alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Waspada, Cuaca Ekstrem Hingga 2 Hari ke Depan

BANJARBARU – Beberapa hari terakhir cuaca ekstrem terjadi di sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan. Bahkan di Kabupaten Banjar ada seratus lebih rumah rusak akibat diterjang angin puting beliung, Senin (28/2) tadi.

Masyarakat pun masih perlu waspada, karena Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor memprakirakan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi hingga dua hari ke depan.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, Muhammad Shaa Imul Qadri mengatakan, dalam dua hari ke depan ada 10 daerah yang perlu waspada karena berpotensi terjadi cuaca ekstrem. “Yakni berupa hujan sedang hingga lebat,” katanya kemarin.

Dirincikannya, 10 daerah yang berpotensi terjadi cuaca ekstrem yaitu Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Tapin, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Kotabaru dan Kabupaten Tanah Bumbu.

Cuaca ekstrem sendiri terjadi ujarnya, lantaran adanya pola tekanan rendah di Selatan Jawa. Sehingga membentuk pola perlambatan angin (konfluen) di Kalimantan Selatan.

Baca Juga :  24 Rumah Rusak Diterjang Angin Ribut

“Fenomena ini ditambah dengan labilitas lokal yang kuat berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang,” papar Muhammad Shaa Imul Qadri.

Terkait masih adanya potensi cuaca ekstrem, dia mengimbau masyarakat agar berhati-hati terhadap dampak hujan dan angin kencang yang dapat menyebabkan jalanan licin serta genangan. “Waspadai juga pohon tumbang dan sambaran petir,” imbaunya.

Sementara itu, Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru memastikan, saat ini wilayah Kalsel masih berada pada periode musim hujan. “Masa peralihan juga belum,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru, Goeroeh Tjiptanto.

Ihwal cuaca saat ini, Goeroeh menyebut, pada Februari 2022 tadi curah hujan memang menurun dan didominasi kriteria menengah (200-300 mm).

Namun, disampaikannya curah hujan naik lagi pada Maret 2022 ini dengan didominasi kriteria tinggi (300-400 mm). “Pada bulan April 2022 nanti diperkirakan turun lagi didominasi kriteria menengah (200-300 mm),” sebutnya.

Baca Juga :  Waspada Longsor di Bantaran Sungai

Di sisi lain, untuk mengantisipasi cuaca ekstrem, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan saat ini sedang merancang Peraturan Gubernur (Pergub) Tentang Penanggulangan Bencana Berbasis.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Kalsel Mujiyat, selama ini bantuan dapat diberikan tergantung dengan status. Melalui Pergub Tentang Penanggulangan Bencana Berbasis yang sedang dirancang, pihaknya menginginkan jika terjadi bencana langsung bisa ditanggulangi.

“Saat ini kami merancang regulasi Pergub, mudah-mudahan bulan ini selesai. Jadi, tidak tergantung pada status, tapi terhadap kejadian. Karena kalau status belum jelas, kita tidak bisa belanja ketika ada bencana,” katanya.

Dikatakannya, Pergub yang dirancang itu dapat memberikan kecepatan BPBD dalam pengerahan personel, logistik, evakuasi dan lainnya.

Dengan adanya Pergub Penanggulangan Bencana Berbasis juga pihaknya optimis, kinerja BPBD Kalsel bisa semakin cepat, efektif dan efisien.

Mujiyat mengatakan, aturan ini juga menjadi contoh untuk Pemerintah Kabupaten Kota dalam penanggulangan bencana di daerahnya masing-masing. (ris/by/ran)

BANJARBARU – Beberapa hari terakhir cuaca ekstrem terjadi di sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan. Bahkan di Kabupaten Banjar ada seratus lebih rumah rusak akibat diterjang angin puting beliung, Senin (28/2) tadi.

Masyarakat pun masih perlu waspada, karena Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor memprakirakan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi hingga dua hari ke depan.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, Muhammad Shaa Imul Qadri mengatakan, dalam dua hari ke depan ada 10 daerah yang perlu waspada karena berpotensi terjadi cuaca ekstrem. “Yakni berupa hujan sedang hingga lebat,” katanya kemarin.

Dirincikannya, 10 daerah yang berpotensi terjadi cuaca ekstrem yaitu Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Tapin, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Kotabaru dan Kabupaten Tanah Bumbu.

Cuaca ekstrem sendiri terjadi ujarnya, lantaran adanya pola tekanan rendah di Selatan Jawa. Sehingga membentuk pola perlambatan angin (konfluen) di Kalimantan Selatan.

Baca Juga :  24 Rumah Rusak Diterjang Angin Ribut

“Fenomena ini ditambah dengan labilitas lokal yang kuat berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang,” papar Muhammad Shaa Imul Qadri.

Terkait masih adanya potensi cuaca ekstrem, dia mengimbau masyarakat agar berhati-hati terhadap dampak hujan dan angin kencang yang dapat menyebabkan jalanan licin serta genangan. “Waspadai juga pohon tumbang dan sambaran petir,” imbaunya.

Sementara itu, Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru memastikan, saat ini wilayah Kalsel masih berada pada periode musim hujan. “Masa peralihan juga belum,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru, Goeroeh Tjiptanto.

Ihwal cuaca saat ini, Goeroeh menyebut, pada Februari 2022 tadi curah hujan memang menurun dan didominasi kriteria menengah (200-300 mm).

Namun, disampaikannya curah hujan naik lagi pada Maret 2022 ini dengan didominasi kriteria tinggi (300-400 mm). “Pada bulan April 2022 nanti diperkirakan turun lagi didominasi kriteria menengah (200-300 mm),” sebutnya.

Baca Juga :  9 Rumah Dihempas Puting Beliung, Dapat Bantuan Forkopimcam Babirik

Di sisi lain, untuk mengantisipasi cuaca ekstrem, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan saat ini sedang merancang Peraturan Gubernur (Pergub) Tentang Penanggulangan Bencana Berbasis.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Kalsel Mujiyat, selama ini bantuan dapat diberikan tergantung dengan status. Melalui Pergub Tentang Penanggulangan Bencana Berbasis yang sedang dirancang, pihaknya menginginkan jika terjadi bencana langsung bisa ditanggulangi.

“Saat ini kami merancang regulasi Pergub, mudah-mudahan bulan ini selesai. Jadi, tidak tergantung pada status, tapi terhadap kejadian. Karena kalau status belum jelas, kita tidak bisa belanja ketika ada bencana,” katanya.

Dikatakannya, Pergub yang dirancang itu dapat memberikan kecepatan BPBD dalam pengerahan personel, logistik, evakuasi dan lainnya.

Dengan adanya Pergub Penanggulangan Bencana Berbasis juga pihaknya optimis, kinerja BPBD Kalsel bisa semakin cepat, efektif dan efisien.

Mujiyat mengatakan, aturan ini juga menjadi contoh untuk Pemerintah Kabupaten Kota dalam penanggulangan bencana di daerahnya masing-masing. (ris/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/