alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Pedagan Tolak Ganti Rugi, Sisa Kios Eks Pasar Bauntung Digusur

BANJARBARU – Meski sudah berusaha mempertahankan. Nasib puluhan warga yang berdagang dan sebagian bermukim di bangunan eks pasar Bauntung Banjarbaru harus berakhir pahit.

Kemarin (15/2), puluhan bangunan yang berada di area eks pasar ini mulai dirobohkan sejak pagi hari. Pembongkaran dilakukan oleh aparat Satpol PP Banjarbaru dan dibackup oleh unsur TNI dan Polri.

Meski dilakukan pembongkaran, beberapa warga tampak begitu berat beranjak dari lokasi. Sebagian malah sempat bersitegang dengan aparat penegak Perda. Dari pantauan, sejumlah pedagang sempat menolak barangnya diangkut. Tak ayal, petugas harus menertibkan dan membawa barang milik pedagang. Meskipun beberapa pedagang juga tampak manut dan memindahkan sendiri barangnya.

Menurut penuturan salah satu warga yang terdampak yakni Iman, jika pihaknya memang masih belum bisa menerima. Alasannya lantaran nominal tali asih yang ditawarkan pihak Pemko dinilai tak masuk akal dan tak disepakati.

“Awalnya tali asih tiga juta rupiah, lalu banyak warga menolak karena terlalu kecil. Akhirnya dinaikkan jadi lima juta, tetapi angka itu dinilai juga belum cukup untuk kehidupan sekarang yang serba sulit,” ceritanya.

Baca Juga :  Digugat, Pemko Jalan Terus Revitalisasi Pasar Batuah

Dalam perjalanannya, sempat kata Iman jika pihaknya diminta mengajukan proposal ke Pemko Banjarbaru terkait nominal tali asih. Yang mana warga sepakat untuk mematok nominal tiga juta rupiah permeternya. “Kita sudah ajukan tiga juta permeternya tapi saat itu Pemko tidak menyanggupinya, proposal kami dikembalikan,” klaimnya.

Tak hanya Iman, salah satu pedagang lainnya yakni Syofa juga bergumam serupa. Kesepakatan ihwal tali asih tegasnya adalah alasan terkuat para pedagang dan warga tetap bertahan di kiosnya tersebut.

“Kita menunggu pergantian ganti rugi atau tali asih itu yang sesuai atau setimpal. Memang sudah ada diberi tahu (soal pembongkaran) ini, cuman kami tetap bertahan karena alasan tadi,” ujarnya.

Karena tak mampu berbuat apaapa, Syifa secara terpaksa harus mengeluarkan barang-barangnya. Tak hanya itu, ia juga pasrah merelakan kios atau warungnya itu akan diratakan dengan tanah.

“Ya sekarang kami mau tak mau harus pasrah, padahal sayang sekali dengan kios ini karena mata pencaharian,” curhatnya.

Baca Juga :  Bangunan Eks Pasar Bauntung Banjarbaru Tahun Ini Diratakan Tanah Dulu

Sementara, Kepala Satuan (Kasat) Pol PP Banjarbaru, Hidayaturrahman yang memantau pembongkaran mengatakan jika kegiatan mereka sudah sesuai prosedur yang berlaku. Kemudian, bangunan yang dibongkar kemarin diklaim jika statusnya memang berdiri di lahan milik aset Pemko Banjarbaru dan berstatus HGB atau Hak Guna Bangunan.

“(Pembongkaran) tidak mendadak. Sudah ada tahapan mediasi dan negosiasi, namun dari itu tidak terjadi kesepakatan antara warga dan Pemko,” kata Hidayaturrahman kepada awak media.

Dari catatannya, total ada 32 bangunan yang akan dibongkar. Pembongkaran akan dilakukan secara bertahap dan diklaim mengedepankan sisi humanis. Yang mana pedagang dinego mengeluarkan sendiri barang-barangnya.

Disinggung soal penawaran tali asih, ia tak menampik jika Pemko memang memberikan penawaran tali asih kepada warga. Namun hingga kemarin, kesepakatan katanya tak kunjung didapat.

