alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Misi Peduli Lingkungan Komunitas EEN Kalsel

Terbantu Pandemi, Ketika Banyak Orang Berdiam di Rumah

Sampah organik jangan keburu dibuang. Dengan teknik khusus, sampah ini bisa jadi produk bermanfaat. Seperti eco enzyme. Produk yang dihasilkan Komunitas Eco Enzyme Nusantara (EEN) Kalsel.

– Oleh: TIA LALITA NOVITRI, Banjarmasin

Gerakan zero waste sebenarnya bukan gerakan yang baru.

Prinsipnya disebut 5R. Yaitu refuse (menolak), reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (mendaur ulang) dan rot (mengompos sisa sampah).

Banyak cara yang bisa ditempuh. Salah satunya dengan mengolah sampah organik menjadi cairan serbaguna. Dinamai eco enzyme.

Eco enzyme sendiri adalah hasil fermentasi dari tiga bahan utama. Yakni gula, sampah organik dan air.

“Dengan perbandingan 1:3:10. Satu untuk gula, tiga untuk sampah organik dan sepuluh untuk air,” jelas Ketua Komunitas EEN Kalsel, Akbar Rahman.

Untuk pembuatan eco enzyme sendiri, setidaknya butuh minimal lima jenis sampah organik. Agar memperoleh hasil fermentasi yang baik dan berkhasiat.

Sampah organik yang dimaksud meliputi kulit buah-buahan, sisa sayuran, dan juga daun tanaman tertentu. “Minimal lima. Misal kulit semangka, jeruk, nanas, mangga dan pepaya,” ujarnya.

Ketiga bahan utama dicampur dalam sebuah wadah. Kemudian ditutup rapat. Jangan terlalu penuh, sisakan sedikit ruang pada botol atau toples untuk penguapan gas. Tutup rapat dan diamkan selama tiga bulan.

Hasil akhir fermentasi ini berupa cairan berwarna cokelat. Jangan keburu jijik, aroma cairan ini tidak semengerikan yang dibayangkan.
Eco enzyme yang sempurna menghasilkan aroma yang segar. Apalagi jika terbuat dari sampah organik kulit buah-buahan.

Baca Juga :  Sampah Ramadan Belasan Ton

Cairan ini diklaim memiliki sejuta manfaat. Baik di bidang kesehatan, pertanian, dan rumah tangga. Karena bisa digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit kulit, seperti jamuran, gatalan, bisul hingga luka. Juga bisa digunakan saat mandi dengan mencampurnya dengan sabun atau sampo.

Eco enzyme juga bisa digunakan oleh para ibu rumah tangga. Seperti untuk mengepel lantai, mencuci pakaian, mencuci piring, dan sebagainya.
“Karena hasil fermentasi ini menghasilkan bakteri baik yang tentunya bermanfaat,” ujar Akbar.

“Eco enzyme juga bisa jadi herbisida, pestisida dan insektisida,” sambungnya.

Komunitas EEN sendiri mulai bergerak sejak tahun lalu. Kepengurusan resmi baru terbentuk awal tahun ini. Tapi jangan salah, komunitas non profit ini sudah wara-wiri berbagi ilmu.

Hampir semua kabupaten di Kalsel telah Akbar dan kawan-kawan kunjungi, Banjarmasin dan Banjarbaru sudah pasti.

Di Banjarmasin sendiri sudah 200 anggota terkumpul. Belum termasuk koordinator per kabupaten dan anggotanya lagi. Akbar tak menyangka, respons masyarakat begitu positif terhadap program ini.

Peserta pelatihan eco enzyme didominasi para emak-emak. Selain itu, komunitas ini terbuka bagi siapa saja yang mengajaknya sosialisasi. Seperti dinas lingkungan hidup, dinas pertanian, kehutanan, PKK, kampus-kampus dan sebagainya.

Baca Juga :  Hampir Adu Jotos karena Sampah, Aparat Pemkab Jangan Lamban

“Kami terbuka bagi siapa saja yang mau belajar,” ujarnya.

EEN tak sekadar mengenalkan, tetapi juga praktik langsung. Peserta langsung diajarkan cara mengolah bahan menjadi eco enzyme agar benar-benar bisa.

Eco enzyme pertama kali ditemukan dan dikembangkan di Thailand oleh Dr Rosukan Poompanvong sejak 1980. Selama 30 tahun riset, Rosukan kemudian meraih penghargaan dari organisasi pangan dunia (FAO) UN.

Eco enzyme kian terkenal berkat Dr Joean Oon, Director of the Centre for Naturopathy and Protection of Families in Penang (Malaysia).
Hingga akhirnya gerakan ini berkembang di Indonesia. “Boomingnya sejak awal pandemi, orang-orang mengisi waktu di rumah dengan belajar bikin eco-enzyme,” tutur Akbar.

Menariknya, eco enzyme tidak dijualbelikan. Karena sejak awal, Rosukan sengaja tidak mematenkan temuannya. Dengan tujuan mudah dipelajari dan dikembangkan oleh orang lain.

“Cairan eco enzyme yang kami hasilkan juga tidak untuk dikomersialkan. Kecuali untuk produk turunannya, seperti sabun mandi. Otomatis butuh biaya buat beli bahan tambahannya kan,” jelas Akbar.

