alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Kamis, 19 Mei 2022

Warga Rogoh Kantong Sendiri, Bosan Menanti Perbaikan Simpang Pengambangan

Warga Simpang Pengambangan mengambil sikap. Dengan dana patungan, mereka membangun titian darurat.

***

BANJARMASIN – Sudah puluhan tahun jalan lingkungan di Kecamatan Banjarmasin Timur itu digerus arus Sungai Martapura.

Panjang kerusakan mencapai 160 meter. Menghubungkan tiga rukun tetangga. Yakni RT 9, RT 10 dan RT 28.
Jika dulu hanya tergenang air pasang, sekarang jalan itu sudah sepenuhnya menghilang.

Bosan mengeluh dengan keadaan, warga dari ketiag RT urunan secara sukarela. Terkumpul Rp2 juta, dana itulah yang dipakai untuk membangun titian.

“Rampung tiga pekan lalu,” ucap salah seorang warga yang enggan namanya dikorankan, kemarin (3/2) siang.

“Kalau mau melihat nota-nota pembelian materialnya, boleh, ada di rumah saya,” tambahnya.

Pantauan Radar Banjarmasin, pondasi titian memakai kayu galam. Untuk lantainya dipakai kayu palet.
Kayu yang biasa digunakan untuk mengemas barang kargo. “Semaksimalnya saja, yang penting bisa dipakai,” timpalnya. “Kami hanya merasa kasihan dengan pengguna jalan. Kalau dibiarkan lama-lama, khawatirnya ada banyak korban yang jatuh,” tutup warga RT 28 itu.

Baca Juga :  86 Titik Rawan Laka di Jalanan Kalsel, Para Pemudik Diimbau Berhati-Hati

Senada dengan warga lainnya, Masliah. Perempuan 51 tahun itu menuturkan, tak sedikit yang menjadi korban titian tersebut. “Padahal, akses ini cukup vital. Mengingat juga dimanfaatkan anak-anak untuk pergi ke sekolah,” tambahnya.

“Kalau sudah calap (banjir), pasti perlu menyingsingkan celana atau rok untuk melintas. Itu pun, hanya di bagian pinggir jalan. Kalau di tengahnya, sudah lama tak bisa dilewati lagi,” keluhnya.
Dia pun membenarkan bahwa dana yang dipakai untuk pembuatan titian darurat adalah hasil sumbangan sukarela.

“Seribu, dua ribu, terserah. Seikhlasnya saja. Semoga nanti pemerintah tergerak membangunkan titian yang lebih baik,” tutupnya.

Abrasi di Simpang Pengambangan memang tergolong parah. Secara keseluruhan, panjang ruas jalan yang terdampak mencapai 310 meter. Keseluruhan jalanan seperti ‘hilang’ ditelan air.

Baca Juga :  Kontraktor Pemenang Lelang Mundur, Dewan Bakal Panggil Dinas PUPR Kotabaru

Limpasan air juga sewaktu-waktu menghantam dinding sebagian rumah penduduk.

“Bila pasang, air pasti masuk ke rumah. Habis sudah lantai ini,” tutur Idar, warga RT 28, sembari memilah sampah plastik.

Sebenarnya, pada masa Pilkada lalu, titian itu pernah dibantu Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor. Tapi hanya sepanjang 150 meter, separuhnya saja.

Maka, perbaikan swadaya ini menyambung titian yang pernah diperbaiki Paman Birin tersebut.

Sementara itu, Kepala Bidang Jalan dan PJU di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Agus Heri Jayadi, belum bisa diminta penjelasan ketika dikonfirmasi.

Kepada Radar Banjarmasin, Agus mengaku bahwa dirinya sedang jatuh sakit. “Mohon maaf, saya sedang sakit,” tulisnya melalui pesan singkat.

Namun, mengacu penjelasan dari pejabat sebelumnya, perbaikan sudah coba dicanangkan. Diusulkan mendapat alokasi Rp45 miliar dari APBD 2021. Sayang, karena keterbatasan anggaran, dioper ke tahun 2022. (war/at/fud)

Warga Simpang Pengambangan mengambil sikap. Dengan dana patungan, mereka membangun titian darurat.

