alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

Kalah Bersaing dengan Jalan Aspal, Motoris Speedboat Menyambut Masa Senja

Motoris speedboat di Kota Banjarmasin pernah merasakan masa kejayaan. Kini mereka bertahan di tengah ketidakpastian.

– Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

RUSDI masih mengingat dengan jelas tahun 1980-an di Banjarmasin. Kurang dari lima menit, pasti ada speedboat yang membelah Sungai Martapura.

“Kala itu, penumpang yang diangkut banyak. Tak pernah kosong. Saya rasa itu masa kejayaan kami,” ungkap koordinator speedboat di Dermaga Jembatan Merdeka.

Kemarin (3/3) siang, di bawah jembatan berwarna-warni itu, setidaknya ada 30 unit yang ditambat.

Kondisinya beragam, ada yang masih lengkap dengan mesin di buritan speed boat, ada pula yang tidak.

“Kalau dihitung-hitung, yang masih prima mungkin hanya tersisa setengahnya. Selebihnya sedang diservis,” ungkap lelaki 40 tahun itu.

Kejayaan angkutan sungai meredup lantaran jalan darat semakin mulus dan bagus. Masyarakat jadi lebih memilih mobil atau sepeda motor untuk bepergian.

“Seingat saya, terakhir kali speedboat ramai digunakan sebelum Jembatan Barito diresmikan pada tahun 1997,” ungkapnya.

“Sesudah itu, perlahan-lahan motoris mulai kekurangan penumpang,” tambahnya.

Saking minimnya, bahkan terkadang ada waktu sebulan penuh para motoris tidak berlabuh alias menganggur. “Terjadi pada awal tahun tadi. Ketika batu bara tidak dibolehkan diekspor,” ungkapnya.

Apa hubungannya? Karena penumpang speedboat bukan lagi masyarakat yang hendak bepergian. Melainkan pegawai perusahaan tambang atau anak buah kapal.

“Misalkan operator kapal, tenaga kerja bongkar muat, hingga surveyor kapal yang minta diantar ke laut lepas,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kumpulkan Pencinta Sepeda Minion, Pernah Gowes Sampai Loksado

“Tujuannya, salah satunya kawasan Tabanio, Kabupaten Tanah Laut. Itu pun lebih banyak sistem telepon. Di mana mereka meminta dijemput,” ucapnya.

Disinggung bagaimana dengan mereka yang ingin berwisata, Rusdi mengaku pelancong lebih banyak memilih kelotok. Karena tujuannya cuma Pasar Terapung atau Pulau Kembang.

Sebab, speedboat jelas lebih mahal. Contoh untuk tujuan Tabanio, untuk speedboat bermesin satu yang mampu membawa 10 penumpang, setidaknya membutuhkan 100 liter pertalite.

Sebaliknya, operasional speedboat dua mesin yang mampu membawa penumpang hingga 20 penumpang, setidaknya memerlukan BBM sebanyak 200 liter.

Ada pun untuk biaya, speedboat mesin satu biasanya dipatok Rp1,5 juta. Dan speedboat mesin dua tarifnya Rp2,5 juta.

“Kalau ada yang berwisata pakai speedboat, mungkin hanya orang kaya,” ucapnya sembari tersenyum.

Senada dengan yang diungkapkan motoris speedboat yang mangkal di bawah Jembatan Dewi, Jalan Ahmad Yani kilometer 1.

“Prinsipnya begini, kalau sulit ditempuh melalui jalur darat, maka kami bisa berlabuh,” ucap lelaki 62 tahun yang hanya ingin disebut dengan nama Abah Ira itu.

Sudah lebih dari 20 tahun ia menjadi motoris. Kemarin ia tampak santai karena memang tak ada penumpang.
Sembil membenahi masker di wajah, menurutnya masa senja motoris speedboat dimulai sesudah kerusuhan 23 Mei 1997, tragedi Jumat Kelabu.

“Dahulu di sini ada pelabuhan khusus jurusan Banjarmasin-Palangkaraya. Seusai kerusuhan, entah mengapa berhenti beroperasi,” tuturnya.

