alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Oknum Dokter Cabul Divonis 6 Tahun

BANJARBARU – Sidang putusan atas dugaan tindakan pencabulan anak di bawah umur oleh oknum dokter berinisial R (50) di Banjarbaru akhirnya bergulir kemarin (10/2).

Dalam sidang kemarin, pelaku divonis bersalah oleh hakim dan dijatuhi hukuman 6 tahun penjara. Selain itu, pelaku juga didenda 100 juta rupiah dengan subsider 3 bulan kurungan.

Sidang pembacaan putusan berlangsung sekitar setengah jam. Sidang digelar secara daring. Selain majelis hakim dan jaksa, sidang terbuka ini juga tampak dihadiri kerabat korban yang ingin melihat langsung jalannya sidang.

Dari hasil putusan, diketahui bahwa rupanya vonis yang dijatuhkan lebih ringan dari tuntutan pihak jaksa. Yang mana jaksa menuntut terdakwa divonis 7 tahun penjara atas perbuatan amoralnya tersebut.

Juru bicara Pengadilan Negeri Banjarbaru, Raden Satya Adi membenarkan soal vonis tersebut. Dalam konfirmasinya kepada awak media, putusan telah tertuang dalam surat perkara nomor 14/Pid.Sus/2022/PN BJB.

“Putusannya enam tahun penjara serta denda 100 juta subsider tiga bulan penjara,” jawabnya.

Soal pengurangan dari tuntutan, hal ini kaya Raden adalah atas dasar pertimbangan hakim. Yang mana pertimbangan dilihat dari beberapa faktor, seperti sikap kooperatif dari terdakwa dan yang bersangkutan juga sudah menjalani hukuman penjara.

Baca Juga :  Kuasa Hukum Devita Desak Jaksa Menuntut PK

“Hakim juga mempertimbangkan jika terdakwa merupakan tulang punggung keluarga dan sang istri sedang hamil,” bebernya.

Pasca putusan, inkrah tidaknya hasil sidang kata Raden tergantung dari masa banding. Masa ini berlaku selama tujuh hari usai putusan sidang dibacakan.

“Ada tujuh hari untuk menyampaikan keberatan, jika tidak ada maka putusan berarti inkrah,” katanya.

Adapun dari sisi pihak korban yang diwakili kerabatnya mengaku jika mereka masih memikirkan hasil putusan sidang tersebut. Karena keputusan utama berada di tangan orang tua korban.

“Dari sisi ibu menerima saja tapi tetap menunggu keputusan ayahnya. Jadi secara garis besarnya masih dipertimbangkan pihak keluarga,” katanya yang meminta identitasnya tidak dikorankan.

Secara pribadi, kerabat korban ini secara jujur tidak puas dengan putusan yang dijatuhkan. Sebab ia berharap jika putusan sesuai tuntutan yang sudah dilayangkan sebelumnya.

“Kami berharap tadinya (putusan) lebih dari itu. Tapi kita juga menghargai jalannya sidang,” katanya.
Kerabat korban ini juga turut membeberkan hal lain terkait kasus ini. Yang mana, hal ini klaimnya yang memengaruhi ketidakpuasannya atas vonis yang dijatuhkan.

Baca Juga :  Digugat Perdata, Bayu Tamtama Minta Disidangkan Saja

Diucapnya bahwa beberapa waktu lalu salah satu keluarga terdakwa dinilainya melakukan tindakan yang kurang bisa diterima.

Saat itu menurutnya, jika keluarga terdakwa yang belakangan diketahui berstatus sebagai istri terdakwa meminta tolong kepada ibu dari korban untuk membuat surat pernyataan memaafkan sekaligus sudah ada damai. Dengan tujuan surat ini dimaksudkan bisa meringankan hukuman terdakwa.

“Saat itu keluarga terdakwa ini malah minta tolong bukan minta maaf. Kejadiannya sesudah sidang tuntutan jaksa. Ya saya pikir itu kurang tepat,” tuntasnya.

Seperti diwartakan sebelumnya, seorang oknum dokter berinisial R dilaporkan atas dugaan kasus pencabulan terhadap anak perempuan berusia 10 tahun. Kejadian ini terbongkar di medio tahun 2021.

