alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Sunday, 29 May 2022

Murung Pudak Kotanya Pertamina

TANJUNG – Tahukan Pian kalau Murung Pudak di Kabupaten Tabalong dikenal karena keberadaan PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Lapangan Tanjung. Itu pun terjadi sejak lama, saat masa keberadaan kolonial Belanda.

Seorang warga Murung Pudak, Mardi, yang sejak lama tinggal di lingkungan badan usaha milik negara (BUMN) dan sempat bekerja di tempat itu mengatakan, Pertamina ada sejak zaman Belanda.

“Waktu saya kecil kalau mendengar suara suling Pertamina langsung matikan lampu, itu tanda ada Belanda,” katanya.

Belanda pun membuka eksplorasi dan produksi minyak dan gas di Murung Pudak. Ada nama pekerjanya yang sempat dia kenal menjadi penjaga. “Sekitar tahun 70 an, banyak orang datangan dari luar,” ujarnya.

Para warga asing Belanda itu membangun perumahan, selain melubangi perut bumi Tabalong, yang namanya masih belum ada, karena belum pemekaran wilayah. Nama kabupaten saat itu masih ikut Hulu Sungai Utara.

Mereka, orang-orang barat juga membangun gedung bioskop dan bangunan lainnya. Posisinya persis di sekitaran Taman 10 K.

“Kalau kantor Pertamina EP Tanjung yang ada dulu kantor pemerintahan Inggris,” cerita pria berusia 62 tahun itu yang sempat menjadi sopir pengangkut peralatan pengeboran.

Dengan suasana itu, menarik berbagai warga Banua untuk datang menyaksikan kemegahannya. Apalagi, setiap tahun ada artis ibu kota datang. “Artis-artisnya yang pop saja, tidak ada dangdut. Sekarang sudah tidak ada lagi orangnya,” ujarnya sembari mengingat.

Humas PT Pertamina EP Tanjung, Ruspandi pun menceritakan keberadaan akivitas pengeboran minyak bumi di Murung Pudak sejak tahun 1950 lalu yang hasilnya dikirimkan ke Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, sepanjang 246 kilometer.

Baca Juga :  Asal Usul Nama Pagatan

“Perusahaan Belanda Minjbouw Maatschapij Martapoera dipimpin H ‘s Jacob pada tahun 1898 melakukan pengeboran lapangan minyak baru,” jelasnya.

Tahun 1930 itu pula kegiatan eksploitasi minyak bumi di Tanjung beralih pengelolaannya kepada sebuah perusahaan NV Bataafsche Petroleum Maatschappij atau BPM. BPM adalah sebuah perusahaan afiliasi dari Royal Dutch Shell yang mengkhususkan kegiatannya pada eksploitasi dan produksi. Sedangkan Royal Dutch Shell sendiri merupakan merger dari dua perusahaan yaitu Royal Petroleum Company.

Pada periode 1942 – 1945 saat perang dunia kedua pecah yang ditandai dengan invasi masif balatentara Jepang yang bergerak dari Filipina, Sarawak dan masuk wilayah Kalimantan, melalui Tarakan hingga akhirnya menguasai seluruh wilayah Hindia Belanda. Maka secara otomatis unit-unit bisnis milik kerajaan Belanda jatuh ke tangan Jepang, termasuk lapangan minyak Tanjung. Pada periode ini kegiatan operasional oleh BPM terhenti, akan tetapi aktivitas eksploitasi tetap dilanjutkan oleh Jepang dengan tetap memakai tenaga kerja lokal yang ada. Aktivitas eksploitasi di lapangan Tanjung oleh Jepang pun berakhir seiring dengan bertekuk lututnya balatentara Jepang oleh tentara sekutu pada tahun 1945.

Pada tahun 1960, pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang-Undang No. 44 Prp Tahun 1960 tanggal 26 Oktober 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi. Dalam undang–undang ini dinyatakan bahwa segala bahan galian minyak dan gas bumi yang ada di wilayah Indonesia merupakan kekayaan nasional yang dikuasai oleh negara, serta pengusahaan pertambangan minyak dan gas bumi dilakukan oleh perusahaan negara. Namun dalam hal ini negara dapat saja memberikan kuasa pertambangan (kontrak) kepada pihak swasta apabila perusahaan negara belum mampu melakukan sendiri pekerjaan pertambangan minyak dan gas bumi.

