alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Tak Bisa Lepas dari Dunia Aktivis

Dulu Pendemo, Kini Didemo

BANJARBARU – Emi Lasari. Legislator dua periode di DPRD Banjarbaru ini dikenal dengan kritiknya yang pedas dan lantang. Tak jarang, ia berseberangan dengan kebijakan pemerintah.

Selain lantang dalam bersuara, Emi juga dikenal suka blusukan. Bercengkrama langsung dengan warga juga sudah kental dengan Emi yang sekarang menjabat sebagai Ketua DPD PAN Banjarbaru ini.

Bagi Emi, sikap dan gayanya sekarang ini tak ujug-ujug muncul. Ia menampik jika apa yang ia tunjukkan itu adalah pencitraan. Kehidupan sebagai aktivis di tahun 90-an lalu membentuk Emi menjadi seperti sekarang.

Tak ayal, Emi yang dulu sering turun aksi dan berdemo, kini dengan jabatannya sekarang menjadi sasaran pendemo. Beberapa kali kantor dewan memang sempat digeruduk pengunjuk rasa.

“Tidak bisa dipungkiri, background saya sebagai aktivitas sangat memengaruhi cara berpikir dan bersikap saya. Termasuk hingga sekarang ketika menjadi legislator di Banjarbaru,” ujarnya.

Emi bercerita, mulai aktif di dunia aktivis pada tahun 1998. Saat itu ia yang masih berseragam mahasiswa kerap turun aksi ke jalan. Bahkan, Emi pun menegaskan jika dirinya memang besar dan terbentuk di jalanan.

“Sudah banyak di jalan tahun 98 itu. Banyak mendampingi masyarakat dan kasus-kasusnya. Nah, dari situ saya melihat, bahwa masyarakat ini sangat berharap pada pemangku kebijakan, terutama anggota DPRD,” ingatnya.

Baca Juga :  39 Tahun Aktif Dukung Program KB

Dengan pengalaman langsung itu, Emi akhirnya tercetus keinginan untuk masuk ranah legislatif. Alhasil, ia menjadikan parlemen sebagai salah satu tujuan hidup.

“Bahkan ini jadi cita-cita saya saat itu. Karena saya berpikir jika ingin membawa perubahan yang lebih besar dan dapat mengakomodir aspirasi rakyat, ya kita harus masuk sistem pemerintahan, dan saya memilih legislatif,” katanya.

Kursi dewan, ujar Emi, bukan dianggapnya sebagai target profesi ataupun mengejar prestise. Jauh dari itu, Emi mengutarakan ini memang murni panggilan jiwanya, terutama ketika ia berproses selama jadi aktivis.

“Dunia aktivis itu sangat jadi modal penting. Mereka yang terjun langsung ke lapangan dan bertemu masyarakat tentu akan tahu apa masalahnya. Dan aktivis yang jadi politisi itu saya kira tentu lebih menguasai masalah dan persoalan di lapangan,” ungkapnya.

Lantas apa yang membuat Emi begitu keras dan lantang dalam mengkritik pemerintah? Emi menjawab jika hal itu memang sudah jadi gayanya. Terlebih, peranan dan fungsi dewan kata Emi sah-sah saja mengkritisi kebijakan yang dinilai tak berpihak pada publik.

“Kalau anggota dewan tidak mengkritiki, maka saya kira ia tidak menjalankan fungsinya sebagai pengawasan atau kontrol. Karena eksekutif itu menjalankan pemerintahan dan kita di legislatif yang mengawasinya. Kalau ada yang tidak sesuai ya tentu harus dikritik,” katanya.

Baca Juga :  Tidak Lekas Berpuas Diri, Terus Gali Potensi

Emi sendiri mengaku tak takut dengan dampak dari kritikannya. Baginya, selama kritik itu tolak ukurnya adalah rasionalitas dan beracu pada kebenaran publik, maka seorang legislator katanya harus berani lantang.

“Nah itu juga kenapa saya tidak terlalu suka acara-acara seremonial, karena memang kita harus mengecek langsung ke lapangan, melihat dan mendengar langsung apa persoalannya,” katanya.

Ditanya pengalamannya sebagai politisi perempuan, Emi menilai bahwa memang kedua hal tersebut sedikit banyaknya memang berkaitan. Yakni sama-sama merupakan tanggung jawab dan amanah.

Di legislatif, tanggung jawabnya ujar Emi adalah kepada publik. Sementara sebagai seorang ibu, tanggung jawabnya adalah kepada keluarga dan rumah.

“Saya kira sebagai politisi perempuan adalah bagaimana menyeimbangkan yang mana tugas publik dan domestik. Ya kalau mau jujur tentu cukup berat, apalagi saya juga sebagai ibu dan anak, karena anak dan orang tua saya adalah tanggung jawab saya,” ceritanya.

Namun, kembali ke latar belakang yang ia ceritakan tadi, jalanan ujar Emi benar-benar membentuknya jadi seseorang perempuan yang harus bermental kuat dan memiliki jiwa petarung.

