alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Sederet Alasan Banjarbaru Harus Masuk PPKM Level Tiga

BANJARBARU – Status PPKM Level 3 di Banjarbaru memang cukup jadi momok. Banyak sektor terdampak aturan pengetatan. Selain itu, penularan terpantau juga kian melonjak setiap harinya.

Penetapan status PPKM Level 3 di Banjarbaru dilakukan oleh pemerintah pusat, khususnya Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Status ini setidaknya berlaku dari 15 sampai 28 Februari 2022.

Menurut data, Kemendagri menetapkan PPKM di Banjarbaru dilihat dari berbagai aspek. Yang mana hal ini telah dinilai dengan mengambil data hasil asesmen pembaharuan dari situs Kemenkes RI.

Menurut Koordinator Tim Surveilans Epidemiologi Penanggulangan Wabah Corona Virus Disease Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Edi Sampana, naiknya status PPKM di Banjarbaru dipengaruhi oleh tingkatan transmisi komunitas di Banjarbaru yang berstatus Tingkat Tiga.

Transmisi ini jelas Edi dilihat dari tiga aspek. Semisal dari kasus konfirmasi, kasus rawat inap hingga kasus kematian atau wafat. Semuanya dinilai dalam persentase per 100 ribu penduduk.

“Untuk kasus konfirmasi per 100 ribu penduduk kita itu ada 79,97 orang dalam satu pekan terakhir. Ini masuk kategori cukup tinggi, atau tingkat tiga,” jelasnya.

Padahal idealnya, kasus konfirmasi ini terangnya harus di kategori 1. Yang mana kategori minimal angka kasus baru di Banjarbaru maksimal harus kurang dari 57 orang per pekan.

Baca Juga :  Banjarmasin PPKM Level 3 Terus, Suratnya Nyangkut Entah di Mana

Selain kasus baru, angka pasien rawat inap di rumah sakit kata Edi juga memengaruhi asesmen pusat. Saat ini, dari datanya ada 5,36 orang sehari per 100 ribu penduduk yang harus dirawat inap dalam satu pekan terakhir.

“Memang tidak terlalu tinggi tapi tetap belum ideal, karena ini masih kategori dua. Idealnya adalah dalam satu pekan itu kasus rawat inap maksimal hanya 14 orang saja, kita masih belum di angka tersebut,” paparnya.

Kemudian di aspek kasus yang wafat, Kota Banjarbaru satu pekan terakhir ujar Edi masuk dalam kategori tingkat dua. Artinya kategori ini masih belum bisa memenuhi kategori ideal. Yang mana, per 100 ribu penduduk, kasus wafat di Kota Banjarbaru ada empat orang meninggal perpekannya.

“Untuk mencapai kategori ideal, maksimal dalam satu pekan itu hanya ada dua yang wafat. Atau minimal kita bisa masuk kategori dalam empat hari hanya ada satu orang yang wafat. Tentunya bagus lagi kalau tidak ada sama sekali kasus wafatnya,” tegasnya.

Lantas bagaimana dengan kemampuan Kota Banjarbaru dalam upaya menurunkan status kategori tersebut? Sejauh ini, Banjarbaru ujar Edy masih berada di tahap kategori TERBATAS dalam hal upaya merespons kasus ini.

Baca Juga :  Banyak yang Menolak Swab, PPKM Level 3 Banjarbaru Diperpanjang

Kategori TERBATAS itu bukan tak beralasan. Aspek penilaian penanganan ujarnya beracuan pada testing, tracing serta treatment.

Untuk testing, kapasitas respons Kota Banjarbaru masuk kategori SEDANG. Hal ini dipicu angka positivity rate Banjarbaru yang dalam satu pekan terakhir masih di angka 5,63 persen.

“Jika mau ideal dan masuk kategori MEMADAI maka harus kurang dari 5 persen. Kalau dirata-ratakan maka dari 100 yang dites hanya empat orang saja yang statusnya positif,” katanya.

Selain testing, untuk sektor Tracing Kota Banjarbaru mendapat kategori kapasitas respons TERBATAS.

Penyebabnya dijelaskan Edi bahwa rasio kontak erat per kasus konfirmasi dalam satu pekan terakhir cuman 2,40 kasus.

“Idealnya atau agar bisa masuk kapasitas respons MEMADAI itu harus di atas 14. Jadi masih cukup jauh untuk kapasitas respons tracing kita,” jujurnya.

Terakhir, di aspek treatment, kategori kapasitas respons Kota Banjarbaru adalah MEMADAI. Hal ini sangat dipengaruhi oleh angka BOR (Bed Occupation Ratio) di rumah sakit.