Baca Juga :  Ajak Pemabuk ke Majelis Hingga Jadi Jemaah Tetap

Bila speedboat di bawah Jembatan Merdeka menunggu giliran mengantar, di sini motoris mengandalkan para pelanggan. “Jadi sistem telepon,” ungkapnya.

Akhirnya tak setiap hari ada penumpang. “Kecuali hari-hari besar, contoh Idul Fitri. Kalau sudah hari raya, alhamdulillah, penumpang ramai. Semua motoris kebagian penumpang,” tuturnya.

Dia tak memungkiri bahwa jalur darat memang disukai para penumpang. Pasalnya, selain lebih hemat di kantong, juga hemat waktu.

“Contoh sederhana seperti ini. Ingin ke Kapuas, pakai mobil dengan BBM yang terisi 15 liter sudah cukup. Sekarang, dengan pakai speedboat tidak akan cukup,” pungkasnya.

Ingin Ada SPBU Apung

Dermaga speedboat di Banjarmasin, selain melayani rute menuju Tabanio, juga melayani tujuan Kapuas, Teluk Timbau Mangkatib, dan Pelanis di Kalteng.

Persoalan yang dihadapi para motoris tidak hanya minimnya penumpang saja. Tapi juga sulitnya mendapatkan BBM.

Koordinator speedboat di Dermaga Jembatan Merdeka, Rusdi mengaku kerap dituduh pelangsir.

“Padahal, kami membeli bahan bakar untuk speed boat. Itu yang membuat kami kesulitan ketika mengantre,” ucapnya.

“Soalnya, kami kan juga membawa-bawa jeriken ketika mengantre,” tambahnya.

“Untuk itu, kalau bisa pemerintah atau Pertamina tolong buatkan kami SPBU Apung,” harapnya.

Seingatnya dahulu pernah ada SPBU Apung. Lokasinya berseberangan dengan Pulau Kembang. Kini sudah tidak ada lagi.”Saya tidak tahu mengapa tidak ada lagi. Padahal sangat membantu,” pungkasnya. (war/fud)

Motoris speedboat di Kota Banjarmasin pernah merasakan masa kejayaan. Kini mereka bertahan di tengah ketidakpastian.

– Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

RUSDI masih mengingat dengan jelas tahun 1980-an di Banjarmasin. Kurang dari lima menit, pasti ada speedboat yang membelah Sungai Martapura.

“Kala itu, penumpang yang diangkut banyak. Tak pernah kosong. Saya rasa itu masa kejayaan kami,” ungkap koordinator speedboat di Dermaga Jembatan Merdeka.

Kemarin (3/3) siang, di bawah jembatan berwarna-warni itu, setidaknya ada 30 unit yang ditambat.

Kondisinya beragam, ada yang masih lengkap dengan mesin di buritan speed boat, ada pula yang tidak.

“Kalau dihitung-hitung, yang masih prima mungkin hanya tersisa setengahnya. Selebihnya sedang diservis,” ungkap lelaki 40 tahun itu.

Kejayaan angkutan sungai meredup lantaran jalan darat semakin mulus dan bagus. Masyarakat jadi lebih memilih mobil atau sepeda motor untuk bepergian.

“Seingat saya, terakhir kali speedboat ramai digunakan sebelum Jembatan Barito diresmikan pada tahun 1997,” ungkapnya.

“Sesudah itu, perlahan-lahan motoris mulai kekurangan penumpang,” tambahnya.

Saking minimnya, bahkan terkadang ada waktu sebulan penuh para motoris tidak berlabuh alias menganggur. “Terjadi pada awal tahun tadi. Ketika batu bara tidak dibolehkan diekspor,” ungkapnya.

Apa hubungannya? Karena penumpang speedboat bukan lagi masyarakat yang hendak bepergian. Melainkan pegawai perusahaan tambang atau anak buah kapal.

