alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Saturday, 21 May 2022

TAHULAH PIAN

Kota Yang Hilang di Sebelimbingan

KOTABARU – Belum banyak orang tahu Desa Sebelimbingan dulunya merupakan pusat kota Pulau Laut sebelum berganti menjadi nama Kabupaten Kotabaru.

Desa yang sekarang berada di Kecamatan Pulau Laut Utara itu. Berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat Kotabaru sekarang.

Sumali (67), warga Desa Sebelimbingan mengatakan sejarah Kota Sebelimbingan tidak banyak yang tahu. Karena memang cerita ini hanya melalui mulut ke mulut saja.

Salah satu pengingatan kota yang hilang itu yang masih bisa dilihat. Yaitu Makam Belanda yang terletak di Desa Sebelimbingan. “Nah itu tidak lepas dari sejarah dari pada Kota Sebelimbingan yang hilang, di depan Makam Belanda dulunya juga ada Rumah Sakit Belanda,” ungkap Sumali.

Hal serupa tentang Kota Sebelimbingan yang hilang juga diceritakan oleh H Adi Sutomo. Dia adalah anak yang bapaknya dan kakeknya pelaku sejarah berjayanya Kota Sebelimbingan.

Baca Juga :  Ide Balangan Sejak 1963

Kala itu menurutnya, Sebelimbingan merupakan kota yang makmur. Yang kaya akan tambang batu bara bawah tanah. Tapi, pada saat itu dikuasai oleh penjajah Belanda. Pekerja didatangkan Belanda dari Jawa.

Adanya pertambangan membuat Sebelimbingan menjadi kota yang makmur dulunya. “ Hampir tak terasa kalau kita sedang dijajah,” ungkap Tomo.

Bahkan, fasilitas pun banyak. Seperti Masjid, jalan, dermaga, bioskop, kereta, rumah sakit jiwa untuk keluarga Belanda. Dan ada juga pabrik pengolahan batubara mentah.

Namun, kejayaan Sebelimbingan berumur pendek. Tahun 1930, Sebelimbingan mendadak menjadi kota mati. Tambang berhenti beroperasi dan sebagian penduduk pindah ke desa lain di pesisir yang sekarang ada di pusat Kabupaten Kotabaru.

Penyebabnya karena meledaknya lubang tambang yang menewaskan 415 pekerja di Kota Sebelimbingan.

Setelah musibah ledakan, Belanda berangsur-angsur meninggalkan Sebelimbingan. Soal nasib pekerja dari Jawa, mereka diberi pilihan. Bertahan di Kotabaru, atau pulang ke kampung halaman. Kala itu banyak yang memilih menetap.

Baca Juga :  Kenapa Bobo Akhirnya Meredup?

Yang bertahan, berjuang membangkitkan ekonomi Sebelimbingan. Berhenti menambang, penduduk beralih ke pertanian dan perkebunan.

Pada 1956 terjadi penyerangan dan penjarahan oleh kaum pemberontak atau dikenal gerombolan di Sebelimbingan. “Kakek kami pada saat itu menurut ceritanya lari ke Tanjung Batu,” ungkap Tomo.

Pemberontak kala itu membabi buta membakar pasar dan tempat tempat keramaian. Warga juga membumihanguskan desa supaya tidak didatangi pemberontak lagi.

Kebakaran kala itu terjadi dimana-mana dan meluluhlantakkan Kota Sebelimbingan sampai salah satu masjid pun ikut terbakar. Dan membuat Sebelimbingan jadi kota mati kedua kalinya.

Sekarang Sebelimbingan hanyalah desa kecil yang dihuni puluhan kepala keluarga. Sisa kejayaan cuma tampak Komplek Makam Belanda yang tidak terurus dan puing-puing gedung rumah sakit jiwa. (jum/by/ran)

KOTABARU – Belum banyak orang tahu Desa Sebelimbingan dulunya merupakan pusat kota Pulau Laut sebelum berganti menjadi nama Kabupaten Kotabaru.

Desa yang sekarang berada di Kecamatan Pulau Laut Utara itu. Berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat Kotabaru sekarang.

Sumali (67), warga Desa Sebelimbingan mengatakan sejarah Kota Sebelimbingan tidak banyak yang tahu. Karena memang cerita ini hanya melalui mulut ke mulut saja.

Salah satu pengingatan kota yang hilang itu yang masih bisa dilihat. Yaitu Makam Belanda yang terletak di Desa Sebelimbingan. “Nah itu tidak lepas dari sejarah dari pada Kota Sebelimbingan yang hilang, di depan Makam Belanda dulunya juga ada Rumah Sakit Belanda,” ungkap Sumali.

Hal serupa tentang Kota Sebelimbingan yang hilang juga diceritakan oleh H Adi Sutomo. Dia adalah anak yang bapaknya dan kakeknya pelaku sejarah berjayanya Kota Sebelimbingan.

Baca Juga :  Asal Mula Nama Lapangan Murjani

Kala itu menurutnya, Sebelimbingan merupakan kota yang makmur. Yang kaya akan tambang batu bara bawah tanah. Tapi, pada saat itu dikuasai oleh penjajah Belanda. Pekerja didatangkan Belanda dari Jawa.

Adanya pertambangan membuat Sebelimbingan menjadi kota yang makmur dulunya. “ Hampir tak terasa kalau kita sedang dijajah,” ungkap Tomo.

Bahkan, fasilitas pun banyak. Seperti Masjid, jalan, dermaga, bioskop, kereta, rumah sakit jiwa untuk keluarga Belanda. Dan ada juga pabrik pengolahan batubara mentah.

Namun, kejayaan Sebelimbingan berumur pendek. Tahun 1930, Sebelimbingan mendadak menjadi kota mati. Tambang berhenti beroperasi dan sebagian penduduk pindah ke desa lain di pesisir yang sekarang ada di pusat Kabupaten Kotabaru.

Penyebabnya karena meledaknya lubang tambang yang menewaskan 415 pekerja di Kota Sebelimbingan.

Setelah musibah ledakan, Belanda berangsur-angsur meninggalkan Sebelimbingan. Soal nasib pekerja dari Jawa, mereka diberi pilihan. Bertahan di Kotabaru, atau pulang ke kampung halaman. Kala itu banyak yang memilih menetap.

Baca Juga :  4 Bulan yang Membuat Belanda Frustrasi

Yang bertahan, berjuang membangkitkan ekonomi Sebelimbingan. Berhenti menambang, penduduk beralih ke pertanian dan perkebunan.

Pada 1956 terjadi penyerangan dan penjarahan oleh kaum pemberontak atau dikenal gerombolan di Sebelimbingan. “Kakek kami pada saat itu menurut ceritanya lari ke Tanjung Batu,” ungkap Tomo.

Pemberontak kala itu membabi buta membakar pasar dan tempat tempat keramaian. Warga juga membumihanguskan desa supaya tidak didatangi pemberontak lagi.

Kebakaran kala itu terjadi dimana-mana dan meluluhlantakkan Kota Sebelimbingan sampai salah satu masjid pun ikut terbakar. Dan membuat Sebelimbingan jadi kota mati kedua kalinya.

Sekarang Sebelimbingan hanyalah desa kecil yang dihuni puluhan kepala keluarga. Sisa kejayaan cuma tampak Komplek Makam Belanda yang tidak terurus dan puing-puing gedung rumah sakit jiwa. (jum/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

Tradisi Batumbang Apam di HST

Asal Usul Mappanre Ri Tasi

Legenda Pantai Batu Lima

Tari Kanjar Khas Meratus

Asal Usul Kampung Ketupat

/