alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Saturday, 21 May 2022

Puluhan Ribu Vaksin Akhirnya Tak Terpakai

BANJARMASIN – Puluhan ribu vaksin yang ada di Kalsel akhirnya harus terbuang sia-sia. Sebanyak 51.630 dosis vaksin Astrazeneca itu mengalami kedaluwarsa per 28 Februari tadi.

Terungkapnya hal ini setelah Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Kalsel melakukan pengawasan. Meski sudah diwanti-wanti BPKP sejak 23 Februari lalu, tetapi pemerintah tak mampu menyalurkan vaksin sesuai target.

Dibeberkan Kepala Perwakilan BPKP Kalsel, Rudy M Harahap, stok vaksin Astrazeneca memang sangat berpotensi kedaluwarsa. Pasalnya, kiriman vaksin ini terus datang dan parahnya, masa kedaluwarsanya sangat mepet. “Akhirnya setelah dilakukan pengawasan, tersisa sebanyak 51.630 dosis yang tak bisa dipakai karena kedaluwarsa,” ujarnya kemarin.

Dia mengatakan sudah aktif mendorong kepala daerah untuk memberi perhatian khusus pada kondisi ini sejak 23 Februari tadi. “Kami tak ingin ada yang tak terpakai, sehingga nantinya akan ada kerugian,” imbuhnya.

Di sisi lain, Rudy mengacungkan jempol kepada Pemprov Kalsel dan pemerintah kabupaten dan kota termasuk lembaga vertikal yang begitu masif melakukan vaksinasi belakangan ini. Dia menyebut, setelah pihaknya menyampaikan kondisi vaksin lalu, stok vaksin pun kian hari terus berkurang, atau semakin terpakai.

Baca Juga :  Yang Belum Divaksin Lebih Rawan

Dia menyebut, jika pada 23 Februari terdapat stok sebanyak 148.540 dosis, per 24 Februari mengalami pengurangan menjadi 119.560 dosis. Pengurangan terus terjadi, contohnya pada 25 Februari tersisa 101.710 dosis, per 26 Februari tersisa 76.280 dosis, per 27 Februari tersisa 66.300 dosis, dan akhirnya pada 28 Februari 2022 stok vaksin Astrazeneca tersisa 51.630 dosis. “Melihat angka itu, boleh dikatakan cukup berhasil. Tapi masih sayang ada yang tersisa,” tukasnya.

Rudy mengatakan, vaksin Astrazeneca memang salah satu vaksin yang kurang berterima di tengah masyarakat. Salah satunya isu yang muncul adalah soal kehalalannya. “Belum lagi distribusi vaksin Astrazeneca terus datang. Masa kedaluwarsanya pun sangat mepet, jadi maklum saja,” imbuhnya.

Tak hanya menyinggung soal vaksin kedaluwarsa ini, Rudy mengingatkan agar para kepala daerah masih tetap harus melakukan percepatan pelaksanaan vaksinasi dosis 2 dan booster, disamping dosis 1. Khusus dosis 2, per 28 Februari, capaiannya masih di bawah 60 persen. Atau baru tercapai 53,25 persen (1.683.300).

Berbeda dengan vaksin 1 yang capaiannya sudah mencapai 87,62 persen atau 2.769.786 jiwa. Lalu bagaimana dengan vaksin booster, capainnya ternyata masih sangat rendah, yakni baru 3,99 persen atau 125.159 jiwa. “Kami (BPKP) akan terus melakukan pengawasan kegiatan vaksinasi di Kalsel agar dilaksanakan tepat sasaran, tepat waktu, tepat jumlah, tepat manfaat dan tepat administrasi,” tegasnya.

Baca Juga :  Hoax Jadi Kendala, Vaksinasi Lansia Harus Terkejar Januari ini

Sementara, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Sukamto membenarkan adanya puluhan ribu vaksin Astrazeneca yang kedaluwarsa per 28 Februari tadi. Menurutnya, ada beberapa faktor terjadinya hal ini. Yakni soal stigma dan persepsi masyarakat terkait kehalalannya. Faktor lain adalah mepetnya waktu kedaluwarsa dan stoknya cukup banyak.

Dia menuturkan, berita hoaks yang mengaitkan vaksin ini tak halal (haram), menjadikan tak bisa cepatnya habis sesuai harapan. “Terus terang, dari berbagai pilihan merk vaksin, orang lebih banyak memilih di luar Astrazeneca. Belum lagi kedaluwarsanya mepet sekali,” sebut Sukamto kemarin.

Dari 13 kabupaten dan kota, Sukamto membeberkan, paling banyak tersisa ada di Kabupaten Barito Kuala. Jumlahnya mencapai 40 ribu dosis lebih. “Dulu mereka pernah meminta, dan diberi. Namun, karena jelang kedaluwarsa dan tak bisa menghabiskan, akhirnya expired,” ujarnya. (mof/by/ran)

BANJARMASIN – Puluhan ribu vaksin yang ada di Kalsel akhirnya harus terbuang sia-sia. Sebanyak 51.630 dosis vaksin Astrazeneca itu mengalami kedaluwarsa per 28 Februari tadi.