***

BANJARMASIN – Sudah puluhan tahun jalan lingkungan di Kecamatan Banjarmasin Timur itu digerus arus Sungai Martapura.

Panjang kerusakan mencapai 160 meter. Menghubungkan tiga rukun tetangga. Yakni RT 9, RT 10 dan RT 28.
Jika dulu hanya tergenang air pasang, sekarang jalan itu sudah sepenuhnya menghilang.

Bosan mengeluh dengan keadaan, warga dari ketiag RT urunan secara sukarela. Terkumpul Rp2 juta, dana itulah yang dipakai untuk membangun titian.

“Rampung tiga pekan lalu,” ucap salah seorang warga yang enggan namanya dikorankan, kemarin (3/2) siang.

“Kalau mau melihat nota-nota pembelian materialnya, boleh, ada di rumah saya,” tambahnya.

Pantauan Radar Banjarmasin, pondasi titian memakai kayu galam. Untuk lantainya dipakai kayu palet.
Kayu yang biasa digunakan untuk mengemas barang kargo. “Semaksimalnya saja, yang penting bisa dipakai,” timpalnya. “Kami hanya merasa kasihan dengan pengguna jalan. Kalau dibiarkan lama-lama, khawatirnya ada banyak korban yang jatuh,” tutup warga RT 28 itu.

Baca Juga :  Proyek Mangkrak Susahkan Masyarakat, Kinerja Balai Jalan Nasional Disorot

Senada dengan warga lainnya, Masliah. Perempuan 51 tahun itu menuturkan, tak sedikit yang menjadi korban titian tersebut. “Padahal, akses ini cukup vital. Mengingat juga dimanfaatkan anak-anak untuk pergi ke sekolah,” tambahnya.

“Kalau sudah calap (banjir), pasti perlu menyingsingkan celana atau rok untuk melintas. Itu pun, hanya di bagian pinggir jalan. Kalau di tengahnya, sudah lama tak bisa dilewati lagi,” keluhnya.
Dia pun membenarkan bahwa dana yang dipakai untuk pembuatan titian darurat adalah hasil sumbangan sukarela.

“Seribu, dua ribu, terserah. Seikhlasnya saja. Semoga nanti pemerintah tergerak membangunkan titian yang lebih baik,” tutupnya.

Abrasi di Simpang Pengambangan memang tergolong parah. Secara keseluruhan, panjang ruas jalan yang terdampak mencapai 310 meter. Keseluruhan jalanan seperti ‘hilang’ ditelan air.

Baca Juga :  86 Titik Rawan Laka di Jalanan Kalsel, Para Pemudik Diimbau Berhati-Hati

Limpasan air juga sewaktu-waktu menghantam dinding sebagian rumah penduduk.

“Bila pasang, air pasti masuk ke rumah. Habis sudah lantai ini,” tutur Idar, warga RT 28, sembari memilah sampah plastik.

Sebenarnya, pada masa Pilkada lalu, titian itu pernah dibantu Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor. Tapi hanya sepanjang 150 meter, separuhnya saja.

Maka, perbaikan swadaya ini menyambung titian yang pernah diperbaiki Paman Birin tersebut.

Sementara itu, Kepala Bidang Jalan dan PJU di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Agus Heri Jayadi, belum bisa diminta penjelasan ketika dikonfirmasi.

Kepada Radar Banjarmasin, Agus mengaku bahwa dirinya sedang jatuh sakit. “Mohon maaf, saya sedang sakit,” tulisnya melalui pesan singkat.

Namun, mengacu penjelasan dari pejabat sebelumnya, perbaikan sudah coba dicanangkan. Diusulkan mendapat alokasi Rp45 miliar dari APBD 2021. Sayang, karena keterbatasan anggaran, dioper ke tahun 2022. (war/at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/