“BOR rumah sakit kita dalam satu pekan terakhir sudah di bawah 60 persen sebagai acuan kategori ideal. Sekarang BOR kita di angka 37,38 persen,” tuntasnya. (rvn/ij/bin)

BANJARBARU – Status PPKM Level 3 di Banjarbaru memang cukup jadi momok. Banyak sektor terdampak aturan pengetatan. Selain itu, penularan terpantau juga kian melonjak setiap harinya.

Penetapan status PPKM Level 3 di Banjarbaru dilakukan oleh pemerintah pusat, khususnya Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Status ini setidaknya berlaku dari 15 sampai 28 Februari 2022.

Menurut data, Kemendagri menetapkan PPKM di Banjarbaru dilihat dari berbagai aspek. Yang mana hal ini telah dinilai dengan mengambil data hasil asesmen pembaharuan dari situs Kemenkes RI.

Menurut Koordinator Tim Surveilans Epidemiologi Penanggulangan Wabah Corona Virus Disease Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Edi Sampana, naiknya status PPKM di Banjarbaru dipengaruhi oleh tingkatan transmisi komunitas di Banjarbaru yang berstatus Tingkat Tiga.

Transmisi ini jelas Edi dilihat dari tiga aspek. Semisal dari kasus konfirmasi, kasus rawat inap hingga kasus kematian atau wafat. Semuanya dinilai dalam persentase per 100 ribu penduduk.

“Untuk kasus konfirmasi per 100 ribu penduduk kita itu ada 79,97 orang dalam satu pekan terakhir. Ini masuk kategori cukup tinggi, atau tingkat tiga,” jelasnya.

Padahal idealnya, kasus konfirmasi ini terangnya harus di kategori 1. Yang mana kategori minimal angka kasus baru di Banjarbaru maksimal harus kurang dari 57 orang per pekan.

Baca Juga :  Sisa 9 Kasus, Banjarmasin Malah Level 3

Selain kasus baru, angka pasien rawat inap di rumah sakit kata Edi juga memengaruhi asesmen pusat. Saat ini, dari datanya ada 5,36 orang sehari per 100 ribu penduduk yang harus dirawat inap dalam satu pekan terakhir.

“Memang tidak terlalu tinggi tapi tetap belum ideal, karena ini masih kategori dua. Idealnya adalah dalam satu pekan itu kasus rawat inap maksimal hanya 14 orang saja, kita masih belum di angka tersebut,” paparnya.

Kemudian di aspek kasus yang wafat, Kota Banjarbaru satu pekan terakhir ujar Edi masuk dalam kategori tingkat dua. Artinya kategori ini masih belum bisa memenuhi kategori ideal. Yang mana, per 100 ribu penduduk, kasus wafat di Kota Banjarbaru ada empat orang meninggal perpekannya.

“Untuk mencapai kategori ideal, maksimal dalam satu pekan itu hanya ada dua yang wafat. Atau minimal kita bisa masuk kategori dalam empat hari hanya ada satu orang yang wafat. Tentunya bagus lagi kalau tidak ada sama sekali kasus wafatnya,” tegasnya.

Lantas bagaimana dengan kemampuan Kota Banjarbaru dalam upaya menurunkan status kategori tersebut? Sejauh ini, Banjarbaru ujar Edy masih berada di tahap kategori TERBATAS dalam hal upaya merespons kasus ini.

Baca Juga :  Warga Bosan PPKM Masih Dilanjutkan, Banjarmasin Berstatus Level 3

Kategori TERBATAS itu bukan tak beralasan. Aspek penilaian penanganan ujarnya beracuan pada testing, tracing serta treatment.

Untuk testing, kapasitas respons Kota Banjarbaru masuk kategori SEDANG. Hal ini dipicu angka positivity rate Banjarbaru yang dalam satu pekan terakhir masih di angka 5,63 persen.

“Jika mau ideal dan masuk kategori MEMADAI maka harus kurang dari 5 persen. Kalau dirata-ratakan maka dari 100 yang dites hanya empat orang saja yang statusnya positif,” katanya.

Selain testing, untuk sektor Tracing Kota Banjarbaru mendapat kategori kapasitas respons TERBATAS.

Penyebabnya dijelaskan Edi bahwa rasio kontak erat per kasus konfirmasi dalam satu pekan terakhir cuman 2,40 kasus.

“Idealnya atau agar bisa masuk kapasitas respons MEMADAI itu harus di atas 14. Jadi masih cukup jauh untuk kapasitas respons tracing kita,” jujurnya.

Terakhir, di aspek treatment, kategori kapasitas respons Kota Banjarbaru adalah MEMADAI. Hal ini sangat dipengaruhi oleh angka BOR (Bed Occupation Ratio) di rumah sakit.

“BOR rumah sakit kita dalam satu pekan terakhir sudah di bawah 60 persen sebagai acuan kategori ideal. Sekarang BOR kita di angka 37,38 persen,” tuntasnya. (rvn/ij/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/