alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Kaligrafi Gerbang Sekumpul Tak Sesuai Kaidah, Baru Dipasang Langsung Dilepas

MARTAPURA – Kaligrafi atau khat bertuliskan ‘Ahlan Wasahlan Biqudubikum’ di pintu gerbang Sekumpul, Martapura menuai protes dari Komunitas Kaligrafer di Kalsel.

Sekretaris Komunitas Kaligrafi Intan Kalsel, Abdul Halim Rahmat membeberkan, kaligrafi yang baru selesai dipasang tersebut tulisannya tidak sesuai kaidah. “Padahal desainnya dibuat oleh ahlinya,tapi hasilnya beda jauh,” bebernya.

Dia mengungkapkan, desain kaligrafi tersebut dibuat oleh Hasanuddin Al Banjari, pemenang juara 1 Hiasan Mushaf MTQ Nasional berasal dari Martapura.

“Pihak kontraktor sepertinya tidak terlalu paham dengan kaligrafi, sebaiknya mereka berkonsultasi dulu dengan yang paham,” ungkapnya.

Abdul Halim menyebut, ada beberapa huruf yang perlu dikoreksi di dalam kaligrafi yang masuk dalam proyek revitalisasi Sekumpul dari APBN tersebut. “Penulisannya salah kaidah dan hampir keseluruhan hurufnya salah,” sebutnya.

Pada harakat dammah misalnya, ukurannya terlalu besar sehingga hampir menyamai huruf waw. “Ini bisa jadi akan menambah huruf, sehingga salah bacaannya,” paparnya.

Halim meminta, kaligrafi tersebut segera diturunkan dan diganti dengan yang sesuai desain. “Daripada bikin malu, karena tahun ini akan kumpul para kaligrafer se-Indonesia dalam ajang MTQ nasional,” pintanya.

Baca Juga :  MUI Kalsel: Vaksinasi Tak Batalkan Puasa

Ahli kaligrafi dari Ponpes Hidayatullah, Fuad Mawardi sepakat jika kaligrafi di gerbang Sekumpul tidak sesuai kaidah. “Tulisannya itu kaidah khat tsuluts, tapi kurang sempurna,” ucapnya.

Selain itu, menurutnya keindahan kaligrafinya juga kurang. Ini dikarenakan medianya terlalu panjang, sedangkan tulisannya hanya tiga kalimat. “Tulisannya terkesan dipanjangkan dan kurang ornamen, sehingga seperti banyak yang kosong,” ujarnya.

Sementara itu, dari pantauan Radar Banjarmasin, kaligrafi berada di gerbang di Simpang Empat Lampu Merah Sekumpul tersebut mulai dilepas oleh para pekerja.

Salah seorang pekerja, Uus mengaku bingung kenapa mereka diminta melepas kaligrafi itu. “Padahal baru dua hari dipasang,” ucapnya.

Secara terpisah, Plt Kepala Bappedalitbang Banjar, Riza Dauly menuturkan, Pemkab Banjar yang langsung berkoordinasi dengan kontraktor agar melepas dulu kaligrafi di gerbang Sekumpul itu. “Apabila akan memasang lagi diusahakan agar diperiksa dulu oleh tim,” tuturnya.

Penyedia Tidak Bisa Memotong Logam Sesuai Desain

Sementara itu, Sekda Banjar M Hilman angkat bicara terkait kaligrafi di gerbang Sekumpul yang tidak sesuai kaidah.

Baca Juga :  Santri Dalam Pagar Berdakwah ke Pegunungan Meratus

Menurut Hilman, hal itu terjadi karena pelaksana tidak bisa meng-cuting/memotong logamnnya untuk membentuk tulisannya seperti desain yang diberikan.

“Terkait kondisi ini disarankan apabila tidak bisa juga memperbaikinya, lebih baik tulisannya dicopot untuk diperbaiki sesuai desain,” ujarnya.

Dia menjelaskan, dalam proses perencanaan ruang-ruang yang diperlukan kaligrafi pada Penataan Kawasan Sekumpul, Kementerian PUPR melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Kalsel sebenarnya telah menyerahkannya ke Pemkab Banjar supaya tepat dan berkesesuaian dengan kaidah desainnya.

“Desain kaligrafi dikoordinir Asisten 1 yang juga Ketua LPTQ Kab Banjar telah melibatkan expert kaligrafi dan juga mengkonsultasikan ke ulama-ulama di Sekumpul,” paparnya.

Sehingga tambah dia, akhirnya disepakati desain kaligrafi dan disampaikan ke BPPW Kalsel untuk diwujudkan dalam pelaksanaan melalui gambar rencana dan spesifikasi yang tertuang pada dokumen perencanaan hingga dokumen kontrak.

