alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Ada Keinginan Membina Sosok Peretas

BANJARBARU – Dicokok di wilayah Banjarbaru. RNS (22), pemuda asal Amuntai yang ditangkap Bareskrim Polri bersama Interpol hingga FBI beberapa waktu lalu turut jadi atensi oleh Wali Kota Banjarbaru, Aditya Mufti Ariffin.

Lantaran berdomisili di wilayahnya, Aditya mengaku ada ketertarikan untuk membina hacker atau peretas asal Banua ini. Hal ini dikarenakan kemampuan RNS di bidang siber dan program tersebut ujarnya tentu sangat bermanfaat jika diarahkan.

“Tentu kami sangat bersedia. Namun juga harus sesuai dengan aturan dan mekanisme yang berlaku, karena ini kan masuk ranah hukum,” tanggap Wali Kota.

Ia melihat dari informasi yang diterimanya, bahwa sosok RNS sangat bisa berguna dengan baik atas bakat dan ilmu yang ia miliki. Maka dari itu, ia secara jujur mengungkapkan ada ketertarikan untuk mengarahkan dan membina RNS.

“Menurut saya yang bersangkutan ini perlu diarahkan, agar bakat dan ilmu tidak disalahgunakan. Tetapi sekali lagi, tentunya hal itu jika memungkinkan secara aturan,” ujarnya.

Baca Juga :  Kembangkan Bisnis Lewat Marketplace

Selain Wali Kota, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Banjarbaru, Andri Irawan turut mengungkapkan hal
serupa. Bakat dan ilmu yang ada di sosok RNS sebetulnya katanya memang semestinya bisa dibina.

Selain bakat yang memang terampil dan kecanggihannya dalam membuat program. Usia yang tergolong masih muda pandang Andri juga jadi nilai plus untuk sosok RNS ini.

“Ini menurut saya pribadi ya, sosoknya ini harus dibina dan dimaksimalkan kepandaian atau kecerdasannya untuk hal positif,” katanya.

Meski secara personal punya keinginan demikian, hukum kata Andri tetaplah harus dijalankan. Ia pun menjawab bahwa pihaknya hanya menjalankan tugas dan profesinya.

“Yang jelas sesuai tugas kami, terlebih sudah ada bukti tindak pidana yang dilakukan RNS. Maka kami akan melaksanakan proses pidananya. Terkait bagaimana nanti ke depannya, apakah dibina atau seperti apa, kita lihat ke depan keputusannya,” tuntasnya.

Baca Juga :  Sidang Kasus Hacker, Orang Tua Kirim Surat ke BIN dan Presiden

Sebagai informasi, kasus ini terungkap usai aksi RN terendus oleh Bareskrim Polri yang bekerjasama dengan FBI dan Interpol. RN dicokok lantaran menjual alat peretas akun pengguna aplikasi startup Internasional.

Dari keterangan pihak Bareskrim Polri seusai penangkapan di Banjarbaru. Alat peretas yang dijual RN telah menyasar lebih dari 70 ribu akun yang tersebar di 43 negara.

“Tersangka menjual alat atau kode peretasan tersebut menggunakan situs yang transaksi pembayarannya lewat Bitcoin. Kerugian korban dari kasus ini berkisar 31 miliar rupiah,” sebut Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Asep Edi Suheri pada Jumat (18/2).

Di lokasi penangkapan RN, tim gabungan setidaknya mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu unit gawai pintar merk iPhone 11 Pro, smartwatch, buku tabungan, tiga unit sepeda motor, satu mobil sedan merek BMW 320i AT, dua laptop dan satu kartu tanda penduduk (KTP) Kalimantan Selatan. (rvn/ij/bin)

BANJARBARU – Dicokok di wilayah Banjarbaru. RNS (22), pemuda asal Amuntai yang ditangkap Bareskrim Polri bersama Interpol hingga FBI beberapa waktu lalu turut jadi atensi oleh Wali Kota Banjarbaru, Aditya Mufti Ariffin.

Lantaran berdomisili di wilayahnya, Aditya mengaku ada ketertarikan untuk membina hacker atau peretas asal Banua ini. Hal ini dikarenakan kemampuan RNS di bidang siber dan program tersebut ujarnya tentu sangat bermanfaat jika diarahkan.

“Tentu kami sangat bersedia. Namun juga harus sesuai dengan aturan dan mekanisme yang berlaku, karena ini kan masuk ranah hukum,” tanggap Wali Kota.

Ia melihat dari informasi yang diterimanya, bahwa sosok RNS sangat bisa berguna dengan baik atas bakat dan ilmu yang ia miliki. Maka dari itu, ia secara jujur mengungkapkan ada ketertarikan untuk mengarahkan dan membina RNS.

“Menurut saya yang bersangkutan ini perlu diarahkan, agar bakat dan ilmu tidak disalahgunakan. Tetapi sekali lagi, tentunya hal itu jika memungkinkan secara aturan,” ujarnya.

Baca Juga :  Sidang Kasus Hacker, Orang Tua Kirim Surat ke BIN dan Presiden

Selain Wali Kota, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Banjarbaru, Andri Irawan turut mengungkapkan hal
serupa. Bakat dan ilmu yang ada di sosok RNS sebetulnya katanya memang semestinya bisa dibina.

Selain bakat yang memang terampil dan kecanggihannya dalam membuat program. Usia yang tergolong masih muda pandang Andri juga jadi nilai plus untuk sosok RNS ini.

“Ini menurut saya pribadi ya, sosoknya ini harus dibina dan dimaksimalkan kepandaian atau kecerdasannya untuk hal positif,” katanya.

Meski secara personal punya keinginan demikian, hukum kata Andri tetaplah harus dijalankan. Ia pun menjawab bahwa pihaknya hanya menjalankan tugas dan profesinya.

“Yang jelas sesuai tugas kami, terlebih sudah ada bukti tindak pidana yang dilakukan RNS. Maka kami akan melaksanakan proses pidananya. Terkait bagaimana nanti ke depannya, apakah dibina atau seperti apa, kita lihat ke depan keputusannya,” tuntasnya.

Baca Juga :  Media Sosial dan Matinya Seni Diskusi

Sebagai informasi, kasus ini terungkap usai aksi RN terendus oleh Bareskrim Polri yang bekerjasama dengan FBI dan Interpol. RN dicokok lantaran menjual alat peretas akun pengguna aplikasi startup Internasional.

Dari keterangan pihak Bareskrim Polri seusai penangkapan di Banjarbaru. Alat peretas yang dijual RN telah menyasar lebih dari 70 ribu akun yang tersebar di 43 negara.

“Tersangka menjual alat atau kode peretasan tersebut menggunakan situs yang transaksi pembayarannya lewat Bitcoin. Kerugian korban dari kasus ini berkisar 31 miliar rupiah,” sebut Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Asep Edi Suheri pada Jumat (18/2).

Di lokasi penangkapan RN, tim gabungan setidaknya mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu unit gawai pintar merk iPhone 11 Pro, smartwatch, buku tabungan, tiga unit sepeda motor, satu mobil sedan merek BMW 320i AT, dua laptop dan satu kartu tanda penduduk (KTP) Kalimantan Selatan. (rvn/ij/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/