“Misalkan operator kapal, tenaga kerja bongkar muat, hingga surveyor kapal yang minta diantar ke laut lepas,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pernah Nyaris Pasrah Anggota Dikepung Kobaran Api

“Tujuannya, salah satunya kawasan Tabanio, Kabupaten Tanah Laut. Itu pun lebih banyak sistem telepon. Di mana mereka meminta dijemput,” ucapnya.

Disinggung bagaimana dengan mereka yang ingin berwisata, Rusdi mengaku pelancong lebih banyak memilih kelotok. Karena tujuannya cuma Pasar Terapung atau Pulau Kembang.

Sebab, speedboat jelas lebih mahal. Contoh untuk tujuan Tabanio, untuk speedboat bermesin satu yang mampu membawa 10 penumpang, setidaknya membutuhkan 100 liter pertalite.

Sebaliknya, operasional speedboat dua mesin yang mampu membawa penumpang hingga 20 penumpang, setidaknya memerlukan BBM sebanyak 200 liter.

Ada pun untuk biaya, speedboat mesin satu biasanya dipatok Rp1,5 juta. Dan speedboat mesin dua tarifnya Rp2,5 juta.

“Kalau ada yang berwisata pakai speedboat, mungkin hanya orang kaya,” ucapnya sembari tersenyum.

Senada dengan yang diungkapkan motoris speedboat yang mangkal di bawah Jembatan Dewi, Jalan Ahmad Yani kilometer 1.

“Prinsipnya begini, kalau sulit ditempuh melalui jalur darat, maka kami bisa berlabuh,” ucap lelaki 62 tahun yang hanya ingin disebut dengan nama Abah Ira itu.

Sudah lebih dari 20 tahun ia menjadi motoris. Kemarin ia tampak santai karena memang tak ada penumpang.
Sembil membenahi masker di wajah, menurutnya masa senja motoris speedboat dimulai sesudah kerusuhan 23 Mei 1997, tragedi Jumat Kelabu.

“Dahulu di sini ada pelabuhan khusus jurusan Banjarmasin-Palangkaraya. Seusai kerusuhan, entah mengapa berhenti beroperasi,” tuturnya.

Baca Juga :  Kumpulkan Pencinta Sepeda Minion, Pernah Gowes Sampai Loksado

Bila speedboat di bawah Jembatan Merdeka menunggu giliran mengantar, di sini motoris mengandalkan para pelanggan. “Jadi sistem telepon,” ungkapnya.

Akhirnya tak setiap hari ada penumpang. “Kecuali hari-hari besar, contoh Idul Fitri. Kalau sudah hari raya, alhamdulillah, penumpang ramai. Semua motoris kebagian penumpang,” tuturnya.

Dia tak memungkiri bahwa jalur darat memang disukai para penumpang. Pasalnya, selain lebih hemat di kantong, juga hemat waktu.

“Contoh sederhana seperti ini. Ingin ke Kapuas, pakai mobil dengan BBM yang terisi 15 liter sudah cukup. Sekarang, dengan pakai speedboat tidak akan cukup,” pungkasnya.

Ingin Ada SPBU Apung

Dermaga speedboat di Banjarmasin, selain melayani rute menuju Tabanio, juga melayani tujuan Kapuas, Teluk Timbau Mangkatib, dan Pelanis di Kalteng.

Persoalan yang dihadapi para motoris tidak hanya minimnya penumpang saja. Tapi juga sulitnya mendapatkan BBM.

Koordinator speedboat di Dermaga Jembatan Merdeka, Rusdi mengaku kerap dituduh pelangsir.

“Padahal, kami membeli bahan bakar untuk speed boat. Itu yang membuat kami kesulitan ketika mengantre,” ucapnya.

“Soalnya, kami kan juga membawa-bawa jeriken ketika mengantre,” tambahnya.

“Untuk itu, kalau bisa pemerintah atau Pertamina tolong buatkan kami SPBU Apung,” harapnya.

Seingatnya dahulu pernah ada SPBU Apung. Lokasinya berseberangan dengan Pulau Kembang. Kini sudah tidak ada lagi.”Saya tidak tahu mengapa tidak ada lagi. Padahal sangat membantu,” pungkasnya. (war/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/