiri,” kata Randi warga Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir.

Menurutnya bisnis tambang sekarang sama saja dengan zaman penjajahan. Belanda dahulu menambang untuk dijual ke luar negeri. Sekarang pun begitu, kebanyakan emas hitam dikapalkan buat menerangi pabrik-pabrik negara lain.

“Kuncinya itu di pemerintah, mau gak maju. Kalau mau maju ya mandirlah. Kita kaya energi. Ekspor terus mineral mau sampai kapan. Orang kaya, kita tinggal menunggu longsor dan banjir,” sungutnya.

Baca Juga :  Awal Januari, Dua Kasus Ilegal Sudah Ditemukan

Di Kotabaru, beberapa hari belakangan tambang karungan mulai berhenti beraktivitas. Ronny, warga Desa Mekarpura Kecamatan Pulau Laut Tengah yang melakukan tambang batubara karungan di Kecamatan Pulau Laut Tengah mengatakan, dirinya dalam beberapa hari ini tidak lagi melakukan aktivitas menambang karungan.“Kita sudah tidak jalan lagi,” ungkapnya kepada Radar Banjarmasin.

Dia takut setelah adanya penangkapan terhadap lima orang penambang ilegal di Desa Megasari minggu lalu.

Ronny mengatakan mereka nekat melakukan tambang karungan seperti ini karena kebutuhan perut. Bahkan pekerjanya pun hanya digaji Rp. 5 ribu per karungnya. “Pekerjaanya sekarang dari masyarakat kalangan bawah yang memang tidak mempunyai pekerjaan. Mereka pun paling banyak digaji cuma Rp. 100 ribu perhari paling banyak,” lanjutnya.

Hal serupa juga dijelaskan Amat, oleh salah satu warga di Kecamatan Pulau Laut Utara. “Kami awal pekerjanya berjumlah 9 orang. Namun lambat laun sisa lima orang. Karena memang pekerjaannya berat dan gajinya sangat sedikit,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Kasat Reskrim Polres Kotabaru AKP Abdul Jalilmengatakan, tambang ilegal di Kotabaru memang marak beberapa minggu yang lalu. Tapi sudah ditindak. “Intinya kalau ada tambang Ilegal dan ada laporan masyarakat maka akan kami tindak,” ungkap Kasat. (zal/jum/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/