alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

OPINI

Ponzi dan Rizky

CARLO Ponzi adalah seorang imigran Italia. Pindah ke Amerika Serikat, nama depannya berubah menjadi Charles.

===========================
Oleh: Muhammad Syarafuddin
Editor Halaman Metropolis Radar Banjarmasin
===========================

Pada 1919-1920, Ponzi menipu ribuan penduduk New England. Lewat modus investasi perangko, jutaan dolar dia embat.

Di dunia kejahatan, namanya kemudian diabadikan untuk praktik investasi bodong.

Dalam Skema Ponzi, penipu membayar keuntungan kepada investor dari kantongnya sendiri atau dari uang investor berikutnya.

Skema ini sebenarnya tak canggih, tapi jitu. Karena Ponzi menyentuh sisi tergelap manusia. Ingin lekas kaya raya tapi malas bekerja. Panjang angan-angan tapi pendek jangkauan.

Selama para pengkhayal tetap bernapas di muka bumi, Skema Ponzi takkan pernah kekurangan mangsa.

Kelebihan lain dari skema ini, bisa dibungkus dalam berbagai kedok. Contoh arisan daring.

Seabad berlalu, di Banjarmasin, roh Ponzi bergentayangan lewat arisan yang dijajakan Rizky Amalia.

Baca Juga :  Politisi dan Air Mata Tak Terbukti

Polisi sudah menahan dan menetapkan perempuan 25 tahun itu sebagai tersangka. Kini penyidik sedang mendalami, apakah suaminya ikut terlibat dalam kasus ini. Hasilnya patut ditunggu.

Pembaca mungkin heran, mengapa masih saja ada yang tertipu?

Pertama, ini zaman ekonomi sulit. Bisa jadi bukan karena malas bekerja. Tapi karena capek bekerja dan ternyata masih saja miskin.

Dengan senyum manisnya, Rizky kemudian hadir dan sanggup menjanjikan pemecahan atas masalah tersebut.

Kedua, statusnya sebagai seorang Bhayangkari. Istri anggota Polri. Promosi yang meyakinkan.

Bila korban mulai tak sabaran menagih, Rizky kerap menjual nama suaminya sebagai bintara dan mertuanya sebagai pensiunan perwira. Jaminan yang cukup untuk menenangkan hati para korban.

Secara teori, Skema Ponzi berjalan mulus saat jumlah korbannya masih sedikit. Tapi semakin banyak pesertanya, semakin rawan kolaps.

Apalagi ketika si penipu mulai gatal membelanjakan uang korban untuk membeli rumah, mobil keren, barang bermerek dan pergi berlibur.

Baca Juga :  Kim Belum Sempurna

Polresta Banjarmasin wajib belajar dari kasus ini. Mengingat Rizky sudah menjajakan arisannya sejak tahun 2017. Baru terbongkar sekarang ketika miliaran rupiah sudah diraup.

Apalagi tersangka bukan tipe ibu-ibu yang rajin menabung. Dia tak pernah sanggup menahan diri dari godaan untuk pamer.

Cukup membuka akun Instagram-nya, Anda bisa melihat gaya hidup glamor tersangka. Saking wownya, oleh netizen ia dijuluki ‘Ratu Arisan Online’.

Perubahan gaya hidup secara drastis itu semestinya dicurigai sejak dini oleh propam. Tanpa harus menunggu aduan atau keluhan.

Demi institusi, prasangka baik bahwa tersangka ketiban warisan atau menang kuis harus dikesampingkan.
Divisi polisi siber juga. Ketimbang berpatroli memantau komentar-komentar warga yang nakal, sebaiknya berpatroli untuk mengawasi akun-akun milik anggotanya sendiri. (*)

CARLO Ponzi adalah seorang imigran Italia. Pindah ke Amerika Serikat, nama depannya berubah menjadi Charles.

===========================
Oleh: Muhammad Syarafuddin
Editor Halaman Metropolis Radar Banjarmasin
===========================

Pada 1919-1920, Ponzi menipu ribuan penduduk New England. Lewat modus investasi perangko, jutaan dolar dia embat.

Di dunia kejahatan, namanya kemudian diabadikan untuk praktik investasi bodong.

Dalam Skema Ponzi, penipu membayar keuntungan kepada investor dari kantongnya sendiri atau dari uang investor berikutnya.

Skema ini sebenarnya tak canggih, tapi jitu. Karena Ponzi menyentuh sisi tergelap manusia. Ingin lekas kaya raya tapi malas bekerja. Panjang angan-angan tapi pendek jangkauan.

Selama para pengkhayal tetap bernapas di muka bumi, Skema Ponzi takkan pernah kekurangan mangsa.

Kelebihan lain dari skema ini, bisa dibungkus dalam berbagai kedok. Contoh arisan daring.

Seabad berlalu, di Banjarmasin, roh Ponzi bergentayangan lewat arisan yang dijajakan Rizky Amalia.

Baca Juga :  Tombol Hapus

Polisi sudah menahan dan menetapkan perempuan 25 tahun itu sebagai tersangka. Kini penyidik sedang mendalami, apakah suaminya ikut terlibat dalam kasus ini. Hasilnya patut ditunggu.

Pembaca mungkin heran, mengapa masih saja ada yang tertipu?

Pertama, ini zaman ekonomi sulit. Bisa jadi bukan karena malas bekerja. Tapi karena capek bekerja dan ternyata masih saja miskin.

Dengan senyum manisnya, Rizky kemudian hadir dan sanggup menjanjikan pemecahan atas masalah tersebut.

Kedua, statusnya sebagai seorang Bhayangkari. Istri anggota Polri. Promosi yang meyakinkan.

Bila korban mulai tak sabaran menagih, Rizky kerap menjual nama suaminya sebagai bintara dan mertuanya sebagai pensiunan perwira. Jaminan yang cukup untuk menenangkan hati para korban.

Secara teori, Skema Ponzi berjalan mulus saat jumlah korbannya masih sedikit. Tapi semakin banyak pesertanya, semakin rawan kolaps.

Apalagi ketika si penipu mulai gatal membelanjakan uang korban untuk membeli rumah, mobil keren, barang bermerek dan pergi berlibur.

Baca Juga :  Media Sosial dan Matinya Seni Diskusi

Polresta Banjarmasin wajib belajar dari kasus ini. Mengingat Rizky sudah menjajakan arisannya sejak tahun 2017. Baru terbongkar sekarang ketika miliaran rupiah sudah diraup.

Apalagi tersangka bukan tipe ibu-ibu yang rajin menabung. Dia tak pernah sanggup menahan diri dari godaan untuk pamer.

Cukup membuka akun Instagram-nya, Anda bisa melihat gaya hidup glamor tersangka. Saking wownya, oleh netizen ia dijuluki ‘Ratu Arisan Online’.

Perubahan gaya hidup secara drastis itu semestinya dicurigai sejak dini oleh propam. Tanpa harus menunggu aduan atau keluhan.

Demi institusi, prasangka baik bahwa tersangka ketiban warisan atau menang kuis harus dikesampingkan.
Divisi polisi siber juga. Ketimbang berpatroli memantau komentar-komentar warga yang nakal, sebaiknya berpatroli untuk mengawasi akun-akun milik anggotanya sendiri. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

Madam dan Mudik

Majas, Bukan Poster Seksis

Politisi dan Air Mata Tak Terbukti

Organisasi Kepemudaan

/