alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Saturday, 28 May 2022

Investasi Kalsel Semakin Menggiurkan

BANJARBARU – Berinvestasi di Kalsel nampaknya semakin menggiurkan. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Kalsel mencatat, selama 2021 nilai investasi di Banua naik signifikan dibandingkan 2020.

Kepala DPMPTSP Kalsel, Nafarin mengatakan, realisasi investasi pada triwulan IV 2021 mencapai Rp3,28 triliun. Angka ini naik Rp1,32 triliun atau 40 persen dibandingkan 2020 pada triwulan yang sama. “Karena investasi triwulan IV tahun 2020 hanya sebesar Rp1,95 triliun,” katanya, kemarin.

Dia mengungkapkan, investasi triwulan IV 2021 terdiri dari penanaman modal asing (PMA) sebesar USD50,3 juta atau setara Rp734,78 miliar dan penanaman modal dalam negeri (PMDN), Rp2,55 triliun. “Jadi total keduanya mencapai Rp3,28 triliun,” ungkapnya.

Apabila ditotal secara keseluruhan sepanjang tahun 2021, Nafarin menyebut, realisasi investasi Kalsel mencapai Rp12,71 triliun. Meningkat 39 persen dibanding 2020 yang hanya Rp9,43 triliun.

“Dengan jumlah tersebut, capaian realisasi investasi Kalsel berhasil mencapai 117 persen dari target yang diberikan BKPM sebesar Rp10,83 triliun,” sebutnya.

Lanjutnya, untuk jumlah proyek di Kalsel pada 2021 secara kumulatif berjumlah 3.157. Angka ini mengalami peningkatan sebanyak 1.158 proyek atau 37 persen dibanding 2020.

Sedangkan tenaga kerja yang diserap ada 2021 sejumlah 22.933 orang, mengalami peningkatan 841 orang atau 4 persen dibanding tahun 2020.

“Pertumbuhan positif terjadi pada seluruh lapangan usaha. Lapangan usaha yang memiliki pertumbuhan paling tinggi adalah jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 10,89 persen,” ujar Nafarin.

Baca Juga :  Investasi 2021 di Banjarbaru Lampaui Target, 2022 Makin Optimis

Berdasarkan sektor, lanjutnya, proyek paling banyak pada triwulan IV adalah sektor perdagangan dan reparasi berjumlah 280 proyek dengan nilai investasi Rp248,64 miliar. Disusul sektor jasa lainnya sebanyak 65 proyek sebesar Rp85,83 miliar dan sektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan dengan jumlah 41 proyek dengan nilai Rp897,40 miliar.

“Sedangkan untuk nilai investasi paling banyak masih berada pada sektor pertambangan, yakni sebesar Rp997,03 miliar,” jelasnya.

Kemudian, terkait lokasi proyek, DPMPTSP Provinsi Kalsel mencatat ada tiga besar kabupaten/kota penyumbang investasi PMDN dan PMA triwulan IV 2021. Yakni Kota Banjarmasin sebanyak 144 proyek dengan nilai investasi Rp770,88 miliar . Lalu, Kabupaten Tanah Bumbu dengan 101 proyek dan nilai investasi Rp206,15 miliar, serta Kabupaten Banjar dengan 82 proyek dan nilai investasi Rp197,20 miliar.

Sedangkan, berdasarkan negara asal ada lima besar penyumbang investasi asing pada triwulan IV tahun 2021 di Kalsel. Yakni Malaysia sebesar USD 21,78 juta atau Rp310,66 miliar. Kemudian, Jerman sebesar USD 20,58 juta atau Rp300,59 miliar, British Virgin Island sebanyak USD2,3 juta atau Rp34,53 miliar, dan Belanda sebesar USD 2,23 juta atau Rp34,53 miliar.

“Jika ditotal, sepanjang tahun 2021, Malaysia menjadi negara dengan nilai investasi terbesar, yakni Rp438,2 miliar. Disusul Jerman sebesar Rp337,9 miliar dan British Virgin Island Rp321,1 miliar,” paparnya.

Baca Juga :  Optimis Target Investasi Tercapai

Untuk tahun 2022, Nafarin membeberkan, Kalsel ditargetkan dapat mencapai nilai investasi nasional sebesar Rp14,4 trilun. Meskipun bukan hal yang mudah, namun dia optimis target tersebut dapat tercapai di tahun ini.

“Kita masih punya banyak investor yang ingin mengembangkan usahanya di Kalsel, di antaranya pembangunan kilang minyak di Kabupaten Kotabaru dan pembangunan PLTB di Kabupaten Tanah Laut,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Kalsel, Mahyuni menyampaikan, dalam rangka hilirisasi industri ada banyak investasi yang diperlukan Kalsel. “Yang pertama, hilirisasi pengolahan karet. Seperti, industri pengolahan ban dan industri pengolahan belt conveyor,” ucapnya.

Dia menambahkan, Kalsel juga perlu industri untuk hilirisasi sawit. Seperti pengolahan CPO menjadi oleo energi, oleo food dan oleo chemical. “Juga hilirisasi pengolahan tandan kosong sawit, pelepah dan batang menjadi pulp serta kertas pembungkus/karton,” ujarnya.

Selain itu, sebagai daerah yang memiliki batubara melimpah, Banua juga perlu mencari investasi untuk mengolah batubara menjadi barang jadi. Misal, jadi LPG atau polypropylene.