Akbar berharap, gerakan EEN Kalsel terus berjalan. Dengan adanya koordinator di masing-masing wilayah, gerakan ini semakin meluas. “Semoga eco enzyme semakin dikenal oleh masyarakat luas,” tuntasnya. (at/fud)

Sampah organik jangan keburu dibuang. Dengan teknik khusus, sampah ini bisa jadi produk bermanfaat. Seperti eco enzyme. Produk yang dihasilkan Komunitas Eco Enzyme Nusantara (EEN) Kalsel.

– Oleh: TIA LALITA NOVITRI, Banjarmasin

Gerakan zero waste sebenarnya bukan gerakan yang baru.

Prinsipnya disebut 5R. Yaitu refuse (menolak), reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (mendaur ulang) dan rot (mengompos sisa sampah).

Banyak cara yang bisa ditempuh. Salah satunya dengan mengolah sampah organik menjadi cairan serbaguna. Dinamai eco enzyme.

Eco enzyme sendiri adalah hasil fermentasi dari tiga bahan utama. Yakni gula, sampah organik dan air.

“Dengan perbandingan 1:3:10. Satu untuk gula, tiga untuk sampah organik dan sepuluh untuk air,” jelas Ketua Komunitas EEN Kalsel, Akbar Rahman.

Untuk pembuatan eco enzyme sendiri, setidaknya butuh minimal lima jenis sampah organik. Agar memperoleh hasil fermentasi yang baik dan berkhasiat.

Sampah organik yang dimaksud meliputi kulit buah-buahan, sisa sayuran, dan juga daun tanaman tertentu. “Minimal lima. Misal kulit semangka, jeruk, nanas, mangga dan pepaya,” ujarnya.

Ketiga bahan utama dicampur dalam sebuah wadah. Kemudian ditutup rapat. Jangan terlalu penuh, sisakan sedikit ruang pada botol atau toples untuk penguapan gas. Tutup rapat dan diamkan selama tiga bulan.

Hasil akhir fermentasi ini berupa cairan berwarna cokelat. Jangan keburu jijik, aroma cairan ini tidak semengerikan yang dibayangkan.
Eco enzyme yang sempurna menghasilkan aroma yang segar. Apalagi jika terbuat dari sampah organik kulit buah-buahan.

Baca Juga :  Dipakai Desainer Ternama, Dibawa Pameran ke Jepang

Cairan ini diklaim memiliki sejuta manfaat. Baik di bidang kesehatan, pertanian, dan rumah tangga. Karena bisa digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit kulit, seperti jamuran, gatalan, bisul hingga luka. Juga bisa digunakan saat mandi dengan mencampurnya dengan sabun atau sampo.

Eco enzyme juga bisa digunakan oleh para ibu rumah tangga. Seperti untuk mengepel lantai, mencuci pakaian, mencuci piring, dan sebagainya.
“Karena hasil fermentasi ini menghasilkan bakteri baik yang tentunya bermanfaat,” ujar Akbar.

“Eco enzyme juga bisa jadi herbisida, pestisida dan insektisida,” sambungnya.

Komunitas EEN sendiri mulai bergerak sejak tahun lalu. Kepengurusan resmi baru terbentuk awal tahun ini. Tapi jangan salah, komunitas non profit ini sudah wara-wiri berbagi ilmu.

Hampir semua kabupaten di Kalsel telah Akbar dan kawan-kawan kunjungi, Banjarmasin dan Banjarbaru sudah pasti.

Di Banjarmasin sendiri sudah 200 anggota terkumpul. Belum termasuk koordinator per kabupaten dan anggotanya lagi. Akbar tak menyangka, respons masyarakat begitu positif terhadap program ini.

Peserta pelatihan eco enzyme didominasi para emak-emak. Selain itu, komunitas ini terbuka bagi siapa saja yang mengajaknya sosialisasi. Seperti dinas lingkungan hidup, dinas pertanian, kehutanan, PKK, kampus-kampus dan sebagainya.

Baca Juga :  Hampir Adu Jotos karena Sampah, Aparat Pemkab Jangan Lamban

“Kami terbuka bagi siapa saja yang mau belajar,” ujarnya.

EEN tak sekadar mengenalkan, tetapi juga praktik langsung. Peserta langsung diajarkan cara mengolah bahan menjadi eco enzyme agar benar-benar bisa.

Eco enzyme pertama kali ditemukan dan dikembangkan di Thailand oleh Dr Rosukan Poompanvong sejak 1980. Selama 30 tahun riset, Rosukan kemudian meraih penghargaan dari organisasi pangan dunia (FAO) UN.

Eco enzyme kian terkenal berkat Dr Joean Oon, Director of the Centre for Naturopathy and Protection of Families in Penang (Malaysia).
Hingga akhirnya gerakan ini berkembang di Indonesia. “Boomingnya sejak awal pandemi, orang-orang mengisi waktu di rumah dengan belajar bikin eco-enzyme,” tutur Akbar.

Menariknya, eco enzyme tidak dijualbelikan. Karena sejak awal, Rosukan sengaja tidak mematenkan temuannya. Dengan tujuan mudah dipelajari dan dikembangkan oleh orang lain.

“Cairan eco enzyme yang kami hasilkan juga tidak untuk dikomersialkan. Kecuali untuk produk turunannya, seperti sabun mandi. Otomatis butuh biaya buat beli bahan tambahannya kan,” jelas Akbar.

Akbar berharap, gerakan EEN Kalsel terus berjalan. Dengan adanya koordinator di masing-masing wilayah, gerakan ini semakin meluas. “Semoga eco enzyme semakin dikenal oleh masyarakat luas,” tuntasnya. (at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/