alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Pandemi yang Mencuri Masa Kecil

Dalam sebuah grup Whatsapp yang saya ikuti, seorang teman mengeluh tentang pembatasan kembali pembelajaran tatap muka di sekolah. Dia menulis dengan masygul: “Bagaimana dunia pendidikan kita ini, Bang. Menangis orangtua dan guru-guru kayak ini.”

Saya mencoba mencari nada yang ceria untuk membuatnya optimis. Kesedihan tidak terlalu cocok di grup-grup WA. Setelah sekian lama mencari jawaban, saya akhirnya hanya bisa merespons: Nanti, saya telepon mentrinya.”

Dia pasti tahu bahwa saya bercanda. Bagaimanapun, hal-hal semacam ini di luar kesanggupan menteri pendidikan. Wabah Covid sudah menjadi urusan…siapa? Saat menulis ini, saya baru sadar tidak tahu otoritas yang bertanggungjawab atas urusan wabah. Kementerian kesehatan atau Kemenko Maritim dan Investasi? Satgas Covid atau Forkopimda?

Urusan pendidikan pun saat ini, kata seorang guru yang pernah saya temui, tidak lagi diurus oleh orang-orang yang mengerti pendidikan. Bahkan orang yang berkomitmen pada pendidikan pun, kadang-kadang sudah tidak terlalu mempedulikannya.

Buktinya, nyaris tidak ada yang terganggu jika sekolah-sekolah kembali tutup dan siswa-siswa kembali libur. Kita tidak peduli akan bagaimana prospek pendidikan generasi mendatang, atau bahkan masa depan Indonesia. Bagi pemerintah kita saat ini, sekolah hanya seperti permainan lempar gelang di pasar malam–Boleh tidak ada–dalam festival penanganan covid kita yang tergopoh-gopoh.

Baca Juga :  Ponzi dan Rizky

Baru-baru ini saya mendengar percakapan antara seorang teman dan anaknya yang berusia 11 tahun. Gadis kecil itu bertanya kepada ayahnya apakah memang akan seperti ini terus. Apakah dia akan terus menjalani kehidupan di balik masker, jauh dari sekolah dan teman-temannya, belajar sendirian di depan laptop?

Itu adalah pertanyaan yang menghancurkan hati. Saya mengingat betapa bahagianya masa kecil saya yang bebas dan bahagia di desa. Seolah generasi lama berutang kebahagiaan pada anak-anak kecil yang tumbuh besar di masa Covid sekarang.

Ayahnya meyakinkannya bahwa segala sesuatunya akan segera berubah, tetapi saya tidak tahu seberapa yakin gadis kecil itu. Jika Anda adalah anak berusia 11 tahun, dan seperempat dari hidup Anda telah dihabiskan dalam keadaan panik dan serba darurat, wajar untuk menganggap pandangan Anda tentang dunia akan berbeda dari orang lain.

Baca Juga :  Tombol Hapus

Saya tidak tahu akan bagaimana mulai sekarang. Seperti anak kecil itu, saya juga kurang yakin. Tadinya, kita telah mengucapkan selamat tinggal pada pandemi. Vaksinasi sudah hampir lunas. Kemilau dari kehidupan lama seperti akan kembali. Tetapi saat varian Omicron datang, saya menyadari bahwa Covid mungkin akan kembali mengacaukan kembali kehidupan kita.

Untuk terus terang, saya tidak begitu khawatir dengan Omicron. Yang saya cemaskan adalah respons pemerintah kita dalam menanganinya, dengan cara seperti tank menembak satu dua lalat yang melintas. Ada begitu banyak hal yang harus dikorbankan, ada banyak sektor yang terdampak: salah satunya adalah pendidikan dan kehidupan masa kecil.

Karena itu, jika Anda orang tua yang anaknya kembali belajar dari rumah, saran saya: bersabarlah. Masa kecil anak-anak kita sudah dan masih sedang dicuri. Saya harap itu membuat Anda lebih baik dan lebih sabar terhadap anak-anak di bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang. Merekalah korban sebenarnya pandemi ini. ()

Dalam sebuah grup Whatsapp yang saya ikuti, seorang teman mengeluh tentang pembatasan kembali pembelajaran tatap muka di sekolah. Dia menulis dengan masygul: “Bagaimana dunia pendidikan kita ini, Bang. Menangis orangtua dan guru-guru kayak ini.”

