alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Bagian Tersusahnya, Mengajak Lansia untuk Vaksin

BANJARBARU – Tak mudah rupanya membuat cakupan vaksinasi lansia di Banjarbaru merangsek naik. Meski cakupan dosis satu sudah 70 persen, namun nyatanya angka ini masih terbilang rendah.

Menurut data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Banjarbaru. Cakupan tersebut menempatkan Kota Banjarbaru di posisi tiga terendah di Kalsel dalam hal capaian vaksinasi lansia.

“Untuk kategori lansia kita masih rendah, daerah lain seperti Tapin itu sudah sampai 90 persen. Namun untuk cakupan vaksinasi anak dan booster kita tertinggi,” ujar Koordinator Tim Surveilans Epidemiologi Penanggulangan Wabah Corona Virus Disease Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Edi Sampana.

Kalangan lansia sendiri masuk skala prioritas percepatan vaksinasi. Terlebih di situasi kasus aktif mulai naik kini, lansia ujar Edi sangat berisiko fatal bahkan berakibat kematian apabila tertular Covid-19.

“Lansia ini kan usianya di atas 60 tahun, nah rata-rata mereka sudah ada komorbid. Yang fatal ini komorbidnya ini jika tertular akan semakin parah dan risikonya bisa wafat. Makanya penting sekali vaksinasi ini bagi lansia,” katanya.

Baca Juga :  Ikut Vaksin, Mahasiswi ini Dapat Motor Matic

Dengan cakupan 70 persen per tanggal 24 Februari 2022 tersebut. Maka perjalanan untuk vaksinasi untuk lansia kata Edi masih cukup panjang. Sebab dari target sasaran sekitar 13 ribu orang, kini baru 9000 lebih yang sudah divaksin satu.

“Sisanya sekitar 30 persen atau setara 4100 orang lansia yang belum divaksin sama sekali. Untuk dosis dua lansia kita baru 57 persen. Seharusnya target kita Februari ini bisa 75 persen dosis satu dan Maret jadi 85 persen,” bebernya.

Lantas apa sebetulnya kendala vaksinasi lansia tersebut? Edi menilai jika mobilitas jadi kendala utama para lansia. Maka dari itu, untuk menggenjot cakupan ini, pihak nakes dibantu TNI-Polri kata Edi harus pakai metode mendatangi ke rumah.

Baca Juga :  Jangan Keasyikan dengan Booster

“Kalau disuruh datang ke puskesmas atau ke titik vaksinasi agak cukup sulit. Karena kendalanya mereka sulit datang ke lokasi, belum lagi kendala soal urusan biaya perjalanan atau siapa yang mengantarkannya. Makanya, kita sekarang fokus mendatangi ke rumah,” ceritanya.

Selain karena kendala yang bersifat teknis tadi, sejumlah lansia kata Edi juga cukup banyak yang ogah-ogahan untuk divaksin. Alasannya mulai dari takut hingga mendengar berita hoaks.

“Jadi memang pendekatan kepada kelompok lansia ini kita harus sabar dan menerangkannya secara lengkap. Karena memang tak bisa dipungkiri masih ada yang menolak disuntik vaksin karena takut kenapa-kenapa,” pungkasnya. (rvn/ij/bin)

BANJARBARU – Tak mudah rupanya membuat cakupan vaksinasi lansia di Banjarbaru merangsek naik. Meski cakupan dosis satu sudah 70 persen, namun nyatanya angka ini masih terbilang rendah.

Menurut data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Banjarbaru. Cakupan tersebut menempatkan Kota Banjarbaru di posisi tiga terendah di Kalsel dalam hal capaian vaksinasi lansia.

“Untuk kategori lansia kita masih rendah, daerah lain seperti Tapin itu sudah sampai 90 persen. Namun untuk cakupan vaksinasi anak dan booster kita tertinggi,” ujar Koordinator Tim Surveilans Epidemiologi Penanggulangan Wabah Corona Virus Disease Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Edi Sampana.

Kalangan lansia sendiri masuk skala prioritas percepatan vaksinasi. Terlebih di situasi kasus aktif mulai naik kini, lansia ujar Edi sangat berisiko fatal bahkan berakibat kematian apabila tertular Covid-19.

“Lansia ini kan usianya di atas 60 tahun, nah rata-rata mereka sudah ada komorbid. Yang fatal ini komorbidnya ini jika tertular akan semakin parah dan risikonya bisa wafat. Makanya penting sekali vaksinasi ini bagi lansia,” katanya.

Baca Juga :  Tetap Perhatikan Sampah Infeksius: Sisa dari Vaksinasi, PCR dan Antigen

Dengan cakupan 70 persen per tanggal 24 Februari 2022 tersebut. Maka perjalanan untuk vaksinasi untuk lansia kata Edi masih cukup panjang. Sebab dari target sasaran sekitar 13 ribu orang, kini baru 9000 lebih yang sudah divaksin satu.

“Sisanya sekitar 30 persen atau setara 4100 orang lansia yang belum divaksin sama sekali. Untuk dosis dua lansia kita baru 57 persen. Seharusnya target kita Februari ini bisa 75 persen dosis satu dan Maret jadi 85 persen,” bebernya.

Lantas apa sebetulnya kendala vaksinasi lansia tersebut? Edi menilai jika mobilitas jadi kendala utama para lansia. Maka dari itu, untuk menggenjot cakupan ini, pihak nakes dibantu TNI-Polri kata Edi harus pakai metode mendatangi ke rumah.

Baca Juga :  Jangan Keasyikan dengan Booster

“Kalau disuruh datang ke puskesmas atau ke titik vaksinasi agak cukup sulit. Karena kendalanya mereka sulit datang ke lokasi, belum lagi kendala soal urusan biaya perjalanan atau siapa yang mengantarkannya. Makanya, kita sekarang fokus mendatangi ke rumah,” ceritanya.

Selain karena kendala yang bersifat teknis tadi, sejumlah lansia kata Edi juga cukup banyak yang ogah-ogahan untuk divaksin. Alasannya mulai dari takut hingga mendengar berita hoaks.

“Jadi memang pendekatan kepada kelompok lansia ini kita harus sabar dan menerangkannya secara lengkap. Karena memang tak bisa dipungkiri masih ada yang menolak disuntik vaksin karena takut kenapa-kenapa,” pungkasnya. (rvn/ij/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/