Baca Juga :  Kurau Pernah Punya Bandara

Dengan dikeluarkannya UU no. 44 tahun 1960 ini maka undang-undang lama zaman Hindia Belanda berupa Indische Mijn Wet dalam Staatsblad nomor 214 tahun 1899 tidak berlaku lagi. Dalam undang-undang Hindia Belanda ini dinyatakan bahwa pengusahaan dan pertambangan diatur dalam wilayah konsesi penambangan serta pola kerjasama dengan pengakuan hak secara individual lebih menonjol.

Pada tanggal 31 Desember 1965 pemerintah Republik Indonesia telah membeli perusahaan PT. Shell Indonesia dengan harga US$ 110 juta sehingga seluruh unit-unit PT. Shell di Indonesia menjadi milik organisasi PN Permina. Setelah dua perusahaan negara PN Permina dan PN Pertamin yang bergerak di bidang penambangan minyak dan gas bumi dilebur menjadi satu perusahaan dengan nama PN Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Nasional (Pertamina) dengan dasar Peraturan Pemerintah no. 27 tahun 1968 tanggal 20 Agustus 1968, maka seluruh kegiatan penambangan minyak dan gas di wilayah Indonesia telah dikontrol dan diorganisasikan oleh perusahaan pemerintah.

Pertamina pun sempat bekerja sama dengan perusahaan Talisman dengan berkontrak usaha pengeboran minyak. Namun pengeboran dirasa menguntungkan dikelola sendiri, akhirnya sejak 1994 sampai 2003 Talisman pun diputus kontrak dan sepenuhnya dikuasai pemerintah.

Untuk produksi minyak dan gas sekarang Pertamina tidak seperti dulu. Sekarang hanya 2000 barel sehari, karena banyak sumur tua, dan stok ketersediaan minyak pun sedikit. (ibn)

TANJUNG – Tahukan Pian kalau Murung Pudak di Kabupaten Tabalong dikenal karena keberadaan PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Lapangan Tanjung. Itu pun terjadi sejak lama, saat masa keberadaan kolonial Belanda.

Seorang warga Murung Pudak, Mardi, yang sejak lama tinggal di lingkungan badan usaha milik negara (BUMN) dan sempat bekerja di tempat itu mengatakan, Pertamina ada sejak zaman Belanda.

“Waktu saya kecil kalau mendengar suara suling Pertamina langsung matikan lampu, itu tanda ada Belanda,” katanya.

Belanda pun membuka eksplorasi dan produksi minyak dan gas di Murung Pudak. Ada nama pekerjanya yang sempat dia kenal menjadi penjaga. “Sekitar tahun 70 an, banyak orang datangan dari luar,” ujarnya.

Para warga asing Belanda itu membangun perumahan, selain melubangi perut bumi Tabalong, yang namanya masih belum ada, karena belum pemekaran wilayah. Nama kabupaten saat itu masih ikut Hulu Sungai Utara.

Mereka, orang-orang barat juga membangun gedung bioskop dan bangunan lainnya. Posisinya persis di sekitaran Taman 10 K.

“Kalau kantor Pertamina EP Tanjung yang ada dulu kantor pemerintahan Inggris,” cerita pria berusia 62 tahun itu yang sempat menjadi sopir pengangkut peralatan pengeboran.

Dengan suasana itu, menarik berbagai warga Banua untuk datang menyaksikan kemegahannya. Apalagi, setiap tahun ada artis ibu kota datang. “Artis-artisnya yang pop saja, tidak ada dangdut. Sekarang sudah tidak ada lagi orangnya,” ujarnya sembari mengingat.

Humas PT Pertamina EP Tanjung, Ruspandi pun menceritakan keberadaan akivitas pengeboran minyak bumi di Murung Pudak sejak tahun 1950 lalu yang hasilnya dikirimkan ke Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, sepanjang 246 kilometer.