Bulan Oktober 2021, pelaku resmi ditahan oleh pihak Polres Banjarbaru. Usai pihak keluarga korban mengadu kepada aparat atas tindakan bejat dari sang dokter tersebut. (rvn/ij/bin)

BANJARBARU – Sidang putusan atas dugaan tindakan pencabulan anak di bawah umur oleh oknum dokter berinisial R (50) di Banjarbaru akhirnya bergulir kemarin (10/2).

Dalam sidang kemarin, pelaku divonis bersalah oleh hakim dan dijatuhi hukuman 6 tahun penjara. Selain itu, pelaku juga didenda 100 juta rupiah dengan subsider 3 bulan kurungan.

Sidang pembacaan putusan berlangsung sekitar setengah jam. Sidang digelar secara daring. Selain majelis hakim dan jaksa, sidang terbuka ini juga tampak dihadiri kerabat korban yang ingin melihat langsung jalannya sidang.

Dari hasil putusan, diketahui bahwa rupanya vonis yang dijatuhkan lebih ringan dari tuntutan pihak jaksa. Yang mana jaksa menuntut terdakwa divonis 7 tahun penjara atas perbuatan amoralnya tersebut.

Juru bicara Pengadilan Negeri Banjarbaru, Raden Satya Adi membenarkan soal vonis tersebut. Dalam konfirmasinya kepada awak media, putusan telah tertuang dalam surat perkara nomor 14/Pid.Sus/2022/PN BJB.

“Putusannya enam tahun penjara serta denda 100 juta subsider tiga bulan penjara,” jawabnya.

Soal pengurangan dari tuntutan, hal ini kaya Raden adalah atas dasar pertimbangan hakim. Yang mana pertimbangan dilihat dari beberapa faktor, seperti sikap kooperatif dari terdakwa dan yang bersangkutan juga sudah menjalani hukuman penjara.

Baca Juga :  Om Mabuk Rudapaksa Ponakan

“Hakim juga mempertimbangkan jika terdakwa merupakan tulang punggung keluarga dan sang istri sedang hamil,” bebernya.

Pasca putusan, inkrah tidaknya hasil sidang kata Raden tergantung dari masa banding. Masa ini berlaku selama tujuh hari usai putusan sidang dibacakan.

“Ada tujuh hari untuk menyampaikan keberatan, jika tidak ada maka putusan berarti inkrah,” katanya.

Adapun dari sisi pihak korban yang diwakili kerabatnya mengaku jika mereka masih memikirkan hasil putusan sidang tersebut. Karena keputusan utama berada di tangan orang tua korban.

“Dari sisi ibu menerima saja tapi tetap menunggu keputusan ayahnya. Jadi secara garis besarnya masih dipertimbangkan pihak keluarga,” katanya yang meminta identitasnya tidak dikorankan.

Secara pribadi, kerabat korban ini secara jujur tidak puas dengan putusan yang dijatuhkan. Sebab ia berharap jika putusan sesuai tuntutan yang sudah dilayangkan sebelumnya.

“Kami berharap tadinya (putusan) lebih dari itu. Tapi kita juga menghargai jalannya sidang,” katanya.
Kerabat korban ini juga turut membeberkan hal lain terkait kasus ini. Yang mana, hal ini klaimnya yang memengaruhi ketidakpuasannya atas vonis yang dijatuhkan.

Baca Juga :  Korban Perkosaan Tuntut Kerugian Materiil Rp1,1 Miliar

Diucapnya bahwa beberapa waktu lalu salah satu keluarga terdakwa dinilainya melakukan tindakan yang kurang bisa diterima.

Saat itu menurutnya, jika keluarga terdakwa yang belakangan diketahui berstatus sebagai istri terdakwa meminta tolong kepada ibu dari korban untuk membuat surat pernyataan memaafkan sekaligus sudah ada damai. Dengan tujuan surat ini dimaksudkan bisa meringankan hukuman terdakwa.

“Saat itu keluarga terdakwa ini malah minta tolong bukan minta maaf. Kejadiannya sesudah sidang tuntutan jaksa. Ya saya pikir itu kurang tepat,” tuntasnya.

Seperti diwartakan sebelumnya, seorang oknum dokter berinisial R dilaporkan atas dugaan kasus pencabulan terhadap anak perempuan berusia 10 tahun. Kejadian ini terbongkar di medio tahun 2021.

Bulan Oktober 2021, pelaku resmi ditahan oleh pihak Polres Banjarbaru. Usai pihak keluarga korban mengadu kepada aparat atas tindakan bejat dari sang dokter tersebut. (rvn/ij/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/