“Kalsel juga perlu ada hilirisasi industri pengolahan biji besi menjadi baja karbon, serta metal forming atau pembentukan logam. Juga pengolahan amoniak dan pupuk,” papar Mahyuni. (ris/by/ran)

BANJARBARU – Berinvestasi di Kalsel nampaknya semakin menggiurkan. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Kalsel mencatat, selama 2021 nilai investasi di Banua naik signifikan dibandingkan 2020.

Kepala DPMPTSP Kalsel, Nafarin mengatakan, realisasi investasi pada triwulan IV 2021 mencapai Rp3,28 triliun. Angka ini naik Rp1,32 triliun atau 40 persen dibandingkan 2020 pada triwulan yang sama. “Karena investasi triwulan IV tahun 2020 hanya sebesar Rp1,95 triliun,” katanya, kemarin.

Dia mengungkapkan, investasi triwulan IV 2021 terdiri dari penanaman modal asing (PMA) sebesar USD50,3 juta atau setara Rp734,78 miliar dan penanaman modal dalam negeri (PMDN), Rp2,55 triliun. “Jadi total keduanya mencapai Rp3,28 triliun,” ungkapnya.

Apabila ditotal secara keseluruhan sepanjang tahun 2021, Nafarin menyebut, realisasi investasi Kalsel mencapai Rp12,71 triliun. Meningkat 39 persen dibanding 2020 yang hanya Rp9,43 triliun.

“Dengan jumlah tersebut, capaian realisasi investasi Kalsel berhasil mencapai 117 persen dari target yang diberikan BKPM sebesar Rp10,83 triliun,” sebutnya.

Lanjutnya, untuk jumlah proyek di Kalsel pada 2021 secara kumulatif berjumlah 3.157. Angka ini mengalami peningkatan sebanyak 1.158 proyek atau 37 persen dibanding 2020.

Sedangkan tenaga kerja yang diserap ada 2021 sejumlah 22.933 orang, mengalami peningkatan 841 orang atau 4 persen dibanding tahun 2020.

“Pertumbuhan positif terjadi pada seluruh lapangan usaha. Lapangan usaha yang memiliki pertumbuhan paling tinggi adalah jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 10,89 persen,” ujar Nafarin.

Baca Juga :  Jadi Ibu Kota, Banjabaru Diincar Banyak Investor

Berdasarkan sektor, lanjutnya, proyek paling banyak pada triwulan IV adalah sektor perdagangan dan reparasi berjumlah 280 proyek dengan nilai investasi Rp248,64 miliar. Disusul sektor jasa lainnya sebanyak 65 proyek sebesar Rp85,83 miliar dan sektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan dengan jumlah 41 proyek dengan nilai Rp897,40 miliar.

“Sedangkan untuk nilai investasi paling banyak masih berada pada sektor pertambangan, yakni sebesar Rp997,03 miliar,” jelasnya.

Kemudian, terkait lokasi proyek, DPMPTSP Provinsi Kalsel mencatat ada tiga besar kabupaten/kota penyumbang investasi PMDN dan PMA triwulan IV 2021. Yakni Kota Banjarmasin sebanyak 144 proyek dengan nilai investasi Rp770,88 miliar . Lalu, Kabupaten Tanah Bumbu dengan 101 proyek dan nilai investasi Rp206,15 miliar, serta Kabupaten Banjar dengan 82 proyek dan nilai investasi Rp197,20 miliar.

Sedangkan, berdasarkan negara asal ada lima besar penyumbang investasi asing pada triwulan IV tahun 2021 di Kalsel. Yakni Malaysia sebesar USD 21,78 juta atau Rp310,66 miliar. Kemudian, Jerman sebesar USD 20,58 juta atau Rp300,59 miliar, British Virgin Island sebanyak USD2,3 juta atau Rp34,53 miliar, dan Belanda sebesar USD 2,23 juta atau Rp34,53 miliar.

“Jika ditotal, sepanjang tahun 2021, Malaysia menjadi negara dengan nilai investasi terbesar, yakni Rp438,2 miliar. Disusul Jerman sebesar Rp337,9 miliar dan British Virgin Island Rp321,1 miliar,” paparnya.

Baca Juga :  Optimis Target Investasi Tercapai

Untuk tahun 2022, Nafarin membeberkan, Kalsel ditargetkan dapat mencapai nilai investasi nasional sebesar Rp14,4 trilun. Meskipun bukan hal yang mudah, namun dia optimis target tersebut dapat tercapai di tahun ini.

“Kita masih punya banyak investor yang ingin mengembangkan usahanya di Kalsel, di antaranya pembangunan kilang minyak di Kabupaten Kotabaru dan pembangunan PLTB di Kabupaten Tanah Laut,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Kalsel, Mahyuni menyampaikan, dalam rangka hilirisasi industri ada banyak investasi yang diperlukan Kalsel. “Yang pertama, hilirisasi pengolahan karet. Seperti, industri pengolahan ban dan industri pengolahan belt conveyor,” ucapnya.

Dia menambahkan, Kalsel juga perlu industri untuk hilirisasi sawit. Seperti pengolahan CPO menjadi oleo energi, oleo food dan oleo chemical. “Juga hilirisasi pengolahan tandan kosong sawit, pelepah dan batang menjadi pulp serta kertas pembungkus/karton,” ujarnya.

Selain itu, sebagai daerah yang memiliki batubara melimpah, Banua juga perlu mencari investasi untuk mengolah batubara menjadi barang jadi. Misal, jadi LPG atau polypropylene.

“Kalsel juga perlu ada hilirisasi industri pengolahan biji besi menjadi baja karbon, serta metal forming atau pembentukan logam. Juga pengolahan amoniak dan pupuk,” papar Mahyuni. (ris/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/