Baca Juga :  Masjid Keramat Al Mukarramah, Sudah Direhab tapi Miring Lagi

“Perusahaan Belanda Minjbouw Maatschapij Martapoera dipimpin H ‘s Jacob pada tahun 1898 melakukan pengeboran lapangan minyak baru,” jelasnya.

Tahun 1930 itu pula kegiatan eksploitasi minyak bumi di Tanjung beralih pengelolaannya kepada sebuah perusahaan NV Bataafsche Petroleum Maatschappij atau BPM. BPM adalah sebuah perusahaan afiliasi dari Royal Dutch Shell yang mengkhususkan kegiatannya pada eksploitasi dan produksi. Sedangkan Royal Dutch Shell sendiri merupakan merger dari dua perusahaan yaitu Royal Petroleum Company.

Pada periode 1942 – 1945 saat perang dunia kedua pecah yang ditandai dengan invasi masif balatentara Jepang yang bergerak dari Filipina, Sarawak dan masuk wilayah Kalimantan, melalui Tarakan hingga akhirnya menguasai seluruh wilayah Hindia Belanda. Maka secara otomatis unit-unit bisnis milik kerajaan Belanda jatuh ke tangan Jepang, termasuk lapangan minyak Tanjung. Pada periode ini kegiatan operasional oleh BPM terhenti, akan tetapi aktivitas eksploitasi tetap dilanjutkan oleh Jepang dengan tetap memakai tenaga kerja lokal yang ada. Aktivitas eksploitasi di lapangan Tanjung oleh Jepang pun berakhir seiring dengan bertekuk lututnya balatentara Jepang oleh tentara sekutu pada tahun 1945.

Pada tahun 1960, pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang-Undang No. 44 Prp Tahun 1960 tanggal 26 Oktober 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi. Dalam undang–undang ini dinyatakan bahwa segala bahan galian minyak dan gas bumi yang ada di wilayah Indonesia merupakan kekayaan nasional yang dikuasai oleh negara, serta pengusahaan pertambangan minyak dan gas bumi dilakukan oleh perusahaan negara. Namun dalam hal ini negara dapat saja memberikan kuasa pertambangan (kontrak) kepada pihak swasta apabila perusahaan negara belum mampu melakukan sendiri pekerjaan pertambangan minyak dan gas bumi.

Baca Juga :  La Galigo, Falsafah Merantau Bugis

Dengan dikeluarkannya UU no. 44 tahun 1960 ini maka undang-undang lama zaman Hindia Belanda berupa Indische Mijn Wet dalam Staatsblad nomor 214 tahun 1899 tidak berlaku lagi. Dalam undang-undang Hindia Belanda ini dinyatakan bahwa pengusahaan dan pertambangan diatur dalam wilayah konsesi penambangan serta pola kerjasama dengan pengakuan hak secara individual lebih menonjol.

Pada tanggal 31 Desember 1965 pemerintah Republik Indonesia telah membeli perusahaan PT. Shell Indonesia dengan harga US$ 110 juta sehingga seluruh unit-unit PT. Shell di Indonesia menjadi milik organisasi PN Permina. Setelah dua perusahaan negara PN Permina dan PN Pertamin yang bergerak di bidang penambangan minyak dan gas bumi dilebur menjadi satu perusahaan dengan nama PN Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Nasional (Pertamina) dengan dasar Peraturan Pemerintah no. 27 tahun 1968 tanggal 20 Agustus 1968, maka seluruh kegiatan penambangan minyak dan gas di wilayah Indonesia telah dikontrol dan diorganisasikan oleh perusahaan pemerintah.

Pertamina pun sempat bekerja sama dengan perusahaan Talisman dengan berkontrak usaha pengeboran minyak. Namun pengeboran dirasa menguntungkan dikelola sendiri, akhirnya sejak 1994 sampai 2003 Talisman pun diputus kontrak dan sepenuhnya dikuasai pemerintah.

Untuk produksi minyak dan gas sekarang Pertamina tidak seperti dulu. Sekarang hanya 2000 barel sehari, karena banyak sumur tua, dan stok ketersediaan minyak pun sedikit. (ibn)

Most Read

Artikel Terbaru

Penyebar Islam Pertama di Balangan

Kyai Hasbullah dari Sungai Pandan

Kisah Gusti Datu Aminin

/