Terungkapnya hal ini setelah Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Kalsel melakukan pengawasan. Meski sudah diwanti-wanti BPKP sejak 23 Februari lalu, tetapi pemerintah tak mampu menyalurkan vaksin sesuai target.

Dibeberkan Kepala Perwakilan BPKP Kalsel, Rudy M Harahap, stok vaksin Astrazeneca memang sangat berpotensi kedaluwarsa. Pasalnya, kiriman vaksin ini terus datang dan parahnya, masa kedaluwarsanya sangat mepet. “Akhirnya setelah dilakukan pengawasan, tersisa sebanyak 51.630 dosis yang tak bisa dipakai karena kedaluwarsa,” ujarnya kemarin.

Dia mengatakan sudah aktif mendorong kepala daerah untuk memberi perhatian khusus pada kondisi ini sejak 23 Februari tadi. “Kami tak ingin ada yang tak terpakai, sehingga nantinya akan ada kerugian,” imbuhnya.

Di sisi lain, Rudy mengacungkan jempol kepada Pemprov Kalsel dan pemerintah kabupaten dan kota termasuk lembaga vertikal yang begitu masif melakukan vaksinasi belakangan ini. Dia menyebut, setelah pihaknya menyampaikan kondisi vaksin lalu, stok vaksin pun kian hari terus berkurang, atau semakin terpakai.

Baca Juga :  Hampir Tiap Hari Vaksin, Polisi Heran Masih Banyak yang Belum Dosis Lengkap

Dia menyebut, jika pada 23 Februari terdapat stok sebanyak 148.540 dosis, per 24 Februari mengalami pengurangan menjadi 119.560 dosis. Pengurangan terus terjadi, contohnya pada 25 Februari tersisa 101.710 dosis, per 26 Februari tersisa 76.280 dosis, per 27 Februari tersisa 66.300 dosis, dan akhirnya pada 28 Februari 2022 stok vaksin Astrazeneca tersisa 51.630 dosis. “Melihat angka itu, boleh dikatakan cukup berhasil. Tapi masih sayang ada yang tersisa,” tukasnya.

Rudy mengatakan, vaksin Astrazeneca memang salah satu vaksin yang kurang berterima di tengah masyarakat. Salah satunya isu yang muncul adalah soal kehalalannya. “Belum lagi distribusi vaksin Astrazeneca terus datang. Masa kedaluwarsanya pun sangat mepet, jadi maklum saja,” imbuhnya.

Tak hanya menyinggung soal vaksin kedaluwarsa ini, Rudy mengingatkan agar para kepala daerah masih tetap harus melakukan percepatan pelaksanaan vaksinasi dosis 2 dan booster, disamping dosis 1. Khusus dosis 2, per 28 Februari, capaiannya masih di bawah 60 persen. Atau baru tercapai 53,25 persen (1.683.300).

Berbeda dengan vaksin 1 yang capaiannya sudah mencapai 87,62 persen atau 2.769.786 jiwa. Lalu bagaimana dengan vaksin booster, capainnya ternyata masih sangat rendah, yakni baru 3,99 persen atau 125.159 jiwa. “Kami (BPKP) akan terus melakukan pengawasan kegiatan vaksinasi di Kalsel agar dilaksanakan tepat sasaran, tepat waktu, tepat jumlah, tepat manfaat dan tepat administrasi,” tegasnya.

Baca Juga :  Perjalanan Domestik Wajib Booster

Sementara, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Sukamto membenarkan adanya puluhan ribu vaksin Astrazeneca yang kedaluwarsa per 28 Februari tadi. Menurutnya, ada beberapa faktor terjadinya hal ini. Yakni soal stigma dan persepsi masyarakat terkait kehalalannya. Faktor lain adalah mepetnya waktu kedaluwarsa dan stoknya cukup banyak.

Dia menuturkan, berita hoaks yang mengaitkan vaksin ini tak halal (haram), menjadikan tak bisa cepatnya habis sesuai harapan. “Terus terang, dari berbagai pilihan merk vaksin, orang lebih banyak memilih di luar Astrazeneca. Belum lagi kedaluwarsanya mepet sekali,” sebut Sukamto kemarin.

Dari 13 kabupaten dan kota, Sukamto membeberkan, paling banyak tersisa ada di Kabupaten Barito Kuala. Jumlahnya mencapai 40 ribu dosis lebih. “Dulu mereka pernah meminta, dan diberi. Namun, karena jelang kedaluwarsa dan tak bisa menghabiskan, akhirnya expired,” ujarnya. (mof/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/