alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

MUI Klaim di Kalsel Tak Ada Polemik Soal Pengeras Suara Keagamaan

BANJARMASIN – Pengaturan baru mengenai toa masjid dan musala yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas diharapkan tak disamaratakan di semua daerah.

Pasalnya, kondisi tiap daerah memiliki kultur yang berbeda. Terlebih di Kalsel, yang mana mayoritas penduduknya umat muslim yang sudah biasa dengan pengeras suara keagamaan.

Bahkan akan sangat aneh jika pengeras suara ini diatur secara ketat. Bagi sebagian orang, pengeras suara adalah sebagai pertanda ibadah atau semacam pengingat waktu akan datang waktunya.

Kultur di Kalsel sendiri, pengeras suara tak pernah menjadi pertentangan. Sehingga kebijakan atau aturan yang dikeluarkan oleh Kemenag akan susah diterapkan. Salah satu contoh, pada saat bulan Ramadan, tak hanya tadarus yang kerap menggunakan pengeras suara luar, namun juga saat pengingat jelang imsak.

Baca Juga :  Sejarah H Salman Al Farisi

Bagi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalsel, pihaknya tak bisa serta merta mengeluarkan aturan atau fatwa. Pasalnya, kebijakan ini dikeluarkan oleh pemerintah langsung. Lain soal ketika dikeluarkan oleh pemerintah provinsi.

“Pasti akan berbeda tiap daerah, karena sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Jadi soal ini kebijakan di pusat saja,” ujar Wakil Ketua MUI Kalsel, Prof Hafiz Anshari kemarin.

Namun, menurutnya secara pribadi, aturan demikian dipastikan akan susah diterapkan di Kalsel. Dia mengatakan, beberapa kegiatan agama yang memakai pengeras suara luar sudah umum dilakukan.

Hafiz menambahkan, soal pengeras suara ini juga begitu penting bagi sebagian orang. Dia sendiri mengaku, syair selawat yang tiap dini hari bergema di corong masjid maupun musala, sangat bermanfaat untuk mengingatkan dirinya dalam beribadah tengah malam.

Baca Juga :  Bangga Perjuangan Kafilah Kalsel di Festival Anak Saleh di Palembang

“Kalau sudah terdengar suara syair selawat, artinya tinggal sebentar lagi, datang lagi waktu Salat Subuh. Jadi untuk ibadah malam, seperti Salat Tahajud dan sebagainya bisa disesuaikan,” ucapnya.

Soal pengeras suara yang berbunyi nyaring, dia berpendapat, hal ini juga selama ini tak pernah ada yang tak sependapat bahkan protes. “Kembali lagi soal kultur di daerah. Karena tak sama. Di Kalsel masyarakatnya tak mempermasalahkan. Bahkan sudah menjadi kebiasaan daerah,” sebutnya.

Sementara, Kemenag Kalsel tak merespons, apakah kebijakan dari pemerintah pusat sudah mulai dijalankan di daerah. Kepala Kemenag Kalsel, M Thambrin tak menjawab permintaan wawancara soal ini kemarin. (mof/by/ran)

BANJARMASIN – Pengaturan baru mengenai toa masjid dan musala yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas diharapkan tak disamaratakan di semua daerah.

Pasalnya, kondisi tiap daerah memiliki kultur yang berbeda. Terlebih di Kalsel, yang mana mayoritas penduduknya umat muslim yang sudah biasa dengan pengeras suara keagamaan.

Bahkan akan sangat aneh jika pengeras suara ini diatur secara ketat. Bagi sebagian orang, pengeras suara adalah sebagai pertanda ibadah atau semacam pengingat waktu akan datang waktunya.

Kultur di Kalsel sendiri, pengeras suara tak pernah menjadi pertentangan. Sehingga kebijakan atau aturan yang dikeluarkan oleh Kemenag akan susah diterapkan. Salah satu contoh, pada saat bulan Ramadan, tak hanya tadarus yang kerap menggunakan pengeras suara luar, namun juga saat pengingat jelang imsak.

Baca Juga :  Ingin Musyawarah, LDII Minta Restu ke MUI

Bagi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalsel, pihaknya tak bisa serta merta mengeluarkan aturan atau fatwa. Pasalnya, kebijakan ini dikeluarkan oleh pemerintah langsung. Lain soal ketika dikeluarkan oleh pemerintah provinsi.

“Pasti akan berbeda tiap daerah, karena sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Jadi soal ini kebijakan di pusat saja,” ujar Wakil Ketua MUI Kalsel, Prof Hafiz Anshari kemarin.

Namun, menurutnya secara pribadi, aturan demikian dipastikan akan susah diterapkan di Kalsel. Dia mengatakan, beberapa kegiatan agama yang memakai pengeras suara luar sudah umum dilakukan.

Hafiz menambahkan, soal pengeras suara ini juga begitu penting bagi sebagian orang. Dia sendiri mengaku, syair selawat yang tiap dini hari bergema di corong masjid maupun musala, sangat bermanfaat untuk mengingatkan dirinya dalam beribadah tengah malam.

Baca Juga :  Bangga Perjuangan Kafilah Kalsel di Festival Anak Saleh di Palembang

“Kalau sudah terdengar suara syair selawat, artinya tinggal sebentar lagi, datang lagi waktu Salat Subuh. Jadi untuk ibadah malam, seperti Salat Tahajud dan sebagainya bisa disesuaikan,” ucapnya.

Soal pengeras suara yang berbunyi nyaring, dia berpendapat, hal ini juga selama ini tak pernah ada yang tak sependapat bahkan protes. “Kembali lagi soal kultur di daerah. Karena tak sama. Di Kalsel masyarakatnya tak mempermasalahkan. Bahkan sudah menjadi kebiasaan daerah,” sebutnya.

Sementara, Kemenag Kalsel tak merespons, apakah kebijakan dari pemerintah pusat sudah mulai dijalankan di daerah. Kepala Kemenag Kalsel, M Thambrin tak menjawab permintaan wawancara soal ini kemarin. (mof/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/