“Karena mereka (pedagang) tidak setuju (dengan nominal tali asih), maka tali asih tidak akan dibayarkan,” singkatnya menutup wawancara. (rvn/ij/bin)

BANJARBARU – Meski sudah berusaha mempertahankan. Nasib puluhan warga yang berdagang dan sebagian bermukim di bangunan eks pasar Bauntung Banjarbaru harus berakhir pahit.

Kemarin (15/2), puluhan bangunan yang berada di area eks pasar ini mulai dirobohkan sejak pagi hari. Pembongkaran dilakukan oleh aparat Satpol PP Banjarbaru dan dibackup oleh unsur TNI dan Polri.

Meski dilakukan pembongkaran, beberapa warga tampak begitu berat beranjak dari lokasi. Sebagian malah sempat bersitegang dengan aparat penegak Perda. Dari pantauan, sejumlah pedagang sempat menolak barangnya diangkut. Tak ayal, petugas harus menertibkan dan membawa barang milik pedagang. Meskipun beberapa pedagang juga tampak manut dan memindahkan sendiri barangnya.

Menurut penuturan salah satu warga yang terdampak yakni Iman, jika pihaknya memang masih belum bisa menerima. Alasannya lantaran nominal tali asih yang ditawarkan pihak Pemko dinilai tak masuk akal dan tak disepakati.

“Awalnya tali asih tiga juta rupiah, lalu banyak warga menolak karena terlalu kecil. Akhirnya dinaikkan jadi lima juta, tetapi angka itu dinilai juga belum cukup untuk kehidupan sekarang yang serba sulit,” ceritanya.

Baca Juga :  Tak Ada Ganti Rugi untuk Warga yang Bermukim di Dalam Pasar Batuah

Dalam perjalanannya, sempat kata Iman jika pihaknya diminta mengajukan proposal ke Pemko Banjarbaru terkait nominal tali asih. Yang mana warga sepakat untuk mematok nominal tiga juta rupiah permeternya. “Kita sudah ajukan tiga juta permeternya tapi saat itu Pemko tidak menyanggupinya, proposal kami dikembalikan,” klaimnya.

Tak hanya Iman, salah satu pedagang lainnya yakni Syofa juga bergumam serupa. Kesepakatan ihwal tali asih tegasnya adalah alasan terkuat para pedagang dan warga tetap bertahan di kiosnya tersebut.

“Kita menunggu pergantian ganti rugi atau tali asih itu yang sesuai atau setimpal. Memang sudah ada diberi tahu (soal pembongkaran) ini, cuman kami tetap bertahan karena alasan tadi,” ujarnya.

Karena tak mampu berbuat apaapa, Syifa secara terpaksa harus mengeluarkan barang-barangnya. Tak hanya itu, ia juga pasrah merelakan kios atau warungnya itu akan diratakan dengan tanah.

“Ya sekarang kami mau tak mau harus pasrah, padahal sayang sekali dengan kios ini karena mata pencaharian,” curhatnya.

Baca Juga :  Bangunan Eks Pasar Bauntung Banjarbaru Tahun Ini Diratakan Tanah Dulu

Sementara, Kepala Satuan (Kasat) Pol PP Banjarbaru, Hidayaturrahman yang memantau pembongkaran mengatakan jika kegiatan mereka sudah sesuai prosedur yang berlaku. Kemudian, bangunan yang dibongkar kemarin diklaim jika statusnya memang berdiri di lahan milik aset Pemko Banjarbaru dan berstatus HGB atau Hak Guna Bangunan.

“(Pembongkaran) tidak mendadak. Sudah ada tahapan mediasi dan negosiasi, namun dari itu tidak terjadi kesepakatan antara warga dan Pemko,” kata Hidayaturrahman kepada awak media.

Dari catatannya, total ada 32 bangunan yang akan dibongkar. Pembongkaran akan dilakukan secara bertahap dan diklaim mengedepankan sisi humanis. Yang mana pedagang dinego mengeluarkan sendiri barang-barangnya.

Disinggung soal penawaran tali asih, ia tak menampik jika Pemko memang memberikan penawaran tali asih kepada warga. Namun hingga kemarin, kesepakatan katanya tak kunjung didapat.

“Karena mereka (pedagang) tidak setuju (dengan nominal tali asih), maka tali asih tidak akan dibayarkan,” singkatnya menutup wawancara. (rvn/ij/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/