“Kehidupan saya memang tak bisa lepas dari pengaruh dunia aktivis. Karena di jalanan itu benar-benar membentuk karakter kita, sikap kita dan kemampuan menyelesaikan masalah,” tutupnya. (rvn)

BANJARBARU – Emi Lasari. Legislator dua periode di DPRD Banjarbaru ini dikenal dengan kritiknya yang pedas dan lantang. Tak jarang, ia berseberangan dengan kebijakan pemerintah.

Selain lantang dalam bersuara, Emi juga dikenal suka blusukan. Bercengkrama langsung dengan warga juga sudah kental dengan Emi yang sekarang menjabat sebagai Ketua DPD PAN Banjarbaru ini.

Bagi Emi, sikap dan gayanya sekarang ini tak ujug-ujug muncul. Ia menampik jika apa yang ia tunjukkan itu adalah pencitraan. Kehidupan sebagai aktivis di tahun 90-an lalu membentuk Emi menjadi seperti sekarang.

Tak ayal, Emi yang dulu sering turun aksi dan berdemo, kini dengan jabatannya sekarang menjadi sasaran pendemo. Beberapa kali kantor dewan memang sempat digeruduk pengunjuk rasa.

“Tidak bisa dipungkiri, background saya sebagai aktivitas sangat memengaruhi cara berpikir dan bersikap saya. Termasuk hingga sekarang ketika menjadi legislator di Banjarbaru,” ujarnya.

Emi bercerita, mulai aktif di dunia aktivis pada tahun 1998. Saat itu ia yang masih berseragam mahasiswa kerap turun aksi ke jalan. Bahkan, Emi pun menegaskan jika dirinya memang besar dan terbentuk di jalanan.

“Sudah banyak di jalan tahun 98 itu. Banyak mendampingi masyarakat dan kasus-kasusnya. Nah, dari situ saya melihat, bahwa masyarakat ini sangat berharap pada pemangku kebijakan, terutama anggota DPRD,” ingatnya.

Baca Juga :  Dukung Paxia Wakili Kalsel jadi Puteri Indonesia 2022

Dengan pengalaman langsung itu, Emi akhirnya tercetus keinginan untuk masuk ranah legislatif. Alhasil, ia menjadikan parlemen sebagai salah satu tujuan hidup.

“Bahkan ini jadi cita-cita saya saat itu. Karena saya berpikir jika ingin membawa perubahan yang lebih besar dan dapat mengakomodir aspirasi rakyat, ya kita harus masuk sistem pemerintahan, dan saya memilih legislatif,” katanya.

Kursi dewan, ujar Emi, bukan dianggapnya sebagai target profesi ataupun mengejar prestise. Jauh dari itu, Emi mengutarakan ini memang murni panggilan jiwanya, terutama ketika ia berproses selama jadi aktivis.

“Dunia aktivis itu sangat jadi modal penting. Mereka yang terjun langsung ke lapangan dan bertemu masyarakat tentu akan tahu apa masalahnya. Dan aktivis yang jadi politisi itu saya kira tentu lebih menguasai masalah dan persoalan di lapangan,” ungkapnya.

Lantas apa yang membuat Emi begitu keras dan lantang dalam mengkritik pemerintah? Emi menjawab jika hal itu memang sudah jadi gayanya. Terlebih, peranan dan fungsi dewan kata Emi sah-sah saja mengkritisi kebijakan yang dinilai tak berpihak pada publik.

“Kalau anggota dewan tidak mengkritiki, maka saya kira ia tidak menjalankan fungsinya sebagai pengawasan atau kontrol. Karena eksekutif itu menjalankan pemerintahan dan kita di legislatif yang mengawasinya. Kalau ada yang tidak sesuai ya tentu harus dikritik,” katanya.

Baca Juga :  Didik Anak Dengan Agama

Emi sendiri mengaku tak takut dengan dampak dari kritikannya. Baginya, selama kritik itu tolak ukurnya adalah rasionalitas dan beracu pada kebenaran publik, maka seorang legislator katanya harus berani lantang.

“Nah itu juga kenapa saya tidak terlalu suka acara-acara seremonial, karena memang kita harus mengecek langsung ke lapangan, melihat dan mendengar langsung apa persoalannya,” katanya.

Ditanya pengalamannya sebagai politisi perempuan, Emi menilai bahwa memang kedua hal tersebut sedikit banyaknya memang berkaitan. Yakni sama-sama merupakan tanggung jawab dan amanah.

Di legislatif, tanggung jawabnya ujar Emi adalah kepada publik. Sementara sebagai seorang ibu, tanggung jawabnya adalah kepada keluarga dan rumah.

“Saya kira sebagai politisi perempuan adalah bagaimana menyeimbangkan yang mana tugas publik dan domestik. Ya kalau mau jujur tentu cukup berat, apalagi saya juga sebagai ibu dan anak, karena anak dan orang tua saya adalah tanggung jawab saya,” ceritanya.

Namun, kembali ke latar belakang yang ia ceritakan tadi, jalanan ujar Emi benar-benar membentuknya jadi seseorang perempuan yang harus bermental kuat dan memiliki jiwa petarung.

“Kehidupan saya memang tak bisa lepas dari pengaruh dunia aktivis. Karena di jalanan itu benar-benar membentuk karakter kita, sikap kita dan kemampuan menyelesaikan masalah,” tutupnya. (rvn)

Most Read

Artikel Terbaru

/