“Namun ternyata tulisan kaligrafi yang tampak pada pelaksanaan, tidak sesuai dengan kaidah khat. Itu harus diperbaiki sesuai dengan desain yang diberikan dan tertuang di kontrak,” pungkasnya. (ris/by/ran)

MARTAPURA – Kaligrafi atau khat bertuliskan ‘Ahlan Wasahlan Biqudubikum’ di pintu gerbang Sekumpul, Martapura menuai protes dari Komunitas Kaligrafer di Kalsel.

Sekretaris Komunitas Kaligrafi Intan Kalsel, Abdul Halim Rahmat membeberkan, kaligrafi yang baru selesai dipasang tersebut tulisannya tidak sesuai kaidah. “Padahal desainnya dibuat oleh ahlinya,tapi hasilnya beda jauh,” bebernya.

Dia mengungkapkan, desain kaligrafi tersebut dibuat oleh Hasanuddin Al Banjari, pemenang juara 1 Hiasan Mushaf MTQ Nasional berasal dari Martapura.

“Pihak kontraktor sepertinya tidak terlalu paham dengan kaligrafi, sebaiknya mereka berkonsultasi dulu dengan yang paham,” ungkapnya.

Abdul Halim menyebut, ada beberapa huruf yang perlu dikoreksi di dalam kaligrafi yang masuk dalam proyek revitalisasi Sekumpul dari APBN tersebut. “Penulisannya salah kaidah dan hampir keseluruhan hurufnya salah,” sebutnya.

Pada harakat dammah misalnya, ukurannya terlalu besar sehingga hampir menyamai huruf waw. “Ini bisa jadi akan menambah huruf, sehingga salah bacaannya,” paparnya.

Halim meminta, kaligrafi tersebut segera diturunkan dan diganti dengan yang sesuai desain. “Daripada bikin malu, karena tahun ini akan kumpul para kaligrafer se-Indonesia dalam ajang MTQ nasional,” pintanya.

Baca Juga :  Pantang Menyerah Meski Seperti Melukis di Atas Air

Ahli kaligrafi dari Ponpes Hidayatullah, Fuad Mawardi sepakat jika kaligrafi di gerbang Sekumpul tidak sesuai kaidah. “Tulisannya itu kaidah khat tsuluts, tapi kurang sempurna,” ucapnya.

Selain itu, menurutnya keindahan kaligrafinya juga kurang. Ini dikarenakan medianya terlalu panjang, sedangkan tulisannya hanya tiga kalimat. “Tulisannya terkesan dipanjangkan dan kurang ornamen, sehingga seperti banyak yang kosong,” ujarnya.

Sementara itu, dari pantauan Radar Banjarmasin, kaligrafi berada di gerbang di Simpang Empat Lampu Merah Sekumpul tersebut mulai dilepas oleh para pekerja.

Salah seorang pekerja, Uus mengaku bingung kenapa mereka diminta melepas kaligrafi itu. “Padahal baru dua hari dipasang,” ucapnya.

Secara terpisah, Plt Kepala Bappedalitbang Banjar, Riza Dauly menuturkan, Pemkab Banjar yang langsung berkoordinasi dengan kontraktor agar melepas dulu kaligrafi di gerbang Sekumpul itu. “Apabila akan memasang lagi diusahakan agar diperiksa dulu oleh tim,” tuturnya.

Penyedia Tidak Bisa Memotong Logam Sesuai Desain

Sementara itu, Sekda Banjar M Hilman angkat bicara terkait kaligrafi di gerbang Sekumpul yang tidak sesuai kaidah.

Baca Juga :  Malam Nuzulul dan Haul di Sabilal Muhtadin

Menurut Hilman, hal itu terjadi karena pelaksana tidak bisa meng-cuting/memotong logamnnya untuk membentuk tulisannya seperti desain yang diberikan.

“Terkait kondisi ini disarankan apabila tidak bisa juga memperbaikinya, lebih baik tulisannya dicopot untuk diperbaiki sesuai desain,” ujarnya.

Dia menjelaskan, dalam proses perencanaan ruang-ruang yang diperlukan kaligrafi pada Penataan Kawasan Sekumpul, Kementerian PUPR melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Kalsel sebenarnya telah menyerahkannya ke Pemkab Banjar supaya tepat dan berkesesuaian dengan kaidah desainnya.

“Desain kaligrafi dikoordinir Asisten 1 yang juga Ketua LPTQ Kab Banjar telah melibatkan expert kaligrafi dan juga mengkonsultasikan ke ulama-ulama di Sekumpul,” paparnya.

Sehingga tambah dia, akhirnya disepakati desain kaligrafi dan disampaikan ke BPPW Kalsel untuk diwujudkan dalam pelaksanaan melalui gambar rencana dan spesifikasi yang tertuang pada dokumen perencanaan hingga dokumen kontrak.

“Namun ternyata tulisan kaligrafi yang tampak pada pelaksanaan, tidak sesuai dengan kaidah khat. Itu harus diperbaiki sesuai dengan desain yang diberikan dan tertuang di kontrak,” pungkasnya. (ris/by/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/