Saya mencoba mencari nada yang ceria untuk membuatnya optimis. Kesedihan tidak terlalu cocok di grup-grup WA. Setelah sekian lama mencari jawaban, saya akhirnya hanya bisa merespons: Nanti, saya telepon mentrinya.”

Dia pasti tahu bahwa saya bercanda. Bagaimanapun, hal-hal semacam ini di luar kesanggupan menteri pendidikan. Wabah Covid sudah menjadi urusan…siapa? Saat menulis ini, saya baru sadar tidak tahu otoritas yang bertanggungjawab atas urusan wabah. Kementerian kesehatan atau Kemenko Maritim dan Investasi? Satgas Covid atau Forkopimda?

Urusan pendidikan pun saat ini, kata seorang guru yang pernah saya temui, tidak lagi diurus oleh orang-orang yang mengerti pendidikan. Bahkan orang yang berkomitmen pada pendidikan pun, kadang-kadang sudah tidak terlalu mempedulikannya.

Buktinya, nyaris tidak ada yang terganggu jika sekolah-sekolah kembali tutup dan siswa-siswa kembali libur. Kita tidak peduli akan bagaimana prospek pendidikan generasi mendatang, atau bahkan masa depan Indonesia. Bagi pemerintah kita saat ini, sekolah hanya seperti permainan lempar gelang di pasar malam–Boleh tidak ada–dalam festival penanganan covid kita yang tergopoh-gopoh.

Baca Juga :  Ponzi dan Rizky

Baru-baru ini saya mendengar percakapan antara seorang teman dan anaknya yang berusia 11 tahun. Gadis kecil itu bertanya kepada ayahnya apakah memang akan seperti ini terus. Apakah dia akan terus menjalani kehidupan di balik masker, jauh dari sekolah dan teman-temannya, belajar sendirian di depan laptop?

Itu adalah pertanyaan yang menghancurkan hati. Saya mengingat betapa bahagianya masa kecil saya yang bebas dan bahagia di desa. Seolah generasi lama berutang kebahagiaan pada anak-anak kecil yang tumbuh besar di masa Covid sekarang.

Ayahnya meyakinkannya bahwa segala sesuatunya akan segera berubah, tetapi saya tidak tahu seberapa yakin gadis kecil itu. Jika Anda adalah anak berusia 11 tahun, dan seperempat dari hidup Anda telah dihabiskan dalam keadaan panik dan serba darurat, wajar untuk menganggap pandangan Anda tentang dunia akan berbeda dari orang lain.

Baca Juga :  Organisasi Kepemudaan

Saya tidak tahu akan bagaimana mulai sekarang. Seperti anak kecil itu, saya juga kurang yakin. Tadinya, kita telah mengucapkan selamat tinggal pada pandemi. Vaksinasi sudah hampir lunas. Kemilau dari kehidupan lama seperti akan kembali. Tetapi saat varian Omicron datang, saya menyadari bahwa Covid mungkin akan kembali mengacaukan kembali kehidupan kita.

Untuk terus terang, saya tidak begitu khawatir dengan Omicron. Yang saya cemaskan adalah respons pemerintah kita dalam menanganinya, dengan cara seperti tank menembak satu dua lalat yang melintas. Ada begitu banyak hal yang harus dikorbankan, ada banyak sektor yang terdampak: salah satunya adalah pendidikan dan kehidupan masa kecil.

Karena itu, jika Anda orang tua yang anaknya kembali belajar dari rumah, saran saya: bersabarlah. Masa kecil anak-anak kita sudah dan masih sedang dicuri. Saya harap itu membuat Anda lebih baik dan lebih sabar terhadap anak-anak di bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang. Merekalah korban sebenarnya pandemi ini. ()

Most Read

Artikel Terbaru

Madam dan Mudik

Majas, Bukan Poster Seksis

Politisi dan Air Mata Tak Terbukti

Organisasi Kepemudaan

/